Bab 11 Lidah Mertua

1323 Words
Pagi-pagi sekali ibu sudah ribut. Bunyi pisau dan nampan beradu, gelas, sendok dan piring serta perabot lainnya, seolah sengaja dia perkeras agar aku gegas ke luar kamar. Padahal aku masih cukup mengantuk karena semalam tidur terlalu larut. Meracik bahan-bahan untuk membuat nasi timlo dan sop ayam. Aku sudah bilang sekalian pagi saja sebelum subuh, tapi ibu tak pernah mau mendengar apa pun usulanku. Mau tak mau aku mengikuti arahannya. Aku tak ingin tensi ibu kembali naik seperti beberapa hari yang lalu, semakin memperlambat urusanku beberes rumah. "Biasakan bangun pagi sebelum subuh. Jadi perempuan harusnya bangun sebelum ayam berkokok, bukan matahari terbit baru bangun," ucap ibu ketus saat melihatku sudah sampai di pintu dapur. Gegas kubuka jendela, meski masih gelap gulita. Sengaja. "Kok malah dibuka? Kamu nggak lihat masih gelap? Dingin. Kamu sengaja ingin ibu masuk angin?" Bentak ibu kemudian. "Bukannya ibu bilang, jadi perempuan harusnya bangun sebelum ayam berkokok, bukan matahari terbit baru bangun? Ibu bisa lihat sendiri sekarang, matahari belum ada, ibu. Masih gelap, kan?" ucapku pelan. Ibu terlihat begitu meradang. Dia membanting pisau di atas nampan mungkin merasa kupermainkan. "Jangan begitu, Bu. Nanti tangan ibu bisa kena pisau," ucapku lagi. "Makin lama makin ngelunjak kamu, ya, Rin!" Aku menoleh sekilas, lalu menghembuskan napas panjang. "Ngelunjak apa, Bu? Kalau Arin ngelunjak mungkin nggak akan bantuin ibu sejak kemarin. Kurang apa lagi sih, Bu?" tanyaku. "Kamu rajin karena hari ini bakal dikasih uang lebih sama Feri. Kalau nggak juga malas-malasan. Ibu tahu kamu itu mata duitan," ucap ibu sembari mencuci sayuran di wastafel. "Kebanyakan perempuan bukannya mata duitan, ya, Bu? Termasuk ibu," ucapku lirih namun aku yakin ibu masih mampu mendengarnya. "Maksudmu apa ngomong begitu, Arin! Kamu mau bilang ibu mata duitan?" ucap ibu lagi. "Jangan emosi, Bu. Nanti tensi ibu benar-benar naik, bosan ke rumah sakit tiap bulan, kan?" Ibu menggebrak meja lalu meninggalkanku begitu saja. Butuh keberanian super untukku hari ini bisa mengimbangi ucapan ibu, bahkan bisa menjawab pertanyaan ibu selancar ini. Bukan tanpa alasan, namun aku memang mendapat dukungan dari Yasmin bahkan ibu mertuanya untuk menyadarkan ibu. Jika tidak, selamanya ibu akan berlaku tak adil pada menantunya. "Jangan diam saja kalau ibu mertuamu ngomong macam-macam, Arina. Kamu harus bicara. Paling tidak, memberi tahu kejadian yang sebenarnya agar ibumu tak semena-mena. Jika kamu selalu mengalah dan diam, ibumu juga akan selalu merasa benar. Ibu miris dengar cerita kamu dari Yasmin. Semoga ibu mertua kamu cepat sadar, ya, Nak." Pesan dari mertua Yasmin dua hari lalu begitu membekas di hati. Betapa beruntungnya Yasmin memiliki ibu mertua sepertinya yang penuh kasih, pengertian dan perhatian. Dia menyayangi Yasmin seperti anak kandungnya sendiri, bukan seperti seorang mertua dengan menantunya. Sangat bertolak belakang dengan sikap ibu padaku. Perlakuan kasar dan tak baik ibu pada menantunya memang sudah dianggap biasa saja di sini. Tak ada yang kaget lagi. Ada yang menyalahkan ibu namun tak sedikit juga yang menyalahkanku. "Sesekali kamu bisa menolak permintaan ibumu jika kamu tak nyaman, Arin. Karena tak selamanya permintaan orang tua itu benar. Jika keliru, jangan dijalankan tapi dibenarkan dulu," ucap mertua Yasmin lagi. Dia sengaja meneleponku dua hari yang lalu, karena belum sempat menjengukku pasca pulang dari rumah sakit. Ibu pergi ke kamar dengan kedongkolan. Biar saja, itu lebih baik daripada membantuku memasak tapi mengomel dari A sampai Z membuat kepalaku makin cekot-cekot tak karuan. Adzan subuh berkumandang, kulihat Mas Feri sudah rapi dengan koko dan sarungnya hendak ke masjid yang tak jauh dari rumah. Dia tersenyum menatapku saat mengucap salam. Aku pun menjawab salam pelan. Kompor sebelah memasak sop ayam, sementara yang sebelahnya aku gunakan untuk membuat pudding. "Kamu harus datang dong, Del. Sudah lama kan nggak main ke rumah, memangnya sekarang kamu sudah punya calon suami?" Ibu melangkah perlahan ke arah dapur sembari menelepon seseorang. Sepertinya Delima, mantan tunangan Mas Feri itu. Oh ... ibu ingin membuatku cemburu, begitu? Sengaja menelepon Delima setelah merasa dongkol menghadapiku tadi? Aku hanya tersenyum kecut melihat tingkah ibu yang kekanak-kanakan. "Assalamu'alaikum." Terdengar salam lirih dari luar. Rupanya Mas Feri sudah pulang. "Iya, Del. Semua baik. Ohya, mau ngomong sama Feri? Dia baru saja pulang dari masjid," ucap ibu lagi, sembari melirik ke arahku. Aku pura-pura tak melihat meski aku pun meliriknya dari ekor mataku. "Pagi-pagi begini nelepon siapa sih, Bu?" tanya Mas Feri setelah mengembalikan sarung dan kokonya ke kamar lalu menarik kursi makan dan mendudukinya. Kuhidangkan teh hangat untuknya. "Terima kasih, Sayang," ucap Mas Feri lirih sembari tersenyum. Aku pun mengangguk pelan. Sepertinya Ibu terlihat tak begitu suka mendengar anak lelakinya memanggilku dengan sebutan Sayang. Perempuan itu biar sekalian dengar juga. Aku berharap Mas Feri bisa berubah, setelah beberapa kejadian menimpaku akhir-akhir ini. Semoga saja dia berinisiatif mencari tahu sendiri apa yang membuatku dan ibu tak pernah bisa akur setiap harinya, tanpa harus kuceritakan semua tentang perilaku ibunya padaku satu per satu. Karena aku malas. "Delima, Fer. Mantan tunangan kamu. Sekarang dia sudah menetap di sini, nggak balik ke luar negeri lagi," ucap ibu terdengar begitu riang. Aku masih pura-pura sibuk meniriskan bihun. Sementara Mas Feri terlihat cukup kaget dan bingung. Berulang kali dia menoleh ke arahku namun aku tak menggubris, pura-pura tak tahu dan tak mendengar adalah jalanku detik ini. "Sudah masa lalu, Bu. Lagipula sekarang Feri sudah punya Arina. Dia jauh lebih baik dan setia. Tak seperti Delima yang pintar selingkuh dan sandiwara," ucap Mas Feri tiba-tiba. Setidaknya membuat kedua sudut bibirku mengulum senyum. "Kamu bilang masa lalu, itu selingkuh juga masa lalu, Feri. Delima sekarang pasti juga sudah berubah. Kamu gimana sih? Bisa-bisanya banding-bandingkan dia dengan istrimu. Kalah jauh lah," ucap ibu lagi. Kuhembuskan napas pelan sembari istighfar berulang kali. Anggap saja ini ujian, kalau lulus dapat gelar master penakluk hati mertua. "Iya, Bu. Memang beda jauh. Beda kelas lah istilahnya. Arina tipe setia sedangkan Delima tipe mendua," jawab Mas Feri lagi. Lagi-lagi aku hanya tersenyum tipis mendengar obrolan anak dan ibu itu. Aku tak ingin menyela apalagi ikut memberi komentar. "Ya sudah, Del. Si Feri masih sarapan mau ke kantor pagi-pagi. Lain kali saja ngobrolnya, ya? Atau kamu main ke rumah saja deh, biar ketemu Feri sekalian," ucap ibu lagi. Tak selang lama dia mengucap salam lalu menutup ponselnya dengan cukup kesal. "Kamu kenapa sih, Fer," ucap ibu ketus. Dia yang kini duduk berhadapan dengan Mas Feri di kursi makan. "Kenapa apanya, Bu?" tanya Mas Feri lagi sembari menyendokkan nasi goreng ke mulutnya. "Biasanya kamu senang kalau Delima menelepon. Kenapa sekarang sok jual mahal?" "Ibu tahu kalau sekarang Feri sudah menikah, kan?" "Iya, ibu tahu. Tapi istrimu itu tak becus mengurus kamu, Feri." Aku menoleh seketika. Berdiri menatap ibu sembari bersandar di samping wastafel. "Maksud ibu apa kalau aku nggak bisa mengurus Mas Feri?" tanyaku kemudian. Mas Feri sepertinya cukup kaget melihat perubahanku. Ah ya! Biasanya aku memang hanya diam saja saat ibu menyudutkanku, tapi kini tak akan terjadi lagi. Aku akan membela diri, tak melulu dikalahkan dan disalahkan. "Kalau kamu bisa mengurus suamimu dengan baik, pastinya sekarang kamu sudah memberinya keturunan. Tapi apa nyatanya? Dua kali kamu keguguran. Itu tandanya kamu nggak bisa memegang amanah yang dia titipkan. Menjaga anal sendiri saja tak becus bagaimana menjaga suami dan mertua?" Dadaku berdebar hebat tiap kali mengingat keguguran itu. Jelas-jelas semua karena ibu yang tak mau tahu urusan pekerjaan rumah hingga membuatku kecapekan dan keguguran, bisa-bisanya sekarang dia justru menyalahkanku. Benar-benar tak memiliki perasaan. "Memangnya aku bisa bikin keturunan sendiri, Bu? Kalau bisa sudah kubikin lima sekalian biar ibu puas. Anak itu bagian dari rejeki, hanya DIA yang bisa mewujudkannya. Ibu tak bisa menyalahkanku begitu saja, karena memang semua atas kehendakNya," ucapku dengan mata berkaca-kaca. Sementara Mas Feri berdiri dari tempat duduknya lalu melingkarkan tangannya ke pinggangku. "Istighfar ... istighfar, ya," bisik Mas Feri kemudian. "Allah sudah menitipkan janin ke rahimmu dua kali, tapi kamu tak mengurusnya dengan baik. Apa itu kurang cukup bukti kalau kamu memang tak patut dijadikan istri?" Ibu membanting garfu dan sendok yang ada di sebelahnya ke atas meja. Dia terlihat begitu kesal, kedua matanya melotot ke arahku lalu pergi begitu saja ke dalam kamar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD