Bentuk Alisa

1006 Words
"Kalau tau gini mending kemarin nggak sekolah disini dah, nyesel gua harus berurusan dengan hantu," ucap salah satu siswa "Duarr..." kaca kelas tiba-tiba pecah "Nak, ibu kan sudah bilang. Jaga omongan!" seru guru Semua murid pun berhati-hati dalam mengucap setelah mengetahui kejadian yang secara langsung terjadi di depan mata. Sebagian besar murid membereskan pecahan kaca yang berserakan di lantai termasuk Ria. Teror Alisa terus menghantui sekolah Ria. "Andai tadi Lily aku ajak, pasti tidak begini ceritanya," batin Ria Rasa penasaran Ria terhadap Alisa semakin kuat. Ditambah lagi hubungan antara Alisa dan Lily. "Aku takut banget Ri, kemarin perasaan baik-baik aja deh," rintih Dita "Kita harus tenang Dit, ingat masih ada Tuhan di sisi kita," ujar Ria "Kenapa si sekolah ini, aku takut tahu nggak. Aku masih nggak habis pikir tahu sama kebijakan kepala sekolah yang mentingin nama sekolahnya daripada keadilan siswanya," gerutu Dita "Sudah dong Dit, kita kan juga nggak bisa apa-apa." Bel istirahat pun berbunyi, semua murid berlarian pergi ke kantin. Siapa sangka sekolah yang terkenal asri dan indah tersebut dipenuhi oleh berbagai misteri yang belum terpecahkan. Sebuah keadilan hanya sekedar iming-iming di depan. "Ria, kamu mau makan apa?" tanya Dita "Aku mau nasi soto saja deh sama es teh," jawab Ria Dita pun berlari menuju seorang ibu pemilik kedai untuk memesan makanan. Mata Ria tak berhenti melihat sekitar. Seketika matanya tertuju ke sebuah pohon besar yang masih rindang. Di sana ia melihat Alisa yang sedang menatap tajam kearahnya. Karena merasa takut, Ria mencoba untuk mengalihkan pandangan ke depan. "Ria..., kamu kenapa sih kok gemetar gitu?" tanya Dita yang baru selesai memesan makanan "Nggak kok Dit, aku merasa kedinginan saja." "Lah, ini kan panas. Masa iya panas begini kamu bisa kedinginan sih?" "Ah itu makanannya sudah sampai, yuk lah gas makan." Mereka melahap habis makanan di depannya. Mata Ria perlahan melirik arah pohon tadi. Di sana masih ada Alisa yang seakan menunggu mangsanya. Ria menutup samping wajahnya menggunakan tangan. Dengan jantung yang berdebar-debar ia berharap Alisa pergi dari sana. "Kamu kenapa Ria? Apa kamu melihat hantu?" "Nggak kok, udahlah kamu makan saja. habisin itu biar kamu gemuk dikit." "Etdah malah ngehina." Ria tersenyum manis ke arah Dita. Dirinya tak mau jika Dita tahu apa yang ia lihat. Ria paham betul sifat dari sahabatnya tersebut. Rasa takut dari Dita menjadi alasan untuk Ria menyembunyikan itu semua. Selesai mereka makan, Ria mengajak Dita untuk pergi menuju perpustakaan. Ria berniat ingin mencari tahu lebih dalam akan hantu. "Bruak...," sebuah buku yang tepat ada di hadapan Ria dan Dita terjatuh secara tiba-tiba. Dimana hal tersebut membuat Dita berteriak dan memeluk tubuh Ria dengan erat. "Demi apa Ria? tidak ada angin dan semacamnya kenapa nih buku bisa jatuh dengan sendirinya?" "Sudah lah Dit, mungkin bukunya capek harus berdiri terus. Ada saatnya dia pingin rebahan di lantai." "Nggak lucu tau nggak si bercandaan di saat seperti ini." Ria mengambil buku tersebut dan kembali meletakkannya ke tempat semula. Ria keliling mencari buku yang ia inginkan dari awal. Sementara Dita masih setia di belakang Ria. Dengan kejadian tadi membuatnya takut jika harus keliling sendiri. "Kamu ini seperti anak kecil tau nggak Dit," "Namanya juga takut." "Emangnya kamu pernah melihat hantu sebelumnya?" "Ya belum, di bayangan aku tuh mereka mukanya seram, penuh dengan luka dan darah gitu." Belum juga Ria menemukan buku yang ia cari. Alisa kembali menganggu mereka dan semua siswa yang ada di perpustakaan. Buku yang ada di lemari bagian pojok dinding tiba-tiba berserakan semua ke lantai. Sontak saja hal tersebut membuat mereka merinding ketakutan. Disaat mereka ingin kabur dari sana, tiba-tiba pintu menutup dengan sendirinya. Hal tersebut membuat semua siswa semakin ketakutan. Teriakan keras yang keluar dari mulut mereka tak kunjung didengar oleh para guru. "Aduh gimana ini? Masak kita harus bermalam di sini sih?" rintih salah satu siswi "Ada yang bawa HP nggak sih? telpon yang lain dong!" Salah satu siswa mulai mengeluarkan handphone dari saku celananya, ketika ia hendak memencet nomor yang ka tuju, Handphonenya terbanting ke lantai. Dimana yang lain adalah ulah dari Alisa. "Woy... siapa sih loh? kalau berani tunjukin diri loh ke kita," ujar cowok yang HP-nya ke banting barusan. Alisa yang merasa tertantang menunjukkan diri dia ke semua siswa yang ada di sana. Melihat Alisa yang wajahnya di penuhi akan darah dan luka membuat mereka mundur secara perlahan termasuk Ria. Alisa menatap cowok tadi dengan tatapan yang mematikan. Dengan cepat ia menarik tangan cowok tersebut dan mencekiknya. Semua orang yang ada disitu berusaha untuk membantu melepaskan tangan Alisa dari leher cowok tersebut. Ria sendiri berusaha memanggil salah satu kontak guru secara sembunyi-sembunyi. Tak berselang lama dari luar terdengar para guru dan satpam yang berusaha membuka pintu perpustakaan. Karena merasa dirinya terpojok, Alisa segera pergi dari sana. Tubuh cowok tersebut lemas seketika di lantai karena sesak napas. Setelah beberapa lama berusaha akhirnya pintu berhasil di buka. Para siswa yang lain pun membantu cowok tersebut untuk ke UKS. "Kenapa kalian bisa terkunci di sini?" tanya salah satu guru "Siapa lagi kalau bukan ulah dari hantu penunggu sekolah ini bu." "Iyah bu, dia tadi juga menunjukkan diri dia yang sebenarnya. Ih seram deh bu pokoknya." "Ya sudah kalian kembali ke kelas masing-masing." Semua murid pun berhamburan pergi keluar perpustakaan. mereka merasa lega karena bisa terbebas dari Alisa. Tubuh Dita yang lemas membuat Ria merasa khawatir. Segera mungkin Ria mengantar Dita ke UKS. Ria pun membaringkan tubuh Dita ke kasur yang telah ada di sana. "Apa kamu baik-baik saja Dit?" tanya Ria cemas "Baru kali ini aku melihat hantu secara nyata Ri, dan apa yang aku bayangkan akan bentuk wajahnya itu memang beneran." Ria mengambilkan minum untuk Dita. Dita pun menelak habis minuman pemberian dari sahabatnya tersebut. Tubuh Dita yang panas membuat Ria tak tega jika harus meninggalkan dirinya sendirian. Ria meminta izin kepada guru yang mengajar untuk menemani sahabatnya yang terbujur lemas. Setelah mendapatkan izin, Ria pun pergi menuju kantin untuk meminta air hangat. Setelah mendapatkannya, Ria segera mungkin berlari menuju UKS. Ria mengambil sebuah kain dan mengompres dahi Dita. Dita memegang tangan Ria, "Makasih yah Ri." Ria tersenyum manis ke arah Dita, "Sudahlah, kayak sama siapa saja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD