"Makasih ya kak, Kakak sudah mau jaga Lily sampai saat ini, Lily merasa beruntung bisa kenal dan dekat dengan kakak."
Ria memegang pipi Lily, dirinya mengangguk dengan pelan. Ria sendiri merasa senang bisa bertemu dengan hantu kecil yang menggemaskan seperti Lily.
Ria sendiri berjanji jika dirinya sudah sembuh akan membantu Lily untuk mencari kedua orang tuanya.
***
Paginya, keadaan Ria semakin membaik. Ria mengajak Lily untuk pergi mencari kedua orang tuanya.
Ria mencari ibunya untuk meminta izin. "Mah apa boleh aku ke jogja?"
"Dengan siapa kamu pergi nak? Terus ada acara apa kamu ke sana?"
"Aku ingin membantu sesosok hantu yang sekarang ada di samping aku."
Sindi meminta izin untuk melihat wajah Lily. Lily pun menunjukkan sosok dirinya di hadapan Sindi.
Sindi melihat sosok anak kecil yang manis disertai tubuh yang begitu putih.
"Kamu cantik sekali, kalau boleh tahu. kamu meninggal karena apa?"
Ria pun menceritakan kejadian yang dia ketahui dari Lily.
Mendengar kejadian yang benar-benar tragis, membuat Sindi merasa sedih dan luluh.
"Nama Ayah dan ibu kamu siapa?" tanya Ria
"Rio dan Santi kak."
Sindi pun ikut pergi ke Jogja bersama Ria dan Lily. Mereka bertiga langsung terburu-buru pergi menuju halte.
Setelah mendapatkan karcis mereka segera pergi menuju bus yang sudah tersedia.
Setiap melihat Lily, hati Sindi begitu tersayat. Dirinya gak pernah menyangka jika ada orang tua yang begitu kejam terhadap anaknya sendiri.
Sebelum berangkat Ria membeli sebuah minuman dan makanan untuk perjalanan.
Tak berselang lama, bus pun pergi berangkat menuju jogyakarta.
Melihat di depannya ada seorang ibu dan anak kecil seumuran Lily yang sedang bercanda gurau, membuat Lily melihat dengan rasa cemburu dan sedih karena teringat akan masa lalunya.
Ria dan Sindi yang melihat Lily sedih saling bertatap mata. Mereka mencoba untuk menghibur Lily yang sedang manyun tersebut.
"Sudahlah tak apa Li, nanti kamu kan bisa melihat ibu kamu," ujar Ria
Lily mengangguk pelan. Beberapa jam kemudian bus berhenti. Mereka bertiga pun turun dari bus yang mereka tumpangi.
Lily semakin tak sabar untuk ketemu Ayah dan ibunya.
Karena kematian Lily yang belum lama membuat Lily semakin yakin jika kedua orang tuanya masih hidup.
Mereka bertiga pergi bertanya-tanya dengan orang yang mereka temui tentang keberadaan Rio dan Santi. Namun, tak ada satu orang pun yang mengenal mereka berdua.
Akhirnya Ria dan ibunya memutuskan untuk mencari di tempat lain. Mereka menanyakan setiap orang yang mereka temui di desa tersebut. Dan lagi-lagi tak ada satu orang pun yang mengenal mereka berdua.
Ria dan Sindi tak mau menyerah sampai di sana. Mereka pindah tempat dan kembali menanyakan Rio dan Santi.
"Permisi pak, apakah bapak kenal pasangan yang namanya Rio dan Santi?" tanya Sindi dengan bapak-bapak yang sedang nongkrong di ronda
"Rio? seorang pencuri itu?" tanya salah satu bapak
Ria dan Santi saling bertatapan karena kebingungan. Mereka tak tahu jika ayah Lily merupakan pencuri. Karena penasaran apakah itu ayah Lily atau bukan, mereka pun meminta alamat Rio yang mereka maksud.
Setelah mendapatkan alamat yang mereka maksud, Mereka pun segera pergi ke alamat yang mereka dapatkan tersebut.
Setelah sampai, mereka menemukan rumah sederhana yang berada di tengah-tengah persawahan.
Lily sendiri pun tak tahu itu rumah siapa.
Hingga pada akhirnya Sindi dan Ria mengetuk pintu rumah tersebut.
"Permisi, apa ada orang?" teriak Sindi
"Iyah sebentar," terdengar suara wanita dari dalam
Pintu mulai terbuka secara perlahan. Terlihat seorang wanita dengan penampilan sederhana yang menemui mereka berdua.
Sindi dan Ria menoleh ke arah Lily, seakan memberi kode apakah itu ibunya atau bukan. Terlihat Lily menatap gadis tersebut dari atas ke bawah. Lily melihat Ria dan Sindi dengan menggelengkan kepala.
"Heh, kalian ini siapa? kalian ngapain kesini? Mau ngancam aku karena suami aku? asal kalian tahu, suami aku sudah tidak tinggal di sini."
"Maaf ya bu, kita pikir ini alamat Rio saudara saya yang tinggal di sini,"
"Setahu saya di sini yang namanya Rio cuma suami saya deh, ibu salah alamat mungkin."
"Iyah bu, maaf ya kalau begitu."
Ketika mereka hendak pergi dari sana, segerombolan warga berteriak ke arah rumah ibu tersebut.
"Heh Santi, dimana suami kamu? amal masjid telah hilang. Dan terlihat dari CCTV jika suami kamu lah yang ngambil."
"Iyah, dimana dia?"
"Rio kan sudah tidak tinggal di sini, mana saya tahu dia kemana."
"Kalian suami istri mah sama saja, kalian sekongkol kan pasti. Mana cepat bilang dimana suami kamu?"
Ketika Santi hendak pergi ke dalam rumah, Warga dengan sigap menahan tangan Santi.
"Kalian ini kenapa sih? saya kan sudah bilang tidak tahu suami saya dimana."
Dari dalam rumah terdengar berisik, warga yang mulai curiga pun segera masuk ke dalam rumah Santi.
Pada akhirnya warga menemukan Rio si biang kerok di kampung mereka. Mereka pun membawa Rio ke depan rumah. Betapa terkejutnya Lily jika yang ada di depannya saat ini merupakan ayah kandungnya sendiri.
"Ayah," teriak Lily
Ria dan Sindi yang mendengar teriakan Lily pun tak percaya jika seorang pencuri yang ada dihadapan mereka merupakan ayah Lily.
"Kita bawa saja lah ke rumah sakit, biar kapok nih orang. Kalau kita diemin mulu nih orang kagak kapok-kapok. Yang ada seisi kampung kita di curi semua sama dia."
"Pak, apakah pak Rio ini sudah tidak bisa lagi di ampuni?" tanya Sindi karena kasihan melihat Lily
"Sudah tidak bisa bu, Pak Rio ini telah lama merugikan kampung kita. Kita telah beberapa kali mencoba melaporkan dia ke rumah sakit, namun, kedua pasangan ini bener-bener cerdik. Dan sekarang, sudah waktunya kita untuk menyerahkan dia ke kantor yang berwajib."
"Saya tidak kan pak? saya kan bukan pencuri." tanya Santi
"Enak saja, loh sama suami loh tuh sama saja tahu nggak, bisanya pakai uang hasil curian tetangga."
Rio berusaha melawan sebelum polis datang. Dirinya tak mah jika dia harus mendekam di penjara.
"Saya tak mau di penjara, tolong maafkan saya, saya janji tak akan melakukannya kembali."
"Halah, omongan loh tuh sudah basi. Dulu juga loh ngomong gitu kan? tapi nyatanya? loh nggak tepatin janji loh itu."
"Kali ini saya berjanji, saya tak ingin melakukannya kembali."
"Udahlah pak, kita bawa saja dia ke kantor polisi,"
Rio mengelak berusaha membebaskan dirinya dari kepungan para warga. Lily hanya mampu menatap nanar ayahnya tersebut.
"Rio dan Santi kak."
Ria me