KOPİ TEH DAN LONTONG SAYUR

1032 Words
Haduh... aku cukup pusing kalau begini. Sebelum aku pergi keluar ruangan, dan ku bertanya kepadanya Shesi, tentunya tentang perkuliahan. "Hey Shes..., apa kau suka mata kuliah Humoristis AKR,?" Tanyaku padanya. "Ya lumayan sih Kak, begitulah pokoknya," Katanya dia dan kemudian duduk diam. Setelahnya aku pergi menuju ke ruangan serba guna, yakni untuk membuatkannya kopi atau teh. Aku rasa secangkir kopi cukup rasanya untuk mendinginkan suasana. Pak Dosennya begitu kesal karena belum ada yang datang, hingga sampai pada saat ini. Padahal perkuliahan kami sudah terlambat selama lebih dari tiga puluh menit. "Telatnya sudah hampir mau satu jam." Aku berpikir, sepertinya perkuliahan kami pada pagi ini tidak jadi. Aku berjalan pelan menuju ke ruangan serba guna, lalu ku menanyakan kopi serta teh atau semacamnya yang ada disana. DOSEN GALAK Wah, asik nih kalau begini. Aku tidak begitu pusing jika mahasiswa itu mau datang atau tidak ke kelas. Karena perkuliahan akan tetap berjalan seperti pada biasanya. Tapi akan aku catat mereka-mereka yang tidak datang pada hari ini. Aku suka kopi dan teh, lalu juga yang lainnya. Mahasiswa itu bisa juga mendinginkan suasana hatiku yang panas, akan saya apresiasi dianya. Sekarang aku sedang bersama seorang mahasiswi, hmm... kalau aku lihat dia cantik juga, nanti akan aku tanyakan namanya, Pak Dosennya berkata dalam benaknya. SHESİ RHEİNYU Waduh, kenapa Pak Dosennya menatapku lama ya?. Apakah dia suka kepadaku?. Hmm... sepertinya begitu, soalnya dari tadi ia terus saja melihatku. Aku tidak masalah, tapi dia kan adalah Dosenku. Tentu aku sedikit gengsi, lagi pula aku tidak begitu tertarik kepadanya. Akan tetapi, tidak apa-apa aku pikir, semoga saja hal itu bisa menambah semangat perkuliahan kami, Shesi berkata dalam benaknya. YUPİ YUPİTER Aku telah sampai di ruangan serba guna, namun tidak ada teh atau kopi disana, tentu ku bertambah bingung. Pak penjaga ruangan serba guna mengatakan, kalau di ruangan ini tidak ada teh ataupun kopi, begitu juga dengan gelasnya. "Halo... permisi Pak,! apa ada teh atau kopinya ya,? soalnya untuk Pak Dosen galak,?" Tanyaku pada seorang karyawan di ruangan serba guna yang sedang berjaga. "Halo juga dek, wah..., tidak ada teh dan kopi disini, gelasnya juga tidak ada,! coba tanya di kantin saja ya...,!" Katanya karyawan penjaga ruangan serba guna. Kemudian aku beranjak berjalan lagi menuju ke kelas, karena masih pagi dan penjual di kantin pun banyak yang belum berjualan. Aku telah terbayang-bayang. Apakah nantinya Pak Dosen itu akan marah lagi,? bila aku berkata tidak ada kopi dan tehnya. Pada saat ini jantungku terasa seperti berdebar-debar dan bingung, mungkin karena reaksi dari bentakan tadinya. Sesampainya di ruangan kelas dan aku katakan kepadanya, bahwa kopi dan tehnya tidak ada di ruangan serba guna. Akan tetapi Pak Dosennya malah berteriak, sontak membuatku langsung terkejut, karena teriakannya telah membuat jantungku bereaksi tiba-tiba. Aku jadi cemas dan pusing dalam melayaninya, terasa cukup menakutkan bagiku. Shesi pun juga diam saja dan tidak berkata apa-apa. Aku biasa menyebutnya Pak Dosen sebagai seorang Dosen Humoristis, yakni tiba-tiba berteriak, membentak, mengomel, memarahi dan kemudian bisa berubah seketika saja. "Sungguh suatu kelucuan yang tak bisa di ungkapkan." "Permisi ya Pak,! anu Pak,! kopi dan tehnya tidak ada, lalu bagaimana ya,?" Tanyaku menjelaskan kepadanya. "Ah... Apa kamu,! payah,! ya sudah sana,!" Katanya Pak Dosen tampak marah, namun terdengar lucu bagiku dan sedikit menakutkan. Dia tampak geram bahkan seperti kertas yang buram, sehingga pikiran yang jernih tadinya bisa menjadi kusut. "Seperti kaset kusut loh." Aku merasakan cemas dan panik, deg-degan, gugup, lucu dan yang lainnya seperti bercampur aduk. Kemudian Peyo datang ke kelas. Dia menyapa dan sapaannya cukup moderat, mungkin karena segan kepadanya Pak Dosen. "Permisi Pak,! saya baru saja dari depan Aula kampus, tapi mereka tidak ada yang datang Pak, jadinya bagaimana ya,?" Peyo menjelaskan dengan hormat dan berkeringat. "Ah... Apa lagi kamu ini, kamu juga tidak becus!," Kata Pak Dosennya. Aku dan Peyo merasa cukuplah becus, tapi pada pagi ini barulah kami bertiga saja yang ada. Kami pun menjadi gusar dan gelisah. Apalagi Pak Dosennya yang tiada henti-hentinya membentak. "İni serius atau akting ya,? tentu aku bertanya-tanya dalam pikiranku." "Pak... Apakah kami akan berkuliah atau tidak pada pagi hari ini ya,? gimana ya Pak?" Tanyaku padanya agar lebih jelas. Pak Dosennya tidak menjawab dan tangannya dirapatkan ke d**a sambil duduk santai. Beberapa menit setelahnya kantin kampus sudah banyak yang buka. Aku mendengarkan suara para penjualnya berteriak. Letaknya tak begitu jauh dari ruangan kelasku pada saat ini. "Oy oy... Ondeh mandeh,! kopi hah, kopi lontong sayua ado, lontong rancak, ngopi-ngopi lah hah,! ayo ngopi-ngopi dulu,!" Suaranya penjual kantin yang baru saja buka tokonya dengan bahasa Padang Setelah mendengar itu, kemudian Peyo mulai menawarkan kopi dan lontong sayur kepadanya Pak Dosen. Aneh-aneh saja si Peyo, berani-beraninya ia menawarkan lontong sayur dan kopi kepadanya. "Padahal Pak Dosen itu bergaya trendi, dan seperti orang yang berkelas tinggi." Apa Peyo tidak takut kepadanya?. Seharusnya ia mencari mahasiswa yang lainnya, dan bukannya menawarkan lontong sayur. "Permisi ya Pak, apa Bapak lapar,? itu ada lontong sayur di kantin,! biar saya pesankan ya,?" Tanyanya Peyo kepadanya Pak Dosen yang sedang marah. "Apa-apaan kamu...!. Saya ini kan mau mengajar, kok kamu malah menawari saya lontong sayur,! mahasiswa macam apa kamu,!" Katanya Pak Dosen yang malah ketawa ketika mendengar tawaran lontong sayur dari Peyo. Aku pun sampai tertawa melihat tingkahnya Peyo dan Pak Dosennya, seharusnya ketua kelas mempersiapkannya dengan baik, namun ia malah menawarkan lontong sayur. Namun setelahnya Pak Dosen menjadi sedikit adem. Aku rasa hal itu cukup bisa menenangkan suasana. Disaat kami sedang cemas seperti ini, kemudian penjual lontong sayur di kantin malah lebih keras berteriak, tentunya dalam menawarkan lontong sayurnya. "Situasi pada saat ini bercampur aduk seperti lontong sayur." "Ayo hah..., tambuah-tambuah lontongnya,! ayo-ayo,! rancak bana,! tambah-tambah,!" Katanya penjual lontong sayur. "Apa kubilang kan Pey, ah kau ini, ada-ada saja kau...,!" Dan "Kok malah kau tawari Pak Dosennya lontong sayur si Pey, gimana sih kamu,!?" Kataku yang cemas dan berbisik pelan kepadanya. "Yaelah... Kau ini Yupi, maksudku, biar Pak Dosennya itu tenang, gitu loh, gimana sih lu huh...," Katanya Peyo yang tak lagi fokus dengan perkuliahannya. Tentu saja aku heran dan bingung, Pak Dosen galaknya sedang marah-marah, namun malah di tawari lontong sayur olehnya Peyo. Begitulah rasanya menjadi mahasiswa humoristis, tentu penuh dengan candaan dan juga tawa. Tapi aku benar-benar tidak tahu, Pak Dosennya itu bercanda ataukah serius ya?.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD