06 - Seorang Teman

1060 Words
"Aduh, capek banget ya ternyata, aku istirahat di sini dulu deh." Gabriella segera duduk di sebuah bangku taman, ia terlihat sangat lelah, tubuhnya berkeringat. Saat ia tengah menyeka keringatnya, ia pun akhirnya melihat Elizabeth dan Zendrick yang baru saja keluar dari toko baju, wajahnya terlihat bingung, namun ia tak ingin mempedulikan hal apapun yang Elizabeth lakukan, ia tengah belajar untuk tidak peduli terhadap saudara kembarnya itu. Jadi, ia segera mengalihkan pandangannya. "Mbak, haus?" Gabriella segera menoleh ke arah seseorang yang tengah berdiri di hadapannya, itu adalah seorang wanita. Saat Gabriella menatapnya, wanita itu segera tersenyum sambil memberikan satu botol minuman segar kepada Gabriella. Tanpa berpikir panjang, Gabriella pun akhirnya mengambil minuman itu dengan perlahan, lalu meminumnya karena sedikit haus. "Terima kasih ya, minumannya." "Sama-sama, mbak sering ke sini?" tanya wanita itu secara tiba-tiba. "Nggak sering juga sih, saya malah jarang banget ke sini." jawab Gabriella dengan tatapan bingung. "Pantas saja, aku nggak pernah liat mbak lewat di sekitar sini. Sibuk ya? Kerja?" tanya wanita itu. "Iya, kerja." jawab Gabriella. Wanita itu segera mengulurkan tangannya ke arah Gabriella dengan senyuman tampak di wajahnya, Gabriella terdiam sejenak untuk berpikir. Namun, beberapa saat, ia pun akhirnya menerima uluran tangan dari wanita itu. "Elvira, mbak siapa?" tanyanya, Gabriella masih terlihat bingung, ia tak mengeluarkan sepatah kata apapun. "Maaf ya, aku cuma pengen tau nama mbak aja, kok." ucap Elvira seraya menjauhkan tangannya dari tangan Gabriella dengan perlahan. "Elvira, maaf ya, nama aku Gabriella." ucap Gabriella tak enak hati. "Iya, santai aja. Ngomong-ngomong, salam kenal ya, semoga kita bisa jadi teman baik?" "Aku nggak percaya sama yang namanya teman baik, bahkan aku nggak pernah percaya sama satupun orang yang ada di dunia ini, kecuali Papah." ucap Gabriella, seketika suasana obrolan itu menjadi hening selama beberapa saat. "Gabriella, pasti Papah kamu adalah orang yang paling baik di dunia ini, kan? Aku harap, aku bisa ketemu sama Papah kamu." "Nggak akan pernah bisa, Papah aku udah meninggal beberapa hari yang lalu." ucap Gabriella, Elvira lagi-lagi hanya dapat terdiam. "Gabriella, maafkan aku, ya?" "Kamu nggak salah kok, nggak perlu minta maaf. Aku cuma lagi ingat sama Papah aku aja, aku yang harusnya minta maaf karena membuat suasana menjadi canggung seperti ini." ucap Gabriella, ia menundukkan kepalanya. "Gabriella, kamu yang sabar ya." ucap Elvira mencoba menenangkan Gabriella. Ia mencoba mengusap punggung Gabriella dengan perlahan, agar Gabriella menjadi sedikit tenang. "Terima kasih, ya." "Aku harus pergi lagi nih, aku tinggal nggak apa-apa, kan?" tanya Elvira. "Aku nggak apa-apa." jawab Gabriella. "Ya udah, kalo gitu aku duluan ya." pamit Elvira, Gabriella hanya mengangguk. *** "Zendrick, makasih ya, kamu udah mau bantuin aku cari pakaian. Oh iya, kamu ada acara nggak malam ini?" tanya Elizabeth. "Nggak sih, kenapa emangnya?" "Kamu mau nggak, makan bareng aku nanti malam?" tawari Elizabeth. "Boleh sih, aku juga lagi nggak sibuk." "Beneran, kamu mau?" Elizabeth terlihat sangat antusias saat mendengar jawaban dari Zendrick. "Iya, aku mau. Tapi, kita makannya di mana? Kalo di rumah kamu, kayaknya aku nggak bisa deh, soalnya di rumah itu ada orang yang nggak suka sama aku kayaknya." "Sebenernya, aku emang pengen ajak kamu makan di rumah sih. Untuk Gabriella, kamu tenang aja lah, dia biasanya sibuk kok. Jadi, nggak akan ganggu makan malam kita berdua. Lagi pula, dia sama sekali nggak tertarik dengan urusan aku." jelas Elizabeth. "Oke, kalo gitu, aku bakal dateng ke rumah kamu nanti malam. Dan, sekarang kita mau ke mana? Makan dulu?" tanya Zendrick. "Boleh, aku juga belum sarapan." *** "Non, sudah pulang?" tanya pelayan. "Udah, bi. Ada yang mampir ke rumah nggak tadi?" tanya Gabriella memastikan. "Nggak ada kok, rumah sepi." jawab pelayan. "Tunggu, bibi mau ke pasar?" tanya Gabriella. "Iya, sayuran yang ada di dapur sudah habis, bibi harus beli lagi." "Oh gitu, aku ke kamar dulu ya, bi." ucap Gabriella. "Silakan, non." *** "Mbak, mas, mau pesan apa?" tanya pelayan. "Elizabeth, kamu mau pesan apa?" tanya Zendrick. "Aku .... terserah kamu aja. Aku belum pernah ke sini, jadi kamu aja yang pesan." ucap Elizabeth. "Cheese salad dan latte dua ya." "Baik, ditunggu ya." pelayan itu segera mencatat pesanan Zendrick. "Kamu udah sering makan di sini?" tanya Elizabeth memastikan. "Nggak sering juga sih, terkadang." jawab Zendrick. Elizabeth terlihat mengedarkan pandangannya pada sekeliling restoran, tempat makan ini memang cukup indah. Di sebelah tempat duduk mereka, terdapat beberapa tanaman hijau yang segar dengan pot yang cantik. Bahkan, di sebelah mereka terdapat sebuah potret pemandangan yang cukup indah. Restoran ini cukup indah, ditambah dengan makanannya yang juga enak menjadi daya tarik tersendiri untuk restoran yang tengah mereka datangi ini. "Mbak, mas, ini pesanannya, selamat menikmati. Dan, kalian pasangan yang serasi, semoga hubungan kalian awet terus ya." pelayan itupun segera menyajikan pesanan Zendrick dan Elizabeth ke atas meja. "Apa? Pasangan?" Elizabeth tersenyum. "Kenapa pelayan itu bisa bilang kita berdua pasangan ya? Apa kita berdua sangat serasi kalau menjadi pasangan?" Saat mendengar ucapan Zendrick, Elizabeth langsung tersedak, Zendrick pun berusaha untuk membuat batuk Elizabeth terhenti. "Kamu kenapa? Minum dulu ya." Zendrick dengan cepat memberikan minumannya pada Elizabeth, ia pun segera meminumnya. "Makasih ya." "Kamu udah nggak apa-apa, kan?" tanya Zendrick memastikan, "Kamu kenapa sih?" "Enggak .... aku cuma .... aku nggak apa-apa." "Setelah makanannya habis, aku harus pergi ya, kita bisa ketemu lagi nanti malam, kan?" tanya Zendrick. "Iya, kita bisa ketemu lagi nanti malam." *** "Bi, nanti malam, harus bikin banyak makanan yang enak ya, soalnya teman saya mau mampir ke rumah ini. Jadi, biar dia mau datang lagi ke sini." titah Elizabeth. "Temannya cowok, non?" tanya pelayan, seketika wajah Elizabeth langsung memerah. "I .... iya, bi." "Hm, pacarnya ya? Bibi pasti buatkan makanan yang enak untuk kalian berdua nanti malam. Non tenang aja ya, pasti pacarnya betah mampir ke sini karena masakan bibi." ucap pelayan. "Belum jadi pacar sih, bi. Masih dalam tahap pendekatan." Elizabeth mulai tersenyum malu-malu. "Kenapa nggak pacaran aja?" tanya pelayan. "Bibi banyak tanya deh. Lebih baik, bibi beresin meja makannya buat nanti malam." titah Elizabeth. "Ya sudah, bibi beresin dulu ya meja makannya. Ingat, non harus tampil cantik malam ini, pastikan teman cowoknya non jadi tertarik sama kecantikannya non." "Pasti, bi. Saya harus tampil sempurna malam ini. Bibi bantu pilihkan baju untuk saya, ya?" mohon Elizabeth. "Iya, pasti bibi bantu pilihkan." turuti pelayan. "Terima kasih, bi." *** "Akhirnya, semua berjalan lancar, sesuai dengan rencana yang sudah aku buat." Tak lama, terdengar sebuah ponsel berdering, dengan cepat pria itu menerima panggilan dari ponselnya. "Mamah?" —Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD