Chapter 4 - Karalyn Kennedy

1071 Words
"Dari mana saja kau?" "Rumah sakit." Melirik anak perempuannya yang melengos dan berjalan melewatinya, Leon tidak bisa menahan lidahnya. "Belum mati juga dia?" Pertanyaan itu membuat langkah Kara terhenti. Tampak leher gadis itu tegang dan matanya mengedip cepat. Pada akhirnya, ia tidak menjawab dan melangkah ke kamarnya lagi. "Malam ini keluarga Krieger akan makan malam di sini. Aku minta, kau tidak menunjukkan batang hidungmu sampai mereka pulang nanti. Mau kau mengurung diri di kamar atau keluyuran di luar, aku tidak peduli. Aku hanya tidak mau mereka beranggapan kau bagian dari Kennedy. Kau paham?" Bahu kurus itu sedikit naik, tapi kepalanya mengangguk tanpa menoleh. "Aku paham." Tidak mengatakan apapun lagi, Kara masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Malam itu, dari arah taman, sepasang mata biru mengamati datangnya mobil mewah berwarna hitam yang berhenti di depan pekarangan rumah Kennedy. Tampak dua pria tinggi berjas keluar dari dalam mobil. Ia juga melihat mereka sedikit berdebat, sebelum sosok ayahnya terlihat keluar menyambut dari dalam rumah. Pemandangan yang dilihatnya cukup jauh tapi Kara tahu, kakak perempuannya mengenakan baju terbaik dan juga termahal yang pernah dibuat brand ayahnya. Brand yang ia tahu pasti, sebentar lagi akan jatuh ke tangan perusahaan raksasa milik keluarga Krieger. K Group. Gaun yang dipakai Chrissy, jatuh sempurna menutupi tubuhnya. Menonjolkan asetnya dengan cukup sopan tapi juga seksi. Tertutup tapi mengundang. Elegan tapi juga 'nakal', tergantung dari yang memakainya. Pakaian yang bahkan sekedar memegangnya, Kara sempat ditampar lagi ayahnya sore tadi karena dianggap tangannya kotor. Padahal ia hanya merapihkan leher gaun itu yang sedikit melorot dari hanger-nya. Mata biru Kara mulai berair dan tanpa disadarinya, ia menggosok-gosok tangannya hingga terasa pedih. Tidak mau melihat pemandangan itu lagi, gadis itu berbalik dan berjalan cepat menjauhi rumahnya. Ia tahu, ia hanya punya satu tujuan. Satu-satunya tempat yang tidak membuatnya merasa kotor. Hanya dalam waktu kurang dari 1 jam, ia telah sampai ke tempat yang membuat hatinya merasa nyaman. "Kara? Kau datang lagi?" Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyuman. "Aku boleh minta yang kemarin lagi, Lyle? Rasanya enak." Menyiapkan pesanan gadis itu, mata Lyle menelusuri wajah Kara dan pria itu menghela nafasnya. "Ayahmu tahu kau di sini, sis?" Decihan terdengar dari mulut Kara, "Justru dia yang menyuruhku pergi. Sedang ada tamu di rumah." "Tamu? Tumben. Siapa-" "Satu whiskey, man." Interupsi itu membuat keduanya menoleh. Seseorang telah duduk di meja bar, beberapa kursi dari Kara. Rambut pria yang baru datang itu sedikit gondrong, dengan jenggot cukup tebal di wajahnya. Tampilannya sedikit urakan, tapi lelaki itu mengenakan pakaian semi-formal. Sepatu pantofelnya pun tampak berkilat dan ia mengeluarkan ponsel edisi terbatas dari saku jasnya. Pria ini sepertinya cukup berduit. Setelah melayani tamunya, kembali perhatian Lyle terarah pada gadis muda di depannya. "Apa yang terjadi di rumah? Tidak mungkin kau datang 2 hari berturut-turut kalau tidak ada kejadian apapun. Karena aku yakin, ayahmu pasti tidak akan suka kalau kau datang ke klub malam seperti ini." Salah satu jari Kara mengelus tepi gelasnya. Pandangan gadis itu sedikit melamun. "Ada tamu di rumah. Dad tidak mau aku di sana. Soal aku pergi ke mana, terserah. Aku yakin dia tidak akan peduli, selama aku tidak membuat skandal yang bisa memalukan keluarga Kennedy." Jawaban penuh ironi itu membuat Lyle tersenyum sedih. "Jangan begitu. Aku yakin ayahmu sayang padamu." Keduanya terdiam sejenak, sampai terdengar suara Lyle lagi. "Memangnya ada acara apa di rumah, sampai kau disuruh pergi malam-malam begini?" Mata Kara masih tertuju ke gelasnya yang hampir kosong. "Keluarga K Group datang untuk makan malam. Sepertinya dad-" "Yo, Lyle! My man!" Seruan itu berasal dari beberapa pria yang merupakan pelanggan tetap. Tampak mereka berjabatan akrab dengan bartender itu dan saling tertawa gembira. Perhatian Lyle langsung teralih begitu saja. Melihat keakraban pria itu dengan teman-temannya, hati Kara terasa pedih. Selama hidupnya, ia tidak bisa memiliki seorang teman dekat. Mereka semua menjauhinya karena latar belakangnya. Ibunya yang seorang single parent tanpa memiliki suami, dianggap tabu di masyarakat. Apalagi pekerjaan ibunya adalah tour guide, dan banyak membawa banyak turis asing menginap di luar kota selama beberapa hari. Tidak jarang para tetangga sering menggunjingkan mereka di belakang. Mengganggap ibunya seorang wanita panggilan dan dia adalah hasil dari hubungan bebas itu. Kembali merasakan sesak di d*danya, Kara baru akan berdiri saat terdengar suara pria di sampingnya. "Kau seorang Kennedy?" Ternyata yang bertanya adalah lelaki yang meminta whiskey tadi. Tampak mata kelabunya yang seperti kaca memandanginya tajam. Tatapannya terlihat menyelidik dan membuat tidak nyaman. Menelan ludahnya, gadis itu tidak mempedulikannya dan langsung berdiri. Situasi di klub mulai sesak. Susah payah Kara menerobos kerumunan dan akhirnya bisa keluar dari sana. Menghirup udara malam yang dingin dan bersih, gadis itu menutup matanya erat dan mendongak ke langit. Kulitnya mulai terasa dingin karena elusan angin yang lembut. Setelah debaran jantungnya mereda, Kara melihat jam di ponselnya dan menghela nafas dalam. Ia sedang menimbang-nimbang, saat terdengar kembali suara dalam khas pria yang tadi. "Apa yang sedang kau lakukan di sini, Kennedy? Bukannya kau seharusnya menghadiri makan malam bisnis bersama keluarga tercintamu?" Nada lelaki itu halus tapi penuh sindiran, membuat Kara menoleh. Raut lelaki yang berdiri di depannya sangat dingin. Mata kelabunya menyorot tajam dan mulutnya menekuk. Jarak mereka cukup jauh, tapi Kara bisa melihat lelaki di hadapannya ini memiliki tubuh sangat tinggi dengan perawakan cukup besar. Dirinya mungkin hanya sebatas bahunya. Pria itu memandanginya dari atas ke bawah, dengan sorot penuh penilaian dan tanda tanya. "Aku tidak tahu Kennedy punya anak selain Christen. Kau juga sepertinya tidak mirip Leon. Siapa nama-mu?" Entah apa yang terjadi, tapi mulut Kara bergerak sendiri dan menjawab lirih, "Karalyn." "Karalyn? Kau kakak Christen?" Menatap pria itu, Kara menelan ludahnya. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya tidak nyaman. Gadis itu merasa rasa gugup mulai menjalari tubuhnya. "Ma- Maaf, aku tidak paham yang kau bicarakan. Selamat malam." Setelah mengatakannya, Kara langsung kabur dari tempat itu secepat mungkin. Untungnya pria tadi tidak mengikutinya lagi, tapi ia bisa merasakan tatapan lelaki itu yang seolah menembus punggungnya. Siapa sih orang itu? Seperti malam-malam sebelumnya, kegiatannya di jam-jam segini adalah pergi ke rumah sakit. Ketika sampai di tempat itu, gadis itu duduk di samping ranjang dan menatap sosok yang terbujur di tempat tidur dengan tatapan kosong. Setetes air turun ke pipinya yang dingin dan kepalanya menunduk. Tangannya mer*mas tangan ibunya yang terasa ringkih dan kurus di genggamannya. "Mom? Kapan kau akan bangun dan membawaku pergi dari sini? Kapan kita akan pulang, mom? Aku tidak tahan lagi... Please... Bangun, mom..." Di kamar yang sepi itu, terdengar isakan menyedihkan dan penuh putus asa dari seorang gadis belia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD