"Ayah, Lily ada di sini. Apakah ayah tidak bisa melihat Lily?" isak Lily dengan memeluk kaki ayahnya
Ntah kenapa, Rio merasakan kehadiran dari sosok yang telah membuat dirinya kehilangan kepikiran sehingga tega membunuh anaknya sendiri, "Sebentar, aku merasakan ada anak aku di sini."
"Heh loh mimpi atau gimana sih Rio, jelas-jelas loh tuh belum punya anak sama istri loh ini," ujar salah satu warga
"Nggak, aku nggak mimpi. Aku merasakan kehadiran Lily di sini." ucap Rio
"Anak kamu itu memang ada di sini," saut Sindi
"Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa tahu akan anak saya."
"Anak kamu Lily telah lama tinggal di rumah saya, beberapa kali dia nyariin kamu. Dan sekarang ia menangis karena tingkah laku kamu yang nggak berubah."
Rio jongkok dan membentangkan kedua tangannya, "Nak, sini peluk ayah. Ayah minta maaf karena sudah menyakiti kamu."
"Mas, kamu ini stres apa gimana sih. kamu nggak malu apa di lihatin banyak orang. Jangan percaya napa sih sama mereka berdua. Secara mereka tuh nggak jelas asal-usulnya." omel Santi
"Ini maksudnya gimana sih buk?" tanya salah satu warga kepada Sindi
"Dia tuh sebelumnya sudah berkeluarga sebelum sama mbak ini. Dan mempunyai dua anak, dimana salah satu namanya yaitu Lily. Nah, Si Rio ini sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga gitu. Nah pulang sekolah anaknya ini melihat jika kedua orang tuanya sedang bertengkar. Si anak segera menghampiri dia dan mencoba menahan pukulan ayahnya kepada ibunya. Nah, sejak kejadian tersebut Rio ini berinisiatif buat membunuh Lily karena menghalangi perbuatan ayahnya kepada ibunya.Dan Rio memotong-motoh tubuh anaknya tersebut menjadi beberapa bagian, dan mengubur mayat anaknya tersebut di sebuah kandang ayam. Di situlah Lily ingin meminta tolong kepada kami untuk dikuburkan secara layak."
Mendengar penjelasan dari sindi tersebut, membuat semua warga menjadi naik pitam dan makin membenci Rio.
"Ya ampun, jahat banget ya kamu Rio, melebihi seorang monster."
"Nggak punya otak banget sih nih orang."
"Iya tau nih, mending kita usir saja dari kampung ini."
Rio memelas dengan memohon kepada semua warga untuk memaafkan dirinya dan mengizinkan dia tetap tinggal di sana. Karena hanya disanalah dia bisa tinggal. Rio tak mau bingung lagi untuk mencari tempat tinggal.
"Saya mohon, saya ingin tetap di sini. saya tak tahu lagi harus tinggal di mana." pinta Rio
"Kamu santai saja, kamu nggak mungkin pindah dari kampung ini. Karena nantinya kamu bakal mendekap di penjara selamanya."
"Nggak, saya nggak mau di penjara."
"Kamu harus tanggung jawab akan kesalahan-kesalahan loh Rio. Apalagi sama anak loh yang sudah loh bunuh."
Rio pun kabur karena merasa ketakutan, semua warga yang ada disana mencoba untuk menahan diri Rio. Namun, Rio melakukan perlawanan hingga membuat warga merasa kualahan.
"Ayah," teriak Lily sambil menangis
Ria dan Sindi pun menghampiri Lily dan mencoba untuk menghibur dirinya. Karena ayahnya tak bisa berubah seperti apa yang ia inginkan sebelumnya.
Warga mulai menyusul Rio yang telah pergi. Sementara Santi di bawa oleh sebagian warga lain ke kantor polisi untuk dimintai pertanggungjawaban. Kali ini Santi hanya bisa pasrah mengikuti kemauan warga, karena tak bisa kabur dan melawan seperti apa yang dilakukan oleh suaminya.
Ria dan Sindi pun mengajak Lily untuk pergi dari sana. Suasana perut yang lapar membuat mereka berhenti di salah satu cafe.
Lily nampak begitu murung dengan menyangga kepalanya dengan kedua tangannya di meja.
"Lily nggak perlu sedih."
"Lily masih tidak menyangka jika ayah Lily masih jahat. Dan sampai sekarang Lily pun tidak tahu keberadaan ibu Lily ada di mana. Lily takut jika ibu Lily sudah meninggal karena ulah bapak. Lily takut." isak Lily
Ria dan Sindi pun saling menatap mata. Mereka bingung harus berbuat apa lagi. Disisi lain mereka ingin melihat Lily bahagia, tapi mereka juga bingung harus berbuat apa.
Seorang pelayan pun menghampiri mereka bertiga dan memberikan makanan yang mereka pesan.
Setelah pelayan pergi, mereka pun menyantap makanan yang ada di hadapan mereka dengan lahap.
Tak berselang lama, ada salah satu bapak-bapak yang datang menghampiri Ria dan Sindi, "Kalian membawa anak kecil, tapi kalian tidak bisa menolongnya."
Ria dan Sindi kebingungan mendengar ucapan bapak tersebut, bagaimana bapak tersebut bisa tahu jika Ria dan dan Sindi tidak bisa menolong Lily.
"Bapak siapa ya?" tanya Sindi
"Saya kebetulan lewat, saya melihat kalian bersama anak kecil yang manis dan cantik. dia nampak sedih dan butuh pertolongan. Namun, saya juga bisa memahami kalian, jika kalian sendiri bingung harus berbuat seperti apa."
"Iyah pak, kami bingung harus berbuat apa lagi, tadi kita sempat bertemu dengan ayahnya Lily. Malah dia kabur lagi karena di buron oleh beberapa warga,"
"Ayah gadis ini memang tidak ada kapoknya, dia akan terus seperti itu di masa hidupnya."
"Kalau boleh tau bapak ini siapa ya? Kok bisa ngomong seperti itu?"
"Saya adalah orang biasa. Namun, saya bisa melihat seluk beluk masalah dan kehidupan orang saya temui, nama saya adalah kardi."
"Ouh, pak kardi sini saja duduk sama kita. saya pesenin makanan ya pak?" tawar Sindi
Pak Kardi menolak secara halus karena tak mau merepotkan orang yang baru ia temui hari ini.
"Kamu nggak perlu sedih Lily, ibu kamu baik-baik saja. Dia masih hidup. Jadi kamu nggak perlu mikirin aneh-aneh." ucap pak Kardi
"Apa bapak serius?" tanya Lily menghapus air matanya
Pak Kardi tersenyum dan mengangguk pelan. Hal itu membuat Lily tersenyum lebar penuh dengan bahagia.
"Kalau gitu apakah bapak bisa memberitahu kami dimana ibu Lily?" tanya Ria
"Maaf, untuk saat ini belum. Tapi suatu saat nanti ketika sudah saatnya kalian pasti akan bertemu sama ibunya Lily."
"Tapi Lily ingin bertemu dengan ibu Lily sekarang."
Pak Kardi memegang bahu Lily, ia mencoba memenangkan Lily untuk bersabar. "Kamu hari sabar, kebahagiaan itu pasti akan datang. intinya kamu harus tenang. Jangan habiskan waktu kamu untuk menangis dan memikirkan yang tidak penting."
"Sampai kapan Lily harus menunggu? Bagi Lily ini sudah lama untuk menunggu waktu itu datang."
"Bapak nggak bisa memperkirakan waktunya, tapi waktu itu akan nyata."
"Kenapa ayah Lily tega meninggalkan ibu Lily?" tanya Lily dengan penuh tanda tanya
"Ibu kamu tidak seperti ibu tiri kamu yang sekarang. Dimana ibu kamu tak pernah mendukung ayah kamu dalam melakukan berbagai kejahatan seperti yang ibu tiri kamu lakukan. Beberapa pukulan sering melayang ke arah wajah ibu kamu, itu lah yang menyebabkan ibu kamu pergi secara diam-diam dari rumah."