11 - Pencarian Gabriella

3320 Words
Malam itu, Elizabeth segera melaporkan hilangnya Gabriella pada polisi. Sudah satu jam sejak ia melapor, Elizabeth tidak dapat kembali tidur, ia benar-benar khawatir pada saudara kembarnya. Beberapa kali ia berkeliling di ruang tamu seraya menggigiti kuku tangannya. Tak lama, bel rumahnya berbunyi, dengan cepat Elizabeth membukakan pintu rumahnya. "Nona Elizabeth?" "Iya, saya Elizabeth." jawab Elizabeth. "Baik, bisa ceritakan bagaimana saudari Anda menghilang? Di mana Anda melihatnya terakhir kali?" tanya polisi penuh selidik. "Saya belum sempat melihatnya, tapi saat saya bangun tidur, saya langsung melihat pintu rumah saya terbuka. Dan, saat saya cek, saya berhasil menemukan sebelah anting yang biasa dipakai oleh Gabriella." jelas Elizabeth. "Bisa saya periksa antingnya?" "Boleh, Pak." Elizabeth segera memberikan anting itu pada polisi untuk penyelidikan. "Terima kasih, kami akan memeriksa anting ini dan kami juga akan secepatnya menemui saudari Anda. Apakah kami juga boleh memeriksa setiap ruangan yang ada di dalam rumah Anda?" tanya polisi. "Silakan, Pak." Para polisi itu mulai berjalan memasuki rumah Elizabeth, mereka mulai memperhatikan setiap sudut ruangan serta memeriksa beberapa barang yang ada di sana. "Apakah ada hal yang mencurigakan?" tanya Elizabeth. "Apakah saudari Anda memiliki musuh atau orang yang tidak suka padanya? Kamu kenal orang itu?" tanya polisi. "Saya tidak tahu, Pak." "Baik, kami akan secepatnya menemukan petunjuk. Anda harus sabar." titah polisi. "Saya boleh tanya sesuatu, Pak?" "Apa?" heran polisi. "Saat dua orang mendapatkan warisan, jika salah satunya meninggal dunia, apakah warisan untuk kedua orang itu akan jatuh kepada satu orang yang masih hidup?" *** "TOLONG!!" jerit Gabriella. Tiba-tiba saja seseorang datang menghampiri Gabriella, ia memakai pakaian serba hitam dan mengenakan sebuah kacamata yang juga berwarna hitam. Ia mulai melangkahkan kakinya semakin dekat ke arah Gabriella, suara langkah kakinya sangat jelas hingga menusuk ke dalam telinga Gabriella. Ia memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam, ia juga membawa sebuah pemukul yang terbuat dari kayu. "Siapa itu!?" Gabriella tak bisa melihatnya, karena mata Gabriella sudah ditutup oleh kain. Ia beberapa kali mencoba untuk berteriak, tapi tempat itu benar-benar sepi, hanya suara langkah kaki yang dapat ia dengar secara jelas di dalam sini. "Gabriella ...," "Siapa kamu!? Kenapa kamu menculik aku!?" jerit Gabriella, ia mencoba untuk melepaskan ikatan yang ada di tubuhnya, namun ia tidak berhasil melepaskan ikatan itu. "Sudah berapa kali kamu mencoba untuk melepaskan ikatan itu? Apakah masih belum berhasil juga?" "Siapa kamu sebenarnya!? Apa untungnya menculik saya!? Saya mohon, lepaskan saya sekarang." Gabriella mulai lemas. "Tidak usah terburu-buru, Gabriella. Mungkin, kamu akan tinggal di sini lebih lama lagi." "Kamu adalah seorang wanita, bagaimana bisa kamu melakukan semua ini pada sesama wanita!?" jerit Gabriella. "Tidak perlu banyak bicara, saya tidak membutuhkan itu. Yang saya butuhkan adalah kamu diam dan ikuti saja rencana saya. Saya akan melepaskan kamu jika apa yang saya inginkan sudah berhasil saya dapat. Jadi, kamu lebih baik diam sebelum seluruh tenaga kamu habis terbuang sia-sia." titah wanita itu. "Lepaskan saya!" jerit Gabriella, wanita itu