Selin memasuki kamarnya. Ia meletakkan tas di atas meja dan langsung melangkah menuju lemari. Dibukanya pintu lemari itu kemudian dibukanya laci yang ada di dalam sana. Kotak beludru itu ada disana. Tempat cincin nikah pemberian Satria tersimpan dengan baik. Selin mengambil kotak itu dan kemudian membukanya. Si mahal itu mengkilap dengan cantik saat terkena cahaya lampu kamarnya.
Ada tiga alasan kenapa Selin tidak mengenakan cincin itu. Alasan pertama sudah ia beritahukan kepada Satria. Memakai cincin secara tiba-tiba akan membuat rekan kerja di kantornya langsung curiga. Mereka akan meintrogasi Selin. Tentu saja ia akan berada dalam posisi sulit apalagi itu cincin mahal. Jadi daripada memancing kecurigaan, lebih baik tidak usah dipakai saja. Lagi pula kenapa Selin harus meyakinkan setiap lelaki yang ditemuinya bahwa ia sudah memiliki suami? Ini hanya satu tahun. Memakai cincin sama saja dengan menutup peluang lelaki mau mendekatinya. Lagi pula akan rumit kalau ada yang tahu Selin menjadi janda hanya dalam setahun. Ia bisa saja dianggap problematik. Nah itu tadi alasan kedua. Ia tidak ingin membuat lelaki lajang yang berniat mendekatinya justru menjadi urung niat hanya karena cincin melingkar di jari.
Alasan ketiga, tentu saja karena harganya mahal! Selin sudah mencari tahu harga cincin itu. Harganya mencapai milyaran! Pantas saja saat memakainya kala menemui Pak Sandi semalam, Selin merasa tanggung jawabnya begitu besar. Rupanya cincin seharga rumah mewah melingkar di jarinya. Selin takut cincin itu hilang jika dipakai. Bisa saja terlepas tanpa sadar atau menjadi rawan dicuri saat Selin lengah. Kalau itu hilang dan Selin harus menggantinya, entah harus bekerja berapa puluh tahun supaya bisa mengganti. Selin tidak ingin menghabiskan hidupnya hanya untuk mencari uang mengganti cincin itu jika hilang. Jadi lebih baik kalau cincin itu tetap tersimpan dengan baik di dalam kotaknya. Lalu pada saatnya nanti, Selin hanya tinggal mengembalikan cincin itu. Pada saat semuanya sudah selesai.
Selin meletakkan kembali kotak beludru itu. Dirinya bergegas mandi dan segera mengenakan pakaian tidurnya yang hangat. Kemudian ia duduk di atas ranjang. Mengumpulkan kesiapan hati untuk menyalakan ponsel lamanya. Setelah merasa siap, Selin menyalakannya. Detak jantungnya berdebar cepat karena ada begitu banyak pesan masuk. Mulai dari keluarga, rekan kantor, hingga wisawatan asing yang Selin kenal saat berlibur ke pulau itu. Bahkan Xander juga mengirim pesan.
Selin fokus pada pesan dari keluarganya, baik itu pesan personal atau di grup keluarga. Air matanya menetes begitu saja saat membaca ucapan selamat ulang tahun dari keluarganya. Tangis Selin semakin menjadi saat tahu ternyata ibunya membuatkan kue ulang tahun. Seharusnya, Selin menikmati kue itu kan? Dan bukan menangis sendirian di apartemen ini malam itu.
Setelah satu jam menangisi semua pesan itu, Selin mulai membalas. Ia hanya mengatakan maaf, terima kasih, dan memberitahu bahwa dirinya akan sangat sibuk mulai sekarang. Ia menangis lagi saat langsung ada balasan dari orang tuanya. Selin sangat ingin menelpon namun ia tahu itu hanya akan membuatnya menangis.
Lagi pula Selin tidak ingin orang tuanya curiga. Selin sudah memutuskan untuk merahasiakan mengenai Satria dari keluarganya. Akan lebih rumit jika orang tuanya itu tahu. Lagi pula ini hanya satu tahun. Anggap saja kontrak kerja tambahan.
Terdengar suara ketukan. Selin menatap pintu kamarnya, lupa kalau itu belum terkunci. Ia langsung mengusap air mata terburu-buru.
“Jangan masuk! Kenapa?”
“Sudah buka surelnya?” tanya Satria.
Selin bahkan lupa kalau Satria tadi memintanya memeriksa surel.
“Belum. Sabar.”
Tidak terdengar lagi suara lelaki itu dibalik pintu. Selin pun segera membuka surelnya. Kata Satria tugas istri. Ia jadi penasaran. Dibacanya secara perlahan isi surel itu. Matanya membulat dan ia langsung bangkit dari duduknya. Dihampirinya Satria yang sedang duduk santai di atas sofa sambil memangku laptop. Lelaki itu sepertinya sudah menunggu Selin.
Selin langsung berdiri di depan Satria.
“Itu maksudnya apaan?!” pekik Selin.
Satria menatap celana tidur panjang Selin. Pandangannya kemudian beralih menatap mata perempuan itu. Keningnya mengernyit.
“Abis nangis?” tanyanya.
“Nggak usah mengalihkan pembicaraan!”
Padahal sebenarnya Selin sedikit malu karena lelaki itu jadi melihat wajahnya sehabis menangis.
“Itu tugas kita untuk menjaga kenyamanan di apartemen ini.”
“Tugas kita. Kita? Harusnya diskusi bareng dong. Jangan main ambil keputusan sendiri. Kok lo yang jadi ngatur semuanya?”
Satria hanya diam. Selin jadi semakin kesal.
Ia sungguh tidak masalah dengan urusan makan masing-masing, cuci piring dan cuci pakaian masing-masing. Masalahnya adalah Selin harus mengepel seisi apartemen setiap satu bulan sekali. Memang bergantian dengan Satria. Jika bulan ini Selin, maka bulan depan lelaki itu. Masalahnya apartemen ini lumayan luas. Selin tidak akan sanggup.
“Lo kan kaya. Masak nyewa jasa bebersih sebulan sekali nggak mau? Lo kira bersihin apartemen ini nggak capek?”
Satria menyampirkan laptopnya dan kemudian berdiri dari duduknya.
“Apa? Mau bahas soal kemandirian? Gue nggak manja dan nggak males ya. Tapi asal lo tahu. Kerja itu capek. Weekend pun gue harus tetap mantau kerjaan. Dan setelah senin sampai jumat capek kerja, gue harus ngurusin kebersihan apartemen ini? Gue nggak mau! Gue mau istirahat. Jadi mending nyewa jasa bebersih aja.”
Seperti yang Selin lakukan pada apartemennya. Ia hanya tinggal duduk manis mengawasi. Tidak perlu membuat tubuhnya yang lelah menjadi semakin lelah untuk membereskan apartemen. Kecuali soal kemarin. Selin memang ingin quality time dengan apartemennya sebelum pindah jadi ia rela lelah sendiri membereskannya.
“Udah?” tanya Satria.
“Apanya udah?” tanya Selin bingung.
“Protesnya.”
“Belum! Gue-”
Selin reflek berhenti bicara karena Satria memajukan langkah. Membuat tubuh mereka jadi semakin dekat dengan sedikit jarak.
“Ngapain maju-maju?” tanya Selin kikuk.
Satria tidak menjawab justru semakin memajukan tubuh. Membuat Selin menahan d**a lelaki itu agar tidak semakin maju.
“Aku tadinya pikir kalau bersih-bersih rumah bisa jadi agenda romantis suami istri supaya semakin dekat.”
Selin tertawa.
“Lo gila ya? Kita lagi nggak di kondisi nyari agenda romantis biar makin deket. Lo jangan-jangan beneran suka ya sama gue?”
Satria kemudian kembali duduk di tempatnya, kembali memangku laptop.
“Hah! Lo beneran suka?” tanya Selin terkejut.
Berarti gue cantik kalo konglomerat sekelas Satria naksir? Apalagi dia di luar negeri bertahun-tahun. Pasti ketemu banyak orang dong? Tapi dia naksir gue? Berarti gue se-wow itu?
“Sudah aku bilang kamu bukan tipe aku.”
Kepercayaan diri yang tadi mencuat tinggi seketika jatuh menukik tajam. Lagi pula Selin harusnya sadar diri. Kalau ia secantik itu, dirinya tidak akan melajang sampai usia 30. Tepatnya ia tidak akan melajang sampai membuatnya menginjakkan kaki di pulau itu dan terjebak di masalah seperti ini.
“Ya terus lo ngapain repot-repot begini?”
“Kalau tidak setuju ya sudah. Kita pakai jasa bersih-bersih. Sekarang mari bicara soal urusan pekerjaan.”
Selin memutar bola matanya malas.
“Ini bukan jam kerja.”
“Ini soal misi kita. Sini duduk,” pinta Satria seraya menepuk sisi sofa sebelahnya.
Selin mengangkat satu alis.
“Terus jadinya yang di surel, tetap berlaku?”
Satria mendongak.
“Semua berlaku kecuali urusan bersih-bersih setiap sebulan sekali.”
Selin tidak menyangka ia tadi semenggelegar petir saat protes pada Satria soal keberatannya itu. Lalu Satria hanya menanggapi dengan santai dan merespon dengan santai tanpa beban. Lelaki itu berhasil membuat Selin buang-buang tenaga karena emosi.
“Sini,” ucap Satria lagi.
Selin kesal karena lelaki itu bisa begitu tenang bagaikan lautan tanpa ombak. Padahal Selin benar-benar sudah seperti guntur saat hujan badai.
“Kalo lo mau ngomongin kerjaan, gue bener-bener nggak mood. Gue masih kesel karena lo jadi manajer gue. Mana nyebelin lagi ngasih kerjaan ribet.”
Seharusnya Selin sudah dipecat kalau ia bicara terang-terangan seperti itu kepada manajernya.
Satria hanya menarik sudut bibirnya.
“Besok aja. Gue capek.”
Selin melangkah begitu saja.
“Apa sulitnya bicara sebentar disini? Kita tidak boleh membuang waktu dan harus memulai dengan cepat.”
Langkah Selin terhenti. Ia benar-benar kesal dengan Satria. Apa susahnya sih menunggu besok? Pikirannya sedang kacau sekarang karena memikirkan begitu banyak hal. Berhubungan kembali dengan keluarganya membuat Selin memiliki perasaan bersalah. Jadi ia hanya butuh menenangkan diri sejenak.
Ia berbalik dan kembali menghampiri Satria.
“Oke. Ayo bicara,” ucap Selin.
Satria bangkit dari duduknya.
“Besok aja. Aku capek.”
Mata Selin langsung membulat. Ia pun mengepalkan tangannya dan meninju ke udara. Menatap punggung Satria dan membayangkan ia meninju lelaki itu. Kesal sekali rasanya dipermainkan oleh lelaki itu.
Satria tiba-tiba berbalik.
“Mungkin lusa. Karena besok kamu pasti akan lebih capek dari hari ini,” ucap Satria seraya mengangkat sudut bibirnya.
What the …
Lelaki itu pasti ingin mengerjainya dengan menyalahgunakan wewenang manajer.