Chapter 5 Happy Birthday

1509 Words
Selin hanya bisa mematung saat ia sudah memasuki ruang tamu. Apartemen milik Satria ternyata luas. Tidak seperti apartemennya. Tentu saja, lelaki itu kaya. Dengan rumah seperti istana tadi maka tidak heran kalau Satria memiliki apartemen seluas dan sebagus ini. Lelaki itu sudah menghilang. Mungkin masuk ke kamarnya. Sementara Selin terdiam di pijakannya karena ia tidak tahu harus apa dan kemana. Tidak lama kemudian Satria muncul. Ia tiba-tiba menghampiri sehingga membuat Selin mundur dari posisinya. Khawatir Satria akan macam-macam. Padahal ternyata Satria menarik koper miliknya dan kemudian melangkah. “Sini. Aku tunjukin kamar kamu.” Well, lelaki itu ternyata bisa berbuat baik juga. Selin bergegas mengikutinya. Saat berada di depan pintu kamar, Satria berhenti dan mempersilahkan Selin duluan masuk. Pintu kamar sudah terbuka jadi Selin masuk kesana. Selin cukup tercekat dengan kamar yang cukup luas. Lebih luas dari kamarnya. Ruangan didominasi interior kecokelatan dengan tembok bercat putih. Terlihat estetik. Selin suka namun ia sungguh lebih ingin tinggal di kamar yang sudah lama ditempatinya. Tempat ini … penjara yang indah. Tubuhnya berbalik dan menatap Satria yang kini tengah bersandar pada kusen pintu. “Gue bener-bener harus tinggal disini? Setahun?” tanya Selin memastikan. Satria memasuki kamar seraya menarik koper. “Iya,” sahutnya. “Gratis? Atau gue harus bayar sewa?” tanya Selin. Satria langsung menoleh kepadanya. Mengangkat satu alis. Merasa aneh mendengar ucapan Selin barusan. “Kenapa bayar sewa?” tanya Satria bingung. Selin memutar bola matanya. “Kita kan nikahnya terpaksa dan gue harus bertahan satu tahun karena nggak mau dipecat. Gue anggap pindah kesini untuk jalanin misi. Gue nggak mau cuma numpang. Jadi kita sekalian bahas aja soal keuangan gimana?” tanya Selin. Satria masih diam di tempatnya, begitu juga Selin. Jarak mereka cukup jauh namun masih saling bertatapan. “Numpang?” tanya Satria tidak percaya. “Iya. Gue kan cuma numpang disini.” Satria menggelengkan kepalanya. “Aku nggak paham sama pemikiran kamu. Memang kita menikah karena alasan konyol tapi soal keuangan. Meskipun kamu kerja dan dapet gaji, aku tetap nafkahi kamu.” Hati Selin rasanya menciut. Dia selalu ingin agar seorang lelaki kaya dan tampan datang menafkahinya disaat Selin sedang sangat lelah namun harus tetap bekerja. Akan tetapi teringat jangka waktu pernikahan yang hanya setahun, Selin tidak ingin menggunakan sepeser pun uang lelaki itu. Takut tiba-tiba ditagih menjadi hutang. “Dan jangan pernah menganggap kamu numpang disini. Kamu istri aku.” “Aduh omongan lo seolah kita nikah atas dasar cinta,” ujar Selin merasa geli. Jadi Selin tidak perlu membayar. Baguslah kalau begitu. Sekarang bulan Juli dan masa habis sewa apartemennya Desember. Selin bisa segera memindahkan semua barang dan menyewakan apartemen itu. Uangnya bisa untuk membayar listrik disini. Jadi ia ikut berkontribusi dan tidak hanya menumpang meski Satria sudah menegaskannya tadi. Ya, begitu saja. “Gue mau balik ke apartemen sekarang dan urus pindahan dulu. Senin gue baru tinggal disini gimana?” tanya Selin. Keputusan Selin sudah bulat. Yang menjadi motivasinya kini adalah supaya tidak dipecat. Bukan karena ia terlena dengan kemewahan dan kekayaan lelaki itu. Akan tetapi sungguh, Selin hanya sedang memikirkan ucapan Satria. Bahwa ia tidak perlu membuat semuanya menjadi rumit. Selin hanya butuh ruang sendiri dan Satria memberikannya. Kamar mereka terpisah dan Satria juga sudah menegaskan untuk menjalani hidup masing-masing. Mereka hanya perlu tinggal satu atap saja. “Besok aja. Aku capek,” sahut Satria. Perjalanan dari pulau ini menuju Jakarta memang Selin akui cukup melelahkan. Ia juga sebenarnya lelah namun tidak ada waktu. Hari ini hari jumat dan hari terakhirnya cuti. Besok sabtu dan minggu. Waktu yang tepat untuk membereskan barang di apartemen karena senin ia harus bekerja. Lebih cepat lebih baik supaya dirinya bisa segera mempromosikan apartemennya untuk disewakan. “Lo istirahat aja. Gue bisa sendiri.” Ponsel Selin memang rusak namun ia akan membawanya untuk diperbaiki dulu. Semoga saja minggu sudah bisa atau jika memang rusak sepenuhnya, baru ia akan membeli ponsel baru. Ia harus berhemat karena pindahan tentu membutuhkan biaya. Satria tampak mengamatinya penuh curiga. “Nggak. Aku harus ikut. Siapa tahu kamu mau kabur.” Selin sontak tergelak. Bisa-bisanya Satria berpikir begitu. Meski sebenarnya itu memang adalah hal yang paling ingin ia lakukan. “Lo bisa nahan gue setahun dengan ancaman pemecatan tapi lo mikir gue bakal kabur? Ya menurut lo aja kenapa gue masih tetep mau ngejalanin hal konyol ini. Ya kali gue kabur.” Selin melangkah mendekati lelaki itu. Tepatnya untuk menggapai koper yang berada di dekat Satria. Lelaki itu masih memegangi kopernya. Saat ia sudah dekat dan tangannya tergerak ingin mengambil alih koper, Satria justru menjauhkan kopernya. Seolah tidak mengizinkan Selin menyentuh kopernya sendiri. “Nggak ada jaminan kamu akan balik lagi kesini setelah pergi sendirian.” Selin menatap lelaki itu kesal. “Jaminan, jaminan mulu. Gue lagi nggak minjem duit!” pekiknya. “Kita ke apartemen kamu besok. Hari ini istirahat dulu,” ujar Satria tenang. Lelaki itu melangkah seraya membawa koper Selin. “Heh! Koper gue! Lo juga ngapain ngatur-ngatur? Gue bakal balik kesini lagi kok!” Selin sebenarnya bisa tidak bisa melawan lelaki itu. Ia bisa saja langsung pergi melakukan yang ia inginkan. Hanya saja ia terpaksa hidup mengikuti izin lelaki itu. Selin masih ingat jelas saat ia mengatakan akan membocorkan identitas Satria hanya agar dirinya tidak perlu terjebak setahun di pernikahan ini. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Selin akan dipecat dan bukan hanya sampai disitu, ia akan dituntut. Dirinya tidak mau mencari masalah dengan orang berkuasa seperti keluarga Satria. Jadi nyalinya menciut dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan ialah menjalani ini dengan sedikit kompromi. Berharap tidak merugi sepenuhnya. “Jaminan KTP deh!” Satria menghentikan langkah dan menoleh. “Selin..” Lelaki itu sepertinya sedang mengumpulkan kesabaran. “Aku capek dan aku tau kamu lebih capek. Besok saja, ya?” Kali ini Satria bicara lebih lembut. Sebenarnya lelaki itu memang tidak pernah bicara dengan kasar atau membentak. Hanya saja tetap menyebalkan bagi Selin. Menyebalkan melihatnya tetap bersikap tenang seperti ini padahal dunia Selin terasa hancur dalam sekejap karena pernikahan mereka. Rasa takut dan khawatir akan masa depan membuatnya hanya bisa memberontak dengan cara bicara yang ketus dan menumpahkan emosi itu pada Satria. “Oke. Tapi tolong koper gue,” ucap Selin memilih mengalah. Ucapannya memang terdengar santai namun matanya mendelik pada Satria. Lelaki itu memberikannya begitu saja dan kemudian melangkah pergi memasuki kamarnya. *** Selin terbangun pukul sebelas malam yang artinya ia tidur sangat lama. Satria benar bahwa memang yang dibutuhkan adalah istirahat. Selin juga sebenarnya sangat lelah dan energinya terkuras habis. Satu-satunya yang membuat ia bersikeras ingin ke apartemen adalah karena ingin kesendirian dan ternyata bisa didapatkannya disini. Kamar yang gelap dan terkunci. Setelah selesai mandi tadi, dirinya langsung tidur. Untung saja masih ada stok pakaian bersih di dalam koper yang ia bawa untuk liburan itu. Peralatan mandi yang dibawanya berlibur cukup lengkap. Kamar mandi kamar ini juga lebih besar dari kamar mandi apartemennya. Selin selalu diajarkan untuk bersyukur jadi ia memilih bersyukur dengan menganggap ini kesempatan untuk menghemat biaya tempat tinggal. Ia akan berkontribusi dengan membayar listrik yang tentu biayanya jauh lebih murah dengan mendapatkan tempat tinggal seperti ini. Semoga saja Satria cukup koperatif dalam menciptakan lingkungan tinggal yang nyaman. Ditekannya saklar lampu setelah melangkah dalam kegelapan. Selin membuka kunci pintu dan berniat pergi ke dapur untuk mencari minum. Ia tidak minum dan makan apapun. Bahkan saat tadi di istana Pak Sandi, Selin makan sedikit. Ia terlalu tidak berselera untuk makan. Seharusnya Satria mengadakan room tour dulu tadi jadi Selin perlu merasa bingung. Meskipun sebenarnya mudah menemukan dapur. Ia hanya ingin segera minum air jadi langsung saja kesana. Entah dimana keberadaan Satria, mungkin juga sudah tidur. Selin merasa lapar dan ingin pergi beli makanan tapi ia tidak memegang kartu akses untuk bisa melewati lobi. Malas juga rasanya untuk turun. Mau delivery order, ponsel tidak ada. Saat tangannya lemas menggapai gagang kulkas, ia mengernyitkan kening melihat ada sticky note yang tertempel disana. Aku ada urusan dan besok pagi baru kembali. Ada makanan dalam kulkas atau kamu bisa masak kalau mau. Di atas meja makan ada kartu, pinnya sama dengan pin apartemen. Pakai saja Selin tertawa hambar membaca tulisan itu. Tulisan tangannya rapi serta indah namun sungguh isinya membuat Selin kesal. Bisa-bisanya lelaki itu pergi padahal tadi melarang Selin ke apartemen sendiri dengan alasan kelelahan. Tapi baguslah kalau begitu, Selin bisa menikmati waktunya sendirian dengan berkeliling apartemen ini. Mengeksplor tempat yang akan menjadi kediamannya selama satu tahun kedepan. Ia membuka kulkas dan cukup tertegun melihat isinya. Kulkas empat pintu yang berukuran besar dan tinggi. Isinya menakjubkan. Berbeda dengan kulkas di apartemennya yang lebih sering kosong. “Kulkas orang kaya,” ucap Selin. Mata Selin kemudian terpaku pada sebuah box kue disana. Kue ulang tahun. Terlihat jelas karena transparan. Selin berlutut dan kemudian mencabut sticky note dari atas sana. Happy birthday Selin Air mata Selin seketika menetes. Ia langsung terduduk di lantai. Merasa sedih karena baru ingat ini ucapan selamat ulang tahun pertama—dan mungkin satu-satunya— yang ia terima dari orang lain. Ponselnya rusak jadi ia terisolasi dari peradabannya. Dari orang-orang yang tahu kalau dirinya sekarang berulang tahun. Mereka mungkin mengucap melalui pesan namun Selin tidak tahu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD