"Aku masih belum bisa menerima bahwa kamu adalah saudara kembar aku. Aku masih butuh waktu untuk menerima semuanya." ujar Gabriella.
"Nggak masalah. Yang terpenting, mulai saat ini aku akan tinggal bersama kalian sebagai keluarga. Jadi, kita akan semakin dekat, kan?" ucap Elizabeth, Gabriella tampak bingung saat mendengar ucapannya.
"Apa!? Kamu mau tinggal bareng kita!?" tanya Gabriella yang terlihat tidak suka dengan ucapan Elizabeth.
"Iya, kalian adalah keluarga aku, jadi aku akan tinggal bersama dengan kalian." ucap Elizabeth dengan senyuman tampak di wajahnya, ia terlihat cukup senang.
Tak lama, Awan terlihat mulai memejamkan matanya dengan perlahan. Gabriella dan Elizabeth tak memperhatikan hal itu. Selang beberapa menit, seorang perawat terlihat mulai mendatangi ruang rawat Awan.
"Dok, pasien sedang dalam keadaan kritis." ucap perawat itu dengan wajah cemas.
"Kritis? Maksud mereka keadaan Papah?" batin Gabriella, ia segera menoleh ke arah Awan, ia mulai terlihat cemas. Ia pun segera menghampiri Awan, diikuti oleh Elizabeth.
"Papah baik-baik aja kan!? Pah! Jawab aku!" jerit Gabriella seraya mencoba menggerakkan tubuh Awan, namun tidak berhasil. Air mata Gabriella terlihat mulai menetes di pipinya, rasa sedih mulai ia rasakan saat ini.
"Papah kenapa!?" jerit Elizabeth, ia pun juga mulai meneteskan air matanya.
"Baru saja aku melihat senyummu, mengapa kini engkau tergeletak lemas tak berdaya, Papah?" batin Gabriella.
"Dokter!" jerit Elizabeth.
"Ada apa ini?" tanya Dokter yang baru saja datang ke ruang rawat Awan.
"Dok, tolong segera obati Papah saya. Papah saya sedang dalam keadaan kritis." ucap Gabriella dengan mata yang sudah memerah.
"Baik, saya akan segera menanganinya. Kalian bisa tunggu di luar sekarang? Saya akan segera melakukan pemeriksaan." titah Dokter itu.
"Baik, Dok." ucap Elizabeth dan Gabriella bersamaan, mereka segera keluar dari ruang rawat Awan dengan wajah cemas dan bingung.
"Semoga Papah baik-baik aja sekarang." pinta Gabriella.
"Halo?" suara samar-samar itu mulai menyapa telinga Elizabeth, Gabriella tanpa sengaja mendengarnya, karena mereka duduk bersebelahan saat ini.
"Halo, Bu." sapa Elizabeth dengan nada suara yang lembut, sepertinya itu adalah seseorang yang ia kenal.
"El, kamu udah ketemu sama orang tua kandung kamu? Bagaimana keadaan kamu, baik-baik aja kan di sana?" tanya seseorang yang tengah menghubungi Elizabeth.
"Iya Bu, aku udah ketemu sama orang tua kandung aku dan aku baik-baik aja kok di sini. Kalian semua baik-baik aja kan di sana?" tanya Elizabeth.
"Ibu juga di sini baik-baik saja. Kalau begitu, ibu matikan ya teleponnya, takut ganggu kamu."
"Enggak ganggu kok, Bu." ucap Elizabeth.
Panggilan itu langsung terputus, Elizabeth segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya, Gabriella mulai menatap ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Itu tadi siapa?" tanya Gabriella memastikan.
"Itu ibu, dia yang udah rawat aku dari kecil." jawab Elizabeth.
"El?"
"Iya, itu nama panggilan aku di sana." jelas Elizabeth.
Saat mereka mulai memiliki topik pembicaraan, tiba-tiba saja dokter mulai keluar dari ruang rawat Awan dan segera menghampiri Gabriella dan Elizabeth.
"Kalian berdua adalah keluarga pasien kan?" tanya Dokter memastikan.
"Iya, kami berdua adalah keluarga dari pasien." jawab Gabriella.
"Bapak Awan Atmadja baru saja mengembuskan napas terakhirnya saat ini. Kalian berdua harus merelakan kepergiannya." jelas Dokter.
"Apa!? Dokter pasti bohong, kan!?" Gabriella sangat terkejut saat mendengar ucapan Dokter itu, ia masih tidak percaya.
"Dokter serius?" tanya Elizabeth memastikan.
"Iya, saya serius." jawab Dokter itu.
Gabriella mulai menjatuhkan tubuhnya ke lantai saat mendengar ucapan Dokter itu, Elizabeth terlihat tengah mencoba untuk menenangkan Gabriella dengan cara mengelus lembut punggungnya.
"Gabriella, kamu yang sabar ya, ini memang sangat berat untuk kita semua. Tapi, ini semua adalah takdir, kita hanya bisa menerimanya dengan lapang dada." ucap Elizabeth yang mencoba menenangkan Gabriella.
***
Setelah lewat dua hari dari pemakaman Awan, Elizabeth dan Gabriella terlihat tengah duduk di ruang tamu seraya berkutat pada kegiatan mereka masing-masing. Selama dua hari, mereka hanya diam tanpa menyapa ataupun memulai pembicaraan terhadap satu sama lain.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu dari luar, Gabriella segera membukanya dengan perlahan. Terlihat seorang pria muda dengan kacamata dan pakaian yang rapi mulai berjalan memasuki rumah Gabriella.
"Maaf, bapak siapa ya?" tanya Gabriella memastikan.
"Perkenalkan, saya Rizki, kedatangan saya ke sini adalah untuk memberitahukan wasiat Bapak Awan Atmadja untuk kedua putrinya, yaitu kalian." jelas Rizki.
"Wasiat?" heran Gabriella.
"Tidak perlu banyak tanya, nanti akan saya jelaskan di dalam." ucap Rizki.
"Baik, silakan duduk kalau begitu." ujar Gabriella mempersilakan, Elizabeth pun mulai mendekati Gabriella dan Rizki.
"Kamu adalah Gabriella, dan kamu adalah Elizabeth?" tanya Rizki memastikan.
"Iya, saya Gabriella. Langsung saja beritahu saya apa wasiat Papah." ucap Gabriella, ia ingin mempersingkat waktu.
"Tidak perlu terburu-buru." ucap Rizki.
"Wasiat apa?" tanya Elizabeth yang bingung.
"Jadi, Pak Awan mewasiatkan setengah dari uang miliknya selama hidup kepada Gabriella dan Elizabeth, serta setengahnya lagi untuk diberikan kepada fakir miskin dan anak yatim. Lalu, ada tambahan, satu perusahaan yang akan diurus oleh kedua putrinya. Jadi, untuk perusahaan bisa kalian berdua bicarakan sendiri siapa yang akan mengurusnya. Hanya itu yang ingin saya sampaikan, kalau kalian ada pertanyaan, bisa hubungi saya di nomor yang tertera pada kartu nama saya. Saya permisi." jelas Rizki.
"Aku yang akan memimpin perusahaan Papah." ucap Gabriella, senyuman tampak menghiasi wajahnya.
"Apa? Nggak bisa gitu dong. Kita harus bekerja sama untuk mengurus perusahaan ini." bantah Elizabeth, senyuman di wajah Gabriella mulai memudar, ia segera menoleh ke arah Elizabeth dengan tatapan kesal.
"Bekerja sama? Enggak perlu deh kayaknya. Aku udah mimpin perusahaan Papah selama satu tahun terakhir, jadi aku yang berhak mengurus perusahaan sendiri." ucap Gabriella.
"Nggak bisa gitu, aku harus ikut andil dalam mengurus perusahaan Papah, karena aku punya hak." bantah Elizabeth.
"Liza! Kamu ketemu Papah baru sekarang, aku bahkan nggak tau kalau kamu adalah Elizabeth saudara kembar aku atau bukan. Jadi, aku nggak butuh bantuan kamu untuk ikut campur dalam urusan perusahaan Papah!"
"Pokoknya aku harus ikut andil, karena aku juga punya hak yang sama seperti kamu dalam mengurus perusahaan Papah." ucap Elizabeth.
"Kita liat aja, siapa yang lebih berhak mengurus perusahaan Papah. Aku atau kamu, perempuan nggak jelas!" cemooh Gabriella.
"Perempuan nggak jelas!? Kamu nggak sadar diri? Kamu itu egois dan serakah. Sama sekali nggak pantas untuk menjadi seorang pemimpin perusahaan!" bantah Elizabeth.
"Aku akan melakukan apapun untuk mengambil perusahaan yang memang sudah ditakdirkan untuk menjadi milikku, jadi kamu tidak akan pernah bisa mengambil sesuatu yang sudah menjadi milikku." batin Gabriella.
"Lihat saja nanti, aku yang lebih berhak memimpin perusahaan Papah daripada kamu, Gabriella. Aku akan melakukan apapun untuk merebut perusahaan itu dari tangan kamu, bahkan jika aku harus menyingkirkan kamu." batin Elizabeth.
Perseteruan antar Gabriella dan Elizabeth sepertinya akan segera dimulai. Apakah pertengkaran ini hanya tentang perusahaan ataukah hal lainnya akan datang.
—Bersambung...