Selin memegangi pipinya yang baru saja ditampar. Ia tidak apa yang sebenarnya terjadi hingga Anisa tiba-tiba datang kemari dan menamparnya. Sementara itu Anisa yang begitu emosi kini ingin menampar Selin lagi namun dengan cepat Ben maju dan menahan tangannya. Membuat Anisa langsung menatapnya dengan tajam. “Jangan berani menyentuh Selin,” ucap Ben serius. Anisa tidak menjawab dan ia menarik tangannya dari cengkraman Ben. Anisa cukup tahu diri bahwa Ben nampaknya serius. Ia tidak bisa berbuat seenaknya jika lelaki itu sudah memperingati. Mengingat hubungan ayahnya dengan Ben, maka Anisa tidak boleh gegabah. Satria sebenarnya ingin melindungi Selin dari perempuan gila itu namun ia tidak bisa melakukannya. Bisa terlalu mencolok. “Maaf, Ibu. Sekiranya bila ada masalah bisa dibicarakan bai

