Bertemu dengan Kakek

1006 Words
Setelah selesai menyiapkan makanan, nenek pun menemui Ria dan memberikan makanan tersebut kepada Ria. "Ini nak, makanannya di coba dulu yah. habisin." ujar nenek tersebut dengan memberikan makanan kepada Ria "Ya ampun nek, repot-repot saja. makasih ya nek." ujar Ria Lily nampak begitu bahagia bermain dengan anak sebayanya. Ria pun melihat Lily ikut merasakan senang dan bahagia. Karena Ria sendiri telah menganggap Lily sebagai adiknya sendiri. "Kamu terlihat begitu mencintai Lily dengan tulus ya nak? dari mata kamu nampak kalau kamu menyayangi dirinya. Padahal kamu sendiri sebelumnya belum pernah ketemu atau mengenal hantu tersebut." ujar nenek tersebut ketika melihat Ria yang tersenyum lebar ke arah anak yang kecil yang sedang berlarian. Ria pun tersenyum dengan tipis, "Iyah nek, ntah kenapa saya merasa kayak dekat saja gitu sama Lily." Nenek tersebut memegang pundak Ria. "Santi selalu menceritakan Lily kepada saya. Dirinya sendiri sering merasa menyesal karena tak bisa menolong nyawa anaknya tersebut. Terlebih anaknya itu meninggal karena telah menolong dirinya." "Iyah nek, Lily juga sering bercerita soal keluarganya. Ria merasa kasihan banget. Bayangin saja Ria sakit hati dan nggak tega apa lagi harus merasakan hal yang sama seperti yang Lily rasakan." ujar Ria dengan meneteskan air matanya "Lily pasti begitu beruntung bisa mendapatkan teman seperti kamu Ria, Hati kamu begitu bersih. Kamu rela-relain jauh-jauh hanya untuk membantu Lily." ujar nenek tersebut dengan memegang kedua pundak Ria Ria pun tersenyum dengan lebar, "Ria senang kok nek jika harus menolong orang lain. Karena sepantasnya kita harus saling menolong kan. Dengan tak pandang bulu siapa yang kita tolong tersebut. "Oh ya, ayah Lily kan tinggal di daerah yang nggak jauh dari sini. Emang Lily belum bertemu dengan ayahnya tersebut?" tanya nenek tersebut "Sudah kok nek, tapi bukan kesenangan yang Lily dapatkan, melainkan hanyalah sebuah penderitaan. Lily selalu menangis gitu setiap kali bertemu dengan ayahnya." ujar Ria "Emang apa yang di lakukan oleh Rio kepada Lily?" tanya nenek tersebut yang merasa penasaran. "Rio seringkali ngomong kasar kepada Lily, bahkan dia pernah ngomong jika dirinya tak memiliki anak. Dengan perkataan ayahnya tersebut, Lily terus saja menangis. Apalagi waktu Rio bilang jika ibunya Lily tuh sudah meninggal dunia." "Nggak punya otak emang tuh orang. Yakali anak kecil kayak gitu harus merasakan sakit hati kayak gitu." "Ntahlah nek, Rio sendiri kan juga belum bisa berubah. Dirinya sering saja nyolong dan sekarang dia sama istrinya yang baru sama-sama masuk penjara karena melakukan kerja sama atas pencurian yang mereka lakukan di kampung mereka sendiri." "Mampus lah, dulu aja Santi sering menangis melihat kelakuan dari suaminya tersebut. Santi tiap hari harus memakan hinaan dari orang-orang sekitar dikarenakan perlakuan dari suaminya yang merugikan warga sekitar." "Ria masih bingung tahu nggak sih nek, kapan gitu Rio bisa berubah? Aku kasihan banget sama Lily, setiap kali bertemu dengan ayahnya bukan rasa nyaman dan senang yang dia dapatkan. Melainkan terus-terusan makan hati." ujar Ria Nenek tersebut pun mengangguk dengan pelan, ia mencoba meresapi apa yang Ria katakan. Nenek berharap Lily bisa bertemu dengan ibunya tersebut. "Nenek tinggal di sini sendirian kah?" tanya Ria Nenek rukayah pun menggelengkan kepalanya, Jari telunjuknya mengarah ke anak yang sedang bermain dengan Lily, "Bocah itu adalah cucu saya. Dia di tinggal bersama saya. Kedua orangnya pergi merantau." "Dimana lagi yah nek cara agar aku bisa menemukan ibu Lily?" "Kayaknya rumahnya juga masih berada di daerah jogja kok nak. Tapi nenek lupa nama daerahnya tersebut. " ujar nenek tersebut "Tak apa kok nek, Ria nggak memaksakan. kalau emang nenek lupa yah nggak usah dipaksa ingat juga. Karena jatuhnya pusing." Nenek tersebut pun tersenyum tipis. Dirinya menanyakan kepada Ria soal kakaknya Lily. "Kata Santi, Lily punya kakak perempuan. Dan dia meninggal tak wajar di sekolahnya. Sindi sempat shok berat dan stres waktu itu, namun, keberadaan Lily, bisa menetralkan kondisi tersebut. Hingga akhirnya titik terendah Santi pun datang. Yaitu waktu kematian dari Lily. Dia seperti mayat hidup. Hidupnya tak memiliki tujuan apapun. Karena kedua anak yang ia sayangi sudah meninggal dunia semua dengan tragis." nenek tersebut meneteskan air mata "Nenek waktu itu begitu sangat kasihan sama dirinya, kenapa takdir selalu bermain kepadanya. Dan begitu tak adil." ujar nenek tersebut "Saya juga mengaku kaget nek mendengar cerita hidup Lily. Ria sungguh merasakan kasihan melihat Lily yang terus menangis dan mengeluh soal ibunya. Dia merindukan ibunya hingga sekarang. Ayahnya masih saja tak berubah, malah nggak punya penyesalan atau rasa bersalah sama sekali karena sudah membunuh anaknya sendiri." ujar Ria yang gregetan kepada Rio Nenek pun ngomong jika Rio mungkin memiliki kelainan otak, sehingga tidak bisa berfikir dengan jernih. Ria pun mengangguk pelan dan tertawa. Ria melirik Lily yang masih bermain kejar-kejaran bersama temannya tersebut. Sementara Melisa masih belum kembali menemui Ria, dirinya pergi jalan-jalan menikmati suasana sawah di dana. "Saya sendiri kagum nek dengan Lily, di umur dia sebelia itu, masih saja memiliki sifat yang baik kepada orang yang telah membunuhnya tersebut. Walau dia selalu di kecewakan, dirinya tak memiliki dendam sedikitpun. Malah dirinya merasa sayang banget sama sosok ayahnya tersebut. Itulah yang membuat saya kagum, tapi kadang juga jengkel gitu." Nenek tersebut pun tersenyum tipis. "Lily memang seperti itu orangnya, dia tidak bisa membenci orang terdekatnya, walaupun orang tersebut sudah melukai dan membunuhnya.Lily adalah anak yang baik nak, saya minta sama kamu, tolong tetap jaga Lily. jika sudah waktunya, dia pasti akan bertemu dengan ibunya tersebut kok." Ria pun mengangguk dengan pelan. Tak berselang lama, Ada seorang kakek-kakek yang menghampiri mereka dengan membawa cangkul di pundaknya. Dimana kakek tersebut sama persis dengan orang yang telah menemui Ria sebelum nya dan bilang jika Santi tinggal di sebuah gubuk di tengah sawah. "Kakek," ujar Ria yang merasa terkejut Kakek tersebut pun mengangguk dengan pelan sembari tersenyum ke arahnya. "Apa kamu sudah menemukan Santi?" tanya kakek tersebut Ria pun menggelengkan kepalanya. "Menemukan gimana coba pah, Santi kan sudah tidak berada di sini lagi." ujar nenek tersebut kepada suaminya "Oh yah lupa, maaf ya nak. kamu pasti capek jauh-jauh ke sini." ujar kakek tersebut "Nggak juga kok kek, Ria senang bisa ke sini. Apalagi di sini suasananya sangat indah dan juga sejuk. Ria merasa nyaman dan betah jika terus berada di sini." ujar Ria
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD