Selin bangun cukup siang kali ini. Itu wajar. Mengingat dirinya baru bisa tertidur jam lima pagi. Penyebabnya jelas karena tidak bisa tidur. Perempuan itu lantas menghabiskan malam dengan menangis dan merenungi hidupnya yang berubah sangat cepat hanya dalam satu hari. Selin sudah memikirkannya semalam. Betapa semua penyesalan itu terasa menyiksa namun Selin sadar bahwa terus-terusan meratapi penyesalan hanya membuang waktu.
Selepas membasuh wajah dan buang air kecil, Selin langsung menuju dapur. Sudah pukul sebelas siang dan sungguh dirinya langsung merasa lapar begitu bangun. Langkahnya gontai menuju dapur. Perpaduan antara malas dan lemas.
“Anj..”
Selin reflek mundur dan membentur kusen pintu dapur. Ia terkejut karena melihat tahu-tahu sudah ada Satria. Lelaki itu duduk dan kini menatap Selin.
“Gue kaget,” ucap Selin.
Ia kemudian melangkah melewati meja makan, tempat Satria berada.
“Kalo habis masak itu langsung dicuci, bukan ditumpuk. Jorok.”
Mata Selin langsung menuju wastafel tempat ia menumpuk semua perabotan yang digunakannya semalam untuk memasak. Selin memang memiliki banyak waktu sebenarnya semalam. Hanya saja ia malas mencuci piring dan berpikir tidak ada salahnya jika menunda sejenak. Biasanya juga begitu.
“Ini mau dicuci kok,” ucap Selin.
Detik kemudian perutnya berbunyi. Pertanda ada urgensi yang lebih penting dibanding mencuci piring. Selin harus segera makan.
“Abis gue makan langsung gue cuci kok.”
Selin kemudian melirik kulkas. Kemarin masih ada daging ayam mentah disana. Jadi Selin akan memasak itu saja. Belum sempat dirinya menggapai kulkas itu, tangannya tiba-tiba ditarik.
“You know that. Nggak akan ada Mbak disini. Jadi jaga kebersihan dan kerapian. Aku harap kamu bukan cewek jorok,” ujar Satria.
Selin terlalu terkejut karena lelaki itu mencengkram tangannya tadi. Ia juga cukup terkejut setelah memproses maksud ucapan Satria.
“Kan gue udah bilang bakal nyuci piringnya abis makan, ih!” pekik Selin saat Satria melangkah meninggalkan dapur.
Selin lantas menatap perabotan yang menumpuk. Ia mengangkat bahu acuh. Dirinya akan tetap seperti rencana awal, makan dahulu baru mencuci semua itu.
***
Satria sedang menonton televisi saat Selin melangkah hendak menuju kamar.
“Lo udah makan belum?” tanya Selin.
Satria pun hanya meliriknya.
“Gue masak. Nggak terlalu enak emang. Tapi masih bisa dimakan. Lo kalo mau ambil aja.”
Selin lantas berlalu begitu saja tanpa menunggu Satria menjawab.
“Gue mandi dulu. Mau ke apartemen gue,” ujar Selin seraya melangkah.
Setelah Selin memasuki kamarnya, Satria mematikan televisi dan melangkah menuju dapur. Ia sudah makan tadi. Baginya urusan makan akan menjadi urusan masing-masing. Ia akan katakana itu nanti pada Selin. Tujuannya ke dapur hanyalah memastikan apakah perabotan sudah tercuci atau masih menumpuk. Satria menghela napas lega melihatnya. Ia sebenarnya sangat gemas melihat dapurnya berantakan. Hanya saja jika ia yang membereskan itu, sama saja Selin keenakan. Perempuan itu yang membuat berantakan, jadi perempuan itu juga yang harus membereskan.
Tiga puluh menit kemudian, Selin keluar dari kamarnya.
“Gue mau ke apartemen sekarang. Gue pergi sendiri aja dan gue balik kesini senin.”
Satria yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya pun menoleh.
“Aku anter. Silahkan nginep tapi besok kamu balik kesini. Besok kita makan malam ke rumah Papa.”
Mata Selin membulat. Apa dirinya harus berbakti kepada Pak Sandi selaku mertua? Apa pernikahan ini harus begitu juga? Ia sungguh tidak ingin terlalu sering bertemu lelaki itu.
“Nggak ada penolakan. Jangan membuat semuanya rumit,” ujar Satria saat menyadari Selin diam karena sedang berpikir.
Selin menghela napas. Ia memang sedang memikirkan kalimat apa yang pas supaya tidak perlu menemui Pak Sandi besok.
“Ambil,” ucap Satria tiba-tiba.
Selin mengernyit bingung.
“HP biar bisa komunikasi. Dan kartunya. Kenapa nggak diambil?”
“Gue punya uang. Jadi kartu lo, buat lo aja. Soal HP juga. Gue mau benerin HP.”
“Pake ini sambil nunggu HP kamu dibenerin dan soal uang. Tabung aja. Aku tetep suami kamu meski kondisinya begini. Dan aku tetap nafkahin kamu.”
Selin menatap Satria penuh curiga.
“Lo. Nggak usah pura-pura baik deh. Atau lo beneran suka sama gue?” tanya Selin.
Satria tidak menjawab melainkan menyentuh tangan Selin dan meletakkan kartu serta ponsel itu di tangan Selin.
“Udah siap kan? Kita berangkat sekarang ke apartemen kamu.”
Satria kemudian melangkah lebih dahulu sementara Selin masih menatap ponsel dan kartu di gengamannya. Ia segera menyusul Satria.
“Lo bakal nyesel ngasih gue kartu ini. Gue bakal porotin lo dan belanja banyak,” ucap Selin.
Ia menyerahkan kartu itu kembali pada Satria. Akan tetapi Satria sibuk menghindar dengan menekan tombol lift.
“Pake aja. Uangku banyak.”
Selin tidak tahu kalau ia bisa sekesal ini mendengar betapa sombongnya Satria. Sebenarnya lelaki itu tidak sepenuhnya sombong. Ucapannya benar. Hanya saja Selin tidak serius dengan ucapannya tadi. Ia tidak berani menggunakan uang Satria karena takut tiba-tiba ditagih sebagai hutang setelah semua ini berakhir.
“Gue nggak bisa terima HP dan kartu ini,” ucap Selin yakin.
Selin tidak bisa main terima begitu saja. Ia sudah bertekad untuk berhati-hati.
Pintu lift terbuka dan Satria langsung melangkah keluar. Mengabaikan ponsel dan kartu yang Selin sodorkan padanya.
“Ambil aja. Ribet banget,” ucap Satria seraya menekan tombol di kunci mobilnya.
***
Hanya ada keheningan selama perjalanan. Meski Selin sudah memantapkan hatinya akan berusaha menjalani semua ini dengan tabah, rasanya tetap tidak percaya sekarang ia satu mobil dengan orang asing yang berstatus suaminya.
Begitu memasuki pekarangan apartemen Selin, hatinya langsung terasa sedih. Ia merindukan hari-harinya sebagai perempuan lajang yang tinggal disini.
Dulu Selin sering mengeluh tinggal disini dan ingin tinggal di apartemen yang lebih mewah. Sekarang keinginannya itu sudah terpenuhi, Selin justru ingin tinggal disini saja.
“Udah. Gue turun disini aja.”
Selin sedang melepas sabuk pengamannya saat mobil yang Satria kendarai justru terus melaju, memasuki basement.
“Hah, ngapain?” tanya Selin kesal.
Yang Selin tahu, Satria hanya kesini untuk mengantarnya kan? Lalu kenapa lelaki itu repot-
repot parkir segala. Padahal tinggal berhenti sebentar di depan pintu lobi.
“Aku mau berkunjung ke tempat tinggal kamu.”
“Nggak usah! Ngapain?”
“Kenapa? Kamu nyumputin cowok di apartemen?”
Selin mengernyitkan keningnya.
“Iya!” pekik Selin kesal.
“Baguslah. Biar sekalian aku kasih tau dia kalo kamu udah nikah. Pantes minta nginep.”
Satria memarkirkan mobilnya dengan satu tangan. Sesekali lelaki itu menoleh ke spion sebelah Selin untuk memastikan dirinya memarkir dengan benar.
“Gue nggak nyumputin cowok ya. Tapi ngapain lo pake mau ke apartemen gue?” tanya Selin.
“Berkunjung,” sahut Satria santai.
Mobil sudah terparkir dengan benar. Satria melepas sabuk pengamannya.
“Ayo turun. Tunjukin jalannya,” pinta Satria.
Selin masih menatap Satria kesal. Ia kemudian hanya berdecak dan membuka pintu mobil.
Dirinya jadi penasaran Satria itu orang yang seperti apa. Ia tidak mengenal Satria sama sekali dan hanya berusaha percaya pada insting bahwa Satria tidak berbahaya. Setidaknya Selin punya kartu as lelaki itu. Jadi jika Satria macam-macam, Selin tinggal membongkar saja rahasianya.
Satria memakai masker dan topinya kemudian keluar dari mobil. Untung saja suasana sepi saat ia keluar dari mobil. Begitu juga saat di lift.
Selin awalnya terkejut saat Satria masuk lift. Lelaki itu mengenakan masker dan topi. Hanya matanya yang terlihat. Itu menjadikan Satria terlihat lebih menarik. Selin baru sadar mata lelaki itu bagus. Ah, soal itu. Satria itu sangat tampan namun Selin berusaha tidak tergoda karena ingat dengan baik kondisinya seperti apa sekarang.
Ia pun berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Jangan sampai dirinya terpesona oleh Satria. Rawan dimanfaatkan jika begitu. Apalagi ia tidak mengenal Satria sepenuhnya.
Selin hanya diam saja karena ia paham kondisi pernikahan ini harus rahasia.
“Kalo takut ketahuan entah sama siapa pun itu, kenapa lo ikut kesini?”
Menurut Selin akan lebih mudah kalau Satria tidak ikut.
“Bukannya lo yang sering bilang. Jangan dibikin ribet. Malah lo yang bikin ribet.”
Pintu lift terbuka. Satria tidak kunjung bicara jadi Selin memilih melangkah saja.
Satria memperhatikan saat Selin menekan pin pintu apartemennya. Begitu mereka masuk dan pintu tertutup, Satria langsung melepas masker dan topinya. Ia memandangi apartemen Selin.
“Gue nggak mau menawarkan apapun ya dan kalo lo mau nyari ada cowok atau enggak disini, lo bakal kecewa. Lo cowok pertama yang dateng kesini,” ucap Selin jujur.
Satria mengangkat sudut bibirnya dan kemudian melangkah lebih jauh.
“Lo mau ngapain? Jangan nggak sopan di apartemen orang dong.”
Selin langsung memegang lengan Satria saat lelaki itu hendak melangkah menuju dapurnya. Langkah Satria terhenti sejenak. Ia menatap Selin yang memegang tangannya. Selin pun langsung melepaskan pegangannya.
“Jangan nggak sopan sama tamu,” ucap Satria.
Selin baru saja membuka mulutnya ingin bicara namun Satria lebih dulu bicara.
“Ralat. Ini bukan apartemen orang. Ini apartemen istri aku.”
Satria lantas melangkah begitu saja.
“Duh berhenti nyebut suami istri deh. Gue geli. Kayak kita beneran suami istri aja.”
“Kan kita memang beneran suami istri,” ujar Satria.
Lelaki itu membuka kulkas. Membuat Selin kesal bukan main.
“Aku haus,” ucap Satria saat Selin sudah bersiap untuk mengumpat.
“Ya udahlah terserah lo aja. Dapur gue isinya nggak se-wah dapur lo.
Satria lantas menoleh ke arah Selin.
“Dan tempat ini nggak serapi yang aku bayangkan.”
Selin mengepalkan tangannya.
“Iya. Gue emang nggak serapi lo. Kenapa? Berubah pikiran? Kan gue udah bilang mending kita tinggal masing-masing. Nggak perlu ribet. Lo yakin bakal betah tinggal sama gue yang berantakan?” tanya Selin kesal.
“Ngomong mulu, mau dicium?”