Acara masak-memasak untuk arisan ibu mertua akhirnya kelar juga. Badan rasanya nano-nano. Pegel, linu, ngantuk campur menjadi satu, namun aku masih berusaha standby di dapur. Malas sekali rasanya mendengar teriakan-teriakan ibu lagi dan lagi di saat aku baru saja menyelonjorkan kaki.
Segala masakan dan camilan sudah kuhidangkan. Lesehan alias melantai di atas tikar. Timlo, sayur sop, tempe & tahu bacem, telur puyuh goreng, sate ati ampela, kerupuk. Belum camilan lain agar-agar, brownies, bolu, kacang rebus, risol, pisang goreng, bala-bala, dan entah apalagi aku sampai mual rasanya melihat masakan segitu banyak. Kalau pesan sih nggak masalah, tapi kebanyakan aku yang memasaknya dibantu dengan dua tetangga lain. Sementara ibu, entah sibuk apa. Mondar-mandir nggak jelas dari pagi hingga sesore ini.
"Minumannya mana, Rin? Buruan disiapkan keburu tamu datang semua," titah ibu lagi saat aku baru saja merebahkan badan.
"Badanku capek banget, Bu. Ibu gantian lah, tinggal mindahin ke ruang depan kok sudah aku siapkan di dapur tehnya. Minuman kemasan juga sudah ada di kardus samping kulkas," jawabku bergeming, masih tetap rebahan di pembaringan. Rasanya badan ini benar-benar remuk redam. Pegal dan ngilu di mana-mana.
"Kamu ini disuruh malah nyuruh. Gimana sih, Rin?" Ibu menatapku sinis.
"Aku baru saja istirahat, Bu. Dari sebelum subuh aku sudah sibuk di dapur. Makan saja buru-buru sambil ibu suruh ini itu," balasku lagi.
"Alasan saja kamu ini. Bilang aja sudah nggak mau bantu. Mau mainan ponsel, begitu," sungut ibu dengan wajah ditekuk.
"Iya deh, aku mau mainan ponsel saja. Ibu yang suruh, kan? Terima kasih ya, Bu pengertiannya. Seharian memang belum buka ponsel," ucapku mencoba untuk santai meski dalam hati rasanya begitu emosi. Orang seperti ibu memang tak cocok pakai kekerasan, harus lembut tapi tajam biar sadar.
"Astaghfirullah, Rin! Ibu bisa naik darah kalau serumah sama menantu macam kamu!" Bentak ibu lagi.
Kuambil ponsel di atas meja rias, pura-pura mengotak-atik sesuai perintah ibu.
"Makanya, Bu. Biarkan aku dan Mas Feri pisah rumah, biar ibu serumah dengan Mbak Vina saja. Kalau sama aku nanti tensi ibu naik terus, iya, kan?" Aku menoleh ke arah ibu yang masih berkacak pinggang di samping pintu. Kulihat matanya melotot tajam seolah akan menerkam mangsa. Astaghfirullah, ibu. Untung nggak copot itu bola mata.
"Kenapa sekarang kamu selalu menjawab omongan ibu sih, Rin? Kamu tahu artinya menantu durhaka, kan? Atau kamu memang sengaja selalu nyolot begitu biar tensi ibu naik?" Kulihat ibu semakin meradang.
"Menantu durhaka sama mertua yang durhaka, gitukah, Bu?" Aku kembali tersenyum menatap wajah ibu yang kebingungan. Aku yakin ibu tak begitu paham apa yang kuucapkan.
"Maksudmu apa ngomong begitu? Mana ada mertua durhaka!"
"Iya, nggak ada kok, Bu. Adanya sih mertua dzalim. Sudahlah, Bu. Aku nggak mungkin sengaja membuat tensi ibu naik kok. Kalau tensi ibu naik dan jatuh sakit, aku juga yang repot, kan? Masa aku senang kerepotan, nggaklah. Aku asal jawab aja karena capek diam terus, Bu. Lagipula Allah kasih kita mulut untuk bicara kok."
Braaakkkkkk! Ibu pergi ke luar dengan membanting pintu. Hatiku berdebar tak karuan. Air mata yang sejak tadi kubendung mengalir tak beraturan. Aku memang sudah berani menjawab ucapan ibu, tapi jujur dalam hati rasanya begitu sakit.
Mengapa ibu tak sadar juga jika aku sudah berusaha menjadi menantu yang terbaik untuknya. Menantu yang sejak dulu selalu patuh dan tunduk apapun yang dia perintahkan. Meski kini sudah berbeda. Aku sedikit memberontak karena diam pun rasanya sia-sia.
Entah kapan ibu bisa menyadari kesalahannya. Sungguh, aku juga tak bermaksud membantah atau durhaka, tapi ibu benar-benar keterlaluan kalau aku terus diam. Semoga ibu memaafkanku. Rasanya dadaku selalu berdebar tak karuan tiap kali adu mulut atau berdebat dengan ibu. Aku tak biasa seperti ini. Seolah bertentangan dengan jati diriku sendiri.tapi lagi-lagi jika aku terus mengalah, ibu tak pernah mau berhenti meremehkan dan menginjak-injak harga diriku.
Kudengar, tamu mulai berdatangan. Benar saja, jarum jam hampir menunjuk angka empat sore. Seperti biasanya arisan para ibu itu diadakan sore hari. Entah lah apa maksudnya. Arisan sudah bernomer, siapa yang dapat harus menyiapkan makan-makan seperti ini. Intinya sama saja, dapat uang arisan tapi juga keluar modal banyak untuk jamuan. Alih-alih silaturakhim tapi cukup pemborosan.
"Menantunya ke mana, Bu? Kok nggak kelihatan?" Suara seorang ibu entah siapa menanyakanku.
Aku yang baru saja mandi dan ganti baju.
"Ibu siapkan semuanya sendiri? Menantunya nggak disuruh bantu-bantu?" tanya yang lain.
"Begitu lah menantuku, disuruh nyiapin minuman malah masuk kamar." Kudengar jawaban ibu, membuat nyeri ulu hatiku.
"Mbak Arin sudah menyiapkan semuanya dari sebelum subuh kok, ibu-ibu. Mungkin sekarang lagi bersih-bersih di kamar. Pasti kecapekan." Suara Mbak Mirna-- tetangga terdekat yang ikut membantuku menyiapkan semuanya.
"Oh pantes kalau kecapekan. Mbak Atin sudah bantuin begitu loh Jeng, masak nggak dihargai." Suar Bu RW ikut menimpali.
Ah sudah lah. Aku harus berusaha kebal, bukan kah selama ini ibu memang tak pernah menghargaiku? Jadi tak perlu diambil hati meski terlalu sakit dan perih.
Gegas kubuka pintu, kembali ke dapur bersama Mbak Mirna dan Mbah Sina. Mbak Mirna adalah cucu Mbah Sina, biasanya dia bekerja di pabrik garmen tapi sudah beberapa hari belakangan diliburkan entah karena apa.
"Semua sudah siap, Mbak?" tanyaku pelan saat kulihat para ibu sudah lesehan di ruang depan. Ada yang mulai mencatat arisan, ada yang menikmati camilan, ada juga yang ngobrol dan bercanda dengan yang lain.
"Sudah, Mbak. Mbak Arin istirahat saja nggak apa-apa. Nanti kalau ibu Sri kalau minta apa-apa biar saya ambilkan," ucap Mbak Mirna lagi. Saat dia senggang memang sering membantuku kalau kerepotan. Dia begitu baik dan pengertian.
"Nggak apa-apa, Mbak. Tadi sudah selonjoran sebentar. Nanti kalau sudah kelar semua saja istirahat sekalian," jawabku lagi. Mbak Mirna hanya mengangguk pelan sembari tersenyum.
Suasana makin ramai, apalagi saat makan-makan. Beberapa ibu bilang timlonya sangat enak. Aku hanya tersenyum mendengar pujian mereka. Sementara ibu tak pernah memuji masakanku, justru hampir tiap memasak aku selalu mendapat komplen darinya. Kurang ini lah kurang itu lah seolah tak ada benarnya.
"Mbak Mirna sama Mbah Sina makan dulu saja. Capek banget pasti goreng ini itu," ucapku. Kulihat cucu dan nenek itu sedang ngobrol tak jauh dari tempat dudukku.
"Kami sudah makan, Mbak. Justru Mbak Arin yang belum makan dari siang. Iya, kan? Makan dulu saja, Mbak. Mumpung ibu-ibu itu juga sedang makan," ucap Mbak Mirna disertai anggukan Mbah Sina.
"Iya, Nduk. Makan dulu, kamu nggak boleh telat makan to? Nanti sakit lagi," timpal Mbah Sina. Mbak Mirna pun mengangguk pelan.
Baru menyendokkan nasi ke piring terdengar panggilan ibu.
"Biar saya saja, Mbak. Mbak makan dulu."
Kulihat Mbak Mirna beranjak ke ruang depan menjawab panggilan ibu. Tak selang lama dia kembali ke dapur saat aku baru menikmati sepotong tempe, bahkan seporsi nasi dengan sopnya belum tersentuh sesendok pun.
"Kenapa, Mbak? Diminta apa sama ibu?" tanyaku kemudian.
"Nggak tahu, Mbak. Mbak Arin yang disuruh ke sana sama Bu Sri," jawab Mbak Mirna lagi. Kuhela napas panjang, entah apalagi yang ibu minta. Sepertinya dia memang tak senang jika aku istirahat sebentar saja.
Buru-buru aku ke ruang depan saat terdengar suara ibu memanggil kedua kalinya.
"Ada apa, Bu?" tanyaku singkat.
"Kamu ke mana saja? Sudah tidurnya?"
Hampir semua tamu menoleh ke arahku. Mukaku merah padam karena malu.
"Boro-boro tidur, Bu. Makan saja aku belum sempat. Itu masih ada di atas meja belum masuk mulut sesuap pun," jawabku. Wajah ibu memerah seketika bukan karena malu tapi sepertinya karena begitu marah. Dia merasa tak dihargai karena aku berani menjawab ucapannya di depan para tamu. Aku yang biasanya selalu mengalah dan diam saja, menerima apa pun yang ibu katakan.
"Kasihan, Bu. Biar Arina makan dulu. Dia punya radang lambung, kan?" tanya Bu Rt santai.
"Iya, Bu. Nanti sakit lagi," timpal Bu Sari.
Pembelaan mereka padaku justru membuat ibu semakin geram.
"Ambilkan semangka di dalam kulkas. Lupa belum dihidangkan," titah ibu kemudian. Aku membalikkan badan, kembali ke dapur untuk mengambil semangka di dalam kulkas.
"Suruh ngapain, Mbak?" tanya Mbak Mirna penasaran setelah aku kembali ke dapur dengan tergesa.
"Cuma ngambil semangka di kulkas, Mbak"
"Ya Allah, Bu Sri. Cuma ngambil semangka saja mau kuambilkan kok nggak boleh. Harus kamu katanya, Mbak. Yang sabar ya, Mbak Arin," ucap Mbak Mirna lagi. Aku hanya bisa mengangguk pelan sembari mencoba untuk tersenyum.
Kudengar salam dari luar. Sepertinya Mas Feri sudah pulang. Syukur lah, semoga ibu tak lagi semena-mena, akhir-akhir ini ibu agak takut jika ada Mas Feri karena dia selalu berpesan agar aku tak terlalu kecapekan saat dia tinggal pergi. Takut kalau sakitku kambuh lagi, karena dia sudah tak memiliki jatah cuti.
"Feri gajian hari ini, kan? Jatah buat ibu mana?" tanya ibu cepat. Seperti biasanya dia memang sengaja meminta jatah bulanan di depan teman-temannya.
"Ada, Bu. Manti saja ya, Bu. Malu masih banyak tamu," ucap Mas Feri sembari tersenyum menatap sekilas para tamu.
Kuhidangkan semangka dingin yang sudah terpotong di atas tikar.
"Terima kasih, Rin," ucap Bu RW dengan senyum tipisnya. Aku menjawab dengan senyum dan anggukan kepala.
"Arin bilang, nggak mau lagi jatah bulanan dari kamu loh, Fer. Ibu mau lihat dia serius atau justru menjilat ludahnya sendiri," ucap ibu lagi. Dia melirikku dengan ekor matanya, aku tahu itu.
Para tamu yang hadir sedikit kaget mendengar pernyataan ibu termasuk Mas Feri.
"Benar kamu bilang begitu, Rin?" tanya Mas Feri tiba-tiba. Kuhembuskan napas panjang sebelum menjawab pertanyaan darinya.
"Nah, kan. Mau mengelak dia, dasarnya memang suka menjilat ludah sendiri," ucap ibu lagi.
"Ini buat ibu dan ini buat jatah bulanan Arin."
Mas Feri menyerahkan dua buah amplop untukku dan ibu. Kulihat ibu tampak tersenyum bahagia.
"Sudah, Bu. Jangan dibuka di sini. Malau lagipula tak elok juga. Nanti di kamar saja bukanya," pinta Mas Feri sembari pamit menuju kamar. Aku masih mematung di samping pintu ruang tengah.
"Lihat menantuku, kemarin bilangnya nggak mau lagi nafkah dari Feri, nyatanya diterima juga," sindir ibu lagi. Para tamu berbisik-bisik.
"Kalau nggak diterima, sekeluarga mau makan apa loh, Jeng. Itu kan uang belanja bulanan. Aku aja dikasih dua juta belum sampai akhir bulan sudah habis."
"Iya, Jeng. Apalagi gaji Feri banyak, ya. Kata Ibu Sri dikasih ke Arin semua, dia cuma dikasih sejuta setengah saja."
Mereka saling pandang dan menganggukkan kepala.
"Wajar dong diterima, lagipula Feri kasih istrinya sendiri bukan istri tetangga."
Suara tawa makin terdengar riuh membuat ibu semakin geram.
"Dia sendiri yang janji. Tapi begitu lah suka menjilat ludah sendiri."
"Siapa bilang, Bu? Saya akan kembalikan uang ini ke Mas Feri kok," balasku. Suasana berubah hening, mungkin kaget mendengar jawaban dariku.
"Halah, itu juga karena Feri janji mau kasih nafkah pribadi buat kamu, iya, kan?" Ibu tak mau kalah.
Mas Feri tiba-tiba datang setelah ganti baju. Kebetulan sekali, sekalian kukembalikan saja uang darinya.
"Ini, Mas. Saya kembalikan uangnya, sepertinya ibu nggak ridha. Ibu bilang ke para tetangga kalau dia hanya dikasih satu juta setengah saja, sementara aku mendapatkan sisa gajimu. Banyak dong, Mas. Gaji pokokmu saja lima juta dikurangi jatah ibu satu setengah juta otomatis jatah bulananku tiga setengah juta ya, Mas," ucapku menjelaskan.
Wajah Mas Feri mendadak pias. Dia memintaku untuk tak banyak bicara sepertinya malu.
"Buat kamu saja, Rin. Ini jatah buat belanja. Mulai bulan ini kamu mau aku kasih jatah sendiri, bukan ini."
"Baik lah kalau memang Mas Feri nggak mau menerima, biar buat ibu saja. Mas bilang ridhoNya tergantung ridha orang tua, kan? Sementara ibu tak meridhoi uang sebanyak ini di tanganku."
Kuserahkan amplop itu di pangkuan ibu.
"Sekalian dibuka juga nggak apa-apa, Bu. Biar semua tahu, berapa sebenarnya jatah bulananku selama ini."
Wajah ibu benar-benar memerah, antara malu dan marah. Para ibu meminta ibu membuka amplopnya, mungkin ikut penasaran juga benar atau nggak omongan ibu selama ini. Ibu selalu bilang kalau aku istri yang boros, dikasih uang berapa pun selalu habis tak bersisa.
"Satu juta, Jeng Sri?" Teriak Ibu Rt seketika saat ibu selesai menghitung jumlahnya.
"Jadi selama ini Arin yang benar kalau dia memang dikasih jatah satu juta saja?"
"Waduh, kalau aku belum setengah bulan juga habis secara ada empat orang di rumah."
"Aduh, Jeng. Jangan terlalu menjelek-jelekkan menantu, walau bagaimanapun Arina yang mengurus Jeng Sri selama ini apalagi kalau sedang sakit suka ribet."
"Kasihan loh, Jeng. Arin selama ini hanya diam saja kalau Jeng Sri omeli, lama-lama bisa makan hati."
Berbagai komentar terlontar dari bibir para tamu yang tak lain para tetangga. Wajah ibu benar-benar pias, bibirnya mengerucut dengan tatapan tak mengenakkan. Aku tak peduli. Cuek memang sangat diperlukan saat ini.
***