94. Zean Susah Dihubungi

1002 Words

Zean membuka mata. Celotehan putri tercinta sudah menyapa indra pendengaran. Tersenyum ketika mendapati Permata sedang menghujani wajahnya dengan kecupan singkat. "Bangun, Ayah. Bangun! Bangun! Bangun!" Anak perempuan itu mengecup pipi sang ayah, beberapa kali. "Iya. Ini ayah udah bangun, Sayang," sahut Zean sembari memeluk tubuh kecil itu dan mengecup keningnya. "Ata pagi sekali bangunnya." "Ata tadi bangun. Tapi Ayah gak ada di kamar Ata. Ayah nakal, suka ninggalin Ata!" Permata memukul pelan dadda sang ayah. Zean terkekeh. "Tapi ayah gak ninggalin Ata pergi. Ayah cuma pindah kamar. Biar Ata terbiasa tidur sendiri. 'Kan Ata udah besar. Sudah berani tidur sendiri." "Tapi Ata mau tidur sama Ayah terus sampai bangun." "Ata, biarin ayahnya ke kamar mandi, Nak. Kita 'kan mau sholat," te

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD