Hari kedua bekerja bersama Satria benar-benar menyebalkan. Seperti kata lelaki itu kemarin, Selin benar-benar jauh lebih lelah hari ini. Bagaimana tidak, tiba-tiba dirinya disuruh visit ke merchant brand dengan alasan riset lapang. Padahal itu bukan tugas Selin. Job desk Selin adalah fokus ke marketing dan campaign. Tanggung jawab merchat itu dipegang oleh Andin dan Ben. Bukankah ini keterlaluan? Akan tetapi Selin tidak bisa mengelak tugas ini karena Satria membubuhkan tugas tambahan yang membuatnya normal meminta Selin mengerjakan ini. Katanya supaya bisa sekalian brainstorming untuk campaign terbaru. Demi apapun biasanya Selin hanya perlu bengong saat brainstorming. Bukan melelahkan diri keliling Jakarta seharian.
“Kayaknya beliau ini ada dendam pribadi sama lo deh, Lin.”
Ben yang menjadi partner visit Selin, memulai pembicaraan saat mereka istirahat di tempat makan yang merupakan merchant perusahaan.
“Gara-gara numpahin minuman kemaren?” tanya Selin.
Sebenarnya ada sedikit insiden saat makan malam dalam rangka penyambutan Satria. Selin tidak sengaja menumpahkan minuman lelaki itu. Ia benar-benar tidak sengaja.
“Mungkin itu juga pemicunya.”
Selin mengangkat satu alisnya.
Ben pun memajukan tubuh untuk berbisik.
“Lo tau kan gue itu suka mengawasi. Nah beliau ini, ngeliatin lo mulu kemarin.”
Mata Selin membulat. Ben sejeli itu? Ini berbahaya kan? Bahkan ini baru hari kedua dan sudah ada yang curiga.
“Serius lo?” tanya Selin.
“Iya. Awalnya gue kira salah lihat kan. Tapi sampe pulang makan malam, dia sering liatin.”
Selin masih diam karena masih bingung sekaligus terkejut harus merespon bagaimana.
“Terus hari ini tiba-tiba kita diminta visit. Sebenarnya sah-sah aja sih siapa pun yang ikut visit nemenin gue. Masalahnya ini lo. Kerjaan lo juga mendadak jadi lebih banyak nggak sih? Yang lain kayaknya nggak terlalu sadar. Tapi gue udah curiga semenjak manajer kita masuk, dia langsung ngeliatin lo.”
Ben melanjutkan kegiatan makannya sementara Selin masih mematung.
“Kalo dia beneran kesel sama gue gimana dong? Kerjaan gue jadi terancam nggak sih?”
Satu-satunya cara yang terpikir oleh Selin untuk mengatasi ini adalah pura-pura percaya dengan ucapan Ben, serta merasa takut.
“Nah itu. Kayaknya lo harus baik sama beliau deh.”
“Ben. Lo ada ngomong ke yang lain soal ini?” tanya Selin.
Ben langsung menggeleng.
“Enggak. Gue cuma bilang ke lo biar lo hati-hati. Tau sendiri manajer baru, bisa aja bikin sistem baru yang nggak menguntungkan. Gue cuma niat bantuin lo. Gue dulu hampir dipecat tapi lo nolongin gue. Lo juga bilang kan pengen kerja disini sampe pensiun. Jadi kita harus saling bantu.”
Ben lantas kembali bicara, “lo kalo butuh bantuan gue, kabarin aja ya.”
Selin hanya mengangguk. Sayang sekali niat Ben membantunya itu justru menjadi bumerang. Akan sulit kalau lelaki ini curiga. Jadi Selin harus mencari cara agar Ben tidak lagi memperhatikannya.
***
Selin memasuki apartemen dan langsung melepas heels-nya. Dia pasti sudah gila karena lupa mengganti alas kaki tadi. Sebenarnya itu karena Selin terlalu cepat kesal akibat perintah Satria. Jadi ia meninggalkan kantor terburu-buru karena malas melihat wajah lelaki itu. Dan untungnya, Selin tidak perlu ke kantor karena ia visit sampai malam. Memang melelahkan. Akan tetapi itu jauh lebih baik karena ia tidak bertemu Satria.
“Baru pulang? Keasikan date sama Ben?” tanya Satria.
“Date, date. Mata lo, date.”
Selin wajar kalau kesal kan?
Ia melangkah hingga berada tepat di depan Satria. Lucu sekali melihat lelaki itu santai disini dengan nyaman sementara Selin baru pulang.
“Gue mandi, abis itu kita bicara.”
“Bukannya sesuai kesepakatan kita kemarin, kita bicara besok? Kamu kayaknya lelah.”
Selin tertawa hambar.
“Kalau besok, gue keburu lupa sama informasi penting yang gue dapet selama visit tadi.”
Selin berlalu. Seperti biasa, Satria mencekal tangannya.
“Informasi penting?” tanya Satria.
“Apa? Kan kita bicara besok. Gue capek,” ucap Selin penuh penekanan.
Ia sudah belajar dari kemarin bahwa berteriak-teriak hanya membuang energi. Jadi Selin lebih baik bicara pelan saja.
“Silahkan mandi. Aku tunggu.”
Selin menghela napasnya. Ia menarik tangannya agar lepas dari cekalan Satria. Tidak mengatakan apapun dan Selin bergegas mandi.
Selesai mandi, Selin memutuskan untuk segera bicara pada Satria. Selin melupakan kekesalannya sejenak karena tingkah lelaki itu. Jadi ia melangkah menuju ruang televisi. Disana Satria membaca buku. Lalu karena kedatangan Selin, lelaki itu bangkit.
“Kita bicara di ruang kerja.”
Selin baru tahu ada ruang kerja. Lebih tepatnya, ia belum berkeliling apartemen ini secara menyeluruh. Selain tidak sempat, juga karena merasa tidak memiliki hak. Meski sebenarnya penasaran, Selin berusaha menetapkan batasan. Entah kalau dia tinggal di istana Pak Sandi. Mungkin berbeda lagi.
Saat memasuki ruang kerja Satria, Selin terkejut ada ruangan seperti ini. Ia terperangah.
“Wow.”
Lelaki itu duduk di sofa dan mengarahkan Selin untuk duduk di sebelahnya.
“Jadi ada informasi apa?” tanya Satria.
Setelah merasa takjub memandangi seisi ruangan, Selin berusaha fokus.
“Gue cantik banget ya?”
Satria langsung mengangkat satu alisnya.
“Aku udah bilang kalau kamu bukan tipe aku.”
Sebenarnya Selin sangat tersinggung. Secara tidak langsung Satria bilang ia tidak cantik. Hanya saja bukan itu yang penting untuk saat ini.
“Nah kalo gitu berhenti ngeliatin gue terus-terusan. Ben merhatiin lo. Dia tahu kalo lo ngeliatin gue terus. Ditambah penyalahgunaan wewenang lo untuk ngerjain gue, itu buat diam akin curiga. Nggak menutup kemungkinan semuanya juga jadi curiga karena tingkah lo terlalu mencolok beda ke gue. Kecuali gue yang paling cantik sedivisi, baru deh nggak akan ada yang curiga mau lo liatin gue sesering apapun di kantor.”
“Ben?” tanya Satria.
Selin mengangguk.
“Dia mikirnya lo kesel sama gue. Jadi nggak yang curiga-curiga banget. Ditambah gue kemaren nggak sengaja numpahin minuman lo waktu makan malam.”
Selin kemudian memilih untuk mengutarakan pikirannya. Ia memikirkan ini sepanjang perjalanan pulang tadi.
“Tapi nih ya. Lo kan dari keluarga kaya dan lo punya power. Tapi kenapa lo harus meribetkan diri dengan nyamar kayak gini. Pake ngelanjutin nikahan konyol ini segala. Kenapa nggak bayar agen aja buat cari tahu sendiri?”
“Sudah pernah. Dan Papa nggak berhasil.”
Satria kemudian bangkit dari duduknya. Melangkah menuju meja kerja. Membuka laci disana.
“Papa lo yang punya kuasa aja nggak berhasil. Apalagi kalo cuma kita berdua.”
Selin tahu ia terdengar pesimis. Hanya saja dirinya baru berpikir tadi bahwa ini benar-benar akan sulit. Lalu apa yang Satria harapkan dari kinerja mereka berdua? Selin hanya bersikap realistis.
“Kenapa? Kamu pesimis ini akan berhasil?” tanya Satria menatap Selin.
Tangan Satria sudah menyentuh sebuah foto yang ingin ia tunjukkan kepada Selin. Ia menanti jawaban Selin untuk mempertimbangkan apakah dirinya perlu menunjukkan foto itu atau tidak.
“Bukan pesimis, tapi realistis. Ini akan sulit. Power Pak Sandi aja gagal untuk membongkar ini. Jadi pasti musuh dalam selimut beliau lebih kuat kan? Mencoba memang tidak menjamin berhasil tapi menyerah sudah pasti gagal. Jadi, oke. Kita coba. Kalo kita berhasil, lo bisa memastikan masa depan gue cerah. Jadi gue akan perjuangin ini. Awalnya gue takut tapi gue juga jadi penasaran. Kalo lo perlu tahu, gue cinta banget sama perusahaan ini. Jadi nggak akan gue biarkan ada orang yang bikin perusahaan ini nggak sehat.”
Selin memilih melanjutkan ucapan karena Satria nampaknya mendengarkan dengan baik.
“Selain misi rahasia itu, tujuan lo juga kan belajar sebelum jadi pimpinan. Gue suka karena lo mulai dari tingkatan bawah. Meski bukan entry level banget. Tapi gue yakin lo akan dapat banyak pembelajaran. Ada banyak hal yang terjadi pada kami karyawan biasa yang mungkin nggak akan lo tahu secara langsung kalau lo langsung jadi pimpinan. Seenggaknya gue mencoba percaya lo akan jadi pemimpin yang baik nanti. Gue pengen anak gue juga kerja di perusahaan ini nanti, kalau dia emang mau. Jadi anggap selain membantu lo belajar, gue juga membantu perusahaan ini untuk punya pemimpin yang baik. Karena yang dirugikan dari pimpinan bobrok ya kami para karyawan yang sudah kerja keras.”
Satria hanya diam. Itu membuat Selin tersadar maksud ucapannya.
“Maksud gue nanti kan gue nikah sama cowok yang bener-bener gue cintai dan gue akan punya anak. Jangan mikir gue berharap punya anak sama lo ya.”
Satria tersenyum dan kemudian melangkah mendekat, kembali duduk di sebelah Selin.
“Good girl,” ucap Satria.
Satria tiba-tiba berlutut di hadapan Selin, membuat Selin berjengkit kaget.
“Eh lo ngapain?” tanya Selin.
Tangan Satria menyentuh tumit Selin sehingga membuat Selin reflek hampir menendangnya.
“Itu rencana kudeta. Pelakunya pasti salah satu di antara direktur. Papa tidak sepenuhnya gagal tapi Papa memutuskan menghentikan ini semua.”
Selin mematung saat Satria ternyata membawa antiseptik. Selin tidak sadar karena tadi pembicaraan mereka terlalu serius jadi ia tidak memperhatikan apa yang dibawa Satria. Ia memilih membiarkan Satria melakukan yang diinginkannya. Meski sebenarnya cukup terkejut dengan yang dilakukan Satria, berlutut dan menyentuh kakinya.
“Setengah jalan. Ada cukup bukti namun tidak bisa memberikan petunjuk siapa pelakunya. Ini sudah tersistem sejak lama. Papa menghentikan ini karena berpikir tidak ada gunanya. Aku tidak bisa diam seperti papa. Siapa pun itu pengkhianatnya, harus bertanggung jawab.”
“Aw,” rintih Selin tidak sengaja.
Rasanya perih jadi ia reflek merintih dan memegang bahu Satria. Satria pun langsung menghentikan kegiatannya dan mendongak. Ia menjadi bertatapan dengan Selin.
“Maaf,” ucap Selin seraya berhenti menyentuh bahu Satria.
Tangan kiri Satria langsung memegang tangan kanan Selin dan mengarahkannya untuk meletakkan tangan Selin di bahu lelaki itu lagi.
“Jangan ditahan. Bilang kalau sakit,” ucap Satria. Ia lantas melanjutkan kembali kegiatannya.
Membuat Selin reflek meremas baju di bagian bahu Satria.
“Aw. Lo sengaja ya?” tanya Selin disertai matanya yang melotot.
“Perih, tau.” imbuhnya.
Satria kemudian melanjutkannya dengan lebih hati. Dilihatnya kedua tumit Selin yang benar-benar lecet.
“Terus sekarang kita ngapain? Lo bilang kan udah ada bukti tapi belum ketemu pelakunya. Berarti tinggal lanjutin setengah lagi. Dan mungkin itu bagian tersulitnya kan? Menemukan pelaku sebenarnya.”
Satria masih tetap fokus. Saat ia berpindah ke kaki kiri Selin, diusapnya terlebih dahulu luka itu secara perlahan.
“Fokus bekerja normal selama tiga bulan.”
“Hah?” tanya Selin tidak mengerti.
“Kalau Beni bisa curiga, bisa saja ada orang lain yang juga curiga tapi tidak bicara. Kita bisa saja dipantau selama bekerja. Jadi cara terbaik adalah bersikap biasa supaya tidak mencurigakan. Jalani secara natural selama tiga bulan pertama. Semua orang yang mengawasi kita akan kecewa karena tidak menemukan apapun.”
“Tapi kita tinggal bareng,” sahut Selin.
“Kalau ada yang mengawasi kita sampai masuk ke gedung ini, akan lebih mudah menangkapnya. Tapi untuk sementara waktu, kita menjalani hari-hari secara natural saja.”
“Serius? Kalo gitu kita kerja normal selama tiga bulan? Berarti lo nggak akan menyalahkan wewenang kalo kesel sama gue kan?” tanya Selin.
Satria mendongak.
“Bukankah lebih baik kalau kita bermusuhan di kantor? Tidak akan ada yang curiga.”
Mata Selin membulat.
“Nggak! Kata lo tadi secara natural aja. Kita kan nggak musuhan. Males banget gue kalo tiap kerja harus tekanan batin karena manajer rese,” ucap Selin.
Satria bangkit, ia sudah selesai membersihkan sekaligus mengobati luka di tumit Selin.
“Kalo begitu bekerjalah dengan baik.”
“Ya menurut lo kalo gue bisa bertahan selama itu di perusahaan, apa gue kerjanya nggak baik?”
“Kalau memang baik, seharusnya sudah jadi manajer kan sekarang?” tanya Satria.
Ucapan itu berhasil memantik rasa kesal Selin. Apa Satria sedang menyombong sekarang karena begitu masuk perusahaan langsung jadi manajer? Dan itu juga dilakukan jalur murni bukan berkat orang tuanya, tapi berkat pengalaman di luar negeri.
“Hati-hati. Ben suka sama kamu. Sudah aku bilang kan untuk pakai cincinnya supaya lelaki yang mau dekati kamu tahu diri karena kamu sudah bersuami,” ucap Satria.
Kening Selin mengernyit. Apa Satria mulai sok tahu? Bisa-bisanya dia yang baru dua hari bertemu Ben langsung main judge begitu. Ia dan Ben sudah bekerja bersama cukup lama. Kalau memang suka, seharusnya Ben sudah menyatakan perasaan kan?
“Nggak usah sok tahu,” ucap Selin.
Satria tiba-tiba mengusap rambut Selin. Seharusnya tangan Selin dengan cepat menepis tangan lelaki itu. Masalahnya ia justru terpaku, bagai tersengat listrik dan dipaksa untuk diam saja saat Satria melakukannya.
“Istirahatlah. Kamu pasti lelah. Untuk hari ini, aku minta maaf.”