Teror kembali

1013 Words
"Anak-anak silahkan kumpulkan tugas yang ibu kasih di meja yah!" seru guru *** Bel pulang pun berbunyi, semua murid berhamburan pergi ke keluar kelas. Terdengar semua murid membicarakan Alisa, dimana di hari ini ia tidak berulah sama sekali terhadap sekolah Ria. "Kak, siapa yang mereka bicarakan?" tanya Riri kepada Ria Ria menghembuskan nafas pelan. Ria bermaksud untuk memberitahu Riri jika sudah sampai ke rumah. Ria menuju parkir untuk mengambil motor miliknya. Sepanjang jalan, pikirannya tak terlepas dari sosok Alisa. "Aku masih penasaran deh sama Alisa. kenapa ya di pagi ini dia tidak melakukan apapun," batin Ria Sampai di rumah Ria bergegas untuk ganti pakaian. "Kak, katanya kakak mau kasih tau soal hantu di sekolah kakak." "Lily, di sekolah kakak itu ada sosok hantu yang jahat banget. Tiap hari suka meneror sekolah kakak. Tapi, sejak kamu ada ikut kakak tadi hantu itu tidak berulah lagi. Makanya semua orang tadi heran." "Mungkin dia takut sama aku," celoteh Lily Ria tertawa mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Lily tersebut. Ria beranjak dari kamarnya dan pergi menuju dapur untuk makan. Terlihat Lily bengong, Ria yang mengetahuinya langsung memergoki dirinya. "Lily, apa yang kamu pikirkan?" tanya Ria "Aku masih penasaran dengan sekolah kakak, di sana aku merasakan energi kakak aku sangat kuat. Tapi aku belum juga berhasil mendapatkan jejaknya," jelas Lily Ria berfikir sejenak, ia masih penasaran akan apa yang Lily omongkan barusan. "Setahu aku setan di sana hanya Alisa, mana mungkin Alisa itu adalah kakak Lily." pikir Ria "Kak, kenapa malah jadi kakak yang bengong?" "Nggak kok Li, kakak hanya penasaran sama apa yang kamu omongkan, karena setahu kakak hantu yang berada di sekolah kakak hanyalah Alisa." "Tapi aku nggak mungkin salah mendeteksi energi dari kakak aku" Ria mencoba menenangkan Lily, besok habis pulang sekolah dirinya berjanji akan mengajak Lily pergi mencari alamat kedua orang tuanya. **** Pagi pun berlalu, Ria pergi ke luar sekolah. Dimana hari ini Lily tidak ikut bersama Ria. Sekolah pagi ini tidak seperti kemarin, Sekolah masih sepi. Baru masuk sekolah, Ria sudah merasa tidak enak. "wusss... " bayangan hitam berlari cepat di belakang Ria. Dengan cepat mata Ria menuju ke arah belakang. Tak ada siapa-siapa di sana. Dengan cepat Ria pun berlari menuju kelasnya. Ria tak menemukan satu orang pun di sana, padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Pintu kelas tertutup keras dengan sendirinya. Ria mencoba mencari kalung di lehernya tak juga menemukan. Kalung yang ketinggalan membuat dirinya semakin merasa ketakutan. "Ya Tuhan, bagaimana ini?" "Bruak..." meja guru di depan jatuh tepat di hadapan Ria "Kamu mau apa ha? aku salah apa sama kamu? tolong jangan ganggu saya." tangis Ria Alisa menampakan dirinya, dengan kedua tangan yang siap mencekik Ria. Ria perlahan mundur ke belakang, ia berusaha berteriak namun tak ada yang mendengarkannya. "Saya mohon, jangan lukai saya!" pinta Alisa Alisa tertawa, "Waktunya kamu untuk mati sekarang." Ria menggelengkan kepala perlahan, ia takut dengan apa yang ada didepannya. Suara murid dari luar kelas membuat Alisa bingung dan pergi beranjak dari sana. "Ria? ada apa? apa kamu tidak apa-apa?" tanya salah satu murid "Siapa yang telah merobohkan meja guru? apa hantu itu mulai berulah lagi?" "Ria, jangan menangis. Kita semua sudah ada di sini." Ria menangis, tak berhentinya ia mengucapkan bersyukur atas keselamatan yang Tuhan berikan kepadanya. Bel pun berbunyi, semua murid kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Dita mencoba menenangkan teman sebangku nya tersebut, "Sebenarnya apa yang terjadi kepada kamu sih Ria? kenapa kamu bisa menangis ketakutan seperti itu?" Ria mencoba menenangkan dirinya, "Alisa dit, Alisa kembali berulah. Dia datang ingin membunuh saya." "Kemarin aman-aman saja, kenapa hari ini dia kembali berulah yah Ria?" "Aku tak tahu Dit, aku benar-benar takut ketika ia hendak Mencekik Ku tadi." "Ya ampun, tapi kamu nggak kenapa-kenapa kan Ria?" "Nggak kok, aku malah bersyukur kamu datang lebih tepat waktu." "Baguslah kalau emang kamu nggak kenapa-kenapa Ri, soalnya aku takut banget jika kamu kenapa-kenapa." Ria tersenyum dan memeluk erat sahabatnya tersebut, "Makasih yah Dit." Dita menganggukkan kepala dengan pelan. Ria sendiri masih belum bisa percaya akan kejadian yang menimpanya tadi pagi. Dia terus memikirkan nasibnya jika teman-temannya tidak datang tepat waktu. Ia pasti akan bertemu ajalnya dengan tragis di tangan Alisa. "Aaaaa... tolong" teriakan keras terdengar dari arah kamar mandi. Semua siswa pun berlari menuju kamar mandi. Sampai sana suara tersebut sudah sayu. Terlihat seorang gadis dengan tangan terikat di tiang kamar mandi dengan seragam yang dipenuhi oleh darah. "Kenapa ini? kemarin aman-aman saja kenapa sekarang malah mulai lagi lagi sih," ujar salah satu murid Di samping gadis tersebut, Ria melihat Alisa yang tersenyum tipis ke arahnya. Semua guru pun berdatangan, sebagian dari mereka meminta semua siswa untuk membaca doa dengan upaya Alisa pergi. Sebelum doa dilakukan, Alisa melukai gadis tersebut kembali. Alisa melepaskan ikatan gadis tersebut. kepala dan tubuhnya terbentur dinding terus menerus. Sebagian orang berusaha menolong gadis tersebut. Sebagian murid pun turut membantu doa agar Alisa bisa berhenti melakukan aksinya tersebut . Tak berselang lama, Alisa menghentikan aksinya. Salah satu guru pun memanggil ambulance untuk menolong kondisi gadis tersebut. Namun takdir berkata lain, gadis tersebut meninggal di tengah perjalanan menuju rumah sakit. Dengan kejadian tersebut, sekolah meminta kepada seluruh warga sekolah menyembunyikan peristiwa tersebut. Ia meminta semua murid ngomong jika itu hanyalah kecelakaan yang bisa saja terjadi. Karena beberapa bulan lagi ada penerimaan siswa baru. dimana kepala sekolah tak ingin nama baik sekolah ini tercoreng dengan kasus pembunuhan. "Kenapa sekolah ini tidak memiliki hati ya?" batin Ria Kepala sekolah pun meminta para pekebun untuk membersihkan semua darah yang berceceran untuk menghilang kan jejak. Guru pun mengajak anak muridnya untuk kembali ke kelas masing-masing. Semua murid masih tak menyangka dengan kebijakan kepala sekolah barusan. Dimana pihak sekolah tak mau bertanggungjawab atas insiden yang terjadi kepada salah satu siswanya. Seolah mereka beranggapan jika itu adalah kejadian yang wajar dan biasa saja. Namun, tak ada yang berani melerai kebijakan kepala sekolah tersebut. Walau secara jelas mereka masih kurang setuju akan hal tersebut. Terdengar salah satu murid membicarakan nasib dirinya jika terus berada di sekolah ini. Guru di depan meminta semua siswa untuk tetap berhati-hati dan berdoa dari apa yang hendak mereka lakukan. Terlebih paling penting adalah menjaga lisan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD