Chapter 3 - Iri & Dengki

1189 Words
= Rumah keluarga Kennedy = Suasana makan malam yang tadinya hening itu akhirnya terpecah karena pertanyaan seseorang. "Mana anak h*ram itu? Dia tidak pulang lagi?" "Paling dia di rumah sakit, dad." Jawaban singkat itu membuat Leon menghela nafas dalam dan terdiam. Keningnya berkerut. Melihat ekspresi ayahnya, Chrissy tersenyum masam. Gadis itu berkata hati-hati, "Dad. Sebenarnya dari 3 tahun lalu aku ingin bertanya. Soal Kara dan ibunya." "Apa yang mau kau tanya, Chris?" Mata biru gadis itu berbinar. Ia meletakkan sendoknya. "Dad bisa kenal ibunya Kara dari mana? Apa betul ibunya adalah penyebab mom dan dad bercerai?" "Dari mana kau bisa dapat pikiran begitu?" "Karena mom tidak pernah menjelaskan apapun waktu pergi dari rumah dan beberapa bulan kemudian, dad membawa Kara dan ibunya ke rumah ini. Apa betul dad selingkuh dengan ibunya anak itu?" Mata Leon menatap tajam anaknya. Sorotnya tampak marah, tapi akhirnya pria itu menghembuskan nafas kasar. Ia meletakkan peralatan makannya hingga menimbulkan suara dentingan keras di piring. Tahu ayahnya marah, tenggorokan Chrissy seret. "Maaf, daddy. Aku-" "Aku tidak pernah selingkuh dari ibumu, Chrissy. Aku dan ibumu menjalin open relationship. Tidak ada yang namanya perselingkuhan dalam keluarga Kennedy. Semua dilakukan tahu sama tahu. Suka sama suka." Kata-kata itu membuat Chrissy kaget dan menggigit bibirnya sedikit. "Open relationship? Kalau begitu, berarti benar kalau dad telah tidur...?" "Aku memang tidur dengan ibunya. Aku juga menikahinya. Tapi aku masih tidak yakin anak itu anakku." Chrissy terdiam sebentar, mencoba informasi baru yang diterimanya. "Kenapa dad tidak yakin Kara anak daddy?" "Karena aku tahu ibunya telah tidur dengan beberapa orang saat bertemu denganku. Tapi dia langsung hamil setelah aku menidurinya pertama kali. Apa kau pikir itu masuk akal? Hamil setelah tidur denganku?" "Tapi bukannya dad meminta tes DNA saat mereka datang ke rumah ini? Leon mengerutkan keningnya. Tampak kesal. "Tes DNA membuktikan kesamaan 99%, tapi siapa yang tahu? Anak itu sama sekali tidak mirip aku. Apa kau melihat kemiripannya? Sampai sekarang, aku tidak yakin dia dari benihku. Bisa saja mereka memalsukannya. Ibunya anak itu bisa melakukan apapun. Wanita itu licik, sampai bisa menjebakku untuk menikahinya dulu." Satu tangan Chrissy mengepal di pahanya. Kedatangan dua orang itu mulai mengganggu ketenangan dirinya. Kalau memang Kara tidak ada hubungan darah dengan ayahnya, dia ingin segera mengusirnya dari rumah. Bagaimana pun, fitur wajah Kara memang berbeda dari ayahnya. Hanyalah mata birunya yang serupa dengan pria itu, tapi selebihnya tidak. Gadis itu lebih mirip ibunya yang orang Asia, dibanding ayahnya yang kaukasia. Tinggi badannya pun bisa dikatakan sedang saja, malah pendek untuk ukuran orang Amerika. Selama Chrissy mengenalnya sejak anak itu berusia 15 tahun, rambut Kara selalu pirang platinum yang dia tahu pasti bukan warna aslinya. Bisa jadi bola matanya juga tidak berwarna biru. Tapi, siapa juga yang bisa mengetahui wajah aslinya? "Benar kau masih tidak yakin, dad?" "Seperti aku bilang tadi, ibunya itu p*lacur! Entah berapa pria dia tiduri dulu. Kalau aku tidak berhutang budi padanya, aku tidak akan pernah mau menerima anak itu dan ibunya ke rumah ini." "Hutang budi? Memangnya daddy pernah berhutang apa pada mereka?" Mengurut pelipisnya, Leon menggeleng pelan. "Sudahlah, Chrissy. Kau tidak akan mengerti. Urusanku dengan ibu anak itu terlalu rumit dijelaskan. Aku tidak mau mengingat lagi, karena hanya membangkitkan kenangan buruk. Intinya, aku harus menerima mereka di rumah ini, kalau tidak mau nama Kennedy terseret dalam skandal memalukan." Saat melihat anak gadisnya membuka mulut untuk bicara, pria baya itu menatap anaknya tajam. "Jangan tanya soal ini lagi, Chrissy! Sebaiknya kau fokus saja pada bagaimana caranya kau bisa mengambil hati keluarga Krieger. Apa design anak itu bisa membantumu?" Pertanyaan itu membuat Chrissy mendengus dan membuang muka kesal. "Dad... Aku tidak mengambil design anak itu. Design itu-" "Jangan anggap aku bodoh, Chris! Dari dulu aku tahu, otakmu tidak terlalu pintar. Kau juga tidak punya ide kreatif atau out of the box, untuk bisa membuat design semacam itu! Karena kalau kau memang secerdas itu, seharusnya kau sudah lulus lama dari sekolah design-mu. Dad tahu, kau MENCURI design itu dari Kara!" Tuduhan yang sangat benar itu membuat muka Chrissy sedikit gusar. "Kalau dad sudah tahu, kenapa dad malah membelaku tadi!? Seharusnya dad-" "Karena tujuan kita SAMA. Kau menginginkan gaya hidup kita yang dulu kembali, kan? Aku juga sama, Chris. Aku ingin mengembalikan masa jaya perusahaanku yang dulu! Sayangnya sejak aku dan ibumu bercerai, dia menarik sejumlah dana keluarganya dari perusahaan Kennedy! Kau lihat sendiri, kan? Ibumu tidak peduli padamu, padahal dia tahu, hidupmu tergantung dari bisnis keluarga kita!" Mengingat ibunya, wajah gadis itu keruh. Benar seperti kata Leon, sejak bercerai, ibunya malah tinggal bersama dengan seorang pria yang jauh lebih muda. Wanita itu juga tidak pernah menghubunginya setelah pergi dari rumah hampir 4 tahun lalu. Hubungan ibu dan anak itu memang tidak pernah dekat. Sejak dulu Chrissy tahu, ibunya hanya peduli pada dirinya sendiri. Ia sibuk mencari cara mempercantik diri dan bagaimana mempertahankan kecantikannya. Kehadiran anak sebenarnya menghambat karirnya sebagai model, tapi mau tidak mau harus diterima karena tuntutan keluarga besar. Tuntutan yang lama kelamaan mulai mengorbankan mental sang anak. Selama hampir 20 tahun orangtuanya bersama, sangat jarang Chrissy melihat mereka berdua kecuali dalam acara-acara keluarga besar. Ia juga tahu ayahnya menikahi ibunya dulu karena menerima bantuan keuangan dari keluarganya. Ibunya pun menikahi ayahnya karena keahliannya di tempat tidur. Setelah dewasa, barulah ia sadar kalau ibunya seorang hyp*rs*x. Wanita itu menuntut pelayanan prima dari suaminya hampir setiap hari. Yang pada akhirnya, ayahnya menyerah dan tutup mata saat wanita itu mulai berpaling ke pria lain yang jauh lebih muda. Jauh lebih fit, dan jauh lebih liar di ranjang. Entah sampai kapan ibunya mau mempertahankan gaya hidup bebasnya itu. Mengambil map dari mejanya, Chrissy membolak-balik halaman berisi gambar-gambar yang dibuat adiknya. Melihat goresan-goresan mantap dan indah itu, hatinya terbakar. Betapa ia iri, juga dengki pada adiknya itu. Kara memiliki bakat yang sangat diimpikan Chrissy dulu. Ia sangat ingin menjadi designer untuk meneruskan perusahaan ayahnya. Tapi apa daya, tangannya tidak terampil dan otaknya sama sekali tidak kreatif. Ia juga akhirnya mengambil jalur bisnis, setelah 3x gagal menyelesaikan sekolah design-nya di 3 tempat berbeda. Baru pada saat itulah ia sadar, ia sama sekali tidak berbakat di dunia fashion. Penuh kemarahan, gadis itu melempar map itu ke arah kaca berukuran besar yang berdiri di pojok ruangan, membuat semua isinya berhamburan di lantai. "Dasar kau anak tidak tahu diuntung, Karalyn!" Dengusan kasar terdengar dari hidung Chrissy saat memandang cermin di depannya. Melihat bayangannya sendiri, kemarahan gadis itu sedikit mereda. Ia TAHU, ia cantik. Rambutnya pirang, dengan mata biru mempesona. Bibirnya tebal alami dan hidungnya mancung. Tubuhnya pun cukup semampai, dengan aset yang menonjol di tempat yang tepat. Kau ini seksi, Chris! Jauh lebih seksi dari anak h*ram itu! Kau juga keturunan murni Kennedy, pemilik brand fashion yang cukup ternama, tidak hanya di NY tapi juga seluruh Amerika. Apa yang kau takutkan dari anak j*hanam itu? Anak jelek yang tidak memiliki kelebihan apapun kecuali menjual tubuhnya di sosmed? Mendongakkan kepalanya, Chrissy mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. "Aku akan buktikan pada dad, kau itu sama seperti ibumu, Karalyn. Seorang p*lacur, yang tidak akan pernah pantas jadi bagian dari keluarga Kennedy. Kau lihat saja, aku akan mencopot nama itu darimu. Seorang yang berasal dari sampah, sudah seharusnya kembali ke sampah lagi. Sama seperti ibumu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD