Dua puluh satu

2153 Words
Arsha sampai di depan pintu kelas, ia menghembuskan napas lega karna bell masuk belum berbunyi. ia pikir dirinya akan terlambat kembali. karna tadi sempat berpamitan lumayan lama dengan Arka sebelum dirinya dan lelaki itu berpisah. Mengedarkan pandangan, menatap sekeliling. Ia melihat Kayla dan Rayna yang sedang berbicara dengan ketua kelas. Pandangan Kayla tak sengaja mengarah ke pintu, dan melihat Arsha yang sedang berdiri. Mengatur napas. Kayla tersenyum, ia berdiri dan menghampiri gadis itu. “Arsha! Omggggg! Lo kemarin kemana aja? kok gak masuk?” heboh Kayla sambil tersenyum senang Gadis itu tersenyum tipis, “Aku kemarin sakit. Tapi sekarang udah mendingan kok” jawabnya Kayla mengangguk paham, lalu Rayna menghampiri mereka berdua. Mereka bertiga langsung masuk dan berjalan kearah meja Arsha Arsha menaruh tasnya, lalu duduk di kursinya. ia menaruh tangannya di atas meja sambil menatap kedua temannya Pandangan Rayna menangkap telapak tangan gadis itu yang di perban, kenapa tangan Arsha di perban? Apa terjadi sesuatu? “Tangan lo..? Kenapa Sha?” Tanya Rayna sambil menatap perban yang ada di tangannya. Gadis itu langsung menarik kembali tangannya dan menurunkannya. ia mengedarkan pandangan nya, mencari alasan yang membuat kedua temannya percaya. Tidak mungkin kan jika dirinya memberitahu kronologi yang sebenarnya terjadi kemarin? “Eum, i-ini cuman kena air panas kok! Iya kena air panas” jawab Arsha sambil tersenyum sekenanya Kayla dan Rayna saling pandang, mereka berdua menatap lagi Arsha dan mengangguk ragu. “Btw, Sha. kemarin lo tau?” “Gak tau,” potong Arsha cepat Kayla menatap Arsha kesal. Gadis itu sudah mulai ketularan virus dari Rayna yang sangat menyebalkan Belum selesai ia menyelesaikan ucapannya sudah di potong duluan dengan gadis itu “Dengerin dulu! Gue kan belum selesai ngomong, lo maen potong-potong aja” gerutu Kayla kesal Arsha terkekeh pelan, lalu meminta maaf kepada gadis itu. “Kemarin, kak Arga nyariin lo.” sambung Kayla, dan di angguki oleh Rayna Arsha mengernyit, kenapa lelaki itu mencarinya? “Emang ngapain dia nyariin aku?” tanya Arsha heran kepada kedua gadis itu Kayla dan Rayna memutar bola matanya malas, mereka saja tidak tahu. harusnya kan mereka yang menanyakan hal itu kepada Arsha “Mana gue tau. Tanya ke orangnya langsung lah!” “Lo aja gak tau, apalagi kita” sahut Rayna Gadis itu menyengir, “Hehe, maaf reflek aja gitu. kan, aneh aja dia tiba-tiba nanyain aku” Mereka berdua menggidikan bahunya. Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kelas, semua murid langsung duduk di kursinya masing-masing. dan melihat siapa orang itu Terdapat segerombolan anggota osis, serta ketua osis. Mereka membawa gunting dan buku bersampul biru. Sudah pasti itu buku untuk mencatat para siswa-siswi yang melanggar aturan di dalam sekolah “Permisi,” ucap ketua osis Semua murid terutama para siswi sudah menelan ludahnya susah payah. sebisa mungkin mereka menyembunyikan alat-alat yang di larang di dalam sekolah. seperti alat-alat make up, contohnya, lipstik, bedak, parfume, dll. Rok di atas lutut, seragam ketat dan di potong lebih pendek. kaos kaki pendek, sepatu berwarna-warni, tali sepatu yang warna-warni. Itu juga termasuk dalam list daftar larangan yang ada di sekolah Semua anggota osis masuk kedalam, Kayla berbisik di telingga Arsha dari samping. “Gue lupa bawa dasi anjirr” bisik Kayla panik. Jangan sampai nama nya tertulis lagi di dalam buku biru itu, bisa-bisa novelnya di sita. Arsha membuka tasnya, mencari dasi cadangan di sana. dan mendapatkan nya. Ia memberikannya kepada gadis yang ada di sampingnya itu “Nih, untung aku bawa cadangan Kay” ucap Arsha Kayla langsung mengambil alih dasi itu dengan cepat, dan segera memakainya. masa bodo jika tidak rapi, karna dirinya kepepet Gadis itu tersenyum kearah Arsha, “Makasi Sha, nama gue selamat” Arsha mengangguk dan membalas senyuman gadis itu Mereka berdua langsung mengunci mulutnya ketika anggota osis berdiri di samping bangkunya. “Maaf ya dek, tas nya kita periksa dulu” ucap Diana Kayla dan Arsha mengangguk, dan memberikan tasnya kepada gadis osis itu Diana membuka tas milik Kayla dan Arsha, dengan teliti agar tidak ada yang tertinggal Tiba-tiba saja dari arah belakang Arga datang dan berdiri tepat di samping Arsha Pandangan nya tak sengaja melihat tangan kiri Arsha yang di perban. Apa yang terjadi dengan gadis itu? Lelaki itu merogoh sakunya, mengambil kertas yang sudah ia tulis tadi. Tak ada pilihan lain untuk memberi surat kan, kalo pun berbicara langsung ia sedang bertugas. Arsha cukup terkejut karna tiba-tiba saja selembar kertas yang di lipat terjatuh di roknya. ia mendongak menatap Arga yang berdiri di sampingnya. “Simpen” Arga berbicara tanpa mengeluarkan suara, hanya gerakan mulut yang dapat di tangkap oleh Arsha Gadis itu mengangguk lalu mengambil surat itu dan memasukannya kedalam saku Sedangkan Diana yang diam-diam melihat interaksi yang mungkin tidak dapat orang lain sadari. ia menatap Arsha tajam, dan menaruh kembali tas Arsha secara kasar. Diana langsung melangkah cepat dengan rasa cemburu yang ada di dalam hatinya. Gadis itu mengernyitkan keningnya tak paham, kenapa dengan anggota osis itu? “Gak papa, dia emang gitu orang nya Sha.” terang Kayla tiba-tiba dari samping Arsha mengangguk memaklumi, dan menaruh kembali tasnya dengan benar. Menatap kedepan, memperhatikan anggota osis yang berdiri di depan. Dengan beberapa siswa-siswi yang melanggar aturan Anggota osis itu pamit pergi dari kelas, Arga sempat tersenyum tipis kearah Arsha sebelum melangkah kearah pintu keluar. Senyuman lelaki itu sangat tipis sehingga tidak ada murid lain menyadari bahwa Arga tersenyum kearah Arsha Setelah melihat anggota osis itu keluar, Arsha buru-buru membuka surat itu di bawah meja. Agar tidak terlihat oleh murid lain ‘Istirahat nanti ke langsung ke taman’ Kira-kira seperti itu lah isi dari surat tersebut. hanya beberapa kata. Kayla sedari tadi membaca surat itu tanpa seijin Arsha. Maklum ia sangat kepo Hampir saja Kayla akan teriak namun dengan cepat Arsha berkata kepada gadis itu “Jangan teriak” peringat gadis itu. Lalu Arsha melipat kembali kertas tersebut, memasukan nya kedalam saku. *** Alex memegang selembar poto yang ia temukan kemarin di perpustakaan. Tepatnya itu milik Arsha Lelaki itu duduk di kursi yang ada di rooftop, sendirian. anak-anak yang lain pergi ke kantin, dan dirinya tidak ikut karna malas. Ia memperhatikan dua orang yang ada di gambar tersebut. ia masih penasaran siapa yang ada di dalam foto tersebut Seseorang datang menghampiri nya. Tanpa di undang, dan tanpa seijin dirinya orang tersebut langsung duduk di samping nya. “Lagi ngapain Al?” Tanya Lauren Ya, seseorang tadi itu adalah Lauren. Gadis itu melihat poto yang di pegang oleh Alex. hanya sedikit, keburu lelaki itu memasukkan kembali kedalam saku celananya Lelaki itu berdecak malas, ia tidak suka di ganggu oleh seseorang secara tiba-tiba. Lauren mengerucutkan bibirnya, “Liat apaan sih Al? kepo tau Aku” ucapnya dengan nada yang menurut Alex menjijikan “Bukan urusan lo” jawab Alex dingin Alex langsung berdiri, tapi belum sempat ia melangkah gadis itu sudah mencekal tangannya. “Mau kemana sih? aku kan ada di sini, udah di sini aja” ucap Lauren memelas Alex menyetakkan tangannya, dan menatap datar gadis itu “Kamu belum makan siang kan? Aku bawa makan siang khusus buat kamu” Lauren menyodorkan kotak bekal kearah Alex Alex hanya diam sambil menatap datar kotak bekal itu Karna merasa lelaki itu hanya diam, Lauren mengubah mimik mukanya menjadi memelas “Gue gak laper–” “Al, bisa gak kamu hargain usaha aku? Aku capek-capek masakin ini buat kamu... Masakan aku gak enak? atau kamu takut kalo aku masukin racun ke masakannya? pelet atau apa gitu biar kamu jadi suka sama aku? kamu biasanya hargain usaha orang-orang di sekitar kamu. Tapi, kenapa kamu gak anggep aku sama sekali? Kita udah temenan dari kecil, tapi kamu tetep sama kayak dulu.. Gak berubah” gadis itu menunduk dengan air mata yang sudah menetes Dirinya juga ingin sekali di hargai oleh lelaki itu, ada banyak lelaki yang sangat menyukainya tapi dirinya tetap berusaha untuk meluluhkan hati Alex. Tidak bisa kah lelaki itu menghargai usahanya? tidak bisa kah Alex menganggapnya ada? ia juga ingin di hargai dan di anggap oleh orang yang ia sukai sedari dulu. Alex terdiam mendengar keluh kesah gadis itu, ia tidak menyadari bahwa dirinya sudah kelewatan. Apalagi jika gadis itu sudah menangis di hadapannya. Sungguh ia merasa seperti orang yang sangat brengsek Bukan tanpa alasan, tapi lelaki itu hanya tidak suka jika ada seseorang yang berusaha keras untuk selalu ada di dekatnya apalagi dengan perempuan. Menghela napas, tanpa bersuara ia langsung mengambil kotak bekal itu dari tangan Lauren Ia hanya ingin mencoba menghargai usahanya. itu saja. Lauren menatap Alex tak percaya. Lalu tersenyum manis “Kita makan bareng yah?” ucap gadis itu sambil menghapus jejak air matanya Alex menggeleng pelan, “Law, gue gak laper. nanti gue makannya” tolak lelaki itu secara halus Senyuman gadis itu perlahan memudar, ia mengangguk pelan, sambil tersenyum sekenanya “O-oke, tapi kamu harus makan ya” Alex hanya berdehem pelan, lalu melangkah meninggalkan gadis itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti, Alex terdiam sambil menghirup udaranya “Gue cuman ngehargai usaha lo, jangan bawa perasaan” ucap Alex yang mampu membuat Lauren terdiam *** Sedangkan di tempat lain, tepatnya di taman sekolah. Arsha melangkah memasuki area taman seperti kata yang ada di dalam surat dari Arga Mengedarkan pandangan, mencari sosok Arga. Arga yang sudah duduk di sana melambaikan tangannya ke udara ke arah Arsha Arsha tersenyum lalu ia berlari kecil dan menghampiri lelaki itu. saat sudah sampai ia duduk di sebelah lelaki itu Lelaki itu menyambutnya dengan senyuman manis. Lalu ia menatap gadis itu “Lama banget” ujar nya sedikit bercanda Arsha menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, lalu meringis pelan. Merasa bersalah karna telah membuat lelaki itu menunggunya “Kakak nunggu lama yah? Maaf ya, tadi aku ada urusan sebentar.” bernada merasa bersalah Arga terkekeh pelan, melihat jawab yang ada di luar ekspetasi dirinya “Gak apa, gue becanda. gue juga baru sampe” Arsha tersenyum tipis mendengar hal itu, merasa lega “Lo udah makan?” tanya Arga Menggeleng, “Belum kak” Lelaki itu tersenyum lega mendengar jawaban dari gadis itu. tidak gagal lagi sekarang “Makan bareng yok. Nyokap gue yang masakin” ujar Arga lalu membuka tote bag nya, dan mengeluarkan kotak bekal yang di siapkan oleh Emma–ibu dari Arga “Eh?” Arsha terkaget dengan tindakan cepat dari Arga “Gue minta ke nyokap gue buat bawain gue bekel. niat gue kan mau ngajak lo makan bareng Sha” jelas lelaki itu lagi Gadis itu masih terkejut dengan penjelasan dari Arga. “Kok sama Aku kak?” Arga mengangguk, “Kalo bukan sama lo terus sama siapa?” Mendengar jawaban lancar dari Arga membuat dirinya menelan ludahnya sendiri. apa maksudnya? “B-bukan sama kak Diana?” tanya Arsha sedikit tak enak Terkekeh pelan, “Lo pikir gue sama Diana apa?” “Eum, pacar mungkin?” tebak Arsha. Ia banyak mendengar gosip simpang siur dari murid-murid sekolah ini Dan mengatakan bahwa Arga dan Diana menjalin hubungan spesial Arga langsung menggeleng, “Nggak, gue sama dia cuman sebatas teman organisasi aja. dia kan waketos, gue ketos. Pasti kalo kemana-mana gua selalu sama dia. banyak yang ngira begitu. Tapi kita gak punya hubungan selain itu” terang Arga berkata jujur Arsha mengangguk-angguk kaku. “Cobain masakan nyokap gue, kalo perlu gue kenalin lo ke nyokap gue langsung” Arga mengecil volume suara nya di akhir kalimat Arsha menatap makanan itu, ia terdiam melihat hiasan masakan itu. Namun dengan cepat ia menggeleng menepis pikiran tersebut. hiasan seperti ini sudah biasa kan? Lelaki itu menatap Arsha yang sedari tadi hanya menatap makanan itu “Kenapa ngelamun?” suara lelaki membuyarkan semua lamunannya. Gadis itu menggeleng cepat, “Ah, nggak kok” Arsha tersenyum lalu menyedok makanan tersebut Ia menyuapkannya kedalam mulut. Saat ia menelan nya, ia kembali terdiam. kenapa rasanya terasa tak asing? “Gue punya satu kakak, dia cuma beda setaun sama gue. Laki-laki juga. Tapi, dia gak ada di sini...” Arga mulai bercerita Gadis itu di buat terdiam dengan cerita Arga barusan. Kenapa tiba-tiba ia teringat dengan dia? “Dia pergi keluar negri. Sampai sekarang gue gak tau kabar dia gimana, karna gue sama sekali gak kontekan sama dia..” lelaki itu menoleh menatap Arsha yang hanya diam melamun Arga melambaikan tangannya ke depan wajah gadis itu. “Ngelamun lagi lo?” Arsha langsung mendongak, lalu menggeleng cepat. “Nggak kok, aku lagi dengerin kakak cerita” gadis itu tersenyum sekenanya Arga mengangguk percaya. Sambil tersenyum tipis Menaruh sendok, dan menatap lelaki itu, “Aku ke kamar mandi bentar ya kak” Lelaki itu mengangguk, Arsha langsung berdiri dan membalikan badan “Jangan lama-lama ya Sha, nanti keburu bell bunyi” ucap nya Arsha mengangguk, lalu ia melangkah meninggalkan taman dan lelaki itu Gadis itu berjalan kearah kamar mandi, saat sudah sampai ia mencuci muka di wastafel. Bercermin dan memikirkan cerita Arga tadi Ia menggeleng cepat, menyingkirkan pikiran itu dari otaknya. “Gak mungkin.. Mereka beda. Yah, mereka beda!” gumam Arsha pelan “Lo siapa sebenarnya kak?” batin Arsha bertanya-tanya sambil menatap cermin Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD