124. Permata Sakit

1101 Words

"Ata, Mas!" Zean langsung keluar dari kamar saat mendengar suara tangis, di malam hari. "Kenapa?" Bertanya dengan cemas pada ayah yang menggendong putrinya. "Demam," jawab Ilyasa sambil menyerahkan sang cucu. Zean bisa merasakan hawa panas dari tubuh Permata. "Makasih, Pa. Biar Ata aku bawa ke kamar. Ilyasa mengangguk. "Ata sayang cepat sembuh, ya?!" Mengusap kepala cucunya. "Ya udah, papa ke kamar lagi." "Iya, Pa." Zean membawa putrinya ke kamar utama. "Ada apa?" tanya Binar yang sedang duduk menunggu di atas ranjang tidur. "Ata demam," jawab Zean serata duduk tak tak jauh dari istri. "Kepala Saya pusing, Bunda," adu Permata di sela isak tangis. "Sini sama binda." Permata menurut. Duduk dipangkuan ibunya. "Ada kompres demam?" tanya Zean. Binar mengangguk. "Ada di kotak obat.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD