Ambulance pun datang, kedua cowok tersebut diangkut di dalam ambulance untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.
Sosok tersebut masih menatap Ria dengan wajah tersenyum. Sementara Ria sendiri masih melihat ambulance yang hendak pergi.
“Punya dendam apa hantu tersebut? Hingga melukai teman-teman aku seperti itu,” batin Ria
Kepala sekolah memerintah kepada semua murid untuk kembali ke kelasnya masing-masing. Mereka pun beranjak dan berhamburan pergi ke kelas.
Semua murid merasa heran dan takut akan sekolah Tunas Bangsa. Adanya kejadian-kejadian aneh, membuat mereka tak bisa fokus dengan pelajaran yang ada.
Terdengar suara pengumuman di loteng kelas, kepala sekolah mengimbau besok untuk memakai baju muslim. Karena akan diadakan doa bersama.
Ria tersenyum, dia setuju akan acara tersebut. Ia berharap dengan adanya acara tersebut, sosok gadis tersebut hilang dari sekolah Ria dan berhenti meneror sekolahnya tersebut.
Bel pulang pun berbunyi, Ria segera membereskan buku di atas mejanya. Ria mengajak Dita untuk pulang bersama, mereka ingin berhenti makan di salah satu Cafe terdekat dari sekolah Ria.
Ria dan Dita pun memesan makanan yang mereka inginkan, Ria memesan makanan favorit dirinya, yaitu ayam geprek.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Ria mengambil ponselnya untuk melakukan Selfi berdua dengan Dita. Selesai melakukan pemotretan, Ria segera mengecek hasil foto tersebut, begitu kagetnya mereka melihat gadis yang ikut berfoto di tengah mereka. Ria melihat satu persatu orang di ruangan tersebut, dimana tak ada yang mirip dengan sosok gadis yang ikut berfoto dengan Ria dan Dita.
“Hi, nggak di sini, nggak di sekolah. Bawaannya seram.” ujar Dita dengan memeluk tangan Ria
Terlihat ada sosok gadis termenung di pojok Cafe, gadis tersebut sama dengan sosok yang ada di foto.
Ria pun segera beranjak dari kursi, dan menghampiri sosok tersebut, “Adek, kenapa kamu di sini? Kamu lagi ngapain di sini?”
Sosok tersebut melihat Ria dengan penuh berani, “Aku sedang menunggu kakak aku.”
Ria melihat sosok tersebut dengan penuh kebingungan, “Kakaknya hantu juga nggak ya?” hati Ria bertanya-tanya.
Dita yang melihat Ria dipojok sendirian, ia segera menghampiri sahabatnya tersebut, “He Ria, kamu ngapain coba di sini?”
Ria terkejut mendengar suara Dita, ia segera berdiri dan mengajaknya kembali ke tempatnya semula. Pelayan pun datang membawakan pesanan mereka.
Belum sempat Ria makan, sosok anak kecil tersebut telah duduk di sampingnya. Ria melihat sosok tersebut dengan tersenyum sembari mengambil sesuap nasi di depannya. Dirinya merasa jika sosok di depannya tersebut baik, tidak ada niatan untuk mengganggu.
Dita melahap habis makanan di depannya. Begitu pun dengan Ria. Selesai makan mereka keluar dari Cafe dan langsung pulang.
Sampai di rumah sosok tersebut telah berada di samping Ria. Ia mengikuti Ria dari Cafe sebelumnya.
“Kamu ngapain ikuti aku dari tadi?” tanya Ria
“Aku ingin ikut Kakak, di sana aku merasa kesepian tak mempunyai teman,” jawab sosok tersebut
Karena kasihan, Ria mengajak hantu tersebut untuk masuk ke dalam rumahnya. Dalam benak Ria berinisiatif membantu mempertemukan hantu di depannya tersebut dengan kakaknya.
Ria menanyakan ciri-ciri kakak dari hantu tersebut. Sosok tersebut menjawab jika kakaknya itu cantik. Namun, kakaknya pernah berbicara sebelum kakaknya tersebut meninggalkan dirinya, jika ia akan membalas dendam terhadap semua orang yang melakukan pembunuhan kepada kakaknya.
Ria mengangguk pelan dan mencoba meresapi cerita yang disampaikan oleh hantu kecil tersebut.
Melihat boneka di atas tempat tidur Ria, membuat hantu tersebut terlihat kegirangan. Ia mengayunkan boneka selayaknya anak kecil bermain pada umumnya.
Tak berselang lama, ibu dan ayah Ria pulang dari pekerjaannya. Ria yang mendengar bunyi motor kedua orangnya, langsung menghampiri mereka ke depan rumah.
“Ayah, Mamah, kalian sudah pulang,” sambut Ria dengan bahagia
“Iyah sayang.” Ucap Sindi dengan mencium kening Ria
Mereka bertiga pun kembali ke dalam rumah untuk makan bersama. Melihat keluarga yang terkumpul membuat gadis kecil tersebut terharu. Ia mulai berjalan ke arah jendela luar rumah Ria. Melihat hantu tersebut termenung, Ria langsung menghampiri dirinya.
“Adek namanya siapa?” tanya Ria
“Namaku Lili Kak,” ujar hantu kecil tersebut
“Terus Lili kenapa terlihat sedih?”
Lili memalingkan wajahnya ke luar. Ia mulai menceritakan masa hidupnya kepada Ria. Bahwasanya selama hidup ia tak pernah merasakan seperti yang Ria rasakan. Kedua orang tuanya selalu saja bertengkar. Hingga ia jarang mendapatkan kenyamanan di rumahnya sendiri.
Pada saat kedua orang tuanya bertengkar hebat, dan hendak memukul ibunya menggunakan gelas. Lili segera menghampiri mereka dengan maksud melindungi ibunya tersebut. Hingga akhirnya gelas tersebut jatuh tepat di wajah Lili. Waktu itu, Lili masih bisa bertahan walau darahnya terus mengalir.
Tak mau anaknya terus jadi penghalang, Ayah Lili mulai membawanya ke belakang rumah dengan maksud memotong tubuh Lili. Ibu Lili sendiri telah berusaha menghentikan suaminya tersebut, namun ia ditahan di kamar dengan pintu yang terkunci.
Ayah Lili menguburkan tubuh Lili yang telah berserakan ke belakang rumahnya. Tepatnya di samping pembuangan kotoran sapi.
“Selain aku ingin bertemu dengan Kakak aku, aku juga ingin meminta tolong kepada manusia untuk menguburkan jasad ku dengan layak,” ujar Lili
Ria mulai meneteskan air mata mendengarkan cerita Lili yang begitu tragis. Sejak itu, Lili selalu berada di samping Ria. Ria juga berjanji akan berusaha untuk membantu Lili.
***
Alarm di pagi hari telah berbunyi, Ria segera bersiap diri untuk berangkat ke sekolah. Selesai bersiap ia langsung menuju dapur untuk sarapan dengan di temani oleh Lili.
Ria berjalan menuju bagasi untuk mengambil sepeda motornya. Selesai memarkirkan motornya di sekolah, Ria mulai berjalan menuju kelasnya.
Ria terkejut akan sosok Lili yang telah ada di sampingnya dengan menirukan gaya Ria berjalan.
“Kok kamu ke sini?” tanya Ria
“Aku ingin selalu bersama kakak, dimana pun kakak berada,” ujar Lili dengan tersenyum
Ria tersenyum melihat Lili, ia menghentikan langkah kakinya dan menekuk lututnya, “Tapi, kakak takut jika kamu kenapa-napa. Karena di sini ada hantu yang sangat jahat.”
Ria berusaha memastikan Lili akan ia bisa kembali, karena merasa cemas jika hantu tersebut melukai Lili. Terlebih selama ini hantu di sekolahnya itu berusaha untuk menyerang Ria.
Namun, Lili tak mau menuruti permintaan Ria. Ia berkeras hati untuk selalu berada di samping Ria. Walau dalam keadaan apa pun ia tak akan pernah tenang untuk meninggalkan Ria.
Ria terharu akan ucapan dari Lili. Ria pun mengajak Lili untuk berjalan menuju kelasnya.
Melihat Ria di depan pintu, Dita langsung menghampiri Ria dengan mata yang sembab. Ia memeluk Ria dengan menangis tersedu-sedu.