Binar menatap ke arah sang ibu yang konon akan menghubungi suami. Tetapi sekarang wajah wanita itu sama cemasnya. Pikiran burruk kembali memenuhi kepala. Apa mungkin kejadian yang lalu kembali terulang? Apa kali ini ia juga akan melewati masa-masa kehamilan tanpa suami? Sama seperti dahulu. "Suami kamu mungkin masih di jalan, Sayang. Gak kedengeran suara telpon makanya gak diangkat," ujar Fani, seakan mengerti arti tatapan sang anak. Binar semakin cemas. "Aku mau lihat langsung ke sana!" ujarnya sambil bangkit. "Gak usah, Sayang." Fani menahan tangan putrinya. "Ingat kamu lagi hamil." "Lalu? Mama mau aku hamil tanpa didampingi suami sama sebelumnya?" balas Binar. "Enggak gitu, Sayang. Kamu jangan berpikir seperti itu. Kamu berpikir yang baik-baik aja. Lagi pula belum tentu itu suami

