Leo and Libra

1763 Words
Keesokan harinya, mereka bertiga gencar berpencar mencari informasi tentang tanggal lahir dari Ben. Ketiganya sengaja tidak menghampiri Cecil sebab ketika ketiganya sampai di kantin, mereka bisa melihat Cecil nampak duduk bersama dengan Ben dan teman-temannya. “High school life really like a jungle.” Kata Yura. Bhanu melirik Cecil sambil menunduk dan menyeruput es tehnya. Mengamati pergerakan Cecil yang tengah berinteraksi dan belum sadar jika mereka bertiga tengah mengamatinya. Dharma malah menatap terang-terangan sambil mengunyah gado-gadonya. Yura sibuk bergerilya menjelajah internet dengan handphonenya itu. “Ugh, di web sekolah beneran nggak ada identitas siswa ya?” katanya tak mendapat sahutan siapapun. “Bhanu, lo udah tanya Kak Sanca?” “Belom samperin.” Kemudian Dharma dengan entengnya menarik salah satu tangan seorang anak lalu bertanya, “Lo tahu kak Ben?” “Iyalah, gila aja lo nggak tahu kak Ben, kenapa?” jawabnya. “Mantan dia siapa?” tanya Dharma lalu dipotong oleh Bhanu. “To the point, ulang tahun dia kapan?” “Eh, mantan dia temen gue sih. Kalo lo tanya tanggal sih dia kayaknya Oktober. Tapi gue lupa tanggal.” Pernyataan itu lantas membuat Yura menegak, antara Libra atau Scorpio. Di hadapannya sudah ada birth chart milik Cecil, tanpa ada embel-embel data rising cewek itu karena terasa susah untuk diingat dan sulit dilacak bahkan dengan sang pemilik tanggalnya sendiri. Yura mendapati bahwa sun Cecil adalah Leo, moon cewek itu adalah aquarius, dan venusnya adalah Taurus. Hanya data-data singkat itu yang dia peroleh berkat sepengetahuan Dharma dan Bhanu perihal tanggal ulang tahun Cecil yang bertepatan pada 31 Juli. Ketika Yura asyik termenung membaca karakter Cecil dari zodiak-zodiak itu, tiba-tiba saja Bhanu memukul lengannya dan membuat ia tersadar. “Yura, gue lupa. Sandy kan anak basket!!” Dharma langsung celingukan, lehernya sontak memanjang menoleh ke kanan kiri mencari sosok itu. Rupanya cowok itu juga sedang menunggu pesanan makanannya di salah satu stan. “Sandy!!” panggil Dharma kencang. Sandy dengan gaya kerennya, memasukkan telapak tangan di kedua saku itu menoleh dan mengangkat alisnya. Dharma melambaikan tangan untuk menyuruhnya bergabung dengan tempat mereka duduk. “Ada apaan?” “Lo kenal Kak Ben, kan?” Cowok itu menangguk lalu melihat Cecil kini tengah bersama golongan anak-anak basket dulu. “Leh, sama Cecil? Sejak kapan?” “Sejak kemarin.” Celetuk Bhanu. “Tanya, lo tahu kapan dia ulang tahun?” Sandy tersenyum, nampak sangat lebar. “Oh, Cecil beneran suka ya sama dia? Sampai suruh lo pada cari info ulang tahunnya kapan biar nanti bisa kasih surprise?” cowok itu terkekeh dengan bangganya meskipun mendapatkan tatapan aneh penuh tanya dari ketiga orang di hadapannya itu. “Klasik banget ya ternyata si Cecil. Sama aja kayak cewek cheers, sukanya kasih surprise ke cowok.” Pernyataan itu kembali membuat Yura, Bhanu, dan Dharma menghela napas. Sok tahu banget anak ini, batin mereka. “Gue inget-inget, dia oktober. Dulu… bentar-bentar. Gue keinget waktu itu pernah dia dikasih surprise sama mantannya pas kita turnamen di bulan oktober tahun lalu. Hmmm… kapan yah?” tanyanya pada diri sendiri, mengorek-ngorek memori lamanya. “Inget terus coba, lo turnamen kapan dan di mana?” “Di Jakarta kok, sebentar… di mana yah? Asli gue lupa!” ia melahap batagor yang baru saja datang diantar oleh pedagang di kantin lalu mulai mengingat-ingat lagi. “Hmm… seinget gue sih, awal oktober ya deh. Pokok turnamen sebelum kita-kita UTS kok. Eh, bener nggak sih?” ia nampak tak yakin dengan ingatannya. “UTS ya… hmmm.” Dharma mengusap dagunya. “Seinget gue, UTS itu akhir oktober. Ini udah mau masuk oktober.” Bhanu Yura diam saja. Waktu itu Yura memang belum pindah ke sini dan Bhanu sudah melupakan kenangan buruknya saat UTS. Ugh UTS, mual dengernya, batinnya. “Oh, berarti bener tuh oktober awal. Sebentar gue inget-inget sambil makan batagor ye…” ia cengas-cenges saja. Makan batagor dengan lahapnya ditemani tatapan penasaran nan menuntut ketiga orang itu. Seketika Sandy kikuk, “Lo pada sebutuh itu?” mereka mengangguk dalam bersamaan. “Buat Cecil?” ketiganya malah mengalihkan pandangan, menolak untuk menjawab sebab itu urusan golongan mereka saja. “Oh, oke.” Lagi-lagi Sandy salah tangkap, dia mengira itu memang untuk Cecil. “Sebentar, gue cek tanggal di hp. Gue hitung-hitung dulu.” “Lo nggak bikin story pas anak-anak basket pada ngesurprisin Kak Ben?” Bhanu, Dharma, dan Sandy menoleh ke Yura secepat kilat kemudian Bhanu dan Dharma beralih menatap Sandy. “Ah, bener juga! Tunggu-tunggu. Gue cek.” Dharma dan Bhanu yang duduk lebih dekat dengan Sandy langsung agak menggeser duduknya mendekat. Hingga terpaan napas keduanya menyentuh lengan Sandy, “Eh, ngapain lo deket-deket. JAUHAN!!!” tatapnya mendelik, Bhanu dan Dharma tersenyum sungkan dan mundur. “Sabar elah, masih gue scroll!” Bhanu mengangguk santai. Dharma malah masih kepo. “Nah, 11 Oktober nih. Ini videonya.” Yura langsung menyambar handphonenya, “Tahun?” “Setahun di atas kita.” Yura fokus dengan handphonenya, harap-harap cemas. Jika memang Libra, ini adalah pasangan ideal dari Leo. Kemudian layar handphonenya menampilkan hasil birth chart Ben. “Got it!!!” Dharma rusuh sampai berdiri dari kursinya mendekati Yura. Bhanu masih diam dengan gelas es teh manis dan gorengannya itu. “Jadi, gimana?” tanyanya. “Sun Libra, moon Sagitarius, dan venus Gemini.” Papar Yura. Dharma memiringkan kepalanya, menatap Bhanu. “Lo paham?” “Ask mama Yura, bro!” dia melempar tatapan acuh lalu melihat Sandy. “Hei, don’t thik we are weird after this. Anggap aja ini kita lagi ngestalk orang.” Peringatnya. “Maksud lo?” Sandy ternganga ketika Yura mulai menjelaskan tentang apa yang dia temukan. “Lo percaya begituan?” cowok itu tertawa mengejek. “Bro, jaman kapan ini? Mending lo pada keluar dah, main kemana gitu. Nongkrong kek, cabut sekolah ke mana gitu. Jangan percaya zodiak-zodiakan. Nggak pasti itu!” Bhanu menimpali, “Kan, gue udah bilang. Jangan dianggap aneh. Orang majalah-majalah aja masih sering muat konten zodiak, bos.” “Tapi, lo nggak harus mengamini juga. Semakin lo mengamini, lo akan semakin terbawa arus, itu tuh akal-akalan penulis majalah doang.” “Yeu, penulis majalah beda kali sama astrolog. Astrolog tuh ada tahu. Di luar negeri banyak, konek sama orang-orang ahli metafisika. Lo ngerti? Macam dukun tapi lebih modern nggak pake sajen sama dupa.” Tukas Yura kepada Sandy. “Ya tapi lo pada nggak harus percaya sama zodiak juga sih, itu tuh nggak real. Ramalannya nggak pernah ngefek ke gue.” “Zodiak dominan lo bukan di sun berarti. Kayak misalnya, lo asli leo tapi lebih ngefeel sama sagitarius.” cecar Yura tanpa babibu tanpa pula berkenalan dengan ramahnya. Sandy bungkam. Matanya nampak menelisik dengan apa yang Yura baca melalui handphonenya. “Kalian mau kabar buruk apa bagus nih?” “Buruk.” “Bagus.” Sahut Dharma dan Bhanu bersamaan. “Buruk aja deh, kan sehabis badai biasanya ada pelangi.” Sela Sandy santai. “Yaudah, buruk dulu.” Dharma mengerang frustasi, mendadak gugup. “Buruknya buat Cecil apa buat kita nih?” “Ribet, Yura. Udah kasih tahu aja lah!!” Bhanu tak sabar melihat Yura yang bergitu berbelit. “Baik buruk ujung-ujungnya cuma informasi.” “Jadi, Leo itu punya ketertarikan sama Libra. Kayak emang aslinya tuh mereka cocok buat bersama.” Dharma mengernyitkan alisnya. Bhanu menangguk berusaha memahami. “Like perfect match from heaven gitu.” “Oke, guys. You are SUPER weird.” Celetuk Sandy, heran. Namun, Bhanu dan yang lainnya tidak mengindahkan ucapan Sandy, biar saja dibilang aneh. Memang setiap orang punya kesukaan masing-masing, bukan? Meskipun seaneh apapun hal itu. “Moon mereka juga satunya aquarius satunya sagitarius. Emosi dan mood keduanya benar-benar random, mereka suka having fun, dan sama-sama cukup… unique and edgy.” “Kayak anak indie dong?” lagi-lagi Sandy menyahuti Yura. Anak itu tadinya tampak tak tertarik malah ikut-ikut seru-seruan di dalam sini. “Anak edgy sagi sama aquarius jangan-jangan?” “Katanya nggak percaya??” cibir Bhanu. Cowok itu hanya tertawa saja. “Cuman, kabar bagus buat kita adalah venus mereka itu yang bisa dikatakan berlawanan.” Secercah senyum cerah kecil muncul di wajah Dharma. “Venus apaan? Mereka kenapa? Gemini sama Taurus nggak cocok?” tanyanya bertubi-tubi, menghujani telinga Yura. “Venus adalah cara mereka melihat dan memperlakukan pasangan, ibarat cara pikir mereka dalam melihat pasangan deh intinya. Setahu gue, Gemini bisa punya ketertarikan sekejap sama Taurus. Tapi ya sekedar tertarik doang. Kayak kepo-kepo doang. Dan, Gemini itu plinplan.” “Lo plin-plan dong?” seru Bhanu. Yura mendesah kesal, “Hari ini bukan tentang gue, Nu.” Jedanya. “Dan, Taurus itu anaknya suka banget yang pasti-pasti. Kabar buruk buat kita sekecil itu, dan kabar baiknya adalah Gemini anaknya asyik banget kalo sama pasangan. Dia bakal suka melucu, kasih hiburan, dan kasih petualangan nggak terduga ke pasangan sedangkan Taurus itu anaknya suka yang pasti-pasti aja dan sangat lurus, hidupnya kadang lempeng jadi gampang bosen. Kalo sama Gemini jadi kehidupan percintaan Taurus nggak bakal membosankan sih. Soalnya, Gemini itu berelemen udara sedangkan Taurus itu tanah. Satunya bergerak bebas, satunya suka berdiam diri. Harmoninya dapet sih, kalo Taurus bisa menekan egonya buat nggak ngatur-ngatur Gemini dan Gemini bakalan lebih welcome kalo Taurus mau bersenang-senang juga sama mereka. Melihat sun dan moon mereka cocok, kayaknya….” Yura menggigit bibirnya. “Mereka cocok.” Dharma menjambak rambutnya. Bhanu memukul meja dengan dahinya. Yura kebingungan, sebenarnya yang kedua lelaki ini mau apa sih? “Oh, gue ketinggalan. Libra sun Aquarius Moon is original personality. Dia sangat nyentrik dan sangat mudah termotivasi. Btw, Cecil kadang juga suka senggol sana sini dan agak nyentrik nggak sih jalan pikiranya?” Dharma mengembuskan napas kasarnya. “Iya, dia kadang suka edgy banget. Apalagi kalo mau ngebelain Bhanu tuh. Beneran kayak anjing gila.” “Ah, kayaknya beneran cocok, guys.” Sandy yang masih termenung mendengarkan mereka jadi geleng-geleng. Tak dia sangka, ternyata tebakan Yura tentang zodiak itu hampir mirip dan mendekati sifat Ben yang sangat nyentrik, mempesona, cerdas, lembut, dan banyak akal untuk membuat cewek-cewek di sekitarnya menjadi luluh akan dirinya yang sebenarnya. Hingga tak seorangpun bisa meniru cowok itu, karena dia pribadi yang menekankan originalitas dan rasionalitas dirinya. Tidak ada yang bisa menandingi Ben, bahkan kapten basket baru juga tidak bisa jika harus mengikuti cara Ben memimpin dulu. “Well, guys. Jangan khawatir. Kalo Cecil nggak suka sama Kak Ben, dia nggak bakalan mau mendekat kok. Ini hanya perkiraan kecocokan aja.” Yura santai namun tidak dengan Bhanu dan Dharma. “Ma, kalo Cecil pacaran, ntar kita berduaan doang dong?” “Nggak seru ah nggak ada yang diledekin.” Timpalnya.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD