“Selesai kuliah, Haikal sempat bekerja di café di Sudirman sambil membantu usaha pakaian bekas aku di Jakarta Utara. Trus kita pindah ke sini … dan sejak usahaku udah mulai meningkat, Haikal sangat aku butuhkan,” jelas Bianca sambil menatap putranya dengan perasaan bangga. Dia sadari kebiasaan ibu-ibu arisan seperti Anita yang selalu ingin menonjolkan prestasi anak-anak mereka. Baginya, sikap baik dan kesederhanaan Haikal adalah prestasi Haikal yang sangat membanggakannya. Bibir Anita gemetar mendengar penjelasan Bianca. Perasaan bersalahnya semakin menukik tajam. Tapi tampaknya Bianca tidak menyadarinya. Dia tetap bersikap seperti biasa. “Hm, Haikal akan menikah tiga bulan lagi … mohon doanya, Mbak Anita … Oma,” ujar Bianca kemudian. Anita dan Oma Santi terperangah mendengar kata-kata