hanya tertawa saat mendengarnya. "Diam!" wanita itu segera menampar wajah Gabriella dengan kasar. *** "Bagaimana, Pak? Apa petunjuk hilangnya Gabriella sudah ditemukan?" tanya Elizabeth. "Sepertinya, penculik saudari Anda sangat cerdik, dia sama sekali tidak meninggalkan jejak." jelas polisi. "Lalu, bagaimana kondisi Gabriella sekarang, Pak? Apa dia akan baik-baik saja?" Elizabeth mulai menangis tanpa ia sadari. "Kamu harus bisa menenangkan diri kamu dulu. Setelah itu, kamu coba pikirkan kembali, apakah ada seseorang yang mempunyai motif untuk menculik Gabriella?" Elizabeth mulai menghela napasnya dengan perlahan. Setelah lama berkeliling, polisi akhirnya menemukan sebuah sidik jari pada gelas yang berada di dapur, polisi segera mengambil gelas itu untuk penyelidikan. "Elizabeth, kami akan mencoba untuk mencari tahu siapa yang menculik saudari Anda secepatnya. Setelah kami tahu siapa orangnya, kami akan segera menghubungi Anda. Kamu harus tenang dan tunggu kabar dari kepolisian." titah polisi. "Terima kasih, Pak." ucap Elizabeth. "Dan satu lagi, Anda juga harus jaga diri baik-baik. Jangan sampai penculik itu datang lagi ke sini." peringat polisi. "Baik, Pak." Beberapa menit telah berlalu, Elizabeth masih terlihat sangat cemas pada keadaan Gabriella. Mereka baru saja dipertemukan kembali, namun mengapa perpisahan itu datang lagi. "Gabriella, kamu baik-baik saja, kan?" batin Elizabeth. Tak lama, terlihat seseorang datang menghampirinya seraya membawa sebuah boneka dan juga buket bunga. Ia terlihat bingung mengapa Elizabeth tampak begitu sedih. "Elizabeth?" Elizabeth segera mengarahkan pandangannya pada seseorang yang tengah berdiri tepat di hadapannya. Saat ia menyadari bahwa orang itu adalah orang yang ia kenal, Elizabeth segera berusaha untuk menyeka air matanya menggunakan kedua telapak tangan. "Kamu kenapa?" tanya Zendrick. "Kamu kenapa datang ke sini?" tanya Elizabeth. "Aku mau ketemu sama kamu. Oh iya, ini untuk kamu." Zendrick segera memberikan boneka dan buket bunga pada Elizabeth. "Untuk aku?" "Elizabeth, kamu kenapa sedih? Lagi ada masalah?" tanya Zendrick cemas. "Gabriella hilang, Zendrick. Aku nggak tau harus gimana sekarang. Aku tau aku marah sama dia awalnya, tapi kita berdua udah coba untuk saling menerima satu sama lain. Tapi, kenapa disaat aku dan Gabriella sudah mulai dekat, kita harus terpisahkan kayak gini?" Zendrick segera mendekat ke arah Elizabeth dan mulai mengelus lembut punggungnya. "Gabriella pasti akan baik-baik aja, dia adalah wanita yang kuat. Kita hanya bisa berharap, semoga Gabriella cepat kembali dalam keadaan selamat." ucap Zendrick. "Zendrick ...," Elizabeth dengan cepat memeluk tubuh Zendrick, ia mulai menangis dalam dekapan Zendrick. "Elizabeth, kamu yang sabar ya. Hm, aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" "Apa?" heran Elizabeth. Zendrick mulai menghela napasnya, "Kamu masih sedikit kesal pada Gabriella, atau rasa kesal itu sudah berganti menjadi rasa sayang?" "Aku .... nggak tau harus jawab apa. Hanya satu hal yang pasti, aku nggak bisa jauh dari Gabriella, hatiku benar-benar sakit dan rasanya benar-benar hancur." ucap Elizabeth. *** "Kenapa kamu sejahat ini!? Kenapa!?" "Cukup! Kenapa kamu nggak bisa diam sih!?" bentak wanita itu. Beberapa jam telah berlalu sejak Gabriella berada di tempat ini, tubuhnya mulai lemas karena belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam mulutnya, ia sudah benar-benar lapar sekarang. Penglihatannya perlahan mulai kabur, kepalanya terasa sangat pusing, Gabriella akhirnya tergeletak. Namun, bukannya khawatir, wanita itu malah tertawa sangat keras. "Akhirnya, dia bisa diam juga." batin wanita itu. Perlahan, ia mulai mengguyur tubuh Gabriella dengan air dingin, tubuh Gabriella benar-benar basah dan terasa dingin. Gabriella bangun dalam keadaan lemas, wajahnya terlihat sangat pucat. "Kamu kenapa? Lapar?" tanya wanita itu. "Apa aku boleh makan sesuatu?" tanya Gabriella. "Boleh saja, dengan satu syarat." "Apa syaratnya?" tanya Gabriella. "Kamu harus diam dan menuruti semua keinginan saya. Kamu harus bisa mengikuti apapun yang saya inginkan, bagaimana?" "Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari saya!? Uang, atau apa!?" tanya Gabriella. "Yang saya inginkan tidaklah penting. Jadi, apa kamu ingin menikmati makanan kamu dengan syarat yang sudah saya beritahukan?" "Licik kamu!" wanita itu hanya tertawa. *** Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya polisi segera menghubungi Elizabeth. Dengan cepat, ia segera mengangkat panggilan itu. "Halo? Bagaimana perkembangan kasus Gabriella, Pak? Apakah ada petunjuk baru?" tanya Elizabeth. "Ada." "Apa itu? Apakah pihak kepolisian sudah mengetahui siapa pelaku sebenarnya?" tanya Elizabeth. "Sudah, kami akan segera ke sana. Anda harus tenang. Mungkin saja, yang orang itu inginkan bukan Gabriella." "Maksud bapak apa?" tanya Elizabeth, namun panggilan itu telah terputus. "Ada apa, Elizabeth?" tanya Zendrick. "Mereka bilang, pelakunya sudah ditemukan." "Siapa pelakunya?" tanya Zendrick. "Polisi akan segera menuju ke sini. Mereka mungkin akan memberitahu kita nanti." *** Perlahan namun pasti, Gabriella berhasil menemukan sebuah benda tajam. Walaupun matanya tertutup, ia tetap berusaha untuk membuka ikatannya menggunakan benda tajam yang ada di tangannya saat ini. Beberapa kali ia mencoba, namun masih belum juga berhasil. Akhirnya, ia mencoba untuk menarik tali seraya memotong tali itu dengan cepat. Beberapa saat telah berlalu, akhirnya Gabriella berhasil melepaskan ikatan itu. Namun, ia masih harus tetap waspada. Tak lama, wanita itu datang kembali menghampiri Gabriella, ia segera duduk di atas kursi kayu yang berada di samping Gabriella. Saat ia tengah duduk santai, Gabriella dengan cepat memukulnya menggunakan kayu yang cukup keras. Ia mulai terjatuh dari kursi dan tak sadarkan diri. Gabriella segera berlari, ia mencoba keluar dari ruangan itu. Namun, beberapa orang terlihat tengah berdiri di luar, mereka berkeliling beberapa kali. "Bagaimana ini?" batin Gabriella. *** "Nona Elizabeth?" "Pak, bagaimana pencarian Gabriella? Apakah polisi sudah menemukan di mana keberadaannya?" tanya Elizabeth cemas. "Iya, kami sudah berhasil menemukan keberadaannya. Jadi, kita bisa langsung ke sana sekarang juga?" "Baik, kita langsung ke sana sekarang juga. Kamu akan ikut, Zendrick?" ajak Elizabeth. "Aku akan ikut." ucap Zendrick. "Tunggu, sebelumnya saya ingin menanyakan sesuatu." "Apa?" tanya polisi. "Sebenarnya, siapa yang menculik Gabriella?" tanya Elizabeth penasaran. "Kami akan memberitahukan itu nanti. Sekarang, kita harus segera menyelamatkan Gabriella sebelum terlambat." titah polisi. "Baiklah kalau begitu." ucap Elizabeth. Mereka segera memasuki mobil masing-masing. Beberapa mobil polisi terlihat sudah mulai keluar dari gerbang rumah Elizabeth. Tak lama, Elizabeth dan Zendrick pun menaiki mobil dan sopir mulai mengendarai mobilnya. Saat telah sampai ke tempat yang ingin mereka tuju, polisi segera mengepung tempat itu. Beberapa polisi telah bersiap dengan senjata pada tangan mereka. Terlihat beberapa pria mulai mendatangi para polisi itu. "Ada keperluan apa ya, Pak?" tanya salah seorang dari mereka. "Maaf, kami sedang melakukan pengecekan di area sekitar sini. Jadi, apakah kalian bisa membukakan pintunya?" tanya polisi. "Tidak bisa, apakah ada surat izinnya?" "Tapi, kamu sudah ditugaskan untuk menggeledah tempat ini. Tolong kerjasamanya ya." ucap polisi. Saat polisi dan beberapa orang itu tengah melakukan aktivitas tawar-menawar, Elizabeth dan Zendrick mulai memasuki tempat itu dengan perlahan melalui sebuah jendela yang sedikit terbuka. Mereka dengan cepat berkeliling mencari di mana keberadaan Gabriella di dalam sana. Mereka mulai membuka beberapa pintu yang ada di dalam ruangan itu. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya mereka merencanakan sesuatu. "Zendrick, bagaimana kalau kita berpencar untuk mencari Gabriella? Mungkin, kita akan menemukan Gabriella dengan cepat jika kita mencarinya secara terpisah?" usul Elizabeth. "Tapi, apakah kamu akan baik-baik saja jika kita berdua berpencar?" tanya Zendrick cemas. "Itu urusan nanti, yang penting, kita sudah berusaha." "Jadi, kita akan berpencar sekarang?" tanya Zendrick, Elizabeth mengangguk. Mereka berdua mulai berjalan terpisah, Elizabeth berharap dengan cara itu, ia akan dapat menemukan Gabriella dengan cepat. Elizabeth dan Zendrick pun mulai berkeliling ruangan itu untuk mencari Gabriella. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Zendrick berhasil menemukan Gabriella. "Gabriella?" Ia segera menoleh ke arah Zendrick dengan tatapan bingung. "Zendrick, kenapa kamu bisa ada di sini?" heran Gabriella. "Aku ke sini karena aku cari kamu, Gabriella. Kamu tau nggak sih, Elizabeth benar-benar khawatir sama keadaan kamu. Kamu kenapa bisa ada di sini? Siapa yang udah bawa kamu ke sini?" tanya Zendrick cemas. "Elizabeth khawatir sama aku?" heran Gabriella. "Iya, dia udah lapor polisi dari kemarin. Akhirnya, polisi berhasil menemukan kamu. Jadi, bagaimana keadaan kamu sekarang? Kamu baik-baik aja, kan?" cemas Zendrick. "Aku baik-baik aja kok. Hm, Elizabeth di mana sekarang?" tanya Gabriella. "Dia juga lagi cari kamu. Jadi, aku sama Elizabeth berpencar untuk cari keberadaan kamu sekarang." jelas Zendrick. "Kalau begitu, sekarang kita harus cari Elizabeth. Iya kan?" "Iya, kita harus cari Elizabeth." ucap Zendrick. *** "Gabriella? Kamu ada di mana?" bisik Elizabeth. Tanpa ia sadari, seseorang tiba-tiba saja mendatanginya secara diam-diam. Orang itu mulai menutup mulutnya dan menarik tubuhnya menjauh. Mereka berdua kini berada di dalam sebuah ruangan yang kosong. "Elizabeth?" "Siapa kamu!?" heran Elizabeth. "Nggak penting, saya hanya ingin menawarkan sesuatu pada kamu." "Menawarkan apa?" heran Elizabeth. Orang itu perlahan mendekati Elizabeth, ia mulai tersenyum. "Saya tau, kamu ke sini karena harta kan? Saya bisa membantu kamu untuk merebut seluruh harta yang ada di tangan Gabriella. Tenang saja, saya tidak akan meminta imbalan apapun pada kamu, Elizabeth." ucapnya. "Maksud kamu apa?" "Kamu pasti menginginkan perusahaan ayah kamu kan? Saya bisa membantu kamu." ucapnya. "Membantu?" heran Elizabeth. "Bagaimana? Apa kamu mau menerima tawaran dari saya? Dan, jika kamu berpikir bahwa tawaran saya tidak menguntungkan bagi kamu, itu salah. Karena kamu akan sangat beruntung di akhir." *** "Elizabeth?" ia segera menolehkan pandangannya kepada Gabriella dan Zendrick. "Gabriella? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Elizabeth cemas. "Aku baik-baik aja. Lebih baik, kita langsung pergi aja dari sini." usul Gabriella. "Iya, itu lebih baik." sambung Zendrick. Merekapun segera keluar dari ruangan itu melalui sebuah jendela kecil yang sudah terbuka. Setelah keluar, mereka segera memasuki mobil dengan perlahan. Dan, sopir segera membawa mereka pergi jauh dari tempat itu. "Elizabeth, kamu kenapa sedih begitu?" heran Gabriella. "Sedih? Enggak kok." elak Elizabeth. "Serius?" tanya Gabriella memastikan. "Aku serius." ucap Elizabeth. Mobil terhenti, mereka telah sampai di rumah Elizabeth dan Gabriella. Mereka mulai memasuki rumah itu dengan perlahan. Elizabeth tampak murung, sementara Gabriella tampak senang. "Gabriella, Elizabeth, aku harus pulang sekarang. Kalian jaga diri baik-baik ya. Aku permisi." pamit Zendrick, ia segera menaiki motornya dan mulai menjauh dari rumah Elizabeth dan Gabriella. "Kamu juga hati-hati di jalan!" peringat Gabriella. Saat Gabriella menoleh ke arah Elizabeth, wajahnya berubah menjadi bingung. "Elizabeth, kamu sebenarnya kenapa sih? Kenapa kamu sejak tadi hanya diam saja? Kamu nggak mencoba untuk ajak aku ngomong. Apa kamu sebenarnya nggak suka kalau aku ditemukan?" tanya Gabriella. "Bukan begitu, Gabriella. Aku cuma kurang enak badan aja." elak Elizabeth. "Kamu mau ke dokter sekarang?" "Nggak perlu, aku cuma butuh istirahat aja kok." ucap Elizabeth, ia segera pergi meninggalkan Gabriella ke kamarnya. "Elizabeth aneh benget sih, dia kenapa coba?" batin Gabriella cemas, "Terserah deh, yang penting aku udah selamat." *** Keesokan harinya, setelah semua kejadian buruk yang menimpa Gabriella. Elizabeth terlihat tengah duduk melamun di meja makan saat pagi hari. Gabriella yang baru saja menuruni tangga mulai berjalan menghampiri Elizabeth. "Liza, kenapa?" tanya Gabriella, Elizabeth segera menoleh ke arah Gabriella. "Nggak." "Kamu kenapa sih? Kalo ada masalah, cerita aja sama aku." ucap Gabriella. Elizabeth kembali menatap Gabriella, mereka berdua mematung sesaat. Lalu, Gabriella mulai menatap saudara kembarnya itu dengan tatapan bingung. "Ada yang salah sama penampilan aku?" tanya Gabriella memastikan. "Nggak kok." jawaban dari Elizabeth sangat singkat. "Kamu mau keluar bareng aku nggak hari ini?" ajak Gabriella. "Aku lagi pengen di rumah aja." tolak Elizabeth. "Memangnya, kamu nggak bosen apa di rumah terus? Aku bakal traktir kamu deh hari ini, gimana?" tawari Gabriella. "Gabriella, aku benar-benar nggak mau keluar." tolak Elizabeth. "Ya udah deh kalau begitu, aku mau keluar sebentar ya. Kamu harus hati-hati di rumah." peringat Gabriella, Elizabeth mengangguk. Gabriella pun akhirnya mulai berjalan menjauhi Elizabeth. Sementara itu, Elizabeth tampak sangat murung. Ia mulai menuangkan segelas air putih untuk ia minum. Sejak tadi, ia belum makan atau minum sesuatu sedikitpun. Saat ia mulai meneguk minuman itu, tiba-tiba saja seseorang datang untuk menemuinya. "Selamat pagi, Elizabeth!" sapa orang itu. Elizabeth perlahan mulai melepaskan gelas itu dari tangannya. Namun, bukannya membalas sapaan orang itu, Elizabeth malah pergi meninggalkannya. Saat Elizabeth mulai berjalan menjauh, orang itu perlahan mengikutinya dan menarik tubuh Elizabeth hingga mata mereka saling bertatapan satu sama lain, suasana menjadi hening. "Kamu kenapa sih?" tanya orang itu. "Zendrick, aku baik-baik aja." Elizabeth segera melepaskan tangan Zendrick dari tubuhnya. Ia lalu mulai menaiki tangga menuju kamarnya tanpa mempedulikan bahwa ada seorang tamu yang tengah mampir ke rumahnya. "Bi, Elizabeth kenapa?" tanya Zendrick pada seorang pelayan yang baru saja lewat untuk membersihkan ruangan itu. "Kurang tau." ucap pelayan itu seraya menggelengkan kepalanya. "Ya sudah, kalau begitu saya pamit ya." *** "Aduh, aku mau beli apa ya?" bingung Gabriella. "Selamat pagi!" tiba-tiba saja Zendrick muncul di hadapannya. "Zendrick? Kamu bikin kaget aja sih!" kesal Gabriella. "Maaf ya, mau aku temenin belanja nggak nih?" tanya Zendrick dengan sedikit senyuman manis terlihat menghiasi wajahnya. "Hm, kok kamu tau aku ada di sini?" heran Gabriella. "Jelas dong, itu semua karena perasaan aku selalu mengarahkan aku pada kamu." "Serius deh, kamu mau ngapain ke sini? Belanja?" tanya Gabriella memastikan. "Enggak, aku cuma pengen temenin kamu aja di sini." "Beneran?" tanya Gabriella memastikan, Zendrick mengangguk. Akhirnya mereka pun segera berkeliling di mal untuk mencari beberapa makanan, pakaian, dan sebagainya. Gabriella pun mulai memilih-milih pakaian dan makanan yang ingin ia beli. Dalam memilih, Gabriella sangat teliti, ia mulai memperhatikan salah satu pakaian yang ingin sekali ia beli dan kenakan. "Zendrick, menurut kamu, aku cocok nggak pakai baju ini?" tanya Gabriella, Zendrick mulai memperhatikan pakaian itu dengan saksama. "Cocok sih." "Beneran? Cocok?" tanya Gabriella memastikan, Zendrick hanya mengangguk. "Yang ini, sama yang ini, aku beli semua aja deh." ucap Gabriella seraya memilih pakaian. "Gabriella, kamu masih lama?" tanya Zendrick. "Kenapa? Kamu bosen ya?" tanya Gabriella. "Enggak, bukan begitu, aku cuma penasaran aja kok." ucap Zendrick. "Kayaknya sih bakalan lama, soalnya masih banyak yang harus aku beli. Oh iya, kamu nggak mau beli sesuatu?" tanya Gabriella. "Enggak." "Kalau ada yang mau kamu beli, bilang aja ya, nanti biar aku yang bayar." ucap Gabriella. "Nggak perlu lah." tolak Zendrick. "Loh, memangnya kenapa?" heran Gabriella. "Aku nggak bisa menerima pemberian dari orang lain." ucap Zendrick. "Maaf ya, aku nggak bermaksud buat merendahkan kamu." "Nggak apa-apa." ucap Zendrick. Setelah selesai berbelanja, akhirnya mereka berdua segera keluar dari mal. "Gabriella, kita udah mau langsung pulang aja?" tanya Zendrick memastikan. "Makan dulu aja, gimana?" "Boleh sih." turuti Zendrick. Akhirnya, mereka berdua pun mulai mencari tempat makan yang ada di sekitar mal itu. Setelah sampai di sebuah kafe, mereka berdua pun terhenti dan segera memasuki kafe itu dengan riang. Mereka mulai duduk di kursi yang berada di sebelah tanaman hijau nan indah itu. Saat mereka duduk, seorang pelayan langsung menghampiri mereka sambil membawa menu. "Mau pesan apa?" tanya pelayan itu ramah. "Yang paling spesial di sini aja, mbak." ucap Gabriella. "Baik, menu untuk pasangan?" tanya pelayan. "Hm, boleh sih." "Baik, ditunggu ya mbak, pesanannya." ucap pelayan. "Untuk pasangan?" heran Zendrick. "Kenapa? Kamu nggak suka?" tanya Gabriella. "Bukannya nggak suka, tapi aku heran aja kenapa kamu mau menu untuk pasangan?" "Karena kita berdua, jadi anggap aja pasangan." ucap Gabriella. Tak lama, beberapa orang mulai memperhatikan mereka berdua. Tatapan mereka membuat Zendrick menjadi kurang nyaman untuk berada di sini. "Mereka pasangan yang serasi ya." "Cocok banget." "Cowoknya nggak peka banget sih, nggak romantis!" Beberapa orang mulai berbisik untuk membicarakan Zendrick dan Gabriella. Namun, Gabriella masih saja tampak tenang, ia seperti tidak peduli, bahkan tidak mendengarkannya. Berbeda dengan Zendrick, ia sudah tidak tahan dengan banyaknya suara yang ia dengar. Gabriella menatap Zendrick sesaat. "Zendrick, kamu kenapa? Kok kayak nggak seneng gitu, ada masalah?" tanya Gabriella. "Engga ada kok." elak Zendrick. Pelayan segera membawakan pesanan Gabriella dan menghampiri mereka. Dengan cepat, pelayan itu meletakkan makanan dan minuman di atas meja mereka berdua. "Selamat menikmati." ucap pelayan. "Iya, terima kasih, mbak." ucap Gabriella. Mereka berdua pun akhirnya menikmati makanan itu dengan lahap. Setelah selesai makan, Zendrick langsung menarik Gabriella keluar dari kafe itu. Gabriella tampak bingung, namun ia tetap mengikuti keinginan Zendrick. "Kamu kenapa sih? Aneh banget deh." heran Gabriella. "Kita berdua mau langsung pulang aja?" tanya Zendrick memastikan. "Ya udah, kita langsung pulang. Kamu kenapa buru-buru banget sih?" "Nggak apa-apa." elak Zendrick, "Kalau begitu, aku pulang duluan ya." pamit Zendrick. "Nggak bareng aja?" "Nggak usah, aku takut ngerepotin." tolak Zendrick. "Ya udah kalo gitu." Gabriella pun segera menaiki mobilnya. Setelah mobil berjalan cukup lama, akhirnya Gabriella sampai di depan rumahnya, ia membuka pintu rumahnya dengan perlahan. Lalu, ia juga berniat untuk pergi ke dapur karena haus. Saat tengah berjalan menuju dapur, Gabriella segera melihat meja makan yang sudah tertata dengan rapi, ditambah dua buah piring dan dua buah sendok di atasnya. Gabriella heran, karena ia benar-benar tidak mengerti dengan ini semua. Tak lama, Elizabeth terlihat tengah berjalan ke arahnya seraya membawa sebuah kue cokelat yang diatasnya sudah terdapat lilin yang sedang menyala. "Selamat ulang tahun, Gabriella." ucap Elizabeth seraya membawakan kue itu untuk Gabriella. Gabriella segera menoleh ke arahnya, lalu terkejut saat melihat kue yang berada di tangan saudara kembarnya itu. "Elizabeth? Ini semua, maksudnya apa?" heran Gabriella. "Kamu lupa? Ini adalah hari ulang tahun aku dan kamu. Hari sepenting ini aja kamu lupa, gimana sih?" jelas Elizabeth. "Maaf, tapi, aku terharu ...," Gabriella mulai meneteskan air matanya. "Jangan sedih dong, kamu harusnya bahagia." ucap Elizabeth. "Iya, makasih ya .... Elizabeth ...," "Iya, sama-sama. Lagi pula, ini kan bukan ulang tahun kamu aja, tapi ini juga adalah hari ulang tahun aku." ucap Elizabeth, "Oh iya, gimana kalo kita berdua tiup lilinnya bareng-bareng? Setuju nggak?" usul Elizabeth. "Setuju banget, ayo!" Mereka berdua pun mulai meniup lilin yang ada di atas kue itu dengan perlahan secara bersamaan. Akhirnya, lilin itupun mati. Mereka segera memotong kue itu dan menikmati kue itu berdua, bersama-sama. —Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD