Hingga akhirnya terjadi cekcok antara ibu Lily dan ayahnya. Teriakan ibu yang keras membuat warga lain datang menolong. Ayah Lily pun pergi meninggalkan mereka.
Ibu meminta tolong kepada warga agar membantunya membawa Lily ke rumah sakit.
Ibu mondar-mandir karena khawatir akan keadaan dari kedua anaknya yang terbaring kaku dalam satu ruangan tersebut.
****
Ria yang melihat Lily bengong langsung memergokinya setelah kedua orang tuanya pergi, "Lily, kamu ngapain bengong coba?"
Lily menggelengkan kepala pelan, "Tidak kok kak, Lily tidak bengong. Lily hanya terharu melihat kedua orang tua kakak yang begitu tulus menyayangi kakak. Sementara masa hidupku, aku belum pernah ngerasain perlakuan yang begitu hangat dari Ayah aku."
Ria memegang tangan mungil Lily, Ria tersenyum manis kearahnya, "Di sini kan ada kakak, kamu nggak perlu sedih. Kakak akan selalu menyayangi kamu."
"Makasih yah kak,"
Ria menganggukkan kepalanya pelan.
Semakin lama kondisi Ria semakin membaik, Ria pun di bawa kembali ke rumah. Dita yang mendengar kabar Ria sudah di rumah, dirinya langsung pergi menjenguk Ria.
Sesampai di kamar Ria, Dita langsung memeluk sahabatnya yang tengah berbaring tersebut, Ria pun membalas pelukan hangat dari Dita.
"Aku kangen tahu nggak sih sama kamu, di sekolah hariku tanpamu sepi. Mana nggak ada yang aku contek in lagi ketika ada ulangan." gerutu Dita
"Ih dasar yah. Oh ya Dit, bagaimana kabar sekolah kita? apakah baik-baik saja?" tanya Ria
Dita terdiam sejenak, dan mulai bercerita jika salah satu guru yang mengajarnya sekarang lagi krisis di rumah sakit. Dirinya kena teror sewaktu mengajar di kelasnya.
Dimana pada satu jam sebelumnya tidak terjadi apa-apa, namun tiba-tiba buku yang ada di meja guru tiba-tiba terjatuh. Awalnya guru menganggap jika itu angin biasa. Hingga akhirnya laptop yang berada di meja terjatuh hingga menimbulkan kemarahan dari guru tersebut. Guru tersebut tak sadar jika ia dirinya telah membuat Alisa merasa tertantang dan marah. Hingga pada akhirnya, Alisa mendorong guru tersebut hingga terpental ke arah papan dinding. Semua murid yang panik mundur secara perlahan, dan diantaranya pergi menuju kantor guru. Namun, ketika hendak pergi, pintu kelas tiba-tiba tertutup dengan sendirinya. Sehingga membuat murid kembali mundur.
Salah satu cowok mencoba keluar dari jendela, namun lagi-lagi Alisa mengetahui akan rencana cowok tersebut, ketika manjat, Alisa segera menutup jendela tersebut hingga membuat jemari cowok tersebut terjepit dan berdarah. Cowok tersebut segera mundur dan teman lainnya berusaha mengobatinya.
Alisa melanjutkan aksinya kepada guru yang ada di depan. Alisa menjatuhkan papan tulis yang terpaku di dinding. Tak hanya itu, Alisa pun melemparkan sebuah meja yang ada di hadapannya kepada guru yang sudah tertimpa papan tulis tersebut.
Hingga akhirnya darah mengalir deras ke keramik kelas. Semua murid semakin merinding ketakutan. Satu diantara mereka mencoba menghubungi guru yang lain.
Tak berselang lama pun para guru dan kepala sekolah menolong guru yang sudah sekarat tersebut.
Kepala sekolah meminta murid yang piket untuk membereskan darah dan peralatan yang sudah berserakan.
Sebagian murid pun segera mungkin mengambil lap dan air.
*
"Jadi begitu ceritanya Ria. Aku masih nggak percaya tahu nggak sih sama tuh sekolahan. Dulu gua mati-matian belajar agar bisa sekolah di sana, eh malah ujung-ujungnya gua merasa nyesel karena diterima di sana."
"Gua juga nggak percaya Dit jika sekolah kita menyimpan begitu banyak kejadian mistis."
"Asli gua kesel sama kepala sekolahnya njir. bisa-bisanya menganggap kecelakaan suatu yang wajar coba. Apa otaknya sudah konslet kali ya?"
"Iyah sih Dit, aku juga kesel. Tapi harus bagaimana lagi coba? kita nggak bisa apa-apa."
Sindi pun datang untuk mengantarkan cemilan dan air untuk Dita dan anaknya. Begitupun selesai memberikan nampan yang ia bawa, Sindi pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aku boleh nanya nggak sih sama kamu?" tanya Dita
Ria mengangkat kedua alisnya sebagai tanda apa.
"Apa kamu nggak berkeinginan untuk pindah sekolah?"
Ria mengambil minuman dan berfikir sejenak, "Aku kemarin sempat disuruh ibu aku untuk pindah Dit, tapi aku masih mikir-mikir. Aku ingin mencari tahu akan sosok yang terus meneror sekolah kita tersebut."
Dita merasa terkejut mendengar ucapan dari Ria tersebut, "Apa? Aku nggak salah dengar? Bisa-bisanya kamu penasaran sama sosok hantu."
Ria tersenyum tipis, "Sebenernya pada waktu aku di serang, tuh hantu pernah bilang jika dendamnya di sekolah tersebut belum berhasil."
"Ha? dendam? jadi dia meneror sekolah kita karena ada sebuah dendam dia yang belum terbalaskan gitu?"
Ria menganggukkan kepala pelan. Dita sejenak berfikir mengenai dendam yang dimaksud oleh hantu tersebut. Dan apa tujuannya mencelakai semua orang yang ada di sekolahnya tersebut.
"Bisa jadi hantu itu adalah salah satu murid sekolah kita sebelumnya," tebak Dita
"Aku juga mikirnya gitu sih Dit, tapi aku masih bingung aja gitu loh dengan dendam yang ia maksud."
"Iyah ya, terus bagaimana cara kita mengetahuinya coba? secara dia tak bisa di ajak bekerja sama."
Ria memikirkan sejenak. Terlebih sekolah tersebut benar-benar menutup rapat tentang apa yang terjadi. Jadi tak mungkin mudah untuk mencari tahu tentang Alisa.
Ria dan Dita saling menatap mata dengan penuh tanda tanya. Mereka tak tahu harus mulai dari mana.
Berhubung hari makin sore, Dita pamit pulang. Ria pun melebarkan tangannya untuk memeluk Dita.
Dita pun membalas pelukan Ria dengan hangat. Dita keluar dari kamar Ria dan mencari Sindi dan Hendri untuk pamitan.
Terdengar suara motor Dita yang melaju meninggalkan rumah Ria.
Lily datang menemui Ria. Lily tersenyum dengan membawa boneka di pelukannya.
"Kamu dari mana saja?" tanya Ria dengan mengangkat kedua alisnya
"Lily ngumpet dan main, Lily takut menganggu kakak yang sedang mengobati rasa rindu kakak dengan teman kakak itu,"
Ria tertawa, "Kamu kan nggak kelihatan, jadi ada nggaknya kamu nggak berpengaruh, hahha."
"Lily tak mau nguping pembicaraan kakak bersama teman kakak itu,"
"Nguping juga nggak apa-apa, kamu kan nggak mungkin ember sama siapa pun, hahah."
"Ember? aku kan emang bukan ember kak."
"Ember istilah lainnya nggak bilang siapa pun gitu, bukan benda ember yang buat nampung air."
Lily tersenyum lebar karena malu. Ria pun mengajak Lily untuk bermain bersama. Lily mulai menaiki tempat tidur Ria. Mereka berdua asik bermain boneka bersama.
Lily merasa jauh lebih bahagia setelah dirinya bersama Ria. Lily masih belum bisa membayangkan jika dirinya tidak bertemu Ria pada waktu itu. Dirinya akan terus merasa kesepian dan kebingungan mencari tujuannya sendiri tanpa didampingi oleh siapapun.