Seperti biasa, sepulang sekolah Bhanu dan Dharma pastinya akan pergi ke kelas Cecil untuk menjeput cewek itu agar mereka bertiga bisa pulang bersama atau mungkin kelayapan sepulang sekolah bertiga untuk melepas penatnya menjalani setengah hari mereka di sekolah. Lucunya ketika Dharma berjalan bersama Bhanu adalah sosok yang hampir seharian ini mengekori Bhanu kemana-mana, Yura. Cewek itu tidak lepas dari punggung Bhanu. Seolah Bhanu adalah induk ayam sedangkan Yura itu si anak ayam yang membutuhkan induk untuk memberinya makanan.
Dharma melihat keberadaan gadis itu dengan biasa saja. Lagipula, mereka berdua sudah sangat sering berinteraksi akhir-akhir ini. Lebih tepatnya, sejak pertama kali Yura masuk sekolah. Bhanu nampak sudah penasaran dengan teman SMP nya itu.
“Ra, lo mau ngapain?” tanya Bhanu
“Lo mau kemana?” tanyanya balik membuat Dharma mengangkat alisnya, keheranan.
“Pulang dong. Kenapa? Mau ngelayap?” tawar Bhanu. “Mau cabut nggak, Ma?” ajaknya.
“Liat Ce…” kalimaynya terhenti ketika mendapati Ben sedang berdiri di ambang pintu kelas Cecil. Nampaknya pelajaran di dalam baru saja selesai ketika Bu Ranti, guru kimia, baru saja keluar dan diikuti beberapa anak ikut keluar berhamburan dari kelas itu. Cecil yang tadinya keluar hendak melihat ke arah 3 orang yang terdiam kaku sontak menoleh ke arah orang yang memegang tangannya lebih dulu. Bhanu, Yura, dan Dharma diam tak bergeming.
Entah apa yang mereka berdua bicarakan itu. Cecil terlihat bersikukuh menunjuk arah belakangnya. Seakan menolak. Namun, dengan senyum dan tatapan Ben yang mampu menenggelamkan siapapun cewek yang ada di hadapannya itu, membuat Cecil menangguk samar dan berjalan mengikuti Ben. Cowok itu juga nampak mengusap kepala Cecil dengan tatapan lembutnya.
Dharma dan Bhanu masih kaget dengan adegan yang tertangkap oleh bola mata keduanya. Yura menyenggol tangan Bhanu agar lekas tersadar, kembali pada realita. Lalu melirik Dharma yang wajahnya sangat-sangat datar, tidak bisa ditebak. Tidak mampu dibaca juga, bingung. Yura melihatnya juga agak aneh.
“Demen nggak sih?” Yura berbisik kepada Bhanu.
“Nggak tahu.” Balasnya tak kalah lirih. Kemudian Bhanu dengan gaya santainya menyenggol Dharma, “Ma, ikut nggak cabut?”
“Kalian mau kemana?”
Bhanu dan Yura saling menoleh. “Kemana ya?” saling bertanya.
Lawan bicaranya itu mengembuskan napasnya, “Gue pulang aja deh. Kalian mending pulang juga. Ada banyak PR minggu ini. Jangan sampai nggak dikerjain, apalagi Bhanu!”
Bhanu terkekeh, “Nyicil kok, Ma.” Sahutnya lalu mengajak mereka bertiga jalan, “Lo mau ke rumah gue apa? Sekalian kek nyicil gitu. Makan di sana, bokap nyokap gue lagi nggak bisa pulang dari kantor.”
Dharma menggeleng, “Enggak deh, gue tiba-tiba males. Kepengen tidur.”
“Ey, jangan khawatir, Dharma. Mereka kan baru pendekatan. Bisa aja gagal dong?!” Ucap Yura asal ceplos.
Bhanu menepuk dahi dan menatap Yura gemas. Kenapa mulut cewek itu benar-benar seperti tidak tahu kondisi? Ingin rasanya mencubitnya tetapi tatapan polos tak bersalahnya yang membuat Dharma berkedip berkali-kali sambil mempertanyakan maksud cewek itu sebenarnya apa.
“Gue cuma mau capek kok, Yura. Lgaipula, she is my friend.” Jawabnya dan Bhanu ikut menggeleng pelan pada Yura, mengisyaratkan agar cewek itu berhenti merasa penasaran karena waktunya sangat tidak tepat. “Mau sama siapapun, asalkan dia nggak dijahatin aja gue nggak apa-apa kok. I’m just her friend, hope that make you clear enough, Yura.”
“Ok, I got it. I’m sorry, Dharma.” Yura lebih dulu meminta maaf atas kelancangannya. “Tapi, lo nggak seharusnya menyangkal sekeras itu karena gue hanya bilang mereka baru pendekatan. I’m not asking what kinda a feeling you have about her.”
Bhanu ingin menyuarakan F-word yang ada di dalam hatinya dengan lantang. Keduanya berbicara dengan sama-sama tenang dan menusuknya. Bhanu lebih suka jika menonton pertengkaran adu mulut dengan menyalak seperti yang dia lakukan bersama Cecil. Karena yang muncul itu bisa menjadi bahan-bahan lelucon untuk mereka bertiga. Kalau saling beradu tatapan datar mereka berdua ini, Bhanu hanya gigit jari.
“Yeah, you’re her friend, dan teman memang harusnya support teman, bukan?” tambah Yura melempar senyum manis dan ramahnya. Meluluhkan tensi yang tadinya agak menegang gara-gara dia sendiri. “Yah, kalian berdua liat aja deh. Kak Ben kalo gue lihat tipikal perhatian gitu ya.” Ia manggut-manggut.
“Dia lahir tanggal kapan?” celetuk Dharma tiba-tiba. “Lo bisa baca birth chart dia, kan?”
“Lo sejak kapan tiba-tiba kepengen tahu soal birth chart?” sela Bhanu.
Cowok itu mengangkat bahunya. “Kali aja, buat jaga-jaga.”
Bahkan sesampai mereka di gerbang sekolah, nampak mobil Ben keluar dari gerbang dan ketiganya bisa lihat dari kaca itu, terdapat Cecil di dalamnya. Mereka hanya saling menoleh lalu Bhanu memutuskan pandangannya, beralih ke pedagang cilok depan sekolah. “Cilok nggak?”
“Boleh deh.” Sahut kedua temannya itu.
“Anyway, kalo mau nyari tanggal lahir dan tempat lahir Ben di mana dong?” tanya Dharma.
“Di papan data siswa biasanya ada nggak sih?” sahut Yura.
“Atau kita mesti ke ruang BP?” celetuk Bhanu.
“Tanya temennya ajah!” timpal Dharma kemudian memesan cilok untuk mereka bertiga. Detik berikutnya mereka sibuk meracik bumbu sambil mencari cara untuk mengetahui birth chart Ben. Untuk mengenal sosok itu dan supaya Dharma atau Bhanu bisa mengawasi gelagat cowok itu. “Yang dibutuhin tanggal sama tempat lahir doang, kan?”
“Iya, kalo jamnya, too privacy nggak sih?” kata Yura. “Lagian kalo soal rising, nggak terlalu berpengaruh banget kayaknya. Rising cuma cara dia mempresentasikan diri di depan orang-orang aja sih. Dan, dia keliatannya rising elemen air yang lembut dan daring banget begitu.”
“Tepatnya?” Bhanu termakan rasa penasaran juga.
“I don’t know, pokok water sign. Lo pada liat nggak sih dia keliatan bucin jatuh hati banget tadi? Lembut ngeliat Cecil.”
Keduanya menggeleng. Siapa yang tahu jika itu tatapan lembut? Cowok-cowok hanya tahu jika seorang cowok itu tertarik dengan lawan jenis ya dengan gelagatnya. Secara keseluruhan, tidak menempatkan pada detail seperti penglihatan saja atau senyumannya saja. Tetapi, semuanya. Melihat pada pigura besar dan mengambil kesimpulang cepat.
“Yah, pokoknya cukup dengan tahu sun dan moon kak Ben itu udah cukup.” Tambah Yura. “Nanti, dicocokin aja kali ya sama punya Cecil. Sekalian.”
Bhanu tertawa, “Kita kayak matchmaking agent nggak sih?” terbahak-bahak menyenggol lengan Dharma dan Yura bergantian.
“Perlu kali, Nu. Bokap nyokap gue aja kalo mau bikin anak ngeliat shio dan elemen masing-masing.”
Yura kaget, “Lho, Dharma juga percaya begituan?” shio, Chinese zodiak, masing-masing orang bisa saling membawa peruntungan satu sama lain. Kecocokan antar shio bisa menimbulkan harmoni dan keseimbangan bagi kedua insan itu. Dan, Dharma mempercayainya.
“Iyalah, percaya aja sih. Kalo nggak percaya juga nggak apa-apa. Ini kan tradisi buat gue, Ra.”
Bhanu hanya diam mendengarkan, mencoba menyerap ilmu sebanyak mungkin saja. Karena di tradisinya tidak ada yang seperti itu kecuali weton. Itupun, dia belum mencari tahu banyak. Kepercayaan-kepercayaan klenik seperti ini memang sudah sangat lazim, hanya saja semakin berkembangnya jaman kepercayaan ini sering kali sulit dipercayai terutama keluarga Bhanu. Keluarganya tidak terlalu mempercayai klenik-klenik ini. Tidak terlalu mempercayai hal-hal yang terkesan tradisional. Ia dikelilingi oleh manusia-manusia modern yang berpikiran penuh logika dan rasioanlitas mendominasi bahkan di setiap sudut tembok rumahnya.
Berteman dengan Dharma dan Yura itu membuatnya seolah kembali mempercayai apa yang orang-orang jaman dulu pegang teguh. Mungkin, Dharma dengan shio-shionya atau Yura dengan zodiak-zodiaknya itu. Semata-mata hanya ingin melihat kepribadian agar timbul sebuah interaksi yang harmonis.
“Iya, ada benarnya juga, Dharma. Tradisi. Yang namanya juga tradisi, pasti akan lebih sering ditinggalkan.”
“Bener, percaya nggak percaya aja sih, tapi, bodoh amat deh.” Serunya.
Yura menoleh setelah memakan satu cilok dari plastik itu. “Bhanu, kok lo diem aja?” tegurnya.
“Lo berdua lagi ngobrol. Gue dengerin aja. Lumayan, belajar zodiak-zodiak lo pada.” Ia cengengesan. “Jadi, besok kita cari tanggal dan tempat lahirnya kak Ben gimana? Tanya siapa? Tanyanya kapan?”
“Gue anak baru ya. Jangan kasih tugas ke gue, nanti disangka naksir lagi.” Tolak Yura, logis.
“Gue coba cari tahu ke kakak kelas yang juga anak radio deh, kali aja kenal.” Dharma tadinya santai, kemudian tersentak. “Aneh nggak sih tanya tanggal lahir sama tempat lahirnya ke cowok? I mean, gue cowok!!!!”
Bhanu diam saja. “Gue aja kali ya? Ke kak Sanca?”
“Lo masih kontak sama dia?”
Bhanu mengendikkan bahu, “Yah, gue coba sepik tipis-tipis deh. Namanya juga cari tahu.”
Detik berikutnya Yura memekik heboh, “IHHHHH, kan Kak Ben itu famous, teman-teman. Kita tanya fansnya ajaaaahhhhh! Gue coba cari tahu deh.” Baru teringat jika cowok terkenal harusnya lebih mudah untuk dikorek informasinya.
“Ini semua jadi pada kepo, ya??” tukas Dharma.