05 - Pertemuan Kedua

1070 Words
"Terima kasih, karena udah mau repot-repot antar aku pulang ke rumah. Sampai ketemu lagi." Elizabeth segera melambaikan tangannya. Namun, saat Zendrick mulai menaiki motornya, tiba-tiba saja Gabriella keluar dari rumah dengan wajah kesal. "Dari mana aja kalian?" tanya Gabriella penuh selidik, ia menatap tajam ke arah Elizabeth dan Zendrick. "Bukan urusan kamu." ketus Elizabeth, ia hanya berjalan memasuki pintu rumahnya tanpa mempedulikan saudara kembarnya itu. "Elizabeth!" kesal Gabriella. Zendrick yang sedari tadi hanya diam, mulai menaiki motornya dengan perlahan, lalu pergi meninggalkan rumah Elizabeth. "Benar-benar nggak kenal waktu, ini udah jam berapa coba!?" batin Gabriella kesal. *** "Non, mau makan malam?" tawari pelayan. "Engga perlu, bi. saya udah makan di luar." tolak Elizabeth. "Ya sudah kalau begitu, saya permisi non." "Elizabeth, tunggu!" Gabriella segera menarik tangan Elizabeth dengan kasar, mata mereka segera bertemu. Keduanya mulai terdiam saling menatap satu sama lain. "Ada apa?" tanya Elizabeth ketus. "Kamu habis dari mana? Kenapa pulang jam segini? Kamu nggak kenal waktu ya!?" tanya Gabriella dengan wajah kesal. "Udah aku bilang kan, bukan urusan kamu. Jadi, kamu nggak harus tau aku pergi ke mana. Lagi pula, bukannya kamu nggak tertarik sama urusan aku?" Elizabeth segera melepaskan tangannya dari tangan Gabriella dan segera pergi menuju kamarnya. "Dia kenapa sih?" batin Gabriella. "Permisi, non. Sudah mau makan malam?" tanya pelayan pada Gabriella. "Belum, bi. Tunggu Elizabeth keluar dari kamarnya aja ya." ucap Gabriella. "Baik, non." *** "Zendrick? Cuma kamu yang bisa bikin aku tersenyum sepuasnya. Aku harap, kamu nggak akan pernah bikin aku kecewa ya." batin Elizabeth, ia mulai tersenyum sambil mengingat harinya bersama Zendrick. Tanpa ia sadari, Gabriella terlihat memasuki kamarnya tanpa mengetuk, ia pun segera melihat Elizabeth yang tersenyum tanpa sebab. Gabriella hanya bisa diam, ia bingung harus apa saat ini, hanya marah yang bisa ia lakukan pada Elizabeth. Akhirnya, karena tak ingin mengganggu saudara kembarnya itu, Gabriella segera keluar dari kamarnya. Namun, saat ia mulai berjalan keluar, Elizabeth segera menyadari keberadaannya. "Gabriella, kamu ngapain di sini?" Gabriella segera menghentikan langkahnya, ia perlahan mulai membalikkan badannya dengan tatapan bingung. "A .... aku salah masuk kamar. Maaf ya, aku permisi." elak Gabriella. "Gabriella, aku nggak percaya." ucap Elizabeth, Gabriella segera menatapnya dengan tatapan bingung. "T .... terserah kamu aja mau percaya atau enggak." Gabriella segera keluar dari kamar Elizabeth dengan terburu-buru, Elizabeth semakin bingung dengan tingkah laku saudara kembarnya itu. "Gabriella benar-benar mencurigakan." batin Elizabeth, ia mulai curiga terhadap saudara kembarnya karena belakangan sikapnya terlihat sangat aneh. *** Mentari sudah mulai terbit, Gabriella dan Elizabeth segera bangun dari tidur mereka, ini adalah saatnya untuk mengawali hari. Karena ini hari libur, jadi Gabriella tidak perlu pergi ke kantornya. Gabriella terlihat mulai mengganti bajunya dan bersiap untuk lari pagi, ia baru saja selesai sarapan. Sementara Elizabeth, ia terlihat tengah memilah pakaiannya yang ada di dalam lemari. Sepertinya, ia tengah bersiap untuk pergi ke suatu tempat, entah di mana tempat itu. Saat Elizabeth tengah bersiap dengan pakaian yang baru saja ia kenakan, Gabriella tanpa sengaja melewati pintu kamarnya. Ia segera menghentikan langkahnya dan mulai memperhatikan Elizabeth dengan tatapan penuh selidik. "Kamu ngapain?" tanya Elizabeth secara tiba-tiba, Gabriella sontak mengalihkan pandangannya dan mulai mencari alasan. "Hm, aku cuma mau ingetin kamu aja kalo sarapan udah siap." Gabriella segera berlari menjauh dari kamar Elizabeth. "Iya, terima kasih." Elizabeth mulai mengenakan sepatu berwarna merah dengan hak tinggi dan tas berwarna cokelat yang warnanya sudah hampir pudar. Elizabeth segera pergi ke meja makan untuk sarapan. "Non, sarapan sudah siap." ucap pelayan. "Iya, bi." sahut Elizabeth. Elizabeth segera duduk di atas kursi dan bersiap untuk menikmati hidangan paginya dengan ceria. Saat ia mulai mengambil sendok, tiba-tiba saja ada seekor kucing yang menaiki meja makan dan segera mengambil ikan goreng ada ada di piringnya. Kucing itu berlari dengan cepat hingga menjatuhkan minumannya. Raut wajah Elizabeth terlihat mulai mengerut karena kesal dengan kucing yang baru saja membuatnya tidak selera makan. "Huh! Kucing dari mana sih!? Aku jadi nggak selera makan deh!" keluh Elizabeth, ia memukulkan sendok yang ia pegang ke meja dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring hingga membuat pelayan menghampirinya. "Ada apa, non?" tanya pelayan karena cemas. "Nggak ada apa-apa, saya cuma lagi nggak nafsu makan aja. Lebih baik, bibi beresin aja ya makanannya, saya mau makan di luar." titah Elizabeth, ia segera bangkit dari duduknya dan mulai berjalan keluar dari rumah. "Mau pergi ke mana, non?" tanya pelayan. "Saya cuma mau makan di luar aja, bi. Mungkin, saya akan pulang sekitar jam tiga sore." "Baik non kalau begitu." ucap pelayan. *** "Pak, bisa antar saya?" tanya Elizabeth. "Mau di antar ke mana, non?" tanya sopir. "Ke toko baju, saya mau beli beberapa pakaian untuk saya pakai saat keluar rumah." jelas Elizabeth. "Baik, non." Elizabeth segera menaiki mobil, sopir pun mulai menyalakan mobil itu dan segera mengendarainya. Saat di perjalanan, tiba-tiba saja Elizabeth teringat akan seseorang. "Keadaan Ibu bagaimana, ya? Apakah baik-baik saja?" batin Elizabeth cemas. Beberapa menit telah berlalu, akhirnya mereka sampai di toko baju. Sopir pun segera menghentikan mobil dan bersiap untuk membukakan pintu mobil Elizabeth. Saat menyadari bahwa pintu mobilnya terbuka, Elizabeth segera berjalan keluar dari pintu mobil itu dengan perlahan. Ia segera memasuki toko baju itu tanpa ragu. Saat ia sudah masuk ke dalam toko baju, ia segera memilih beberapa pakaian yang mungkin akan ia kenakan saat perlu. Saat ia tengah memperhatikan beberapa pakaian, matanya mulai tertuju pada pakaian yang berada cukup jauh darinya, sepertinya ia menginginkan pakaian itu. Tanpa perlu membuang banyak waktu, Elizabeth segera berlari menuju pakaian yang ia inginkan. Saat Elizabeth tengah berlari, tanpa ia sadari ada seseorang yang ingin melintas dan akhirnya tertabrak olehnya, mereka berdua pun akhirnya terjatuh ke lantai. "Aduh!" "Astaga, kamu baik-baik aja?" tanya orang yang baru saja ia buat terjatuh. "Saya baik-baik aja, maaf ya." ucap Elizabeth, ia segera membuka matanya dengan perlahan. Saat matanya mulai terbuka, ia pun akhirnya tersadar bahwa orang yang berada di hadapannya kini adalah seseorang yang sudah tidak asing lagi, itu adalah Zendrick. "Elizabeth?" "Kamu Zendrick, kan? Iya, aku Elizabeth. Kebetulan banget ya, kita bisa ketemu di sini." ucap Elizabeth. "Iya, kebetulan banget. Kamu beneran nggak apa-apa, Elizabeth? Ngomong-ngomong, kamu kenapa lari?" tanya Zendrick heran. "Aku cuma .... udahlah, nggak penting kok." "Hm, kamu lagi cari sesuatu? Mau aku bantu?" tawari Zendrick. "Boleh aja sih, kalo kamu nggak keberatan?" "Aku nggak akan pernah keberatan." ucap Zendrick. Kini, mata mereka berdua saling bertatapan satu sama lain, seketika waktu terhenti. Tak lama, akhirnya mereka tersadar dan mulai berdiri dengan perlahan. "Mau bantu aku cari pakaian?" —Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD