BAB 4

1544 Words
Radit yang sudah kembali ke kantor meminta Agus anak buahnya untuk datang ke ruanganya. Tak lama Agus datang dan berdiri di hadapan Radit yang duduk di bangku kebesarannya. Radit akan segera mengetahui siapa wanita sepatu butut itu sebenarnya yang sudah dengan berani membuat masalah dengannya. "Apa kamu sudah memberikan ponsel itu kepada pemiliknya?" tanya Radit. "Belum Tuan," jawab Agus. "Belum. Apa kamu tidak mencarinya dari kontak yang ada di ponsel itu?" tanya Radit datar. "Maaf Tuan. Tidak ada nomor yang tersimpan di dalam ponselnya" jawab Agus. "Berikan ponselnya padaku." Ya Radit memang sengaja meminta Agus untuk mengambil ponsel Athena yang telah diambil oleh jambret. Radit juga tidak tahu kenapa dia menghubungi Agus waktu itu. Saat melihat Athena yang berusaha mengambil sepatu yang sengaja Radit buang ke selokan, Radit merasa sedikit iba. Padahal sebelumnya Radit tidak pernah seperti itu terhadap orang yang baru dia kenal. Radit menyalakan ponsel bewarna hitam yang sama seperti miliknya. Radit mulai membuka kontak dan ternyata benar yang Agus katakan, kontaknya kosong tidak ada nomor yang tersimpan. Radit membuka email ternyata ponsel itu belum dimasukkan email juga. Lalu Radit membuka riwayat mencoba mengecek nomor sim ponsel itu. Hanya terdengar suara operator kalau kartu sim belum diaktivasi. Radit menggelengkan kepalanya. Langkah terakhirnya membuaka riwayat internet. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi saat hanya melihat pegunungan Alpen yang sering di buka oleh pemilik ponsel ini. "Apa wanita ini baru saja membeli ponsel?" tanya Radit sendiri yang frustasi. "Bagaimana bisa punya nomor yang belum diaktivasi. Apa sebenarnya fungsi ponsel untuknya?" tanya Radit lagi yang bingung. Radit yang tidak juga menemukan tentang Athena dari ponselnya meminta Agus mencari tahu tentang Athena bedasarkan ciri-ciri yang Radit berikan. Karena Agus tidak pernah melihatnya dan Radit tidak mengetahui namanya. Agus yang takut kepada Radit hanya bisa menganggukan kepalanya. Sudah sebulan Athena berada di Bandung. Rumah yang dulu penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan kini rumah itu sepi hanya ada Athena dan Bi Eneng. Athena sudah merapikan semua barang-barang pribadinya. Ya Bi Eneng mengatakan Athena tidak perlu membawa baju, karena semua keperluannya sudah dipersiapkan. Setelah Athena menggores mobil teman Radit, sepertinya dia mendapat balasannya. Karena William menghubungi ke rumah saat dia mencoba menghubungi ponsel Athena tetapi tidak tersambung. William yang akhirnya tahu ponsel Athena hilang sedikit emosi. Rasa tidak sukanya kepada Athena bukannya berkurang tetapi bertambah. Dan Athena hanya bisa pasrah menerimanya. "Bi, apa Aku akan bertemu dengan Aleah?" lirih Athena saat menunggu William menjemputnya. "Iya. Non Aleah pasti senang bertemu dengan Non Athena" ucap Bi Eneng sambil menyisirkan rambut Athena. "Aku ingin sekali bertemu dengan Aleah. Aku merindukannya. Kenapa Aleah tidak ikut menjemputku Bi?" ucap Athena sedih. "Non Aleah pasti merindukan Non Athena juga. Non Aleah bukannya tidak ingin ikut menjemput Non Athena. Non Aleah sekarang sekolah di Asrama jadi jarang sekali Non Aleah bisa pergi keluar," jelas Bi Eneng agar Athena tidak sedih. "Asrama? Apa aku juga akan sekolah di asrama bersama Aleah?" tanya Athena lagi. "Iya. Tuan menjemput Non dan mengundang tiga guru selama sebulan untuk mengajari Non, agar Non bisa masuk ke asrama seperti Non Aleah." Mendengar penjelasan dari Bi Eneng rasa sedih di hati Athena sedikit menghilang. Setidaknya dia bisa satu asrama dengan Aleah dan pastinya dia bisa bersama Aleah lagi. Akhirnya William datang menjemput Athena. Athena memeluk Bi Eneng dan sedih karena harus meninggalkan Bi Eneng sendiri seperti Nenek, karena selama sebulan ini Bi Enenglah yang selalu bersama Athena. Di dalam mobil Athena hanya bisa terdiam. William yang duduk disampingnya sibuk dengan membalas beberapa email dari ponselnya. Sesekali Athena melirik William berharap William menatapnya. "Baca ini. Sebentar lagi kamu akan masuk asrama" ucap William memberikan buku yang berisi banyak foto dan biodata yang Athena yakin adalah biodata dari siswa-siswi yang ada di asrama itu. "Apa aku bisa bertemu Aleah, Pa?" tanya Athena. "Tidak," jawab William dingin. "Kenapa?" lirih Athena. "Karena kamu disana akan menjadi Aleah Robert bukan Athena. Jaga sikapmu selama di Asrama. Jangan membuat malu nama Aleah. Aleah siswi yang baik dan tidak bermasalah," ucap William penuh peringatan. Jleb Athena hanya bisa bisa menelan saliva mendengar ucapan William. Lagi-lagi hati kembali bersedih. Athena tersenyum getir dia mengerti sekali apa maksud William. Tetapi Athena tidak menyangka sebegituh bencinyakah William padanya sampai status Athena tidak boleh diketahui orang lain dan harus menjadi Aleah. "Ada apa dengan Aleah, Pa?" lirih Athena yang memberanikan diri untuk bertanya. "Diam dan ikuti semua perintahku," jawab William tanpa menatap Athena. Athena menahan air matanya. Dia tidak mengerti dengan semua ini, apa yang telah terjadi pada Aleah sampai dia harus menggantikan Aleah di asrama? Athena yang hanya seorang gadis berusia 17 tahun hanya bisa berdoa agar Aleah baik-baik saja. Setelah menempuh perjalanan dari Bandung menuju Bogor, akhirnya mobil yang membawa Athena sampai di Asrama Cipta Mulia. Athena melihat gedung yang megah bewarna coklat. William membawa Athena melangkah menuju kantor Kepala Yayasan. Satu yang membuat hati Athena sedikit bahagia adalah William menggandeng Athena selama melangkah menuju ruangan itu. Athena merasa bahagia sekali. Walau hanya sebentar Papa yang selama ini dia rindukan bisa menggandeng tangannya. Ingin rasanya Athena menghentikan waktu saat ini agar William bisa lebih lama menggandengnya. Sayangnya keinginan Athena harus pupus saat William pergi setelah mengantarkannya. Athena tersenyum menatap William yang pergi karena sebelum pergi William sempat mencium keningnya. Athena sungguh merasa bahagia hari ini. Seandainya Athena tahu William seperti itu hanya karena status Athena tidak ingin dicurigakan. William selalu lembut kepada Aleah jadi tidak mungkin William bersikap dingin kepada Athena yang saat ini menggantikan Aleah di asrama. "Aleah, kamu bisa kembali ke kamarmu. Untuk saat ini kamu boleh beristirahat. Besok barulah kamu kembali beraktivitas," ucap Kepala yayasan. "Iya Bu," ucap Athena tersenyum. Athena melangkah keluar dari ruangan Bu Riska ketua Yayasan asrama ini. Athena sedikit ragu untuk melangkah saat ini. Mana langkah yang harus dia ambil ke kiri atau ke kanan? Athena benar-benar buta tentang asrama ini. Dia baru menghafal sebagian jadi tidak mungkin dia bisa cepat mengetahui seluk-beluk asrama sebesar ini. Kebetulan sekali Athena melihat seorang siswa baru saja keluar dari ruang yang Athena yakini ruang itu adalah ruang guru. Dengan tersenyum dan bersikap ramah Athena menghampiri siswa laki-laki itu. "Hai, aku Athe. Em maksudku aku Aleah. Kamu pasti kenal akukan?" ucap Athena dengan ramah. Sayangnya siswa itu menatap Athena dengan malas. Tanpa berkata siswa itu melanjutkan langkahnya. "Hai, tunggu," teriak Athena mengejar langkah siswa itu. Athena berlari dan berdiri menghalang jalan siswa itu lagi. "Aku hanya ingin bertanya. Maksudku seperti ini. Aku sedikit lupa dimana kamar untuk siswi perempuan?" tanya Athena dengan memelankan suaranya. Well. Pria dihadapan Athena menaikkan satu alisnya. Siapapun yang mendengar pertanyaan Athena pasti akan bingung. Karena yang pria ini tahu wanita dihadapannya adalah Aleah yang sudah sekolah di asrama ini hampir dua tahun. Jadi bagaimana mungkin bisa lupa dimana kamarnya. Pria itupun menyeringai menatap Athena. "Kenapa tertawa? Aku hanya lupa. Jadi kamu maukan membantuku memberi tahu dimana kamarnya?" tanya Athena lagi. Pria dihadapannya ini menganggukkan kepalanya dan meminta Athena mengikutinya. Mereka melangkah ke arah kiri gedung. Lalu menaiki tangga sampai di lantai 4. Athena sedikit berpikir bukannya disini ada lift, kenapa pria ini mengajaknya melewati tangga? Sudahlah Athena tidak ingin ambil pusing. Yang terpenting dia ingin sampai di kamar yang pernah Aleah tempati. Tepat di ujung koridor pria itu menunjukkan jalan kepada Athena agar terus melangkah dan belok ke kanan. Lalu ada pintu besar di sebelah kanan disitulah letak kamar siswi perempuan. Athena tersenyum kepada pria yang sudah membantunya tidak lupa dia mengucapkan terimah kasih. "Terima kasih ya. Kalau dilihat lebih jelas wajahmu tampan juga," ucap Athena yang memperhatikan wajah pria yang sudah membantunya. Setelah itu pria yang Athena bilang tampan berbalik dengan menyeringai. Dia berpikir Aleah yang ternyata adalah Athena itu habis terbentur batu sampai bisa tidak tahu ruangan yang sedang dia tuju saat ini. Dengan melangkah perlahan meninggalkan Athena yang sudah menuju ruangan yang dituju, pria itu menghitung sampai tiga. Tepat di hitungan ketiga, terdengar suara wanita berteriak dan pria itu berlari menjauh dari sana sambil tertawa terbahak-bahak. "AAAAAAAA" teriak Athena menutup matanya. Bagaimana dia tidak berteriak dihadapannya sekarang adalah kamar mandi siswa laki-laki sekaligus ruang ganti. Banyak siswa laki-laki yang bertelanjang d**a hanya dengan handuk yang melingkar di pinggang dan ada yang hanya memakai celana boxer. Athena menutup matanya tetapi dia sedikit mengintip dari sela-sela jarinya. Dia tidak salah dihadapannya penuh dengan roti sobek yang sedang tumbuh. Dan semua siswa laki-laki menatap Athena dengan santai. "Sorry. Sorry. Sorry,"  ucap Athena panik dan segera keluar dari ruangan itu. Athena berlari menjauh dari ruangan itu. Dia menarik ucapannya saat mengatakan siswa yang tadi mengantarnya. Dirinya tidak sudi berkata 'tampan' kepada siswa laki-laki itu. Athena kesal sekali. Athena melihat ke kanan dan ke kiri mencari siswa sialan itu, ingin rasanya Athena menyumpal mulutnya dengan kaos kaki yang sudah dua hari belum Athena cuci. Sayangnya siswa pria itu sudah tidak ada. "Hai, Kelly. Apa kamu mau ke kamar?" ucap Athena saat mengingat wajah siswi perempuan dihadapannya ini. Ya dia sudah membaca halaman depan dan wajah perempuan ini ada di urutan kelima. Gadis berambut coklat dan berkacamata. "Iya," jawabnya. "Bolehkah aku ikut bersamamu?" tanya Athena lagi. "Boleh," jawabnya lagi. Akhirnya Athena mengekori Kelly yang ternyata dia satu kamar dengan Kelly. Athena bersyukur sekali akhirnya bisa bertemu Kelly. Coba saja dia lebih dulu bertemu Kelly dibandingkan siswa yang tadi membohonginya, pasti dia tidak akan malu seperti ini saat melewati para siswa laki-laki yang tadi ada di dalam kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD