"Selamat pagi, Ibu Gabriella." sapa Laura dan para karyawan yang sudah berbaris dengan rapi di hadapan Gabriella dan Elizabeth.
"Selamat pagi, bagaimana pekerjaan kalian hari ini? Ingat ya, omzet perusahaan ini jangan sampai menurun. Laura, kamu sudah selesai mengatur jadwal saya hari ini?" tanya Gabriella sambil berjalan ke ruangannya. Ia memang tipe orang yang tidak suka membuang-buang waktu.
"Sudah selesai, Bu. Maaf, perempuan yang bersama Ibu tadi siapa ya? Kayaknya asing banget." tanya Laura penasaran.
"Dia adalah orang yang akan mencoba merebut perusahaan ini dari tangan saya. Namun, itu tidak akan pernah terjadi selama saya masih hidup." jawab Gabriella dengan penuh percaya diri, "Satu jam lagi, kita akan mengadakan pertemuan dengan para klien. Kamu sudah mempersiapkan semuanya kan?" tanya Gabriella.
"Ibu tenang aja, semuanya sudah siap. Saya tidak akan pernah mengecewakan Ibu."
"Bagus, kalau kamu melihat perlakuan aneh dari perempuan itu, kamu bisa langsung lapor ke saya atau langsung usir saja dia." perintah Gabriella.
"Baik, Bu." turuti Laura.
***
"Maaf, Ibu siapa ya?" tanya salah seorang karyawan pada Elizabeth yang sedari tadi hanya diam seraya menatap Gabriella.
"Perkenalkan, saya Elizabeth Atmadja, sebentar lagi saya akan menggantikan posisi Ibu Gabriella sebagai CEO di perusahaan ini. Nantinya, saya akan memimpin perusahaan ini dengan sangat baik, tolong kerjasamanya ya." jawab Elizabeth dengan penuh percaya diri.
"CEO?" heran karyawan itu.
"Iya, kamu tidak percaya? Atau, kamu meragukan saya sebagai calon CEO di perusahaan ini?" Elizabeth terlihat mulai kesal dengan respon yang diberikan oleh karyawan itu.
"Tidak, bukan begitu." elak karyawan itu.
"Kalian lihat saja nanti, saya akan benar-benar menguasai perusahaan ini sepenuhnya. Dan, siapapun yang berani meragukan saya, akan langsung saya keluarkan. Jadi, tolong jangan cari masalah dengan saya, karena saya benar-benar tidak suka." peringat Elizabeth dengan nada mengancam.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak akan pernah meragukan kemampuan Ibu. Sekali lagi, saya minta maaf."
"Sudah, sana! Kalian bekerja di sini, dibayar kan? Jadi, jangan sampai ada seorangpun yang tidak bekerja." peringat Elizabeth. Semua karyawan terlihat mulai berlarian ke ruangannya masing-masing.
***
Dua jam sudah berlalu semenjak Elizabeth berkeliling di perusahaan Atmadja Grup. Namun, tak seorangpun berani menyapanya. Ia hanya berjalan sambil mengamati beberapa ruangan di perusahaan itu. Tak lama, terlihat seseorang yang tanpa sengaja menabraknya hingga keduanya terjatuh ke lantai.
"Gabriella!?" kesal Elizabeth.
"Kamu yang tabrak aku barusan. Jadi, aku yang seharusnya kesal, tau nggak!?" bantah Gabriella.
"Kamu nggak usah sok ya, Gabriella. Hanya karena kamu pemimpin di perusahaan Atmadja Grup, kamu enggak bisa seenaknya kayak gini dong. Kamu yang tabrak aku duluan. Dan, kamu harus ingat satu hal, Papah mewasiatkan perusahaan ini untuk kita berdua, jadi aku juga berhak atas perusahaan ini." peringat Elizabeth.
"Apa? Aku nggak salah dengar kan, kamu berhak atas perusahaan ini? Enggak lah, jelas-jelas aku yang berhak atas keseluruhan dari perusahaan ini, jadi kamu sama sekali enggak berhak, Elizabeth." bantah Gabriella.
"Cukup ya, pokoknya aku berhak atas perusahaan ini. Dan, kamu nggak bisa sangkal itu." ucap Elizabeth seraya berjalan meninggalkan Gabriella.
"Huh! Kamu nggak akan pernah berhak atas perusahaan ini, sampai kapanpun!" batin Gabriella.
***
"Aku merasa bahwa aku sama sekali tidak dianggap di perusahaan itu, lihat saja, aku akan melakukan apapun untuk merebut perusahaan itu dari tangan kamu, Gabriella. Setelah itu, aku akan menyingkirkan kamu dari hidupku." batin Elizabeth.
"Permisi, boleh saya duduk di sini?"
Tiba-tiba saja, seorang pria datang menghampiri Elizabeth yang tengah berada di kafe yang cukup sepi pengunjung.
"Kamu ngomong sama saya?" tanya Elizabeth memastikan. Biasanya, orang memandang dia dengan sebelah mata. Jangankan menyapa, menatap wajahnya pun, sepertinya orang tidak suka.
"Iya dong, masa ngomong sama tembok?"
"Silakan duduk." ujar Elizabeth mempersilakan.
"Terima kasih. Ngomong-ngomong, nama kamu siapa ya?" tanya pria itu.
"Nama? Elizabeth." Ia terlihat bingung, jarang sekali ada pria yang ingin mengenalnya.
"Boleh pakai aku-kamu? Hm, aku Zendrick."
"Boleh, salam kenal Zendrick." ucap Elizabeth dengan senyum bahagia tampak di wajah cantiknya.
"Aku boleh tanya sesuatu sama kamu enggak?" tanya Zendrick.
"Mau tanya apa?"
"Kamu lagi ada masalah? Keliatan banget dari wajah kamu. Kalo aku boleh kasih kamu saran, jangan simpan sendiri masalah kamu, kamu bisa berbagi masalah hidup kamu dengan orang lain. Mungkin aja, itu bisa bikin kamu jadi lebih tenang." ujar Zendrick.
"Maunya sih gitu, tapi aku juga nggak tau harus cerita sama siapa. Di sini, nggak ada yang benar-benar peduli sama aku, nggak ada yang bisa mengerti perasaan aku." Elizabeth perlahan mulai meneteskan air matanya karena sudah tidak kuat untuk menahan tangisnya lagi.
"Kalo kamu pengen nangis, jangan ditahan. Biarkan air mata itu menetes bersama dengan kesedihan kamu. Kamu harus kuat ya, jangan pernah merasa sendiri, pasti ada seseorang yang akan bisa mengerti perasaan kamu nantinya." Zendrick mencoba menenangkan Elizabeth.
"Ternyata, ini rasanya memiliki seseorang yang bisa mengerti perasaanku?" batin Elizabeth.
"Kamu sudah cukup tenang sekarang?" tanya Zendrick memastikan keadaan Elizabeth.
"Aku udah cukup baik sekarang, tapi aku belum bisa cerita tentang masalah aku sama kamu." ucap Elizabeth.
"Tidak masalah, kamu mau jalan-jalan?" ajak Zendrick.
"Jalan-jalan? Sebenarnya, ini pertama kalinya ada seseorang yang mengajak aku jalan-jalan. Aku mau."
"Kamu mau? Ayo, kita pergi sekarang." ajak Zendrick bersemangat.
"Tunggu sebentar, kita mau ke mana?" tanya Elizabeth dengan tatapan penuh selidik, ia harus benar-benar memastikan ke mana pria asing ini membawanya pergi.
"Jangan curiga gitu dong, aku cuma pengen bawa kamu ke tempat di mana kamu bisa merasa tenang. Kalaupun kamu nggak mau ikut, aku nggak akan paksa kok." ucap Zendrick.
"Baiklah, aku mau ikut sama kamu. Tapi ingat, jangan macam-macam ya." peringat Elizabeth.
"Tenang aja, aku nggak akan macam-macam sama kamu kok. Lagi pula, aku bukan tipe cowok yang kayak gitu." ucap Zendrick.
***
"Di sini tempatnya?" tanya Elizabeth memastikan.
"Iya, kamu suka nggak sama tempatnya?"
"Zendrick, ini bagus banget. Kamu sendiri yang bikin rumah pohonnya? Aku suka." ucap Elizabeth riang.
"Bukan sih, yang bikin rumah pohon ini adalah orang yang benar-benar berarti buat hidup aku. Dan, kamu adalah perempuan pertama yang aku ajak ke sini." ucap Zendrick.
"Kamu serius? Aku nggak percaya deh."
"Kok nggak percaya sih?" tanya Zendrick.
"Jelas lah, nggak mungkin aja kalo aku adalah perempuan pertama yang kamu ajak ke sini, kita aja baru kenal. Pasti perempuan lain juga udah pernah kamu ajak ke sini kan?" tanya Elizabeth memastikan.
"Belum, cuma kamu aja." jawab Zendrick.
"Zendrick, serius deh."
"Aku serius, emangnya aku keliatan lagi bercanda apa?" tanya Zendrick dengan memasang raut wajah seriusnya.
"Engga sih, kamu keliatan serius banget."
—Bersambung...