Panddande 1501
Setelah perdebatannya dengan Eros, Tansee memutuskan akan pergi ke lain dimensi jika Eros masih tidak bersedia membantunya. Bagi dirinya, hanya Eros lah yang dapat membawa gadis reinkarnasi itu dan hanyalah Eros yang bisa.
3 tahun lalu, Mercus pernah pergi ke ruang rahasia kerajaan dan membuka buku sejarah kerajaan Panddande. Didalamnya terdapat tulisan tangan yang sudah sedikit luntur, kira-kira kalimatnya seperti ini
"Gadis itu sulit untuk ditemukan. Dan hanya satu orang saja yang bisa menemukannya dan membawanya kemari. Akan ada pria yang sangat mencintai Tansee dan pria itu yang dapat membawa gadis reinkarnasi tersebut."
Awalnya Tansee bingung, pria yang dimaksud didalam buku itu siapa? Namun saat membuka lembaran selanjutnya
"Dia keturunan raja Aetos dan ratu Athena. Dia akan membawa gadis itu kemari. Namun, terbawahnya gadis itu akan membuat pria tersebut berpindah ke lain hati. Cinta akan tumbuh perlahan-lahan antara dia dan gadis tersebut, dan jika mereka saling mencintai pria itu akan terlempar dari dimensi ini, dan menjalani kehidupan bersama gadis tersebut."
Dan Tansee tahu, pria yang dimaksud adalah Eros. Karena dari raja Aetos dan ratu Athena sendiri, mereka memiliki empat anak. 1 laki-laki dan 3 perempuan.
"Apa yang sedang kau pikirkan kak?"
Tansee terkejut dengan kehadiran Mercus disampingnya, wanita itu mengulas senyum tipis. "Memikirkan segalanya. Aku memikirkan bagaimana kedepannya jika Eros dan gadis itu saling mencintai."
"Apa kau tidak rela kekasihmu mencintai gadis lain?"
"Aku rela, karena seharusnya seperti itu. Tidak mungkin Eros akan selamanya mencintaiku dan berakhir dia tutup usia tanpa bisa menikahi ku. Lagipula sudah banyak pria yang mengalami kejadian seperti itu, mereka mengorbankan kehidupannya hanya demi rasa cintanya padaku."
"Biarkan Eros dan gadis itu bertemu, aku rasa mereka sudah ditakdirkan sebelumnya. Aku yakin mereka akan saling mencintai. Lagipula, dalam hatiku masih tetap tersimpan nama Eldof."
Mercus semakin mendekat dan merangkul pundak Tansee, "Sampai sekarang hanya Eldof? Lalu kenapa menjalin hubungan lagi jika cintamu saja masih untuk Eldof."
"Aku tidak mau melukai hati mereka. Meskipun mereka tidak bisa menikah dengan ku, mereka masih bisa menjadi kekasihku. Ya, walaupun mereka rela melawan kesialan yang ada pada diriku ini."
Tatapan Tansee berubah sendu, wanita cantik itu melepaskan rangkulan Mercus dan mendekati cendela kamarnya.
"Dan untuk Eros? Kau tidak mencintainya?"
"Aku menyayanginya. Sangat menyayanginya, dia tahu hal itu dan dia memaklumi cinta ku yang masih hanya untuk Eldof."
"Maka dari itu, aku tidak ingin melihat orang yang aku sayangi merasakan kesialan. Dia berhak bahagia dengan cintanya."
Mercus mengangguk dan selanjutnya mengulas senyum tipis, "Tansee, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."
"Apa itu?"
"Tapi tidak disini, ini mengenai gadis reinkarnasi itu. Kau harus melihat wajahnya."
"Melihat wajahnya? Apakah bisa?"
"Bisa, maka dari itu aku tidak membicarakannya disini."
Tansee menghela nafas panjang, sepertinya ia akan keluar dari kawasan kerajaan demi melihat wajah gadis itu.
"Baiklah ayo."
°•°•°•°•°•°
Sekitar 30 menit-an Mercus dan Tansee sudah tiba dikawasan selatan kerajaan Panddande. Mereka sengaja tidak menaiki kuda, lagi pula tempat ini lumayan dekat dari kerajaan.
Disana, didepan sana sudah terlihat bangunan besar menyerupai kastil. Indah sekali, banyak pepohonan disekitarnya dan merpati putih terbang bebas tanpa hambatan.
Mercus mengisyaratkan agar mereka berjalan menuju kastil tersebut, sekitar 100 m dari kastil Tansee melihat banyak sekali bangunan tua disamping kanan dan kirinya. Bahkan auranya kini menyeramkan, berbeda seperti pertama kali melihat kastil ini.
"Bangunan tua disekitar sini adalah makam. Memang auranya menyeramkan, tapi nanti juga kau akan masuk kedalam salah satu makam tersebut."
Mata Tansee melotot, wanita itu mengentikan langkahnya berharap Marcus memberi dirinya penjelasan.
"Orang-orang yang berpengaruh dan memiliki kekuatan sihir, mereka dimakamkan dibangunan tua itu. Peti mati mereka tidak dikubur melainkan disimpan didalamnya."
"Ayo, lanjutan jalan kita."
Tansee mengangguk dan melupakan rasa penasarannya pada bangunan tua itu. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh, seolah ada kekuatan magis yang mengelilingi bangunan tersebut.
Tak lama kemudian, Tansee dan juga Mercus sudah tiba tepat didepan kastil. Mereka tidak hanya berdua saja, tapi ada satu orang yang-sepertinya sudah menunggu kedatangan mereka.
"Tansee Lovandara, putri Eddos dan Haidee. Selamat datang di kastil ku." sambut wanita baya tersebut. Tansee tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, sebab wanita tersebut menutupi setengah wajahnya dengan selendang hitam.
"Calviera, apa kabarmu?" tanya Mercus.
"Kabarku selalu baik, seharusnya aku yang bertanya kabarmu. Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kau ketahui, kau pasti tahu bagaimana keadaan ku."
Wanita baya tersebut tertawa pelan, satu tangannya mengambil tangan Tansee dan menggenggamnya, "Ayo masuk."
Dengan kebingungan, Tansee melirik Mercus yang mengisyaratkan untuk mengikuti ucapan wanita baya tersebut.
"Lihatlah ini, cermin ini akan membawamu masuk kedalam dimensi gadis reinkarnasi mu itu." ucap Calviera.
Tansee melihat kearah cermin, dan selanjutnya pikirannya entah kenapa hanya terpusat pada cermin didepannya.
"Arghhh-- Mercus tolong."
°•°•°•°•°
Tansee POV
Tempat ini bukan duniaku. Dimensi ini berbeda dengan dimensi ku, dimana disini aku bisa melihat semua aktivitas manusia, oh aku juga manusia. Tapi entah kenapa aktivitas disini berbeda dengan yang biasanya terlihat oleh mataku.
"Hei, kenapa kau melamun? Ini jalan raya, minggir lah nanti kau tertabrak."
Suara itu membuat lamunan ku terbuyar, aku menatap sekitar. Aku berada ditengah-tengah jalan yang ramai, dan disekeliling terdapat kendaraan, entah apa itu namanya aku tidak tahu.
"Nona minggir lah nanti kau bisa tertabrak."
Aku menoleh dan mendapati sosok gadis yang rupanya mirip sekali dengan diriku.
Diriku?
Gadis ini?
Reinkarnasi ku?