Chapter 14 Enak?

1056 Words
Hari sabtu sudah berlalu dengan menyenangkan. Selain karena Selin bisa bersenang-senang selama di Dufan, juga karena harinya terasa menenangkan tanpa keberadaan Satria. Lalu sekarang hari minggu, Selin menghabiskan waktunya dengan berbelanja. Ia akan mengganti isi kulkas yang diambilnya selama tinggal hampir satu minggu ini. Isi kulkas sendiri sebenarnya masih cukup penuh. Jadi Selin tidak terlalu banyak belanja. Saat hendak membayar, Selin terpaku menatap kartu yang Satria berikan. Ia pun jadi berpikir bagaimana bisa Satria tahu kalau Selin tidak pernah memakai kartu itu. Dirinya lantas mengambil kartu miliknya dan diserahkan kepada kasir untuk pembayaran. “Aa bener juga,” gumam Selin. Ia baru terpikir pasti lelaki itu tau dari pesan yang dikirimkan ke kontaknya. Karena Selin tidak pernah memakai sama sekali, berarti tidak ada pesan yang masuk kan? Satria berarti mengawasinya. Kalau begitu Selin merasa keputusannya tidak menggunakan kartu itu tepat. Meski Satria bilang agar Selin menggunakannya saja, ia tetap tidak yakin. Agenda belanja itu dengan cepat berakhir. Selin pulang ke apartemennya. Sampai disana, hanya ada kesunyian. Tadi pagi cukup ramai karena ada pelayan dari istana Pak Sandi yang datang untuk bersih-bersih kemari. Selin pun tadi membantu mereka. Tidak enak hati hanya diam saja sambil menunggu. Juga tidak enak meninggalkan mereka pergi. Mereka semua ramah dan menganggap Selin sebagai majikannya. Selin tidak tahu kalau memiliki pelayan sebanyak itu rasanya seperti ini. Apartemen yang biasanya sepi jadi terasa ramai tadi. Selin mulai Menyusun semua belanjaan yang dibelinya. Setelah selesai, ia pun menikmati salad buah yang tadi dibelinya. Dilihatnya jam tangan yang menunjukkan pukul empat sore. Waktu ternyata cepat berlalu. Besok sudah senin. Padahal rasanya baru kemarin ia bekerja. Selesai makan salad buah, Selin pergi ke kamar. Terlelap dalam tidur sorenya. *** Satria tiba di apartemen pukul delapan malam. Ia langsung mengeluarkan pakaian kotor dari kopernya dan menenteng keranjang berisi pakaian kotor yang belum tercuci. Ia akan langsung mencuci pakaiannya. Satria sudah makan malam tadi di bandara. Iya, begitu tiba di Jakarta, Satria langsung mencari makan malam di bandara saja supaya cepat. Ia malas mampir dan malas memasak setelah sampai di apartemen. Lelaki itu mengamati lingkungan sekitar saat membawa keranjang kotornya menuju tempat mencuci pakaian. Suasana yang sepi entah dimana Selin berada. Lelaki itu memilih langsung menuju mesin cuci. Matanya membulat saat melihat bra berwarna merah menyala yang terpampang nyata. Ada dalaman perempuan juga. Sudah jelas itu milik Selin. Perempuan itu membiarkan cuciannya terbengkalai begitu saja di dalam mesin. Ia lantas segera menuju kamar perempuan itu. Siapa tahu Selin ada di kamar. Jika tidak ada, baru dia akan menelpon. Tidak lama setelah mengetuk, pintu itu terbuka. Menunjukkan Selin yang baru bangun tidur. “Apa?” tanyanya dengan suara serak. “Cucian kamu di mesin cuci,” ucap Satria. Selin terdiam menatap Satria. Masih mengumpulkan kesadaran karena ia baru saja terbangun dari tidur. “Cucian?” tanya Selin. Satria pun menyilangkan tangannya di depan d**a seraya menanti Selin yang nampaknya masih memproses informasi yang baru saja diterima. Selin langsung membulatkan mata saat ia ingat tadi dirinya hendak mencuci saat para pelayan itu datang. Selin kemudian keasikan membantu mereka bersih-bersih sampai lupa dengan niat mencucinya. Ia dengan percaya diri membawa semua dalaman kotornya ke mesin cuci karena tidak ada Satria disini. Selin langsung mau melangkah namun ia justru menabrak Satria yang ada di depannya. Efek masih baru bangun tidur jadi kurang fokus. Satria pun memegangi kedua pundak Selin karena Selin terhuyung hampir jatuh. “Maaf, maaf.” Selin lantas tergesa menuju mesin cuci. Sementara Satria mengikut di belakangnya. Begitu sampai, Selin langsung melihat isi mesin cuci dan membulatkan mata. Keranjang kotor berisi pakaian Satria adalah bukti bahwa lelaki itu pasti sudah melihat barang Selin di dalam mesin cuci. Lelaki itu ternyata ingin mencuci pakaian, malam-malam begini. Sialnya dari semua pakaian yang Selin masukkan ke dalam sana, kenapa harus dalamannya bagian paling atas. Terpampang jelas nan nyata. Kalau begitu berarti Satria pasti melihatnya kan. “Astaga, bodoh!” pekik Selin untuk dirinya sendiri. Satria bersandar pada kusen pintu dan menatap Selin yang saat ini sedang tergesa-gesa mencuci baju. Saat mesin sudah mulai menyala, Selin berbalik berniat mengambil air terlebih dahulu. Ia haus begitu bangun tidur. “Ngapain disini?” tanya Selin. Siapa sangka Satria ternyata menontonnya sejak tadi. “Make sure itu beneran dicuci.” “Beneran dicuci kok. Udah sana. Nanti gue kabarin kalo udah selesai.” Satria berdecak kesal. “Pemalas,” ujarnya.” “Bukan ya! Gue kelupaan tadi.” Selin ingin keluar karena ia haus namun Satria dengan sengaja membendung jalan. Membuat Selin tidak bisa keluar. “Apalagi?” tanya Selin kesal. “Udah makan belum?” tanya Satria kemudian. “Ya belum lah. Gue tidur tadi. Kalo lo nggak ngetok kayaknya besok pagi baru kebangun.” Satria pun berdecak. “Oh iya. Tadi gue isiin kulkas. Semua yang gue ambil selama seminggu udah gue ganti. Gue tambahin juga. Sama gue beli salad buah tadi. Enak. Kalo lo mau, ambil aja ya di kulkas. Udah, sekarang tolong minggir.” Badan Satria ini besar dan tinggi jadi bisa memblok jalan keluar dari tempat mencuci ini. Membuat Selin menghela napas kesal karena Satria tidak kunjung pindah. “Santai aja. Ambil aja yang di kulkas kalo mau. Ngapain ribet-ribet ganti? Yang ada di kulkas kan buat dikonsumsi bersama.” Selin malas berdebat jadi ia hanya mengangguk. “Oke terima kasih. Boleh minggir nggak? Gue haus banget sumpah!” Satria pun kemudian memberi jalan. *** Satria baru selesai menjemur pakaiannya. Ia menatap jemuran tempat Selin menjemur pakaiannya. Benda berwarna merah mencolok itu seolah langsung membuat mata Satria terpusat. Ia pun terkekeh melihatnya. Lelaki itu lantas menuju dapur, mencuci tangan dan kemudian membuka kulkas. “Makan,” ucap Selin basa-basi. Perempuan itu sudah mandi dan sedang makan ayam dari delivery order. Satria hanya menggumam dan kemudian menatap seisi kulkas. “Aku minta salad buahnya, ya?” tanya Satria seraya membalikkan tubuh menatap Selin. Selin yang masih mengunyah pun mengangguk sambil mengangkat jarinya membentuk ‘ok’. Satria mengambil salad itu dan kemudian duduk di hadapan Selin. Ia diam menatap Selin yang masih mengunyah makanannya. Perempuan itu sepertinya benar-benar kelaparan. “Lo mau makan ini nggak?” tanya Selin. Satria menatap box berisi nasi dan ayam yang masih tersegel. Perempuan itu membeli lebih tadi dan sudah menawarkan Satria tadi. “Enak?” tanya Satria. “Apanya? Ayamnya? Enak. Salad buahnya juga enak.” “Bukan. Enak jalan sama cowok lain kemarin?" tanya Satria lebih spesifik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD