Kiara bisa merasakan otaknya kembali berfungsi seperti sedia kala saat air dingin itu menyiram seluruh tubuhnya. Gadis itu memejamkan matanya, sembari menenangkan debaran jantungnya yang berfungsi tidak semestinya. Saatnya berpikir jernih, pikirnya. Gadis itu kembali memukul otak bebalnya yang tak henti-hentinya mengulas balik bagaimana ciumannya dengan Alan, malam tadi dan pagi ini. “Harusnya tadi gue mandi duluan,” sesalnya. Dengan begitu mereka bisa berciuman dengan puas, dan memikirkan hal kotor seperti itu membuat Kiara mengumpat sembari memukul kepalanya yang mendadak bebal. Oh ayolah, bagaimana bisa lelaki bodoh tukang tidur seperti Alan dapat menggantikan teori morfologi, fonologi, sastra melayu, hingga sintaksis dengan dirinya. Menyadari suatu hal Kiara d

