Ria pun merasa kasihan kepada bocah tersebut. Dimana seumur nya harus tinggal tanpa kedua orang tua.
"Kalau mau makan adek gimana emangnya? kan rumah adek juga jauh dari rumah warga sekitar?" tanya Ria
"Saya ngamen kak, uang ngamen saya buat jajan dan makan saya sehari-hari." ujar Bocah tersebut
Ria pun hampir meneteskan air mata, "Adek sudah makan belum sekarang?"
Bocah tersebut pun menggelengkan kepala. Karena merasa kasihan Ria pun pergi mencarikan makanan untuk bocah tersebut.
Hingga akhirnya Ria. menemukan salah satu warteg di sana. Ria pun memesan nasi dia porsi dan dua es teh untuk dirinya dan anak kecil tersebut.
Setelah Ria mendapatkan pesanannya, Ria pun ke rumah anak kecil tersebut.
Ria segera memberikan makanan ke bocah tersebut. Tak berselang lama makanan tersebut habis di makan oleh anak kecil tersebut.
"Laper yah? hahaah." ledek Ria
Anak kecil tersebut pun tertawa dan mengucapkan terimakasih kepada Ria karena telah memberikannya makanan.
"Emang nama kamu siapa?" tanya Ria
"Nama saya Aldi kak, kalau kakak?" tanya Aldi
"Saya Ria. Panggil saja kak Ria. Oh ya Al, emang kamu nggak takut tinggal sendirian di sini sendiri?"
"Nggak kak, sudah biasa lah. Dulu emang takut karena belum ngerasain jauh dari orang tua. Tapi sekarang makin kesini jadi terbiasa jauh dari orang tua."
Ria mengangguk dengan pelan. Dirinya kagum akan Aldi, dimana di umurnya yang sepuluh tahun sudah bisa mandiri tanpa di dampingi oleh siapapun.
Ria pun mulai memegang pundak Aldi sembari tersenyum ke arahnya.
"Oh ya Al. Di sekitar sini masih ada gubuk yang berada di tengah-tengah sawah lagi nggak sih?" tanya Ria
"Setahu Aldi disini nggak ada gubuk lagi selain gubuk yang Aldi tinggali." ujar Aldi
Ria pun berfikir jika rumah gubuk tersebut masih bisa di temukan di sawah yang satunya.
Ria bingung sendiri, mau ninggalin Aldi atau tidak. Karena dia merasa kasihan jika harus meninggalkan Aldi sendirian di sana. Namun, Di sisi lain Ria bingung harus berbuat apa. Sindi dan Hendri pasti akan marah besar kepada Ria ketika dia mengajak orang yang belum Ria kenal lama.
Hingga akhirnya Ria pamitan kepada Aldi. Ria mulai melanjutkan mencari Santi ke sawah yang lainnya.
Karena jaraknya lumayan jauh, akhirnya Ria pergi menaiki ojek yang sedang mangkal tersebut.
Sampai di sawah, Ria melanjutkan perjalannya dengan jalan kaki. Sawah yang saat ini jauh berbeda dengan yang lainnya. Di sana sangat sejuk, terlihat air yang mengalir di bawah jembatan begitu bening. Ikan warna-warni yang ada di dalam air tersebut menambah keindahan sawah tersebut. Di depan, Ria bisa melihat gunung dengan dekat.
Di sana pun banyak anak kecil yang sedang bermain layangan di jalan setapak sawah.
Melihat pemandangan tersebut, Ria merasa betah jika terus-terusan berada di sana.
"Aku tak pernah melihat pemandangan ini sebelumnya. Disini tempatnya begitu indah dan sejuk." ujar Ria
"Iyah kak, disini bagus banget, beda banget sama sawah yang lainnya." sambung Lily
Ria pun terus berjalan menelusuri jalan setapak tersebut. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah gubuk dengan cat yang warna-warni, gubuk tersebut nampak indah dengan balutan chat yang menghiasinya.
Ria pun mulai mengetuk pintu gubuk tersebut, Namun tak ada yang menjawabnya. Ria terus-terusan mengetuk pintu tersebut. Hingga keluar seorang nenek-nenek tua.
"Assalamu'alaikum nek, maaf yah Ria menganggu. Ria mau nanya nek, apakah nenek kenal dengan orang yang namanya santi?" tanya Ria
"Santi? Dulu dia berada di sini. Tapi, beberapa bulan lalu dia pergi ntah kemana. Katanya sih mau tinggal di rumahnya yang dulu saja." ujar nenek tersebut
Ria pun bingung, yang di maksud nenek tersebut sama atau tidak dengan Santi yang sedang mereka cari.
"Nek, apakah Santi yang nenek maksud tersebut sudah memiliki anak?" tanya Ria
"Waktu dia pertama kali kesini, dia menangis dan bilang kalau dirinya nggak kuat lagi sama kelakuan suaminya, Dia juga cerita kalau anaknya yang kecil tersebut dibunuh oleh suaminya sendiri. Sementara anaknya yang besar harus mati tragis di sekolahannya." jelas nenek tersebut
Lily pun terkejut, apa yang diomongkan oleh nenek tersebut sama persis dengan kisah Ria.
"Nek, apa yang nenek omongan barusan sama dengan kisah dari Santi yang sedang Ria cari." ujar Ria
"Benarkah nak? tapi sayang, dia sudah tidak berada lagi di sini. Dia merindukan kenangan-kenangan yang ada di rumahnya tersebut." ucap nenek tersebut
"Apa nenek tahu dimana alamat rumahnya?" tanya Ria
Nenek pun mencoba memikirkan nama daerah yang menjadi tempat asal Santi. Berusaha nenek tersebut mengingatnya, dirinya masih belum menemukan alamat Santi.
"Maafin nenek yah nak, nenek sudah berusaha ingat namun lupa. Maklum lah pikiran tua. Heheh."
Ria pun tertawa kecil, dirinya merasa sedikit kecewa karena masih belum bisa menemukan alamat dari Santi.
"Kakak namanya siapa?" tanya salah satu anak kecil
Dia mengarahkan tangannya ke arah Lily. Mereka pun terkejut dengan tingkah yang anak tersebut berikan.
"Kowe iki rep kenalan mbi sopo toh le, jelas-jelas ning ngarepmu kuwi ora ono wong. Wong e iku ning sisihmu loh. Ria." ujar nenek tersebut
"Nenek. Ning kene wi ono wong telu. mbak Ria, gadis ini, dan kakak ini." ujar bocah tersebut dengan menunjuk satu-satu
Nenek tersebut pun kebingungan dengan apa yang di katakan oleh anak tersebut.
"Emang kamu kesini nggak sendirian?" tanya nenek tersebut kepada Ria
Ria pun kebingungan harus menjawab dengan jawaban apa.
Ria pun menggelengkan kepala, "Maaf yah nek, Ria kesini mengajak teman-teman Ria. Dan apa yang diucapkan oleh adik ini benar adanya. Disini ada aku, Lily dan Melisa."
"Lily? nenek pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi apa yah." nenek tersebut berusaha untuk mengingatnya.
"Oh, Lily itu anaknya Santi kan?" tanya nenek tersebut
Ria pun menganggukan kepalanya dengan pelan, "Iyah nek, Lily merupakan anak dari Santi."
"Terus kamu siapanya Santi?" tanya nenek tersebut
Ria pun menceritakan awal mula dia bertemu dengan Lily. Nenek tersebut pun paham dan mengerti.
Ria melihat Lily yang sedang bermain dengan anak kecil tadi. Ria melihat mereka dengan tersenyum.
"Kamu begitu baik nak, kamu mau menolong orang nggak nggak kamu kenal sama sekali. Apa lagi yang kamu hadapin saat ini adalah orang yang telah mati." ujar nenek tersebut dengan mengelus rambut Ria
Ria pun tersenyum kepada nenek tersebut. Nenek itu bernama Rukaya. Nenek Rukaya pun pamit untuk masuk ke dalam, Dia mulai mengambilkan berbagai makanan dan minuman untuk Ria.