Serious-Random Talk

1516 Words
Ketika jam istirahat pertama itu, tak disangka-sangka Yura mendatangi bangkunya lebih dulu. Bhanu mengernyitkan alis melayangkan tatapan penuh pertanyaan akan keberadaannya di sini. “Hai, Yura.” Sela Dharma melempar senyum ramahnya, seperti biasanya kepada orang-orang. “Hai, Dharma. Kalian mau ke kantin?” tanya cewek itu membuat Bhanu tersenyum dengan lengkungannya yang ke bawah. Ada yang termakan umpan. Nampaknya, Yura punya sisi yang sama dengan Bhanu. Sisi yang gampang penasaran dengan hal-hal tertentu. “Mau gabung?” ajak Dharma. “Yah, kalo kalian nggak tiba-tiba aja bilang ‘You cant sit with us.’.” Dharma tertawa kecil lalu menemuk pundah Bhanu saat cowok itu berdiri dari kursinya. “Never happened. Gue jemput Cecil dulu ya?” Bhanu menoleh secepat kilat, “Dih, pakai jemput-jemput segala. Lo kata kita mau ke Mall apa? Cuma kantin, kan? Bareng aja.” “Biar kebagian tempat. Lo paling ngerti istirahat pertama siswa-siswi pada bar-bar banget. Apalagi ini hari jumat. Banyak jam-jam kosong!” Yura menarik tangan Bhanu, “Yuk cari tempat.” Kemudian menyeret cowok itu setelah Dharma melempar senyum penuh judgementalnya. Penuh dengan banyak tuduhan dan kecurigaan diwarnai dengan tengil dan usilnya ditambah dengan kedipan dan alisnya yang ia naik-turunkan itu. Hanya beberapa detik saja tangan itu dicengkram oleh Yura, selebihnya tidak. Gadis itu berjalan dengan ringan di sebelah Bhanu yang terus menerus mencuri pandang. Tahu jika cewek itu sudah sangat penasaran hingga beberapa kali juga menoleh padanya seolah mengemis penjelasan mengenai ekonomi lingkungan yang menjadi pancingan Bhanu tadi pagi. Penasaran dengan pembicaraan kaku bahkan membosankan bila didengar oleh orang lain, namun menarik untuk keduanya. “Nu, apa yang terjadi dengan eksploitasi alam yang dilakukan manusia?” “Kita makan dulu, gue perlu brownis.” Yura menghembuskan napas kasarnya, lalu menggaruk tengkuk. “Pasti itu buruk? Apa ada cara bagi manusia untuk nggak melakukan eksploitasi?” “Um omong-omong, nasi pecel warung bu kantin kelas 11 itu enak banget, udah coba?” Yura semakin cemberut, Bhanu diam-diam membuang muka agar tawa tak bersuara dan ekspresi senangnya yang telah mengusili Yura agar tak ditangkap cewek yang hari ini sengaja menggerai rambutnya. “Emangnya energi alternatif itu nggak cukup efektif ya? Penemuan-penemuan itu fungsinya apa dong?” “Es teh manis campur s**u enak kali ya?” sahut Bhanu semakin mengada-ada. “Bhanu??!” “Ya sayang?” Yura langsung memukul lengan itu dan disambut tawa Bhanu. Wajah Yura nampah cemberut dan kusut sebab Bhanu itu benar-benar jahil. Menanggapi pertanyaannya dengan pernyataan lain, yang tidak nyambung. Kesal. “Haha, nanti dulu kali, Yura. Gue mau makan dulu. Ini penjelasan yang bakal memakan waktu sangat lama dan sangat kompleks sampai lo harus membuka buku-buku bahkan artikel lainnya untuk memahami ini. Lo tahu, kan? Manusia butuh makan. Makanan disediakan oleh alam. Dan, dengan bertumbuhnya populasi manusia, alam ‘dipaksa’ untuk memenuhi kebutuhan manusia.” Yura mendengarkan sambil berjalan di sebelah Bhanu. Cewek itu hampir menabrak beberapa siswa karena tidak melihat jalan di depannya. Akhirnya selama pandangan cewek itu fokus pada Bhanu, sosok yang disampingnya itu lebih sibuk menariknya agar tidak bertubrukan dan memberi akses jalan mulus tanpa halangan. “Hei, dilihat dong jalannya.” Kata Bhanu ketika Yura menendang sampah botol yang gagal masuk ke tong sampah depan kelas. “Gue tahu sih kalau sekarang alam itu nggak sedang baik-baik saja, maksud gue kayak global warming, climate change, water and air pollution are affected by human activities. Gue nggak habis pikir kenapa pemanfaatan energi alternatif masih nggak bekerja padahal penemuannya sudah ada?” “Karna teruji pada skala kecil.” Yura tertegun, “Maksud lo? Skala kecil gimana?” Bhanu kemudian berjalan lebih dulu dan duduk di salah satu bangku yang masih kosong itu dengan Yura yang ikut-ikutan menyusul Bhanu. Bukannya menjawab, cowok itu malah bertanya Yura ingin makan apa? Cewek itu menggeleng. Akhirnya Bhanu pergi sebentar untuk membeli nasi pecel dan sebuah roti lapis untuk Yura. “Makan, Ra.” Yura menuruti titah Bhanu kemudian mengoper uang 10ribu dari kantungnya untuk mengganti uang Bhanu. “Kenapa cuma skala kecil? Kenapa?” “Karna ini Indonesia.” Ia tersenyum. “Mama gue dosen biologi, dan beliau bilang kalau banyak sekali teman-temannya malas pulang ke Indonesia karena pendanaan riset di Indonesia itu kurang mendapat perhatian. Terlebih lagi, banyak sekali ide-ide yang dicetuskan sama temen-temen Mama, termasuk mama dan mahasiswanya itu kurang mendapat perhatian lebih. Kurang ada yang mau melirik. Inovasinya bagus-bagus kayak misalnya baterai kulit pisang, kendaraan listrik, bahan bakar alternatef dari limbah pengolahan ampas makanan, atau penemuan-penemuan yang biasa diciptakan sama anak-anak karya tulis ilmiah itu nggak ada yang melirik.” Yura menatap penuh iba, “Terus gimana?” “Ya nggak gimana-gimana, itu semua hanya bisa digunakan dalam skala kecil. Bukan skala besar dan dikomersilkan. Kalaupun dikomersilkan, pasti butuh waktu lama untuk bolak-balik menguji dan melihat pasarnya juga.” Yura terperanjat, “Tunggu, gue kira kita bakal ngomongin tentang alam dan lingkungannya secara kita anak IPA. Kenapa lo bahas-bahas pasar?” Bhanu mengunyah makanannya dengan santai sambil mendengarkan pertanyaan Yura. “Dharma mana sih? Kok lama?” Lagi-lagi Yura berdecak sebal, pertanyaannya tidak digubris oleh Bhanu. “Lagian ya, Ra. Lo nggak akan melulu berhadapan dengan biologi, kimia, fisika, matematika ketika kuliah nanti. Semuanya akan menjadi lebih kompleks, lebih rumit, dan lebih memusingkan, pokoknya.” Ujar Bhanu. “Oh, gue tahu ini soalnya dikasih Kak Bhina, abang dan mama gue.” Yura menganggu kemudian Cecil dan Dharma datang. Dharma menggaruk dahinya sambil meringis sedangkan Cecil nampak bersungut-sungut. “Ada apaan?” tanya Bhanu setelah menggigit tempenya. “Hai, Cecil.” Sapa Yura setengah takut melihat Cecil nampak seram. “Hai.” Jawabnya singkat dan dingin. Dharma menggeleng lalu beranjak pergi memesankan mereka berdua makanan—dan minuman dingin tentunya, Cecil terlihat kesetanan sekarang. “Bhanu, lo ngerti Ben nggak sih?” “Ben?” Bhanu mencoba-coba mengingatnya, Ben… apakah Benedictus? Anak kelas 12? Mantan Kapten Basket?, batinnya. “Ugh, use your brain. Ben. Benedictus.” Cecil sudah merengek saat Bhanu mulai lemot. Yura membisu dan menggeser duduknya agak menjauh, takut diterkam. “Yes, I’ve already use my brain. Like, EVERYDAY I use it, never waste my brain.” Gerutunya dengan muka datarnya itu. “Ada apaan? Tiba-tiba banget bawa-bawa Ben?” Cecil memukul meja dengan matanya melebar penuh kea rah Bhanu sampai Yura mengelus d**a saking kagetnya. “Tiba-tiba ngedeketin gue!” Bhanu mengangkat bahunya, “Well, that’s good. Lo belum pacaran selama masuk SMA, kan?” “Bukannya Cecil suka Dharma?” Yura polos, Bhanu menggeleng cepat ke arah Yura dan menyuruhnya menarik cepat kata-kata yang tidak pernah ia filter itu. “Oh, Sorry. Teman ya?” “Ya. Temen doang!” Cecil menoleh ke Dharma yang baru saja duduk bergabung dengan tangan membawa nasi campur dan kotak s**u. “Kenapa?” Dharma bingung, melihat keadaan dengan menyoblos s**u kemasan tetrapacknya dengan polos. Lalu memulai makan setelah dia berdoa sebentar. “Ada apa sih?” tanyanya sebab semua orang hening melihat kearahnya. “Nggak, nggak apa-apa.” Sahut Bhanu. “Terus gimana? Dia ngomong apa?” “Ya gitu, ngajakin gue keluar deh.” Cecil melembut dan tertunduk. “Iyain aja kali, Cil.” Ucap Dharma. Reaksi Yura dan Bhanu saling menatap, kaki mereka sibuk menendang-nendang. Mereka seolah-olah sedang bertelepati, Dharma cemburu nggak sih? Dharma cemburu ya? Kok nadanya lemes sih?, sorot keduanya nampak seperti itu. “Lo berdua ngapain tending-tendangan, jangan di sini kalo main bola.” Semprot Dharma dengan sangat tenang. Cowok itu benar-benar tenang, memakan kerupuk dan lauk pauknya layaknya dia seseorang petapa suci yang baru turun dari gunung. Sangat tidak menunjukkan gelagat gusar bahkan gelisahnya. “Emang kalo ngajakin keluar, lo mau?” tanya Bhanu. “Nggak tahu.” Cecil memulai menyendok makanannya. “Masalahnya dia anak kelas 12 gitu, loh, Nu. Males ah, kalo jadi malah ditinggal LDR. Itupun kalo dia kuliahnya jauh. Kalo cuma UI di Depok mah nggak masalah kali!” Ketenangan Dharma seketika terusik. Cowok itu makan dengan lebih cepat. Yura melirik Bhanu, menggaruk pipinya lalu menatap Cecil dan Dharma yang duduk di hadapan mereka. “Jalanin aja dulu.” Timpal Bhanu. “Gitu?” jawab Cecil. “Eh, tapi kan lo bukan love expert, mana bisa gue percaya! Bodong dong saran-saran lo!” Yura menyela, “Tapi, Venusnya Bhanu itu Cancer, Cil. Dia tipikal yang romantis dan peka kok kalo masalah percintaan.” “Tuh, denger Mama Yura!” senangnya dibela oleh Yura, ia dengan zodiak-zodiaknya itu. “Mama Loren kali!” sela Dharma, menggeleng. Kasihan dengan selera humor Bhanu yang kian hari semakin jayus. Tidak ada lucu-lucunya sama sekali. “Ya udah terus gue mesti begimana dong? Kak Ben cakep sih, keren juga. Meskipun mantannya bejibun, tapi mereka semua putus baik-baik sih. Gue nggak akan kena labrak drama ala-ala gitu. Males sih kalo cowok yang masih ada masalah sama mantannya gitu. Drama ntar gue!” Ketiganya menghela napas. “Pendekatan aja dulu, Cil. Kalo nggak cocok ghosting.” Sahut Yura. Bhanu dan Dharma mendelik mendengar saran itu. Parah, ghosting katanya?, batin Dharma. Ghosting apa? Menghantu?, Bhanu agaknya kurang paham. Antara dia baru mendengar atau memang sangat kurang update.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD