Mencari tahu akan Alisa

1051 Words
Sampai di rumah, Ria segera mengambil laptop yang berada di meja belajarnya. Ia ingin mencari tahu tentang sekolahnya tersebut. Karena dia penasaran akan sosok hitam yang terus membayangi dan meneror sekolah Tunas Bangsa. Dalam waktu lama, Ria tak berhasil membongkar sosok tersebut. Data tentang sekolahnya begitu tersembunyi, hanya orang tertentu yang bisa membuka situs tersebut. Ria menutup laptopnya dengan kesal. Namun, dirinya tak mau menyerah sampai sana, sebelum rasa penasarannya terbongkar. “Ria, makan dulu nak!” ujar Sindi “Iyah Mah.” Ria keluar dari kamar, dan menuju ke dapur menghampiri mamahnya Ria mulai mengambil nasi dan lauk di depannya. Di tengah ia melahap makanan di depannya, ia teringat akan sosok yang merasa sakit dengan menyentuh tubuhnya. Ria mulai menanyakan ibunya tentang kejadian yang ia alami tersebut. Namun, Sindi tak memberi jawaban apa pun, ia hanya meminta Ria untuk terus menjaga dirinya. Sindi juga meminta agar Ria selalu memakai kalung pemberian dari neneknya tersebut. Karena kalung itu telah turun temurun dalam keluarganya. Ria mengangguk pelan, dan berjanji akan selalu memakai kalung tersebut. Namun, dalam hatinya ia masih ragu. Ia berfikir jika ibunya menyembunyikan sesuatu darinya. “Mah, apa Ma..?” Ketika Ria hendak bertanya apa yang Sindi sembunyikan, kedatangan ayahnya membuatnya terdiam. Mengetahui Hendri telah pulang, Sindi pun segera menghampiri dirinya, “Eh, Ayah dah pulang.” Hendri menghampiri Ria dan makan bersama. Di tengah mereka makan, Ria merasa ada yang memperhatikan ia dan keluarganya. Ria menoleh di sekeliling rumahnya. Di jendela dapur, ia melihat sosok bayangan hitam yang sedang memantaunya. Ria segera mendekati bayangan tersebut, belum sempat ia mendekat, bayangan itu telah hilang. Ria merasa jika bayangan tersebut adalah sosok gadis yang selalu ia lihat di sekolah. Namun, jika memang instingnya itu benar, apa tujuan sosok tersebut datang ke rumah Ria. “Ria ada apa sih Nak?” tanya Hendri “Nggak apa-apa kok Ayah, tadi ada kucing saja, takutnya malah ambil ikan.” Jawab Ria “Ya udah lanjut in makan kamu sana!” ujar Sindi Ria pun kembali ke meja makannya, ia melanjutkan makan bersama ayah dan ibunya. Selesai makan, Ria pergi ke kamar untuk menyelesaikan tugas kemarin. Setelah Ria mengeluarkan buku di meja nya. Waktu ia menoleh, di kasurnya telah ada sosok gadis yang duduk. Ria begitu terkejut melihat sosok tersebut. Sosok itu pun datang menghampiri Ria. “Kamu mau ngapain ke sini? Kenapa kamu selalu mengganggu aku? Salah apa aku sama kamu?” ucap Ria Hendri dan Sindi yang mendengar teriakan Ria, langsung datang menghampiri anaknya tersebut. Dalam waktu sekejap, sosok tersebut telah hilang di hadapan Ria. “Kamu kenapa sih nak?” tanya Sindi dengan memeluk Ria Dada Ria masih berdegup dengan kencang di pelukan Sindi. “Kenapa ya sosok itu terus-terusan menemui ku?” batin Ria Sindi menyuruh Hendri untuk pergi, agar dirinya yang menemani Ria di kamarnya. Hendri pun pergi meninggalkan anak dan istrinya. “Kenapa Ria? Coba cerita ke Mamah!” ujar Sindi “Mah, Ria takut. Sosok gadis yang sering Ria lihat di sekolah selalu datang menghampiri Ria. Bahkan Ria lihat dia di sini Mah,” jawab Ria Sindi mengerutkan dahinya, “Kamu nggak perlu takut nak, selama kalung itu masih bersamamu, hantu tersebut tak akan bisa melukai dirimu.” Ria bingung mendengarkan mamanya, ia memegang kalung yang berada di lehernya. Kalung itu tampak biasa saja. Sindi tersenyum ke arah Ria, “Jangan sampai kau lepaskan kalungmu itu, karena itu sangat penting buat perlindungan dirimu.” Ria mengangguk pelan mendengarkan Sindi, dirinya berjanji kepada mamanya tersebut untuk selalu mengingat perkataan mamahnya, ia tak akan melepaskan kalungnya sampai kapan pun. *** Keesokan harinya, Ria bersiap untuk pergi ke sekolah, ia mulai mandi dan memakai seragam miliknya. Setelah sarapan, Ria pun berangkat menggunakan motor miliknya. Sampai di sekolah, Ria melihat arah di sekeliling sekolah. Bangunan yang masih bagus dan lingkungan yang bersih. Siapa sangka Sekolah yang terbilang favorit tersebut menyimpan sebuah rahasia besar. Dimana rahasia tersebut masih tertata rapi, tak ada yang bisa membongkarnya. Ria sendiri masih belum menemukan cara untuk mengetahui password situs data tersebut. “Ria,” panggil Dita Ria melihat Dita dengan tersenyum, Ria tak mau niatnya terbongkar, walau di hadapan sahabatnya sendiri. “Napa si loh, akhir-akhir ini bengong mulu kerjanya,” ucap Dita “Daripada gangguin orang mulu,” jawab Ria dengan meledek Dita “Siapa yang gangguin? Aku?” tanya Dita kebingungan Ria bergegas pergi ke kelasnya. Sampai di depan pintu, sosok tersebut telah duduk di kursi Ria. Karena nggak mau membuat semua temannya ketakutan, Ria berusaha untuk tenang. Setelah sosok tersebut melihat Ria, dia datang menghampiri Ria. Ketika sosok tersebut memegang tubuh Ria, sosok tersebut menjerit kesakitan dan pergi dari sana. “Ria, sini cepetan duduk,” ucap Dita Ria mengangguk pelan dan datang menghampiri Dita. Tak lama, guru datang. Semua siswa mengeluarkan buku pelajaran sejarah. Guru di depan pun mulai menerangkan materi yang ia bawa. Tak jarang guru melemparkan pertanyaan, agar para siswanya bisa fokus dalam materi yang ia terangkan. Kali ini pelajaran berlangsung dengan lancar, tak ada sosok tersebut yang kembali meneror sekolah Tunas Bangsa. Ria pun nyaman, karena bisa merasakan ketenangan dalam mencari ilmu. Sekolah tanpa teror inilah yang Ria harapkan dari dulu. Setelah guru sejarah selesai menerangkan, ia pun memberi tugas kepada semua siswa untuk menyelesaikan dalam kurun waktu tertentu. Siapa yang tidak tepat waktu, ia akan dihukum membersihkan WC. Ria dan teman-temannya bergerak cepat, karena tak mau mendapatkan hukuman. Hingga akhirnya, Ria dan Dita berhasil dengan tepat waktu menyelesaikan tugasnya tersebut, sementara teman-temannya, masih ada dua orang yang belum mengumpulkan. Karena waktu telah habis, guru di depan mulai menyuruh dua cowok tadi pergi ke toilet belakang untuk melakukan hukuman mereka. Mereka pun pergi ke toilet dengan bersama. Tak lama, terdengar suara jeritan dari cowok tersebut, karena penasaran, seluruh siswa keluar dari dalam kelas mereka. Semua siswa dan guru berlarian ke arah toilet belakang. Sampai sana mereka mendapati darah yang mengalir dengan deras. Karena merasa takut, guru segera menelepon ambulance untuk datang. Mereka berdua tersungkur lemas di dalam lantai toilet. Ria melihat sosok tersebut tersenyum puas dengan apa yang ia lakukan, “Bahaya juga, tapi gimana cara aku untuk mengusirnya, sementara aku sendiri tak tahu dia berasal dari mana.” “Ria, aku takut. Ini sekolah kenapa si? Ada saja yang terjadi,” ujar Dita dengan memeluk tangan Ria Ria menggelengkan kepalanya, dia sendiri masih belum mengerti akan tujuan sosok tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD