Chapter 2 - "Kenapa aku dilahirkan ke dunia?"

843 Words
= Salah satu klub malam = "Hei! Tumben kau ke sini." Senyuman yang dilemparkan gadis yang duduk itu tampak getir. "Aku bosan." "Ayahmu tahu kau ke sini?" Pertanyaan itu hanya dijawab dengan makin murungnya gadis muda di depannya. Bartender itu tersenyum maklum. Tanpa bertanya lagi, pria itu tampak membuat sesuatu dan menyodorkan minuman dingin di meja bar. Kepala gadis berambut platinum itu langsung terangkat. "Lyle?" "Tidak beralkohol. Aku juga tidak mau membuat anak seorang Kennedy mabuk di sini." "Anak Kennedy?" Kara mendengus pelan dan mengambil minumannya. Ia perlahan menyesapnya. Pria itu masih tersenyum dan mulai sibuk melayani pelanggan lain. Beberapa kali sudut matanya menangkap para pria penasaran yang curi-curi pandang ke arah Kara. Beberapa kali pula helaan nafas lega keluar dari hidungnya saat melihat para lelaki hidung belang itu akhirnya pergi karena tidak ditanggapi. Me-lap salah satu gelas, Lyle mengawasi Kara yang menikmati minumannya masih sambil tertunduk. Ia sangat kasihan pada gadis muda itu. Penampilannya seperti sudah dewasa, tapi usianya baru menginjak 18 tahun beberapa bulan lalu. Tidak akan ada yang menyangka. Awalnya mereka berkenalan dari IG karena memiliki hobi musik yang sama. Tidak sekali, dua kali, keduanya menghadiri event musik yang sama. Setelah itu, biasanya mereka akan jajan di pinggir jalan dan mengobrol. Dari obrolan itulah Lyle tahu usia Kara sebenarnya. Gadis itu masih di bawah umur. Penampilannya saat di sosial media berbeda jauh ketika mereka bertemu pertama kali. Saat di IG, dandanan Kara cukup terbuka. Gadis itu sering mengenakan crop top dengan rok mini yang menampilkan paha-nya. Ia juga tidak sungkan hanya mengenakan bikini saat mendapatkan endorsement dari salah satu produk sport. Para follower-nya yang puluhan ribu pun tahu 2 tato yang melekat di tulang ekor dan juga d*da gadis itu. Tidak ada yang menyangka gadis itu baru berumur 16 tahun saat mereka bertemu. Penampilannya membuat banyak orang menyangka usianya jauh di atas itu. Jika bukan Kara sendiri yang mengakuinya, Lyle juga tidak akan percaya, karena pemikiran gadis itu pun jauh lebih dewasa dibanding usia belia-nya. Mata hijau Lyle mengerjap saat menangkap pria berusia 40-an mendekati Kara yang masih duduk. Tadinya ia mengira lelaki itu akan segera pergi saat gadis itu menggeleng. Dahinya berkerut saat melihat ternyata pria itu malah duduk di samping gadis muda itu dan makin mendekatkan tubuh mereka. Setelah tersenyum pada pelanggan yang dilayaninya, Lyle mendekati keduanya. "Malam, bro. Ada yang bisa kubantu? Atau kau mau pesan sesuatu?" Pelanggan pria itu menoleh padanya dan tersenyum miring. "Tidak ada, dude. Aku hanya mengajak dia mengobrol." Melirik pada Kara, Lyle melihat rautnya yang keruh. Hanya dari ekspresinya, ia tahu gadis malang itu sedang ada masalah. Pria itu sangat tahu, masalahnya tidak akan jauh-jauh dari keluarga besarnya. Sepertinya apapun yang terkait dengan keluarga Kennedy, memang selalu mendatangkan masalah. Pandangan Lyle kembali terarah pada tamunya. "Maaf, bro. Tapi dia adikku." Lyle tersenyum pada lelaki itu. Tapi tanpa banyak kata, pelanggan itu langsung paham ancaman terselubung tersebut. Tampak pria itu menelan ludah kasar saat menatap sorot tajam bartender di depannya. Kedua tangannya terangkat menyerah dan ia pun mundur. Tdak mencari mau masalah dengan bartender berbadan besar dan bertato di depannya. "Hei, dude. Aku hanya mengajaknya mengobrol tadi. Tidak macam-macam. Chill, oke?" Barulah saat pelanggan itu pergi, Lyle lebih mendekat pada Kara. "Kau tidak apa-apa?" Kepala Kara mengangguk, tapi kedua matanya berkaca-kaca dan pipinya merah. Rahang Lyle mengeras dan bibirnya menipis. "Kurang ajar! Apa yang dia lakukan padamu, sis? Biar aku menyuruh Jack untuk-" Tangan Kara segera mencengkeram lengan Lyle, mencegahnya pergi. "Jangan, Lyle! Dia tidak melakukan apapun. Dia hanya mengajakku bicara tadi." "Kau yakin?" "Aku yakin. Aku hanya teringat sesuatu di rumah. Tidak ada hubungannya dengan orang tadi." Terdengar helaan nafas berat dari hidung Lyle. Pria itu merogoh kantong celana dan mengulurkan sesuatu. "Pulanglah, Kara. Temui ibumu. Tidak baik kau terlalu lama di sini. Tempat ini bukan untukmu. Aku juga tidak bisa selalu mengawasimu sepanjang malam." Kedua mata Kara hanya menatap kunci mobil di atas meja bar. Rautnya sendu. Menghela nafas kasar, Lyle mengambil kunci itu dan menjejalkannya ke tangan Kara. "Pulang, Kara. Sekarang." Saat tangan mereka bertautan, pria itu bisa melihat wajah gadis itu memerah menahan tangisnya. Mer*mas tangan Kara lembut, sekali lagi Lyle berkata, "Ibumu lebih membutuhkanmu. Pulanglah, Kara." Tidak sampai satu jam kemudian, tampak seseorang berjalan di sepanjang lorong rumah sakit yang luas itu. Kaki-kakinya yang bersepatu kets menimbulkan suara decitan di lantainya. Bunyi gema makin jelas terdengar saat gadis itu melangkah, menandakan betapa sepinya bangunan itu saat ini. Merapatkan jaket dan hoodie-nya, ia akhirnya berhenti di depan salah satu pintu. Setelah ragu sejenak, gadis itu membukanya perlahan. Tidak lama, pintu itu kembali tertutup. Menatap sosok yang saat ini terbaring di ranjang, bola mata Kara yang berwarna biru tampak memerah. Sorot matanya kosong saat ia memeluk dirinya sendiri lebih rapat dan duduk di salah satu kursi. Cuaca malam itu cukup sendu dan dingin. Mata biru itu bergerak-gerak ketika menelusuri tubuh yang terbujur di sana. Gadis itu melamun dan bertanya lirih, "Kenapa aku kau lahirkan, mom... Kenapa kau mesti melahirkan aku dan membuat hidupku menderita seperti ini?" Wajah gadis itu menatap kosong ibunya dan setetes air jatuh ke pipinya yang pucat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD