"Ata duluan!" Permata berlari lebih dulu menuju rak yang menyediakan camilan. "Jangan lari-lari, Sayang!" tegur Zean sembari mengikuti putrinya. "Kamu juga jangan lari-lari." Kali ini bicara pada sang istri. Binar memutar bola mata malas. "Aku bukan anak kecil yang suka berlarian di supermarket," sahutnya kemudian mengambil arah yang berbeda. Pergi tempat di mana buah dan sayuran berjejer rapi. "Ayah, Ata mau naik troli." "Ayo kita ambil dulu trolinya. Nanti kembali lagi ke sini," ajak Zean. "Ata tunggu di sini aja, Ayah." "Enggak. Ata ikut Ayah dulu. Ayo!'' Zean mengangkat tubuh putrinya. Tidak mau ambil resiko jika ia tinggalkan dan Permata pergi begitu saja tanpa pengawasan. "Nanti keripiknya habis, Ayah!" "Enggak. Itu keripiknya masih banyak," balas Zean. Mengambil satu buah tr

