Waduh... aku cukup pusing, ini bercanda atau beneran ya,? tentu ku bertanya-tanya. Aku telah memikirkan tadinya bagaimana untuk dapat mencairkan suasana.
Aku panik dan juga cemas. Peyo pun juga begitu, İngin rasanya ku menahan tawa, namun dia adalah Dosen kami yang sangat di hormati.
Aku cukup bingung kepadanya Pak Dosen galak, tadinya ia menanyakan namaku, padahal sudah beberapa menit yang lalu ia telah bertanya.
"Mudah Sekali Lupa."
DOSEN GALAK
Oh iya, tadi siapa ya namanya mereka mahasiswaku itu?. Aku lupa, wajar saja jika aku bertanya lagi.
Seingatku, yang satunya tadi bernama Yepo, dan satunya lagi Piyo, sepertinya begitu. Wah aku mengomeli mereka berdua tadinya, tapi tidak mengapa. Selagi aku punya jabatan di kampus Kimer, maka aku akan membentaki siapapun.
Mereka itu seharusnya rajin, tidak malas-malasan seperti hari ini, maka dari itu akan aku bentaki mereka semua, siapapun dan tanpa terkecuali!.
Akan tetapi, jika mahasiswanya adalah wanita, sepertinya akan aku pikirkan terlebih dahulu. Aku juga gengsi kepada mereka, soalnya aku ini kan Dosen senior.
Tapi hari ini, aku begitu kesal kepada mereka semua, karena yang hadir hanya tiga orang saja, bahkan ku sempat berpikir.
Apakah ini kelas perkuliahan,? atau cuma les biasa saja?.
Kok mahasiswanya pada seperti ini, ada-ada saja mereka, awas ya,! Pak Dosennya berkata dalam benaknya.
PEYO YOPİO
Aku pernah diceritakan oleh mereka mahasiswa kelas lainnya, kalau Pak Dosen ini mudah sekali lupa. Jangan-jangan dia tidak ingat lagi dengan namaku tadinya.
Waduh, bisa gawat kalau begini, apa yang harus aku lakukan ya?.
Aku tadinya ingin perkuliahannya menjadi lancar, dan tidak adanya kendala, tapi jika seperti ini, tentu aku pun merasa panik dan cemas.
Yang lebih aku khawatirkan ialah, bagaimana nantinya nilai kami?. Apakah akan bagus,? ataukah tidak?. Tentu aku tidak mengetahuinya, semoga saja aku tidak bersengketa dengannya, Peyo berkata dalam benaknya.
YUPI YUPİTER
Mengapa ya Pak Dosennya seperti tidak mengingat saja, padahal baru beberapa menit yang lalu ia telah bertanya. Sekarang dia sedang duduk di depan ruangan kelas.
Suasana di ruangan tampak hening ketika ia duduk santai, tapi Pak Dosennya tampak marah. Mungkin karena mahasiswa yang lainnya belum ada yang datang sampai saat ini.
Aku menjadi pusing dan bingung melihat situasi dan kondisinya. Peyo telah berjalan kedepan area Aula kampus, sedangkan aku sekarang bersama Shesi dan Pak Dosen Galaknya, kami ada di ruangan kelas.
SHESİ RHEİNYU
Waduh, Pak Dosennya kenapa ya,? kok dia melihat aku terus?. Hmm... apa dia juga suka kepadaku?.
Aku lebih baik diam sajalah. Aku cukup takut kepadanya Pak Dosen, soalnya dia begitu galak. Kak Yupi dan Peyo saja telah di omeli olehnya.
Semoga saja aku tidak di bentak juga olehnya, Shesi berkata dalam benaknya.
YUPI YUPİTER
Pak Dosennya melihat Shesi dan diriku. Tapi ia lebih menatap ke arahku intens, kemudian matanya mengenaliku dari bawah sampai ke atas. Aku diam ketika ia melihat dan memperhatikanku, bahkan sorot matanya begitu tajam dan seperti mengancam.
"Permisi ya Pak, silakan,! duduk-duduk dulu santai sejenak,! biar dingin gitu Pak,!" Kataku yang menghormatinya dan tersenyum ramah.
"Ah...Sudah-sudah. Apa kamu, saya bisa sendiri,! cari sana temanmu yang lainnya,! sudah sana,!" Katanya Pak Dosen dan malah seperti mengusir.
"Baru masuk kelas kok malah disuruh keluar, gimana sih Pak Dosennya,? aneh."
"Lah...kan... Bapak sudah lihat sendiri di grup Pak, mereka tidak ada yang jawab, gimana sih Pak,!" Kataku padanya dan heran.
"Loh... terserah ya!. Saya tidak mau tahu,!" Katanya Pak Dosen yang begitu arogan.
Aku mempersilakannya duduk namun ia malah membentak. Aku mencoba menghormatinya namun ia malah menyepelekan. Aku berusaha untuk lembut dan baik kepadanya, namun ia malah mengomeli.
"Lalu aku harus bagaimana?."
Pak Dosennya sekarang sedang duduk, dan aku melayaninya sebagai mahasiswa yang Humoristis, yakni mahasiswa yang rajin dan juga penuh penghormatan, walaupun dalam keadaan dan situasi apapun.
"Mahasiswa HUMORİSTİS, Rajin dan Hormat kepada Dosennya, dalam segala situasi dan kondisi."
Kemudian candaan sebagai pelengkap, tentunya aku sangatlah sopan kepadanya, lalu aku tawarkan ia sedikit minuman.
Minumannya seperti air putih, teh atau kopi yang dapat menyenangkannya dan menenangkannya, hal itu agar ia tidak marah lagi.
Setelah aku tawarkan minuman, kemudian ia menjadi melunak dan duduk santai. Tadinya Pak Dosen begitu garang dan kencang suaranya, namun tiba-tiba saja menjadi mengecil, lalu aku berfokus lagi melihat situasi dan kondisi sekitaran.
DOSEN GALAK
Wah, ternyata bagus juga sikapnya mahasiswa ini. Tapi aku lupa siapa namanya,? nanti akan aku tanyakan lagi.
Nah begini dong, Dosen itu harus dilayani dan dihormati. Kalau begini kan enak, nanti akan aku catat dia.
Saya ini kan Dosen senior, seharusnya mereka harus hormat kepadaku, dan yang tidak masuk pada hari ini, akan saya catat juga, awas ya mereka-mereka!.
Apalagi kalau ketemu saya di KİPE nantinya, yakni Kimer Perpustakaan, akan saya bentaki mereka, Pak Dosennya berkata dalam benaknya.
YUPİ YUPİTER
Aku mencoba melayaninya sebaik yang bisa aku lakukan, terutamanya agar ia tetap tenang, tidak marah dan diam.
Karena suaranya begitu keras dan kencang, sehingga mahasiswa kelas lainnya pun dapat mendengarnya.
Aku cukup segan kepadanya, tentu karena ia adalah Dosen utamaku, terlebih lagi pengajarannya jugalah mantap, berbeda dari yang lainnya, walaupun dia terkenal galak.
"Silakan Pak,! Mau minum apa ya Pak,? nanti saya pesankan,!?" Tanyaku kepadanya dengan hormat.
"Oh...,Ya ya ya, boleh-boleh. Minuman Es Kopi, teh beku, Tralala lah loh loh lih luh begini begono, ada ga,? cari sana,!" Katanya Pak Dosen yang sedikit mendingin.
"Wah, minuman apa itu ya Pak,? baru kali ini saya mendengarnya, dimana ada yang jualnya ya Pak,?" tanyaku padanya dan heran.
"İtu minuman apa ya,? aku bingung nih, Pak Dosennya serius atau bercanda ya?."
Tanyaku yang bingung akan minumannya, dan kemudian Pak Dosennya berkata.
"Ga tau saya dimana ada yang menjualnya, cari sama kamu sampai ketemu ya,! dan saya tidak mau tahu,! kalau ada minuman itu,! kalian saya apresiasi,!" Katanya Pak Dosen kepadaku dan tidak mau tahu.
"Minumannya Dosen HUMORİSTİS kok aneh begitu ya?."
Tentu pada saat ini aku langsung bingung, kemana aku harus mencarinya, sedangkan aku tidak tahu apa-apa.
Namun jika aku rangkum dari perkataannya Pak Dosen, sepertinya ia menyukai kopi atau teh. Karena aku berada di jurusan seni komedi, tentu para Dosen-dosennya pun jugalah begitu.
Terutamanya bisa bercanda dan juga berkomedi, namun aku cukup panik dan cemas, apakah Pak Dosennya benar-benar serius,? ataukah hanya bercanda saja dalam membentak.
Dan itu yang tidak aku ketahui. Jika aku melihat dari jurnal dan jadwal perkuliahan, Pak Dosennya juga mengajar mata kuliah AKR, yakni Akting Drama Komedi Romantis.
Akan tetapi, kalau aku melihat dari gelagatnya, sepertinya ia tidak bercanda. Semoga saja aku tidak bersengketa dengannya, dan perkuliahannya menjadi lancar.
Aku cukup pusing kalau begini tentunya.