“Bhanu, boleh ngobrol sebentar nggak?”
Cecil mengagetkan Bhanu ketika cowok itu tengah mengobrol dengan teman-teman ekskul fotografinya dulu di pinggir lapangan. Nampaknya mereka berbincang seru dan ingin mengajak Bhanu untuk membuat proyek di ekskul tersebut. Tiba-tiba Cecil menginterupsi sontak membuat teman-teman yang lain ikut tertegun melihat kehadiran cewek ekskul cheerleader yang terkenal ketus, judes, tapi sangat cantik.
“Mau apa, Cil?”
Cewek itu mengembuskan napasnya penuh dengan sirat keluh kesah. Dengusannya sampai membuat teman-teman Bhanu bergidik dan menyingkir sedikit lalu berpamitan. Sekedar memberi kedua teman tersebut ruang untuk berbicara.
“Mau ngobrol.”
“Ya itu emang lo harus sih.”
Cecil berdecak, “Nggak usah rese’ deh, Nu. Nggak usah mulai.” Katanya memperingatkan.
“Gue udah nunggu, Cecil. Gue nggak tahan liat kalian berdua diem-dieman gara-gara cowok doang.” Ia juga mengeluh, sebal rasanya. Cowok itu langsung berdiri dan berjalan menuju tempat sepi favoritnya. Kursi di bawah pohon mangga yang hari ini terlihat memiliki segerumbulan buah-buah mangga yang mulai menguning dan begitu menggiurkan itu.
Cecil duduk di sebelah Bhanu dengan agak membanting dirinya sendiri. Kekesalannya belum juga reda. Bhanu terjingkat sejenak namun acuh kemudian. Lebih memilih melihat pemandangan favoritnya di depan mata. Suasana hutan rimba namun versi latar sekolahan. Masih lekat dengan anak-anak bermain bola basket di lapangan, anak-anak berlarian, anak-anak bergerombol sambil bergosip, sampai yang berpacaran di koridor kelas seperti yang Cecil dan Ben lakukan pagi tadi.
“Nu, gue salah apa sih?”
“Kalo kata Dharma yang selalu aja belain lo itu nggak salah apa-apa sih. Tapi, kalo gue mungkin ada sesuatu yang nggak bener aja.” Katanya lalu melirik sekilas ke Cecil yang nampak tertunduk dalam. “Tapi, gue pikir gue juga salah.”
“Dharma bilang begitu?” sahutnya dan Bhanu mengangguk dalam diamnya. “Gue nggak mengira kalo keputusan gue buat merespon Kak Ben malah bikin hubungan pertemanan ini agak tegang. Gue nggak ada…,” katanya dengan mengambil napas dalam-dalam itu. “gue nggak ada maksud untuk menjauhi kalian.”
“But, you did.”
“It’s Ben!” pekiknya.
Bhanu dengan alisnya yang tertaut itu bingung, “Itu Ben. Iya tau sih kalo dia kepingin pendekatan sama gue tapi gue lama-lama ngerasa sesak aja.”
Tunggu-tunggu, apa ini yang dimaksud sama kak Bhina tadi pagi?, batin Bhanu. “Lo nggak pernah cerita sama sekali tentang Ben ke kita. Gimana caranya kita bisa tahu kondisi lo, Cecilia? Lo biasanya selalu cerita dan kasih tahu apapun saat lo ngerasa nggak nyaman atau keganggu. Lo ada apa? Dia ngapain elo sampai nggak mau cerita?”
“Duh, Bhanu. Gue bingung harus cerita darimana.” Katanya semakin membuat Bhanu merasa cewek ini semakin lama semakin tidak jelas, semakin bias, semakin terkesan menyembunyikan sesuatu. “Pokoknya, Ben itu kayak pinter banget bikin gue mood dan nggak mood gitu deh. Argh!” cewek itu mengerang sampai mengacak-acak wajahnya sendiri.
“Dia ganteng, dia pinter ngomong, dia lucu, dia pinter, dan dia juga cowok dengan prinsipnya. Dia lembut, pengasih, terus dia juga cool. Semakin lama gue kenal sama dia, semakin terjerat rasanya, makin susah keluar. Dia super-super perhatian sampai rasanya cowok kayak Kak Ben itu mustahil untuk ada.”
“Wow, sangat sempurna sekali.” Singgung Bhanu, dengan dead stare menatap Cecil. Lantas cewek itu tiba-tiba kikuk ingin melanjutkan ceritanya yang begitu hiperbola dan terkesan sangat-sangat memuja cowok itu.
“I…iya.” Ia terbata-bata. “Tapi, bukan itu juga yang gue maksud.”
“Ok, terus? Apa ketidaksempurnaan dia sampai bikin lo ngerasa sesak dan bahkan nggak mau cerita sama kita-kita? Jangan bilang lo sempat ngeliat dia lagi ngupil atau ketika kalian pakai kamar mandi secara bergantian dan ketahuan kalo dia lupa siram pipisnya? Atau lo denger dia kentut habis itu dia pamit ke kamar mandi kepingin boker di tempat umum? Atau dia lupa pakai deodorant hari itu jadi pas lo berdua balik, lo sempat nyium dia bau ketek banget,….”
“BHANU!!” seru Cecil, “Fantasi lo tuh ya?”
“Apa? Cuma berspekulasi, apa salahnya sih? Lagian masih banyak yang lewat di kepala gue misal kayak dia yang kalo makan selalu bersuara menjijikkan, atau dia yang lupa naikin resleting celananya, atau kaos kaki dia yang bau…”
“Bhanu cukup!”
“Tapi, gue belum selesai.” Sahutnya dengan senyum meledek tersungging melirik Cecil yang ikut tersenyum kecil.
“But, it’s disgusting to imagine.”
“Ya terus apa? Apa dong, Cecil?” Bhanu semakin gemas ketika Cecil tidak hendak langsung mengutarakan saja apa yang ada di pikirannya.
Cewek itu malah beringsutan, mengosok-gosok mukanya kasar, mengacak rambutnya, hingga mengerang keras terdengar kesal. “He is just too perfect.”
“F-words!!!!!” seru Bhanu.
“Geez!”
“Kalo dia terlalu sempurna buat lo, apa yang mesti disambatin sih, Cecil. Nggak guna banget. Lo kalo suka ya suka aja. Bilang sama gue, biar gue nggak penasaran. Biar Dharma juga nggak bertanya-tanya sama tingkah lo yang kegareman gara-gara ucapan provokasinya kemarin-kemarin. Lo ada apa sih jadi orang sekarang ribet amat. Lo begini ya kalo lagi suka cowok.”
Cewek itu diam saja, lalu kembali bersuara. “Bukan itu maksud gue, dia itu sempurna banget sampai bikin gue sadar kalo ketika sama dia, gue juga harus ikut-ikutan sempurna, Bhanu. Masalahnya gue sadar, gue ini siapa.” Bhanu masih diam menatap sahabatnya. “Gue ini Cecil, cewek yang galak bahkan kasar, I’m your maddog, gue suka makan banyak, gue nggak suka perintilan kayak yang cewek-cewek lain suka, gue nggak bisa dandan, gue nggak bisa bertingkah anggun bahkan ketika duduk sekalipun.” Bhanu mengangguk, iya ada benarnya. Sebab, Cecil selalu saja reflek mengangkat kaki ketika duduk, atau pahanya sedikit terbuka, cara jalannya malah cenderung seperti wanita-wanita yang siap membantai cowok-cowok jika berani menggodanya, terlihat tegap, mantap, dan tegas. Apalagi dengan kerlingan mata judesnya itu.
“Dia terlalu fantasi untuk gue yang selalu hidup di realita ini. Lo paham maksud gue, Bhanu? Gue nggak suka ketika banyak orang memperhatikan gue sedangkan Kak Ben itu sangat menarik perhatian. Gue risih!”
Bhanu lagi-lagi tertegun, seorang berzodiak Leo bisa malu kalo dikasih perhatian rupanya, batin cowok itu.
“Ada beberapa hal yang gue juga nggak suka adalah dia yang nggak membiarkan gue sendirian. Gue suka banget main, dan dia juga suka main. Dia terus ngajakin gue main bahkan dia ngajak gue buat nemenin dia belajar. Tapi, gue kan nggak mau sama dia doang, Bhanu.”
“Terus lo kenapa nggak nolak? Kenapa?”
Pertanyaan yang sukses membuat Cecil bungkam sebab pernyataannya yang terdengar begitu hipokrisis itu. “Gue tanya, kenapa nggak nolak? Bukannya lo punya hak untuk nolak?”
“SUSAH NOLAKNYA!!!!” serunya balik. “Susah nolak, nolak orang yang baik banget itu susah, Bhanu.”
“Ih, elo yang b**o kalo begitu. Nyiksa diri!!!”
“Iya, dan gue baru sadar ketika gue pas sama dia. Gue baru sadar dan baru mempertanyakan kenapa gue di sini sama dia. Gue beneran bingung sama apa yang gue sendiri lakukan dan putuskan. Ketika gue sendiri yang mengiyakan ajakannya dengan ribuan rayuan dan kata-kata manisnya yang bikin gue luluh itu, beberapa menit kemudian tingkah dia tuh kayak ngambek kalo gue nggak nurutin aja.”
“DIA FLIRTING SAMA LO?”
“Iyaaaaaaaa, dan gue ke makan dong. Hmmm.” Katanya penuh sesal. “Gue udah berkali-kali mengingatkan pada diri sendiri untuk nggak kemakan omongan manis atau rayuan cowok tapi tetep aja, susah menolak. Dia bener-bener memuji gue habis-habisan sampai gue luluh dan terpesona!”
“Kenapa kesannya dia memanipulasi elu?”
Cecil terperangah. Tidak percaya dengan apa yang Bhanu baru saja katakan. “Hei, dia emang terlihat sangat menyukai lo di awal, tapi kalo pas pendekatan aja dia bisa memanipulasi waktu hingga emosi lo kayak yang Ben lakuin itu, kalo kata gue, mending jangan. Jangan, Cecil.” Peringat Bhanu dengan kerasnya.
“Ben memuji lo secara berlebihan agar lo mau nurutin dia, itu benar-benar tindakan yang nggak sewajarnya, Cecil. Jangan sama dia!”
Bibir Cecil bergetar mendengar kata-kata Bhanu. “Hei, gue sama Dharma sayang banget sama lo. Please, cari cowok kalau bisa jangan yang bikin lo menjadi apa yang dia mau. Jadi, diri lo sendiri. Lo dulu pernah ngomong sama gue untuk jadi diri sendiri, bukan?”
“Gimana cara gue menolak, Ben? Kita ada janji besok buat nonton di bioskop sebelum minggu UTS senin besok, dan dia juga udah reservasi di restoran yang kepingin gue datengin banget.”
“Oh my god. He’s really like you or what?” katanya. “Tapi, gue nggak bisa meromantisasi hal itu ketika lo dengan jelas cerita kalo sebenarnya lo sendiri nggak nyaman sama dia. Saran gue nggak berubah, jangan jadian sama dia. Atau, kalo lo jadian sama dia, gue nggak akan dengan segan memukul muka Ben dan bikin keributan saat dia nyakiti lo.”
“Bhanu, jangan gitu ah! Kasih tau gue mesti gimana nolak Ben???”
“Tolak mah tolak aja, Cecil. Lo nyuruh gue buat ngelakuin apa? Pura-pura jadi pacar lo? Dari pada pura-pura, mending gue teriakin aja mukanya karena bikin lo kehilangan diri lo sendiri.”
Cecil hanya menghela napasnya, “Temui dia dikencan terakhir kalian, kalo dia nembak, tolak!” tambah Bhanu. "Minggu depan UTS, lebih baik belajar. Gue tahu lo pinter, kalo lo nggak belajar, setidaknya lo ajarin gue biar UTS gue lancar."
"Kenapa jadi gini?" Cecil cemberut menatap Bhanu cengengesan.