PANIK CEMAS DAN BECUS

1069 Words
Haduh... aku cukup bingung dan pusing kalau begini. Peyo malah ketawa dan seperti tak memikirkan perkuliahannya lagi. Aku pun jugalah begitu. "Hey Pey,! Kok kau malah pesankan lontong sayur sih pada Pak Dosennya,? kau tidak lihat ya kalau dia itu trendi dan berkelas, gimana sih kamu,?" Tanyaku padanya namun ia malah menyengir. "Ah biasalah Kak Yup, biar dia tenang dan senang, gitu loh,!" Kata dia. Kami berdua melihat Pak Dosen galaknya sedang duduk dan sambil matanya melirik-lirik. Mengapa Peyo malah menawarkan ia yang aneh-aneh?. "Entahlah aku pun tak tahu." Sepertinya telat kami tadinya telah mencapai empat puluh lima menit lamanya. Aku duduk cukup lama, dan terkadang berdiri bertiga bersama Pak Dosennya. Sedangkan Shesi diam saja dan memperhatikan. Aku capek dalam menunggu mereka mahasiswa yang lainnya, namun sampai pada saat ini belum ada juga. "Capek menunggu mahasiswa HUMORİSTİS yang penuh dengan lelucon, namun rajin dan pandai." Beberapa menit kemudian ada SMS chating dari kawan kelasku dan mengatakan, bahwa mereka tidak jadi masuk kuliah pada pagi hari ini. Walaupun hanya satu orang yang berkata, tapi aku sangatlah cemas. "Mengapa mereka tidak datang ya, aneh,? hmm... dan ada apa ya?." Aku menjadi panik ketika membaca pesan chating dari Yoseli yang baru saja dikirimnya. Kemudian aku mencuil-cuilnya Peyo dan mengatakannya, bahwa Yoseli tidak jadi datang berkuliah. Ketua kelas tiba-tiba menjadi kaget, setahuku ia begitu menyukai Yoseli, sehingga hal itu membuat semangatnya menjadi berkurang. Yoseli adalah mahasiswi yang di sukainya, dan lalu aku berbisik pelan kepadanya. "Hey Pey... Ada pesan nih,! dari Yoseli loh,!" Kataku yang berbisik pelan kepadanya. "Oh... Pesan apa ya Kak Yup dianya,?" Tanyanya Peyo yang tampak bersemangat. "Yoseli tidak masuk kuliah pada pagi ini Pey, jadi gimana nih,!" Kataku padanya. Setelah mendengar kabar itu dan lalu Peyo menjadi terdiam, kemudian ia bertanya kepadaku. "Oh begitu ya... Apakah kawan-kawan yang lainnya juga tidak masuk ke kelas Kak Yup,?" Tanyanya ia dan sekarang malah tampak cemas. "Hmm... Kalau itu aku ga tau Pey, ya kita tunggu saja kabar selanjutnya,!" Kataku. PEYO YOPİO Wah gimana nih. Aku kan suka sama Yoseli, tapi kok dia malah tidak datang pada pagi ini. Hmm... aku sedikit jadi tidak bersemangat kalau begini. Tadi sewaktu di perjalanan ke kampus, aku sudah membayangkannya, karena dia cewek tipenya aku, imut dan juga manis. Dan juga karena dialah aku menjadi semangat dalam mengurusi kelas. Tapi aku sedikit curiga, mengapa Yoseli tidak datang pada pagi ini ya?. Apakah ia punya pacar lainnya?. Oh... aku memang belum jadian dengannya, karena kami masih dalam tahap pendekatan. Tapi aku sudah merasa kalau ia cocok kepadaku. Tapi mereka yang lainnya lebih menyarankanku kepadanya Paliva, daripada Yoseli. Pada sekarang ini kami masih semester dua, dan tentu masih sangatlah muda. Tentunya aku ingin Yoseli menjadi pacarku, hmm... sepertinya aku mesti mencari tahu dahulu nih. Sekarang ia sedang dekat dengan siapa saja begitu, Peyo berkata dalam benaknya. YUPI YUPİTER Aku tidak tahu dan sekarang ini saja ku sudah cukup panik, karena membaca pesan dari Yoseli tadinya. Kemungkinan besar Pak Dosennya akan semakin marah. Kalau saja Pak Dosennya sampai tahu bahwa mereka tidak jadi datang berkuliah, tentu ia akan marah besar. Mungkin saja ruangan ini dan kursi-kursinya bisa di lempar. DOSEN GALAK Wah... gimana ini,? kok banyak mahasiswa yang tidak datang pada pagi ini?. Waduh gawat kalau begini, aku mesti marahi mereka semua nantinya. Awas ya kalau ketemu dengan saya pada Minggu depannya,! akan saya jitak mereka. Mahasiswa kok pada malas dan bandel. Hmm... mereka tidak tahu rupanya, kalau saya ini telah banyak meluluskan para sarjana yang bagus, konkret, kritis dan jelas, tapi mereka malah tidak datang pada perkuliahanku. Namun aku mesti mencari tahu juga, apakah itu dari keinginannya mereka,? ataukah ada yang menyuruhnya,? tentunya tentang perkuliahanku pada pagi ini, Dosen Galak berkata dalam benaknya. YUPI YUPİTER Banyak yang mengatakan bahwa Pak Dosen itu suka marah-marah, atau bisa dikatakan seorang yang pemarah. Aku telah merasa aneh sewaktu pertama kali berjumpa dengannya. Mengapa ia tiba-tiba saja marah dan membentak, padahal kita belum kenal dan berkenalan. "Sepertinya ada sesuatu yang tak aku mengerti." Karena panik dan lalu aku katakan kepadanya Pak Dosen, bahwa mahasiswi yang bernama Yoseli tidak masuk kuliah pada pagi ini. "Dia mengabarkannya melalui aplikasi Chatyuk." "Permisi...anu Pak,! kabarnya Yoseli tidak masuk kuliah Pak. Pesannya baru saja sampai Pak,!" Kataku padanya Pak Dosen dan menjelaskannya. "Apa kamu bilang...semuanya tidak masuk,? gimana sih kalian ini,?" Pak Dosennya berkata dan lalu ia berdiri, kemudian matanya melotot dan tidak mendengarkan penjelasanku dengan baik. "Bukan semuanya Pak...,! tapi hanya Yoseli saja yang tidak masuk Pak, begitu, gimana sih Pak,!" Aku menjelaskan lagi kepadanya agar lebih mengerti. "Apa kamu bilang lagi... Semuanya ngeseli..., pie toh kalian ini,! payah kali,!" Katanya Pak Dosen dan malah semakin geram. Susah rasanya menjelaskan kepada Pak Dosen yang galak, namun ia tak mengerti, kadang-kadang omonganku sampai tak di dengarkan olehnya. Malah ia melotot tajam ke arahku dan Peyo, begitu emosi dan tampak sangat geram, bahkan seperti seorang pegulat yang ingin menerkam. Aku bisa merasakan deru amarahnya, mungkin karena sudah beberapa menit berlalu dan menunggu tadinya. Aku dan Peyo menjadi khawatir, yakni bagaimanakah nantinya?. Apakah kami akan jadi berkuliah ataukah tidak,? sehingga hal itu membuatku dan ketua kelas menjadi tak berkutik. "Ah..., gimana kalian ini,? kuliah macam apa ini,? kok tidak ada mahasiswa yang datang,? kelas apa ini,!? ga becus,!" Katanya Pak Dosen yang sedang marah dan mengomel. "Becus loh kami Pak,! iya kan Kak Yup...," sahutan Peyo yang tak begitu keras, sehingga Pak Dosennya tidak mendengar. "Apa kamu...,! ngomong apa kamu hey...,! yang keras,! ayo ulangi lagi,!" Katanya Pak Dosen. "Ga ada loh Pak,! kami kan mendengarkan Pak Dosennya ngomong, gitu loh Pak!," Katanya Peyo padanya. Aku mau bergerak rasanya segan, terutamanya ketika ku dan Peyo di pelototi olehnya. Kami berdua merasa tidak enak kepadanya, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. DOSEN GALAK Hmm... aku ingin tahu seperti reaksinya mereka,? jika aku benar-benar marah seperti tadinya, tampaknya mereka ketakutan. Wah kalau begini, akan aku buat mereka menjadi benar-benar panik dan cemas, supaya mereka kapok begitu, Dosen galak berkata dalam benaknya. YUPİ YUPİTER Kemudian tiba-tiba penjual lontong sayur datang dan mengantarkan secangkir kopi. Aku heran mengapa penjual itu mengantarkan lontong dan kopinya,? padahal kami tidak memesannya. "Namun malah di antarkan olehnya." "Hahaha..." Suara tawaan terdengar dari kejauhan dan ,"Ini sacangkir kopinya,! rancak bana, mantap sekali,!" Penjual lontong sayur mengantarkannya dan mendekat kepada kami. Setelah mendengarnya dan Pak Dosen diam lalu memandangi saja, dan ia berkata kepada kami semuanya. "Hey..., Kopinya siapa itu,!?" tanyanya Pak Dosen dengan suara keras kepada kami semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD