Lily menghilang

1002 Words
Begitu terkejutnya Ria melihat sosok sahabatnya menangis di pelukannya, "Kamu kenapa Dita?" Dita melepaskan pelukannya dan mengusap kedua pipi yang telah basah akan air matanya, "Aku takut Ri, sekolah ini sudah tidak aman lagi. Aku takut kalau harus berpisah sama kamu." Ria mendekam mulut Dita. Ia tak ingin Dita ngomong yang tidak-tidak. dimana itu bisa membuat dirinya semakin ketakutan. Ria merangkul pundak Dita menuju bangku mereka berdua. Bel masuk pun berbunyi, terlihat seorang guru mulai memasuki kelas mereka. Semua murid serentak mendengarkan penjelasan dari apa yang guru sampaikan. Tak berselang lama, Ria melihat Alisa di jendela kelas. Tatapan Alisa tak nampak seperti biasanya. Dalam sekejap Alisa menghilang dari hadapan Ria. "Mengapa Alisa berbeda ya dari biasanya?" tanya Ria dalam benaknya. *** Bel istirahat pun berbunyi. Ria dan teman-temannya segera berlari ke luar kelas. Ria mencari keberadaan Lily. Namun, dirinya tak juga menemukan tanda-tanda adanya Lily. Rasa cemas kini kembali menghampiri Ria, dirinya begitu khawatir akan nasib Lily di sekolahnya. Keberadaan Alisa membuat ketakutan Ria semakin besar akan keselamatan Lily. "Bagaimana jika Lily kenapa-napa? aku takut banget deh," batin Ria *** Melihat sahabatnya yang begitu cemas, Dita langsung menghampiri Ria, "Heh Ria, kamu kenapa si kayak orang ketakutan kayak gitu?" "Lily menghilang Dit," jawab Ria "Hah, Lily? sejak kapan kita punya teman yang namanya Lily?" tanya Dita kebingungan "Duh, aku lupa lagi kalau Dita tuh nggak bisa lihat hantu." "Ria, siapa Lily? sampai-sampai kamu ketakutan seperti itu." Ria alasan jika Lily adalah kucing yang Ria temukan. Dalam benak Dita sendiri, dirinya masih belum bisa percaya akan sosok kucing yang Ria sebut Lily. Ria mengajak Dita menuju ke kantin. Dalam benak Ria, masih terbayang akan sosok Lily. Sepanjang jalan mata Ria tak berhenti melihat sekitar tanpa sepengetahuan dari Dita. "Ria....," suara sayu kini terdengar di telinga Ria. Dirinya tersenyum karena yakin jika itu adalah suara dari Lily. Dengan cepat Ria menoleh ke arah belakangnya. betapa senangnya ia melihat sosok Lily yang tersenyum manis ke arahnya. Ria menyuruh Dita untuk pergi duluan ke kantin. Sementara dirinya pergi menuju kearah Lily. "Kamu darimana sih? aku takut kamu kenapa-napa." Ria meneteskan air mata "Maafin aku. Aku merasakan energi kakak di sini. Tapi, aku juga menemukan keberadaan kakak." ucap Lily sedih Ria memikirkan apa ucapan dari Lily. Bunyi telefon yang terdengar membuat Ria terkejut dimana itu merupakan panggilan dari Dita. Ria menggandeng tangan Lily dan memintanya untuk selalu berada di samping Ria. Lily tersenyum dan menuruti akan permintaan Ria. Sampai di kantin, Ria segera menghampiri meja Dita. "Kamu kok beda sih Ria, tadi sedih sekarang kayak orang yang sedang mendapatkan kejutan besar," ucap Dita Ria tersenyum dan memanggil seorang ibu untuk memesan makanan. "Emangnya Lily sudah ketemu ya? kok kamu girang begitu?" tanya Dita "Iyah, tadi aku lihat Lily. ia tersenyum manis ke arahku. Seketika energi di tubuhku terisi dengan penuh karena senyuman darinya." "Semanis apa coba senyuman kucing? setahu aku kucing tuh nyebelin deh. Sifat manja dan baiknya ia keluarin ketika merasa lapar doang perasaan." "Kamu sih kurang beruntung. Belum pernah ketemu sama kucing semanis Lily." Lily melihat Ria dengan cemberut, karena dirinya tak mau disamakan oleh sosok kucing yang Ria dan Dita bicarakan. Ekspresi yang Lily keluarkan membuat Ria berhenti membahas akan Lily. Makanan Ria yang telah sampai membuat Ria dan Dita segera melahap habis makanan di depan mereka. "Eh Ria. Kok tumben ya sekolah hari ini aman damai gitu? kamu merasa aneh nggak sih Ri?" tanya Dita Ria meresapi apa yang Dita omongkan. Dirinya juga berfikir hal yang sama seperti apa yang Dita fikirkan. Ada yang aneh dengan hari ini. Dengan adanya Lily, Ria merasa jauh lebih aman dan tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dimana tadi Alisa sempat muncul di hadapan Ria. Dan anehnya Alisa tak berbuat jahat sedikitpun. ia langsung pergi meninggalkan kelas Ria. Ria merasa ada yang ganjal akan keberadaan Lily dengan perbuatan yang Alisa lakukan kepada sekolahnya. "Heh Ria, kamu ngapain sih bengong? katanya Lily sudah ketemu? kok masih bengong kayak gitu sih?" tanya Dita "Nggak, aku cuma menikmati makanan ini saja. kok bisa seenak ini gitu loh." "Emang masakan emak lu nggak enak apa?" "Ya enak tapi dari sekian banyak toko yang aku jelajahi cuma ini yang bumbu seblak nya paling juara." "Iyah sih, tapi porsinya juga berbeda. yang lain banyak, kalau ini mah dapat dikit isinya." "Ah lu Dit, kalau mau banyak mah masak sana sendiri." Bunyi bel masuk yang telah berbunyi membuat mereka buru-buru menghabiskan seblak di hadapan mereka. Ria dan Dita segera berlari menuju kelas mereka berdua. Tak lama guru datang untuk memulai mata pelajaran bahasa Indonesia. dimana merupakan mata pelajaran yang menurut Ria susah-susah gampang. Guru mulai menerangkan materi di papan tulis yang telah tersedia. Setelah menyampaikan beberapa materi, ia meminta semua muridnya untuk membuat cerpen. Melihat Lily di belakang membuat Ria mendapatkan Ide untuk menceritakan kisah Lily di masa lalunya. Sebelum melakukan itu semua, Ria meminta izin kepada Lily atas apa yang ia pikirkan sebelumnya. Lily tak begitu keberatan akan permintaan dari Ria. Lily menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Ria pun segera menulis akan masa lalu Lily. Di samping Ria, Lily membantu Ria untuk mengerjakan itu semua. Dari apa yang Lily omongkan membuat Ria semakin kasihan akan sosok hantu di depannya tersebut. Dimana anak sekecil Lily harus kehilangan masa depannya sendiri karena ayahnya. Ria menulis dengan meneteskan air mata. Lily yang melihat air mata jauh di pipi Ria membuat Lily menghapus air mata tersebut. "Kamu jangan menangis kak, nanti aku juga ikut nangis kalau kakak Ria nangis," ucap Lily Dita yang menyadari Ria menangis, ia memegang tangan sahabatnya tersebut dan mengusap air mata Ria yang terus berjatuhan. "kamu kenapa menangis Ria? emangnya kamu menulis tentang apa? kok bisa menangis kayak gini?" "Nggak kok Dit, aku cuma sedih aja ikut terbawa suasana." "Sudah dong masak sudah gede masih nangis. emang kamu nggak malu kalau dilihat yang lain?" "Ih, Dita." Dita tersenyum dan mengelus bahu Ria, ia berusaha menenangkan Ria dari rasa sedih yang Dita sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Dita kembali menulis cerpen yang ada di depannya, begitu pun dengan Ria. Ia melanjutkan menulis akan kisah dari Lily.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD