Sebenarnya ada perasaan berdebar selama perjalanan menuju kantor. Padahal ini bukan hari pertama Selin bekerja. Masalahnya adalah karena hari ini memasuki kantor bukan sebagai Selin yang sama seperti sebelumnya. Ada rahasia besar yang harus ia tahan dan sebisa mungkin bersikap biasa saja.
Begitu memasuki ruangan, ia terkejut karena semuanya sudah datang. Bahkan Sekar, yang biasanya selalu datang tepat jam sembilan. Selin melirik jam di tangannya, apa mungkin ia salah? Tapi sepertinya ini memang jam sembilan kurang sepuluh menit.
“Ya ampun Selin. Kemana aja sih. Nggak bisa dihubungin mentang-mentang cuti,” celetuk Andin yang langsung bangkit dari kursinya.
“Hai, kok udah rame?” tanya Selin bingung.
Selin sudah bekerja dengan mereka selama bertahun-tahun. Jadi sudah paham dengan tingkah laku rekan kerjanya. Seolah mereka sedang bersiap untuk sesuatu yang lebih serius. Begitu masuk ruangan ini, hawanya sudah terasa begitu tegang. Apa ia ketinggalan sesuatu selama cuti?
“Pak Dodi diganti, Lin. Manajer barunya masuk hari ini. Kita jadi siap-siap deh dateng lebih pagi. Kamu aja yang santai soalnya nggak tau,” sahut Dito.
“Manajer baru?” tanya Selin.
Sebenarnya kinerja Pak Dodi memang Selin akui buruk. Hanya saja kenapa pergantiannya sekarang? Lalu terbesit di benak Selin bahwa ini hari pertama Satria bekerja. Akan tetapi Selin terlalu tidak peduli jadi tidak bertanya lelaki itu mengisi posisi apa. Kalau management trainee tidak mungkin. Satria kan sudah tua. Ditambah pengalaman bekerja di luar negeri selama bertahun-tahun, bukankah sudah jelas posisi yang cocok di perusahaan ini untuknya adalah …
“Selamat pagi semuanya.”
Semuanya langsung bangkit berdiri dari posisi masing-masing. Sementara Selin masih membelakangi pintu ruangan. Selin hafal suara itu. Suara Pak Bayu selaku HR Manajer.
Selin membalikkan tubuhnya dan kemudian mematung saat melihat Satria di sebelah Pak Bayu.
“Seperti yang sudah saya kabarkan beberapa hari lalu. Saya ingin mengenalkan Manajer baru untuk Divisi Pemasaran. Beliau ini masih muda dan lulusan luar negeri. Track record di luar negeri juga oke. Jadi semoga bersama Manajer baru, kinerja Divisi Pemasaran semakin meningkat. Pak Satria, silahkan. Anda sudah bisa mengambil alih dari sekarang. Selamat bekerja.”
Selin masih tidak percaya kalau yang ada di depannya adalah Satria. Padahal ia baru saja berniat pulang lebih malam dan bersemangat menghabiskan waktu di kantor karena kalau di kantor, ia bisa melupakan lelucon pernikahannya dengan Satria sejenak. Sibuk akan membuat pikirannya teralih. Lalu bagaimana jadinya bila Satria justru menjadi manajer disini? Bahkan dari semua divisi yang ada di perusahaan, kenapa lelaki itu harus masuk kesini. Bukankah sama saja seperti neraka karena bertemu Satria dimana pun? Di apartemen dan di kantor.
“Selamat pagi semuanya. Perkenalkan saya Satria, Manajer baru kalian. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Semuanya sudah lengkap sepertinya.”
Satria menghampiri Dito dan menyalaminya, berkenalan secara resmi. Semuanya dia ajak berkenalan. Hingga saat Satria menghampirinya, Selin berusaha mengondisikan diri. Ia harus profesional.
“Selamat datang, Pak. Saya Selin, semoga bisa bekerja sama dengan baik.”
“Salam kenal, Bu Selin. Satria.”
Selin tersenyum. Selin berpikir apa dia memiliki bakat terpendam untuk menjadi seorang artis? Sandiwaranya bagus, kan?
Setelah sesi berkenalan itu selesai, Satria langsung mengajak semuanya ke ruang rapat. Tentu saja, manajer baru maka kemungkinan kebijakan baru. Selin tidak masalah siapa pun manajernya, asal bukan Satria. Astaga bagaimana ia harus bersandiwara setiap hari? Ini adalah pembunuhan karakter berencana.
***
Andin yang kubikelnya bersebelahan dengan Selin pun tiba-tiba memepetkan kursinya dengan kursi Selin.
“Sel. Sumpah dia ganteng banget nggak sih! Kira-kira udah punya istri belum ya?” bisik Andin.
Selin langsung mematung. Detak jantungnya berdebar cepat.
“Nggak tau deh soal itu. Kayaknya rese deh. Baru masuk aja udah ngasih tugas banyak.”
Andin menghela napas.
“Bener sih. Tapi nggak papa gue rela kok. Asal tiap hari ada pemandangan seganteng itu di ruangan ini. Mana dia wangi banget lagi. Rapi, klimis.”
“Bu Selin, tolong kemari.”
Bukan hanya Selin yang terkejut karena tiba-tiba dipanggil namun Andin juga.
“Kenapa bukan gue yang dipanggil ya?”
Selin hanya berdecak mendengar keluhan Andin itu.
Selin langsung bangkit dari duduknya dan menuju meja Satria.
“Iya ada apa, Pak?”
Selin harus benar-benar profesional karena semua di ruangan ini bisa mendengar. Bila Selin bisik-bisik, akan sangat kentara dan membuat semua curiga. Satu-satunya cara adalah bersikap seolah mereka memang hanya sebatas partner kerja.
“Laporan campaign yang saya minta, tolong tambah sama plan campaign tahun ini ya. Campaign tahunan yang sudah di-set jauh sebelum saya masuk,” ucap Satria.
Dasar Bang-
“Oke noted, Pak.”
Selin kemudian kembali ke tempat duduknya.
Ia hampir saja berdebar karena hanya dirinya yang dipanggil. Akan tetapi kemudian merasa lega karena berikutnya Andin yang dipanggil.
Selin lantas menoleh interaksi Andin dengan Satria.
“Soal database merchant, tolong kamu ikuti arahan saya ya.”
Selin mengalihkan pandangan. Sandiwara mereka sepertinya baik-baik saja hari ini. Satria sangat profesional. Jadi Selin rasa tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Tinggal dirinya yang harus benar-benar terkendali dan tidak boleh merasa kesal.
***
Selin melangkah masuk kedalam apartemen dan langsung disambut oleh Satria yang duduk dengan tenang di sofa.
“Kok baru pulang?” tanya Satria santai.
Selin sudah hampir melupakan mengenai hari ini. Ia berhasil bersandiwara dengan sempurna bahkan saat makan malam bersama Satria dan rekan kerja sedivisi dalam rangka ditraktir Satria. Akan tetapi begitu melihat lelaki itu duduk santai di sofa, rasanya api kemarahan kembali berkobar di benak Selin.
“Lo kok nggak bilang sih kalo Divisi Pemasaran? Kenapa harus satu divisiii sih!”
“Karena kamu nggak tanya dan karena aku capable untuk masuk divisi itu sebagai Manajer.”
Selin bungkam karena kehabisan kata-kata.
“Kamu belum jawab. Kamu darimana?”
Setelah acara makan malam bersama, Selin tidak langsung pulang melainkan pergi untuk menjemput ponselnya. Ponselnya sudah benar namun belum Selin nyalakan.
“Ngambil HP. Sumpah, Satria. Lo waras? Gue bukan artis. Gimana bis ague acting setiap hari seolah nggak ada apa-apa di antara kita?!”
Satria sepertinya terlalu tenang namun Selin benar-benar tidak menganggap ini masuk akal. Kekesalannya kepada lelaki itu meningkat.
“Dan lo sengaja ngerjain gue soal kerjaan. Revisi mulu!”
Satria hanya mengangkat satu alisnya.
“Acting kamu bagus hari ini. Pertahankan.”
Selin tertawa hambar. Ia sudah cukup lelah hari ini. Jadi malas berdebat meski sangat kesal. Apalagi melihat Satria yang terlewat santai seolah tidak ada masalah, Selin jadi merasa bodoh karena hanya dirinya yang merasa seolah ada badai hari ini.
“Terserah lo deh.”
Selin akan mandi dan segera istirahat. Setiap hari akan menjadi cobaan jadi Selin harus punya banyak tenaga untuk menjalaninya. Dimulai dari tidak begadang.
“Cincinnya kenapa tidak dipakai?”
Selin membalikkan tubuh. Menatap Satria yang kini sedang menyilangkan kedua tangan di depan d**a.
“Gue udah kerja bareng mereka bertahun-tahun. Kalo gue tiba-tiba pake cincin, apa nggak heboh mereka?” tanya Selin.
Ia tidak mungkin memakai cincin. Jika bilang sudah menikah, mereka semua akan meneror Selin untuk bercerita. Jadi lebih baik tidak usah dipakai.
Satria pun tersenyum.
“Semua orang akan berpikir kalau kamu masih lajang kalau begitu.”
“Lo juga nggak pake cincin,” ucap Selin.
Ia tidak memperhatikan sebenarnya namun Andin yang memberitahu.
‘Nggak ada pake cincin sih. Fix masih bisa diperjuangkan,’ bisik Andin.
“Diem kan lo? Dah lah. Gue mau istirahat. Capek ketemu lo mulu.”
Satria memegang tangan Selin. Seolah hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membuat langkah Selin terhenti. Selin jadi merasa tidak nyaman. Padahal lelaki itu bisa memanggilnya saja. Tidak perlu kontak fisik seperti ini.
“Apa lagi?” tanya Selin kesal.
"Jangan lupa cek surel," ucap Satria.
Mata Selin langsung mendelik. Pekerjaan apalagi yang lelaki itu berikan? Padahal ini sudah bukan jam kerja. Bisa-bisanya.
"Bukan tugas kantor. Tapi tugas selaku istri," sahut Satria seolah bisa membaca isi pikiran Selin.