Terik panasnya matahari membuat satu gadis yang disebelah Tansee mendumel tanpa adanya jeda. Gadis itu terus saja mengibaskan rambut panjangnya dan mengipasi bagian lehernya dengan telapak tangan. Tansee yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis.
"Hmm, kau itu dari mana? Kok pakaiannya seperti ini? Dress panjang dengan lengan panjang, wow apakah kau tidak merasa kepanasan?" Tansee tersentak, ketika mendapati gadis itu sudah menatap dirinya.
"Hei nona, apakah kau tidak merasa kepanasan dengan pakaian yang seperti ini?" tanya gadis itu lagi seraya memegang gaun yang dipakai oleh Tansee. Jika gadis itu menyebutnya sebagai dress, maka Tansee menyebutnya gaun.
"Tidak, aku tidak merasa kepanasan." jawab Tansee lirih. Apa yang Tansee katakan adalah dusta, sebenarnya ia kepanasan tapi tidak mengatakannya.
Lagipula di Panddande cuacanya tidak sepanas ini. Ini benar-benar dimensi yang menyiksanya.
"Hm kau ini mau kemana?" tanya gadis itu lagi.
"Aku--"
"Oh iya, kita sedari tadi berbicara tapi belum mengetahui nama masing-masing. Kenalkan nama ku Amora, lebih tepatnya Amora Glandire. Kalau namamu siapa?"
Tansee tersenyum, "Tansee Lovandara."
Terlihat gadis didepannya itu seperti sedang menahan tawa. "Nama mu kuno sekali. Tansee Lovandara, seperti nama-nama di kerajaan hahaha."
"Omong-omong, kau itu cantik ya. Cantik sekali, aku sampai iri melihat kecantikan mu. Padahal aku ini gadis yang sudah mendapatkan predikat gadis tercantik di Universitas tempatku berkuliah."
"Oh ya?"
"Iya, mereka bilang aku ini gadis tercantik. Bahkan ada banyak sekali pria yang tertarik dengan diriku, tapi aku menolaknya karena aku tidak terlalu suka dengan tipe pria seperti mereka."
Dari yang Tansee lihat, gadis ini adalah gadis periang. Terlihat dari caranya berbicara dan menceritakan sesuatu, semuanya ia ceritakan dengan sangat antusias.
"Lalu tipe pria mu seperti apa?" tanya Tansee.
Sebelum menjawab, gadis itu--Amora menarik tangan Tansee dan mengajaknya duduk di kursi panjang yang ada dibelakang mereka.
"Tipe pria yang aku sukai itu, seperti pria-pria di zaman kerajaan yang pernah aku lihat di tv. Mereka gagah, tampan, tegas, dan berkharisma." jelas Amora.
"Apalagi aku pernah memimpikan menikah dengan seorang pangeran yang mempunyai kekuatan sihir. Ah aku suka sekali dengan mimpi itu, bahkan aku berharap akan bermimpi yang sama. Tapi itu tidak pernah terjadi, aku jadi lebih sering bermimpi tentang kerajaan. Mungkin karena aku terlalu sering menonton film bertema kerajaan. Maka dari itu sampai terbawa ke alam mimpi."
Tansee tertegun, gadis reinkarnasinya ini sudah mendapati petunjuk berupa mimpi tentang kerajaan. Ditambah mimpi menikah dengan pangeran berkekuatan sihir.
Ternyata apa yang ada dibuku sejarah akan terbukti. Siapa lagi pangeran yang memiliki kekuatan sihir, kecuali Eros?
Di dimensinya, sihir adalah hal yang sangat tidak diminati. Bahkan dari kalangan kerajaan yang memiliki ilmu sihir hanya beberapa saja, itupun kebanyakan adalah kalangan perempuan. Dan pria, mereka sedikit sekali yang mempunyai ilmu sihir, dan jangan lupakan kebanyakan dari kalangan pria yang memiliki sihir, mereka sudah menikah. Termasuk Atez.
Hanya satu pria berkekuatan sihir yang belum memiliki ikatan pernikahan. Dia, adalah Eros.
Ya Tuhan, apa yang ada dibuku sejarah benar adanya. Eros dan Amora akan bersatu menjadi sepasang suami istri.
"Kalau seandainya mimpi mu itu menjadi kenyataan, apa reaksimu?" tanya Tansee. Ia penasaran akan jawaban Amora.
"Mimpi apa? Menikah dengan pangeran berkekuatan sihir? Ya jelas aku sangat bahagia, ah ucapan mu ini membuat kehaluan ku semakin berkembang biak. Tapi itu tidak akan mungkin, semua itu hanya mimpi."
"Kalau benar-benar kenyataan bagaimana?"
"Ckckck kau ini ya, ini dunia modern. Tidak ada yang namanya kerajaan atau pun pangeran berkekuatan sihir. Yang ada itu kerajaan dengan pimpinan ratu Elizabeth, adanya juga di Inggris."
Amora terus saja menyangkal ucapan Tansee. Gadis itu masih beranggapan jika mimpinya hanyalah sekedar mimpi, yang tak akan menjadi kenyataan. Berbeda dengan Tansee yang menganggap semuanya akan menjadi kenyataan.
Bagaimana tidak, semuanya sudah tertulis jelas dalam sejarah.
"Hmm Amora. Kau merasa tidak jika wajah mu mirip denganku?" perlahan Tansee mulai bertanya lebih dalam. Pertanyaan ini akan memberikan jawaban untuknya.
"Tidak, kita ini berbeda. Sangat berbeda!"
Tansee mengangguk dan kemudian tersenyum tipis, "Dia tidak sadar dengan kemiripan wajahnya dengan ku. Ternyata dimensi ini membatasi pola pikir dan kesadaran seseorang." Batin Tansee.
"Hei nak bangunlah, kenapa kau tidur disini heh? Ini halte bis." ucap seorang wanita baya pada gadis yang tidur bersandar, di kursi seorang diri.
Gadis itu mengerjapkan matanya dan menoleh kesekitar. Ternyata benar, dia ketiduran sewaktu menunggu bis.
Lalu wanita yang sempat mengobrol dengannya mana?
Ya Tuhan.
"Ya Tuhan, sangking lelapnya aku sampai bermimpi seperti itu. Gila, bisa-bisanya aku bermimpi mengobrol dengan wanita secantik dia." gumam gadis itu--Amora.
"Ah tapi jika diingat-ingat wajahnya mirip sekali dengan ku? Oh Tuhan, sepertinya aku berhalusinasi atau kehaluan ini semakin berkembang pesat." Amora memukul pelan kepalanya dan bangkit dari duduknya. Gadis itu langsung masuk kedalam bis saat bis baru saja berhenti.