"Ata masih marah sama ayah?" tanya Zean, menatap putrinya dengan sendu. Salah satu alasan yang membuat ingin cepat sampai rumah adalah gadis kecil itu Permata mengangguk. Meski sedang marah ia tetap saja menjawab pertanyaan walau tanpa mengeluarkan suara. "Ayah minta maaf, ya ... kemarin ayah buru-buru harus kerja." Permata menatap sang ayah dengan mata berkaca-kaca. “Ayah nakal. Ayah gak peluk Ata. Ayah juga gak bilang mau berangkat. Ayah juga nggak pulang waktu matahari udah sembunyi." "Ayah minta maaf, Sayang. Ayah harus menginap karena kerjaan Ayah banyak sekali. Ayah udah pernah cerita sama apa kalau ayah mau nginep di kantor." Air mata Permata menitik, bukan karena marah, tetapi kecewa. Sudah terbiasa paginya dimulai dengan pelukan ayah juga mendapat kecupan di pipi dak dan keni

