Masuk rumah sakit

1013 Words
"Maafin aku ya telah nyusahin kamu karena takut sama hantu, jadinya kamu harus ketinggalan pelajaran deh," ujar Dita "Sudahlah tidak apa-apa. Lagi pula kamu kan sahabatku." Dita terharu akan aksi dari sahabatnya tersebut. "Apa kamu sudah mendingan?" Dita mengangguk pelan. Dita pun mengajak Ria untuk kembali ke kelas. Ria pun tak menolak ajakan dari Dita. Dirinya mengikuti akan kemauan dari Dita. Sampai di kelas, ada salah satu murid yang merasa kesakitan. Tubuhnya beberapa kali terbentur ke dinding. Semua murid tak dapat menolong kecuali dengan berdoa. Hingga akhirnya Alisa menghentikan aksinya. Melihat Ria di depan pintu kelas. Alisa mulai menghampiri seakan mendapatkan mangsa baru. Alisa mencekik leher Ria sampai tak dapat bernafas. Semua orang yang merasa khawatir pun langsung bergegas mengeraskan doa yang mereka lakukan. Terlihat Alisa mulai kepanasan dan pergi dari sana. Ria kembali mengatur nafasnya, Dita pun mengambil sebuah botol di dalam tasnya, "Apa kamu baik-baik saja Ri?" "Iyah Dit, aku baik-baik saja." Ria mengambil air di tangan Dita dan menegak nya. "Kenapa Alisa dari dulu incarannya aku ya?" pikir Ria *** Bel masuk pun berbunyi, semua murid mulai membereskan buku di meja. Ria dan Dita mulai bergandengan menuju parkiran sekolah. Teringat akan HP-nya yang ketinggalan di laci, Ria meminta izin kepada Dita untuk kembali ke kelas. Meskipun Dita telah menawarkan bantuan untuk menemani Ria, Dia bersikeras untuk mengambilnya sendiri dan meminta Dita untuk pulang duluan. Mendengar permintaan sahabatnya tersebut, Ria segera berlari menuju motornya dan pergi meninggalkan sekolah. Setelah melihat Dita pergi, Ria pun beranjak menuju kelasnya. Udara nan dingin dan suasana yang sepi di penuhi oleh pohon-pohon besar membuat Ria merinding ketakutan. Dirinya masih terbayang akan sosok Alisa. Sampai di depan kelas, Ria segera masuk untuk mengambil HP-nya. Lima langkah dia berjalan, pintu pun tertutup dengan sendirinya. Hati Ria semakin was-was melihat pintu yang tertutup dengan sendirinya. Berusaha Ria membuka pintu tersebut namun segala usahanya gagal. Dirinya tak dapat membuka pintu yang ada di depannya tersebut. Berusaha Ria menuju bangkunya untuk mengambil HP miliknya, dengan tujuan menghubungi orang yang bisa menolongnya. Ketika hendak sampai di meja miliknya, Ria terpental karena kakinya di hadang Alisa. "Apa sih mau kamu?" tanya Ria "Aku mau nyawa kamu." "Apa kamu masih belum puas sering melukai dan menghilangkan nyawa semua murid disini?" "Selama dendam ku belum terbalaskan, aku akan terus melanjutkan aksiku di sekolah ini." Ria menanyakan dendam yang Alisa maksudkan. Belum menjawab akan pertanyaan dari Ria, Alisa menghampiri Ria dengan wajah yang penuh dengan amarah. Ria pun merangkak mundur ke belakang, dirinya sendiri bingung harus melakukan apa. Kalung yang selalu melindungi dia dari ancaman lupa untuk ia bawa. Alisa mulai mencekik leher Ria dan beberapa kali membenturkan wajah Ria hingga berdarah. Merasakan aliran darah dan rasa sakit di kepalanya, tak kuasa membuat Ria merintih kesakitan dan menangis. Melihat Ria menangis semakin menambah semangat Alisa untuk mengakhiri hidup Ria pada saat itu juga. "Aku mohon, lepaskan aku." rintih Ria Di rumah, Sindi seakan merasa jika telah terjadi sesuatu kepada anaknya. Merasa ada yang tak beres. Dirinya pun pergi menuju kamar anaknya. Dimana di sana terdapat kalung yang selama ini dapat melindungi keselamatan Ria. Sindi pun segera keluar menjemput Ria ke sekolahan. Melihat satpam yang hendak menutup gerbang, Sindi berteriak dan meminta izin untuk mencari anaknya. terlihat di parkiran masih terdapat motor Ria. Sindi pun memarahi Satpam di depannya karena tidak teliti dalam melakukan pekerjaan. Karena takut terjadi apa-apa, Sindi pun berlari menuju kelas Ria. Dari depan pintu Sindi mendengar suara rintihan Ria yang kesakitan. Merasa khawatir, Sindi pun berusaha membuka pintu kelas. Namun, beberapa kali ia usaha hasilnya masih nihil. Sindi mulai putus ada dan menangis. Hingga akhirnya ia berlari menghampiri Satpam untuk meminta kunci cadangan pintu kelas Ria. Satpam pun ikut bersama Sindi. Dengan cepat pintu pun terbuka. Disana Sindi melihat Ria yang telah terbujur lemas di lantai. Melihat wajah anaknya yang di penuhi dengan darah membuat Sindi menangis lemas. Sindi meminta bantuan kepada satpam untuk membantu Ria menuju rumah sakit. Sekilas Sindi melihat Alisa yang tersenyum dengan senang. "Andai bapak tadi teliti, pasti nggak kayak gini ceritanya," marah Sindi kepada satpam di depannya "Saya minta maaf Bu, karena biasanya jika jam segitu sudah tidak ada lagi orang disana. Jadi aku pikir adek ini teh sudah pulang bersama dengan teman-temannya." Sindi pun menyuruh satpam tersebut kembali. Melihat anaknya yang tak berdaya membuat Sindi tak rela jika anaknya terus menjadi korban akan sosok hantu penghuni sekolah tersebut. Sindi pun memangggil Hendri untuk memberitahukan kondisi dari Ria. Tak sengaja Lily mendengar percakapan mereka berdua, Lily pun segera beranjak pergi menuju rumah sakit untuk memastikan kondisi dari Ria. Melihat luka di wajah Ria, Lily seperti kenal akan sosok yang telah melukai Ria dari penciuman nya. Namun dia sendiri tak yakin dengan sosok yang dia pikirkan tersebut. "Kakak, bangun dong. Lily ingin bermain dengan kakak," ucap Lily Beberapa kali Lily mengelus tangan Ria. Dia tak mau kehilangan sosok yang telah ia anggap sebagai kakak dia sendiri. "Tadi kakak janji bukan untuk membantu aku mencari kedua orang tua aku? tapi kenapa malah kakak seperti ini. Andai tadi Lily ikut kakak, pasti Lily bisa menjaga diri kakak," Beberapa kali Lily mondar-mandir, melihat kondisi Ria yang terbujur kaku membuat dirinya merasa kecewa karena tidak memaksakan dirinya untuk ikut ke sekolah Ria. "Kakak maafin aku," isak Lily Terdengar Hendri pun datang menghampiri Sindi. melihat istrinya yang telah lemas, Hendri pun menyenderkan Kepala Sindi ke pundaknya. "Ada apa dengan Ria mah? Kenapa dia sampai seperti itu?" "Ini semua salah sekolahnya pah, di sekolah anak kita itu ada penunggunya. Itulah mengapa aku dulu selalu bersikeras untuk tidak menyekolahkan Ria disana." "Masak sih mah? Itu kan juga sekolah favorit. mana mungkin menyimpan beberapa misteri kayak gitu. Kalau ada kasus kayak gini kan bisa tercoreng nama baiknya." "Kepala sekolah nya yang terlalu pintar dalam menentukan kebijakan pah." Melihat doktor yang keluar dari ruangan, Sindi dan Hendri dengan cepat menghampiri doktor tersebut dan menanyakan perihal keadaan dari Ria. Doktor pun menjawab jika kondisi Ria baik-baik saja, hanya saja ia memerlukan beberapa penanganan khusus untuk menyembuhkan luka yang ada di wajahnya tersebut. Sindi dan Hendri pun merasa lega mendengarkan ucapan doktor yang menyatakan jika putri mereka baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD