bc

Yes, Queen!

book_age16+
1.0K
FOLLOW
9.2K
READ
billionaire
dark
possessive
forced
dominant
badgirl
drama
bxg
rejected
actor
like
intro-logo
Blurb

Klik love-nya dulu teman-teman sebelum baca:)

Queena Erika, adalah anak satu-satunya dari keluarga kaya raya dengan kekayaan yang hampir tidak ada ujungnya. Seluruh harta kekayaan resmi jatuh ke tangannya sejak ayahnya meninggal dunia menyusul ibunya yang sudah lebih dahulu meninggal. Menjadi kaya raya sejak masih menjadi embrio membuat Erika selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, termasuk Julian. Seorang selebritis yang namanya sedang melambung tingga akhir-akhir ini dibuat benar-benar muak saat dirinya diklaim menjadi milik Erika bahkan sejak pertama mereka bertemu.

"Panggil aku Queen. Kau adalah milikku, mengerti?"

"Hanya dalam mimpimu!" tegas Julian.

Ikuti kisahnya!

chap-preview
Free preview
Chapter 1

Tas belanjaan dengan berbagai merk ternama, pakaian, tas, sepatu, semuanya berceceran secara tragis di lantai membuat seseorang yang baru saja memasuki kamar hanya mampu berdecak sembari berkacak pinggang. Di tatapanya pula seorang wanita yang tampak masih larut dalam mimpinya tengah menutup diri secara sempurna tanpa terlihat sehelai rambutpun di balik selimut tebal lembut berbahan premium miliknya.

Sebelum memutuskan untuk mengeluarkan suara, ia kembali memeriksa jam yang melingkar di tangannya untuk memastikan bahwa sekarang sudah tepat 3 jam ia menunggu namun yang ditunggu tidak juga terjaga dari tidurnya. Jadi sudah sangat wajar jika ia memutuskan untuk memasuki kamar dan membangunkan seseorang yang menjadikan hal seperti ini sebagai rutinitasnya tanpa berniat untuk berubah.

"Erika..."

"Erika..."

"Erika..."

3 kali memanggil, gadis bernama Erika itu tidak kunjung terjaga. Jangankan bangun, bergerakpun ia tidak sama sekali. Arin menghela nafas kasar, sangat kasar hingga suara hembusan nafasnya terdengar begitu jelas.

"Erika! Apa kau akan tidur sepanjang hari dan mengabaikan rapat pentingmu hari ini? Bukankah aku kemarin sudah mengingatkanmu untuk tidur lebih awal agar tidak bangun terlambat? Kenapa kau malah pulang larut malam? Aku sudah menunggumu sejak 3 jam yang lalu. Bahkan sekretarismu sudah menunggumu sejak 4 jam yang lalu. Jadi harus berapa lama lagi kami menunggu?!" Arin berceloteh tiada henti hanya dengan sekali tarikan nafas dengan suara yang meninggi sebagai jurus jitu yang biasa ia pakai untuk membangunkan Erika. Benar saja, setelah ucapannya usai, ada sedikit pergerakan di dalam selimut Erika.

"ERIKA BANGUNLAH!"

"Aishhh... kenapa kau berisik sekali." Erika melemparkan selimutnya ke sembarang arah sembari menatap Arin kesal karena sudah mengganggu waktu tidurnya.

"Tentu saja aku harus berisik. Orang-orang sudah menunggumu di meja rapat, tapi kau masih saja tidur."

"Tunggu 1 jam lagi." Erika kembali menutup matanya membuat mata Arin membulat marah.

"Aku akan benar-benar marah jika kau tidak secepatnya bangun. Apa aku harus menghabiskan umurku hanya dengan mengatur dirimu yang sangat susah diatur ini?" Erika membuka matanya, bangkit dari tidurnya, kemudian berjalan menuju kamar mandi dengan kaki yang dihentak-hentakkan kesal.

"Aku akan memotong gajimu bulan ini karena kau menyebalkan!" Kata Erika melewati Arin sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.

"Aku bahkan berharap kau memecatku sesegera mungkin," balas Arin. Arin berjalan menuju lemari es yang berada di dalam kamar Erika kemudian mengambil botol air mineral dan meneguknya. Ia selalu saja kehausan saat menghadapi Erika yang tidak akan benar-benar menurut jika kesabaraannya masih ada.

Arin memutuskan untuk keluar kamar Erika, menemui sekretaris Erika untuk memberi tahu bahwa Erika sudah bangun dan akan segera ke kantor. Ya meskipun mereka harus kembali menunggu karena Erika akan bersiap-siap dengan waktu yang cukup lama, tapi setidaknya ada titik terang dari penantian mereka sejak pagi.

***

"Selamat siang. Rapatnya langsung saja kita mulai, saya tidak punya banyak waktu." Erika duduk di kursi khusus untuknya, kemudian melepaskan kacamata hitam yang sejak tadi ia pakai dan meletakkan tas mahal miliknya di atas meja. Ia duduk dengan begitu anggun menunggu seseorang memulai presentasinya untuk rapat kali ini.

"Baik Bu, selamat siang sebelumnya, sa..."

"Tidak usah berbasa-basi, langsung saja."

"Baa.. baik Bu. Jadi sesuai dengan permintaan bu Erika bulan lalu untuk merevisi kotak kemasan parfum pria yang akan kita luncurkan bulan depan, saya berserta tim sudah membawa beberapa sampelnya yang bisa Ibu pilih. Tema kita yang elegan namun sederhana seperti permintaan Ibu juga sudah kami tuangkan, jadi inilah hasilnya." Pria itu memperlihatkan hasil kerjanya kepada Erika. Erika tampak meneliti satu persatu dari ke-4 sampel yang mereka bawa.

"Saya akan pilih yang ini. Tapi hilangkan warna silver ini, agak menggangu. Biarkan dia hanya berwarna hitam berkilau dengan sedikit aksen hologram di atasnya."

"Baik Bu."

"Oh iya, apa kalian sudah dapat brand ambassador untuk produk terbaru ini?"

"Sudah Bu, penandatanganan kontak juga sudah selesai."

"Bagus, siapa dia?"

"Julian Emillio Bu."

"Julian Emillio? Kenapa namanya terdengar agak asing?"

"Dia adalah aktor sekaligus model yang namanya sedang naik daun saat ini."

"Baiklah, atur pertemuan kami besok pagi. Aku perlu bertemu dengannya."

"Baik, Bu."

"Baiklah, aku rasa sudah cukup. Selamat siang." Erika mengambil tasnya kemudian memasang kembali kaca mata hitamnya dan melenggang keluar dari ruang rapat. Arin langsung bangkit dari duduknya kemudian bergegas mengikuti Erika.

"Erika." Langkah Erika terhenti, ia menatap Arin sembari memainkan rambutnya yang ia biarkan terurai panjang.

"Kau mau kemana?"

"Melanjutkan aktivitasku tadi malam yang belum usai. Kau tahu, toko brand sepatu kesukaanku baru saja mengirimkanku pesan bahwa ada barang limited edition yang baru masuk ke Seoul. Ah aku tidak sabar memilikinya," Erika berkata dengan sangat antusias membayangkan dirinya akan segera mendapatkan sepatu yang ia idam-idamkan sebulan belakangan ini. 

"Kau baru saja sampai di kantor dan akan pergi lagi?" 

"Tentu saja, kau awasi semuanya ya. Aku akan langsung pulang setelah berbelanja. Datanglah ke rumahku malam ini dan beri laporan hari ini." Setelah mengatakan itu, Erika langsung melenggang pergi membuat Arin menggelengkan kepalanya frustasi.

"Sebenarnya siapa CEO di perusahaan ini, aku atau dia." Lagi-lagi Arin harus menghembuskan nafasnya kasar melihat sifat atasan sekaligus sepupunya itu yang tidak pernah berubah. Ia selalu bekerja sesukanya. Untung saja ia memiliki banyak orang-orang kepercayaan yang merupakan orang kepercayaan ayahnya dulu yang mampu menangani perusahaan ini. Tapi anehnya, meskipun sikapnya sering asal-asalan dan semaunya dalam berbisnis, bisnis peninggalan orang tuanya ini tetap saja maju. Bahkan parfum hasil inovasi Erika selalu mendapatkan angka penjualan yang tinggi dibandingkan saat dipegang oleh ayah dan ibunya dulu. Harus diakui, ia memiliki bakat bisnis yang alami.

***

Seorang pria berperawakan tinggi gagah dengan wajah tidak terlihat seperti orang korea pada umunya dan lebih didominasi oleh wajah kebaratan itu tampak duduk dengan tenang. Meskipun sudah duduk diam hampir setengah jam dari waktu yang sudah di tetapkan, ia tampak tetap tenang. Berkali-kali manajer di sampingnya menghubungi sekretaris dari seseorang yang sedang mereka tunggu untuk memastikan kapan orang itu akan datang.

Mata coklat pria itu yang tadinya fokus pada ponselnya langsung teralihkan saat mendengar suara pintu terbuka. Seorang wanita dengan setelan wanita kantoran pada umumnya namun dengan style lebih modis tampak memasuki ruangan bersama beberapa orang di belakangnya. 

"Maaf terlambat, saya ada sedikit urusan tadi," bohongnya terlihat tenang. Tentu saja karena ia baru saja bangun dari tidurnya. 

"Tidak masalah bu Erika," jawab sang manajer menyambut kedatangan Erika.

"Perkenalkan, ini Julian Emillio. Dan Julian, ini ibu Erika, pemilik perusahaan ini." Sang manajer terlihat memperkenalkan kedua orang yang akan terlibat kerja sama ini. Julian terlihat membungkuk sopan yang dibalas oleh Erika.

Mereka semua kembali duduk. Sesuai jadwal pertemuan kali ini, mereka kembali membahas kerja sama yang akan berlangsung. Baik pihak manajer Julian maupun Erika terlihat saling kontrak dan sistem kerja sama yang sudah disepakati serta konsep dalam pembuatan iklan. Julian terlihat mendengarkan dengan tenang, Erikapun seharusnya melakukan hal yang sama. Tapi wanita itu malah melakukan hal yang lain. Mata elangnya sibuk meneliti Julian dari balik kacamata berwarna merah hati yang ia pakai. Ia bahkan tidak melewatkan satu inci pun dan satu kata yang terlintas di benaknya, 'sempurna'. Entah dewa Yunani mana yang tengah berada di kantornya saat ini hingga membuat Erika rasanya enggan mengedip. Hanya saat dirasa matanya sudah mulai keringlah baru ia mengedip dan kemudian kembali melanjutkan menatap Julian.

Meskipun tidak bertatapan langsung, tapi Julian bisa merasakan dari sudut ekor matanya bahwa ia sedang diperhatikan dengan begitu intens membuatnya menghembuskan nafas tidak nyaman. Tapi ia berusaha sebisa mungkin untuk biasa saja.

Setelah beberapa lama, rapat hari ini usai juga. Erika terlihat kecewa, padahal ia belum puas menikmati salah satu ciptaan Tuhan yang diciptakan dengan sepenuh hati itu. Untuk pertama kalinya ia tidak ingin keluar dari ruang rapat dengan terburu-buru.

Satu persatu orang-orang keluar dari ruang rapat. Erika dengan sengaja memperlambat langkahnya seolah menghalangi jalan Julian hingga mereka berada di posisi paling belakang untuk keluar ruangan.

"Permisi Bu Erika," darah Erika rasanya berdesir mendengar namanya dipanggil oleh Julian. Erika mantap mendeklarasikan dirinya bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Julian dan ia akan pastikan Julian akan menjadi miliknya.

"Panggil aku Queen. Kau adalah milikku, kau mengerti?" Erika berbalik dan menampilkan senyum khasnya pada Julian. Dibukanya kacamata miliknya agar matanya bisa melihat mata Julian yang kini tengah menatapnya dengan jelas. Ia adalan Queena Erika, cantik, kaya, sukses, semua ia miliki. Tidak akan ada yang tidak bisa ia miliki, termasuk Julian. Ia hanya tinggal menunggu persetujuan keluar dari mulut Julian.

"Hanya dalam mimpimu!" Julian berkata dengan nada yang begitu datar kemudian berlalu pergi melewati Erika membuat Erika tercengang. Bahkan mulut Erika terbuka sangkin kagetnya mendengar jawaban dari Julian. Apa ia tidak salah dengar? ia ditolak? 

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Garis Tanganku

read
33.7K
bc

My Boss and I

read
188.4K
bc

KAMINI (Wanita Penuh Kasih Sayang)

read
428.2K
bc

Bukan Ibu Pengganti

read
503.3K
bc

ALETHA

read
5.2K
bc

Bukan Nikah Biasa

read
74.0K
bc

DOUBLE BUCIN (sequel my husband is senior kampus)

read
48.7K