Setelah selesai memakan kue, mereka berdua terlihat mulai berjalan ke arah ruang keluarga. Lalu, mereka pun terlihat mulai duduk secara bersamaan di atas sofa dengan wajah yang bahagia.
"Aku mau tanya deh." ucap Elizabeth.
"Mau tanya apa?" heran Gabriella.
"Setelah kamu cobain kuenya, menurut kamu rasanya enak nggak sih? Maksud aku, kamu tuh suka nggak sih sama kuenya? Ada yang kurang kah, atau nggak suka gitu?" tanya Elizabeth.
"Aku suka banget, kuenya enak." puji Gabriella.
"Seriusan?" tanya Elizabeth memastikan.
"Iya, aku serius, emangnya kenapa? Kamu yang bikin kuenya?" tanya Gabriella balik.
"Iya, aku yang bikin kuenya." ucap Elizabeth.
"Eh, ini serius? Kamu yang bikin kuenya? Enak banget loh." puji Gabriella.
Akhirnya, mereka berdua pun menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama, tertawa bersama, bahkan mereka tertidur di tempat yang sama, yakni di ruang keluarga.
Hari semakin berlalu, kini pagi sudah kembali lagi. Gabriella dan Elizabeth mulai terbangun dari tidur mereka. Saat bangun, Elizabeth segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya yang terlihat kusam. Sementara Gabriella, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah itu, mereka berdua mulai berganti pakaian, agar terlihat lebih rapi.
"Elizabeth, kamu hari ini sibuk nggak?" tanya Gabriella.
"Enggak sih, ada apa?"
"Kamu mau temenin aku berangkat ke kantor nggak hari ini? Atau begini aja, kamu mau nggak memimpin perusahaan Papah hari ini? Sekaligus, aku mau lihat kemampuan kamu. Apakah kamu layak untuk menjadi seorang CEO?" usul Gabriella.
"Aku mau banget!"
"Kita langsung berangkat ke kantor aja sekarang? Gimana? Kamu udah siap, kan?" tanya Gabriella memastikan.
"Aku udah siap banget, ayo kita langsung berangkat ke kantor!"
Mereka segera berjalan menuju mobil dan mulai menaikinya dengan perlahan. Sopir mulai menyalakan mobil dan mengendarainya. Kini, Elizabeth dan Gabriella tampak seperti saudara yang benar-benar dekat, tanpa adanya keributan di dalam mobil mereka.
"Non Elizabeth dan non Gabriella tumben sekali terlihat akur." ucap sopir.
"Nggak apa-apa sih, bukannya kita memang harus saling akur ya sebagai saudara?" tanya Gabriella.
"Iya sih, non."
"Emang kita nggak pernah akur kayak gini ya biasanya? Iya juga sih, kita baru sekarang kan deket?" tanya Elizabeth.
"Biasanya kan, non Elizabeth dan non Gabriella selalu ribut, enggak pernah akur." ucap sopir.
"Lucu juga ya, kita yang biasanya selalu marah-marah, jadi akur kayak gini." ucap Gabriella.
Sopir segera menghentikan mobil saat telah sampai di perusahaan Atmadja Grup. Elizabeth dan Gabriella pun segera turun dari mobil dengan perlahan. Mereka memasuki kantor secara bersamaan, bahkan saling berdekatan, sama sekali tidak ada jarak di antara mereka berdua.
"Perhatian! Semuanya!"
Seluruh karyawan mulai mendatangi Gabriella dan mulai berbaris dengan rapi. Tak ada seorangpun karyawan yang tidak menemui Gabriella. Terlihat bahwa seluruh karyawan tampak bingung dengan apa yang akan di sampaikan oleh Gabriella.
"Pengumuman, semuanya. Hari ini, yang akan memimpin Atmadja Grup adalah saudara kembar saya, Elizabeth Atmadja. Jadi, mulai hari ini, saya tidak akan mengawasi perusahaan untuk sementara. Jadi, saya harap siapapun yang akan memimpin perusahaan ini nantinya, kalian bisa menerimanya dengan baik." jelas Gabriella, Elizabeth mulai menampakkan wajahnya pada seluruh karyawan di Atmadja Grup, semua karyawan tampak kaget saat melihat Elizabeth.
"Bu, ini serius?" bisik Laura.
"Memang, saya terlihat seperti sedang bercanda?" tanya Gabriella.
"Bukannya dia adalah musuh Ibu?" heran Laura.
"Hm, itu dulu, anggap saja tidak pernah terjadi." titah Gabriella.
"Baik, jika itu adalah keputusan terbaik dari Ibu Gabriella, saya akan dengan senang hati menerimanya." ucap Laura.
"Terima kasih."
"Semuanya, salam kenal dari saya, Elizabeth, sebagai CEO baru di perusahaan ini, walaupun sementara, saya berharap bisa seterusnya saya menjadi pemimpin di Atmadja Grup. Saya mohon kerjasama kalian dan saya harap perusahaan ini bisa menjadi lebih berkembang lagi." ucap Elizabeth.
Setelah beberapa menit perkenalan, akhirnya Laura membawa Elizabeth berkeliling di Atmadja Grup. Laura pun sempat mengajak Elizabeth untuk melihat ruangannya dan ruangan dari para karyawan di Atmadja Grup.
"Ibu Elizabeth, hari ini ada pertemuan penting dengan klien dari Filipina. Jadi, apakah Ibu sudah siap untuk pertemuan hari ini?" tanya Laura memastikan.
"Tentu, saya selalu siap. Pertemuan kita berapa jam lagi?" tanya Elizabeth.
"Hm, sekitar 35 menit lagi. Jadi, saya akan menjelaskan sekilas materi untuk pertemuan dengan klien nanti. Setelahnya, saya akan menjelaskan berbagai produk yang ada di Atmadja Grup." ucap Laura.
"Hai, Elizabeth. Bagaimana? Sudah selesai berkeliling? Kamu sudah siap dan sangat percaya diri untuk menjadi pemimpin di Atmadja Grup?" tanya Gabriella.
"Iya, aku udah benar-benar siap." jawab Elizabeth.
"Bagus, kalau begitu, aku bisa jalan?" tanya Gabriella.
"Silakan, selamat bersenang-senang." ucap Elizabeth.
***
Saat Gabriella tengah berjalan di sekitar Atmadja Grup, tiba-tiba saja Zendrick muncul di hadapannya seraya memberikan satu buah cokelat untuknya.
"Hai!" sapa Zendrick, Gabriella langsung terkejut saat melihatnya.
"Zendrick? Kamu bikin aku kaget aja sih!" kesal Gabriella.
"Maaf, ini cokelat buat kamu." ucap Zendrick seraya memberikan satu buah cokelat yang ada ditangannya pada Gabriella.
"Buat aku?" tanya Gabriella memastikan.
"Iya, ambil aja." ucap Zendrick, Gabriella segera mengambil cokelat itu dari tangan Zendrick.
"Makasih ya, cokelatnya."
"Gabriella, kamu mau jalan bareng aku nggak?" ajak Zendrick.
"Jalan? Ke mana?" heran Gabriella.
"Ke taman, kamu mau nggak?" ajak Zendrick.
"Taman bunga?"
"Iya, kita sekalian foto bareng di sana. Biar nggak bosen aja." ucap Zendrick.
"Boleh deh, ayo!"
***
Mereka berdua tengah berjalan-jalan di taman bunga ini, di sini banyak sekali tanaman bunga. Tempat ini memiliki berbagai macam tanaman bunga. Mereka berkeliling dengan perasaan bahagia. Gabriella langsung menghentikan langkahnya saat melihat sebuah bunga berwarna kuning kemerahan yang sangat cantik. Ia kemudian menatap bunga itu dengan saksama, ia sangat kagum dengan kecantikan dari bunga itu.
"Cantik ya." ucap Zendrick.
"Iya, cantik banget bunganya." balas Gabriella.
"Bukan bunganya yang cantik, tapi kamu." ucap Zendrick, Gabriella langsung beralih menatapnya.
"Zendrick, nggak usah gombal deh!" titah Gabriella.
"Aku nggak gombal kok, emang bunganya cantik, tapi kamu lebih cantik dari bunganya." puji Zendrick.
"Zendrick, apaan sih kamu tuh!"
Mereka kembali berjalan menyusuri taman, hingga akhirnya mereka berdua terhenti karena ada sebuah sepeda yang dihiasi oleh tanaman bunga berwarna ungu, putih, serta merah muda dengan dedaunan hijau di sekeliling sepeda itu membuatnya menjadi sangat cantik. Gabriella memutuskan untuk pergi melihat sepeda itu.
"Zendrick, kamu mau kan, fotoin aku di sebelah sepeda itu?"
"Iya, aku mau." turuti Zendrick.
"Makasih, Zendrick." ucap Gabriella.
Zendrick pun mulai memotret Gabriella dengan sebuah senyuman terpancar di wajahnya. Saat Gabriella tengah sibuk bergaya, tiba-tiba saja Zendrick berhenti memotretnya. Karena heran, Gabriella segera menghampiri Zendrick.
"Ada apa?" heran Gabriella.
"Aku capek, kita cari tempat untuk istirahat dulu ya." ajak Zendrick.
"Kamu capek? Ya udah, ayo kita cari tempat buat istirahat." ucap Gabriella.
Mereka berdua akhirnya kembali berjalan lagi seraya menyusuri jalan bebatuan. Setelah lama berjalan, akhirnya mereka menemukan sebuah tempat yang di depannya terdapat dua buah kursi kayu yang diatasnya diberi sebuah bantalan empuk. ditengah kedua kursi itu, terdapat sebuah meja dengan bunga berwarna merah muda menghiasi bagian atasnya. Tak hanya itu, di sekeliling tempat itu pula, dihiasi oleh berbagai macam bunga berwarna merah muda serta dedaunan hijau. Tanpa berpikir panjang, mereka berdua pun akhirnya duduk di sana sambil menikmati pemandangan taman bunga.
"Bunganya cantik banget deh, aku suka." ucap Gabriella.
"Kenapa nggak suka sama aku aja?" tanya Zendrick secara tiba-tiba, Gabriella segera menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Apa?" tanya Gabriella memastikan.
"Nggak ada apa-apa." ucap Zendrick seraya menggelengkan kepalanya.
Tempat mereka beristirahat itu benar-benar sangat indah, di belakang tempat duduk mereka terdapat dinding bebatuan yang diatasnya diberi sebuah jendela kayu dengan hiasan bunga di sekelilingnya. Mereka benar-benar menikmati suasana hari ini, hanya berdua saja.
"Seru nggak jalan-jalan kita hari ini?" tanya Zendrick.
"Seru banget, aku suka." ucap Gabriella dengan sebuah senyuman tampak di wajah cantiknya.
Saat mereka berdua tengah asyik mengobrol, tiba-tiba saja ponsel Zendrick berbunyi. Ia segera menjauh dari Gabriella untuk mengangkatnya.
"Ada panggilan masuk, aku angkat dulu ya." ucap Zendrick, Gabriella mengangguk.
***
"Zendrick, apakah kamu sudah berhasil menjalankan tugas dari Mamah?"
"Tidak semudah itu." jawab Zendrick.
"Lalu, kamu perlu waktu berapa lama lagi untuk menyelesaikan tugas ini?"
—Bersambung...