Pengakuan Dharma

1374 Words
Bhanu menghampiri rumah Dharma siang itu. Dia malas langsung pulang ke rumah soalnya tadi pagi mama mengatakan bahwa jam istirahat tidak bisa pulang ke rumah karena ada agenda visitasi di fakultasnya. Bhina, kakak laki-lakinya itu juga berkata ada kegiatan di kampus sehingga tidak bisa menyempatkan pulang. Bhanu sekalipun tidak pernah merasa tidak diperhatikan meskipun keluarganya sibuk dengan urusannya masing-masing. Dia nampak santai karna dia juga bisa sibuk dengan urusannya sendiri, urusan bermain maksudnya. Di rumah Dharma yang lebih dekat dengan sekolah mereka itu, dia mendapat sambutan hangat dari keluarga Dharma. Rata-rata mereka bertutur kata dengan sangat lembut kepada Bhanu. Sampai-sampai Bhanu tidak enak hati jika melempar guyonan dengan ringisan tengilnya itu. Agak segan. Rupanya, sisi lembut namun tegas Dharma itu sudah mengalir turun temurun dari keluarganya itu. Saat berada di teras, mereka memenuhi karpet kecil itu dengan beberapa snack dan buku-buku pekerjaan sekolah mereka. Tak lupa speaker kecil untuk mendengarkan musik dan laptop untuk berselancar mencari materi atau bahkan kunci jawaban dari soal-soal di LKS supaya mereka tidak perlu pusing-pusing berpikir. Banyak tugas menumpuk karena senin pasti guru-guru sudah mulai membagikan jadwal UTS yang diadakan tepat pada jam pelajaran berlangsung. “Ma, sepi yah?” Bhanu sengaja mengode Dharma. Berharap cowok itu juga memiliki sedikit perasaan kehilangan seperti dirinya. Kehilangan seorang Cecil yang ia yakini pasti sekarang sedang tertawa—penuh tekanan—bersama Ben. Bukannya memahami perasaan Bhanu, Dharma malah memutar lagu-lagu dari Zedd yang bergenre EDM dan menaikkan volume musiknya. “Dharma!!” seru Bhanu sebab telinga sensitifnya terasa sakit mendengar lengkingan musik yang bertempo cepat itu. “Katanya sepi? Apa lo mau puter dangdut koplo? Bentar, gue puterin.” Bhanu memutar matanya malas, kenapa Dharma itu selalu saja bertingkah seolah semuanya akan membaik? Itu membuatnya sangat risih. Bhanu risih. Bhanu ingin Cecil di sini bersama mereka. “Ma, lo emang nggak kangen Cecil?” Cowok itu yang tadinya menjelajah platform streaming untuk mencari lagu dangdut koplo paling hits sontak terdiam. Matanya menatap lurus ke layar dengan kosongnya. Bhanu menangkap mata penuh kekosongan itu. Terasa hampa bahkan bisa membuatnya melayang ikut tersedot ketika mengetahui ketiadaan orang yang seharusnya ada untuk mereka, selalu ada. “Enggak.” “C’mon. Lo kangen, kan?” “Bhanu,  Lo selalu aja bahas Cecil, Cecil, dan Cecil. Lo nggak bisa fokus sama pr-pr lo apa? Cecil itu lagi kasmaran, ya udah biarin aja. Nggak usah diganggu.” “Dia begini dulu sewaktu SMP?” Pertanyaan Bhanu berhasil merenggut perhatian penuh Dharma, “Enggak.” Cowok itu langsung membuang muka. Nampak senyum culas dan gidikan bahu khas Dharma ketika cowok itu tidak ingin meneruskan pembicaraan, terlalu malas untuk berseteru dan membahas. “Dia dulu kalo pacaran emang gimana?” tanya Bhanu. Dharma berdeham, “Ya pacaran. Sering tuh anak pacaran-putus-pacaran-putus tapi nggak yang sampai keluar-keluar sih. Lo paham, kan? Pacaran anak SMP alias anak baru puber yang beraninya cuma kirim-kirim pesan, bales-balesan status di wall  f*******:, atau mention-mention di twitter aja.” Bhanu diam. “Yang bener aja, lo tanya gue tahu apa enggak? Jawabannya enggak, bro.” Dharma merasa sangat kasihan hingga tawa meledek menyebur dari mulutnya. Sama sekali tidak bermaksud merendahkan pengalaman Bhanu, tapi Dharma kini sudah berpikir bahwa ada yang lebih cupu daripada dirinya yang tak pernah berpacaran sama sekali. “Haha, sorry-sorry. Gue nggak tahu kalo lo ternyata secupu itu.” “Kambing lo!” umpat Bhanu. “Ya kalo begitu doang rada beda ya sama yang sekarang? Yang sekarang sukanya ngajakin keluar, makan, sampai nonton di bioskop dan udah reservasi restoran, loh.” Bhanu sengaja melempar fakta itu kepada Dharma. Hingga ada  hentakan kecil bahu Dharma sebab itulah tujuan Bhanu, memancing emosi Dharma. Bhanu ingin membuat cowok itu seolah terus menerus dihantui sesuatu. Membuat cowok itu semakin lama akan semakin tidak nyaman dengan keputusannya untuk tidak berbuat apa-apa. Terus memicu Dharma untuk bergerak dan tidak sekedar mengacuhkan keadaan ini. “Tau dari mana?” “Tadi siang gue ketemu sama dia, dia cerita katanya mau ada ngedate sama Ben sebelum pekan UTS.” Dharma menatap Bhanu agak lama. Terdiam lama dengan tertancap lurus ke manik Bhanu. Tatapannya dalam dan sangat menjerumuskan. Mungkin berbeda dengan mata Bhanu yang selalu memiliki letupan dan kobaran api penuh semangat, kalau Dharma lebih menakutkan, lebih tidak terbaca, lebih membingungkan untuk Bhanu. Nampak memiliki arus yang tak beraturan. Nampak bingung dan gusar meskipun tidak ada 1 mili pun bola mata itu bergerak kemana-mana layaknya orang bingung pada umumnya. “Ma, lo kenapa ngeliatin gue?” kata Bhanu. “Lo kalo marah, marah aja. Nggak perlu ditahan, Ma. Lo serem kalo marah tapi nggak lo liatin, ARGH!!” pekik Bhanu melempar buku tulisnya. Dharma menggaruk pelipisnya, “Lo mau gue gimana sih, Bhanu? Menghancurkan kencan impian bersama cowok impiannya? Jangan gila lo!” Bhanu berdecak, “Hei, nggak ada salahnya, kan? Cecil bilang dia nggak nyaman sama Ben!” Dharma melotot. “Maksud lo?” ia tidak bisa percaya dengan pernyataan Bhanu sore ini. Terlalu maracau dan tak nyata padahal sudah jelas-jelas Cecil nampak menikmati waktu-waktunya itu. “Ini bukan lagi soal zodiak, bro. Gue kemarin sempat ngobrol sama Yura kalo Cecil pasti punya kehendak. Kehendak untuk tidak jatuh cinta ke Ben. Dan, ingat kalo venus dia adalah Taurus dan venus Ben adalah Gemini yang mana mereka adalah kepribadian yang berbeda.” “Semua yang berbeda jika dijadikan satu maka bisa harmoni, Bhanu.” Dharma lalu membuang muka dan fokus dengan LKS nya lagi. Ingin rasanya Bhanu membenturkan kepala ke lantai sebab ia gemas ketika keadaan genting begini, Dharma masih memikirkan tentang harmoni-harmoni itu. “Apa orang bisa tetap berdamai dan mencapai sebuah keharmonisan kalo dia nggak nyaman dan nggak jadi dirinya sendiri?” “Semua saling mempengaruhi, Bhanu.” Sumpah demi apapun, jika Dharma ini bukan sahabatnya mungkin akan Bhanu banting dan jambak berkali-kali. Tapi, Bhanu tidak bisa melakukan itu. Cowok itu hanya meninju lengan Dharma hingga ia merintih kesakitan sambil terkekeh kecil. Tidak terlalu mengindahkan emosi lawan bicaranya karena Dharma menganggap Bhanu hanya bercanda. Lagipula, prinsip Bhanu dan Dharma itu memang sudah berbeda. “Cecil pernah bilang ke gue, kalo gue nggak boleh sampai kehilangan diri sendiri.” Sahutnya. “Dharma, ayo selametin Cecil!” Dharma mengernyit dan menggeleng hebat, “Dia bukan putri yang dikurung di atas menara, Nu. Lo nggak usah lebay deh.” “Lebay?” Bhanu mendengus. “Iya lah, gue lebay orang temen gue lagi diintai sama cowok yang pinter memanipulasi cewek. Jelas gue khawatir, nggak kayak lo yang diem-diem aja. Nunggu dia dateng sampai nangis-nangis gara-gara patah hati pertamanya yang nyakitin hati. Sampai dia trauma dan males buat pacaran. Haha, goodbye, Dharma. Cinta lo juga ditolak sama Cecil nanti!” Bhanu dengan gaya sassy-nya itu. Ujar panjang lebar Bhanu yang sama sekali tidak dia pikirkan, asal nyeplos saja. Ketika dia tersadar dengan kalimat akhir yang terlontar itu, dia langsung menutup mulut, duduk dengan kakunya, ia mundur sejenak ketika Dharma lagi-lagi melihatnya penuh dengan sorot tak terdefinisikan. Wajahnya datar, sedatar dan setenang genangan air di selokan depan rumah cowok itu. Benar-benar tidak ada gerakan sama sekali. “Keliatan ya?” Bhanu menahan napasnya. Ia lupa cara bernapas. Benar-benar lupa. Otaknya mendadak pusing. Matanya membola penuh bahkan tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya sampai dia mengira kalau kedua bola matanya pasti bisa saja keluar gara-gara pengakuan Dharma itu. “A… A…” Bhanu terbata-bata, tidak mampu menanggapi kejadian ini. “Maksud lo Ben memanipulasi dia itu apa? gue pikir Cecil keliatan seneng-seneng aja. Terus kenapa gue harus ngerusuh? Nggak sopan, Bhanu. Dia bisa benci sama kita, nantinya." Bhanu mengerang keras saking sebalnya, cowok itu juga menjambak rambut dan memukulkan kepalan tangannya di lantai. Dharma hanya tersenyum mencebik kelakuan Bhanu yang geregetan dengan dirinya sendiri. “Lo mau apa sih, Nu? Lo mau Cecil nggak bisa dapetin pacar impiannya? Lo mau maksa dia untuk tetap sama kita-kita?” “Gue mau selametin dia dari cowok nggak benar, Dharma. Ben beneran berpotensi nyakitin mental Cecil. Gue nggak bisa melihat keuwuan cowok yang merayu Cecil agar dia berkata iya dan menuruti segala keinginannya sedangkan dalam hati Cecil justru dia menanyakan keberadaannya di situ bersama Ben.” Dengan begitu, sorot Dharma kini berubah. Menjadi lebih menakutkan lagi namun dengan deburan keras bak ombak yang menghantam karam. Tangannya ikut memegang ujung meja dengan dengan kuatnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD