Rio kecelakaan

1003 Words
"Kalian masih belum berhenti sampai sini? kalian tuh nggak akan bisa bertemu dengan Santi sampai kapan pu." ujar lelaki tersebut yang kembali menemui mereka "Kenapa sih kamu? apa urusannya sama kamu. Kita aja nggak kenal kamu. Kamu pun tak tahu kan Santi yang kita maksud. Mungkin saja anda orang." ujar Sindi "Kamu pikir saya tak tahu apa yang kalian cari? saya tahu semua. Saya tahu. Kalian sedang mencari orang pengkhianat seperti Santi kan. Dia tuh nggak pantas buat kalian cari. Karena apa? karena dia pantasnya tu di bawah bumi. Meninggal. hahahah." teriak cowok tersebut "Jaga yah kalau ngomong. mulut Anda lemes banget sih. Anda tuh laki tapi mulutnya kayak cewek." cibir Sindi Cowok tersebut yang merasa terpancing pun mengarahkan tanganya menuju wajah Hendri. Melihat hal tersebut, Hendri pun tak tinggal diam, dirinya menepis tangan cowok tersebut. Hendri pun mengusir cowok tersebut agar segera pergi dari hadapan mereka. Mereka tak mau berurusan dengan orang yang tak mereka kenal. Cowok tersebut pun pergi meninggalkan mereka. Mereka pun masih memikirkan dengan ucapan dari orang tersebut. Walau mereka awalnya mengira jika itu tidak lah benar, namun mereka masih penasaran dengan apa yang diucapkan oleh cowok tersebut. Bagaimana tidak, Cowok tersebut terus bersikeras bilang jika Santi telah meninggal dunia. "Ibu Lily tak mungkin meninggal kan? orang itu bohong kan? nggak mungkin ibu Lily telah meninggal dunia. Nggak mungkin." teriak Lily "Percayalah sama ayah, ibu kamu pasti baik-baik saja. kita harus yakin dengan hal itu." ujar Hendri Mereka pun melanjutkan mencari Santi. Sepanjang jalan mereka tak henti-hentinya menanyakan Santi kepada semua orang yang mereka temukan di jalan. namun mereka tetap menemukan jawaban yang sama di mana tidak ada salah satu orang yang bisa menemukan dan melihat Santi sebelumnya. tanpa rasa lelah mereka tetap mencari keberadaan santi tersebut tanpa putus asa sedikit pun. tak berselang lama mereka berjalan, mereka menemukan banyak kerumunan yang ada di hadapan mereka. karena merasa iba mereka akhirnya menghampiri kerumunan tersebut. dimana kerumunan tersebut adalah orang yang telah mengalami kecelakaan. Mereka pun semakin penasaran dan akhirnya mereka melihat kerumunan tersebut secara dekat. Mereka pun melihat wajah dari orang yang yang telah mengalami kecelakaan tersebut. Betapa terkejutnya mereka setelah mengetahui bahwa yang kecelakaan merupakan Rio. Mengetahui ayahnya yang telah tergeletak tak berdaya, Lily pun berteriak histeris, dirinya tak menyangka jika ayahnya kembali terluka di hadapannya Lili pun memeluk ayahnya tersebut. Dirinya ia memeluk erat tuh buayanya yang penuh dengan darah. "Ayah, kenapa ayah harus merasa kesakitan dan menderita terus-terusan?" isak Ria "Emangnya ini kejadiannya gimana yah pak?" tanya Hendri " Dia berusaha kabur pak, dari amukan Masaa. orang ini telah ketahuan mencuri sebelumnya." Lily pun terus menangis dirinya tak pernah menyangka jika ayahnya terus-terusan mencuri tiada habisnya, Lili pun berteriak dirinya tak mampu menahan rasa tangisnya "Ayah kenapa sih harus terus menerus mencuri? apa ayah nggak kasihan dengan diri ayah sendiri?" tanya Lily dengan menggoyangkan tubuh Rio tersebut. tak berselang lama ambulans pun datang sebagian dari massa turut membantu Rio untuk menaiki ambulans tersebut Lily pun ikut membantu Rio. Dirinya ikut bersama ambulans menuju Rumah Sakit bersama ayahnya tersebut Ria dan kedua orangtuanya pun ikut mereka menyusul ambulans tersebut dengan menggunakan angkot sampai di rumah sakit Rio pun dibawa ke IGD dan mereka pun menunggu di luar dokter dan para suster mulai berbondong-bondong untuk menyelamatkan Rio. terlihat Lili sedang berkaca-kaca dirinya tak mampu melihat ayahnya dengan kondisi tersebut walau beberapa kali ayahnya telah dirawat di rumah sakit. Dan kini Hendri pun mengetahui wajah Rio yang sebenarnya di mana merupakan pembunuh Dari Lili Hendri pun tak kaget dengan sifat yang kriminal mungkin juga tak memiliki akal sehat sehingga bisa membunuh anaknya begitu sadis. Lily terus mondar-mandir di hadapan ruangan Rio tersebut. nampak dokter dan suster yang mulai panik mereka terus mondar-mandir keluar dan ke dalam ruangan dengan keadaan cemas. Dimana hal tersebut pun membuat Lily semakin nangis dirinya tak bisa membayangkan dengan kondisi ayahnya tersebut. Ria dan kedua orang tuanya yang melihat hal itu pun mencoba untuk menghibur Lili, mereka meminta Lili untuk berdoa agar Rio bisa baik-baik saja. Lily terus saja menatap kaca dari pintu ruangan Rio dirinya melihat dokter yang terus berusaha untuk menyelamatkan ayahnya tersebut. dirinya selalu berharap agar ayahnya tersebut bisa selamat Lily Tak Tega melihat ayahnya Harus menderita. Hendi begitu kagum dengan Lily Di mana anak sekecil itu bisa memiliki jiwa pemaaf yang sangat besar sementara dirinya sendiri begitu sulit untuk mengatur emosi apalagi harus memaafkan kesalahan orang lain yang begitu besar Hendri pun tak kuasa untuk menahan air matanya. Hendri menangis dimana masa kecil Lily Hendri malah sering membentak kedua orang tua Hendri karena tidak dibelikan sesuatu yang dia inginkan sementara Lily meskipun dia telah dibunuh dia tetap saja menyayangi ayahnya tersebut bahkan berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan ayahnya tersebut. Hendri mengusap kedua air matanya tersebut ia tersenyum lebar ke arah kiri. Bagaimana tidak dirinya sungguh kagum dengan perbuatan Lily. melihat suaminya yang menangis membuat Sindy tersenyum tipis karena dirinya tahu jika Hendri sedang mengagumi sikap dari Riri tersebut sama halnya cirinya yang baru mengenal Lily. Cindy pun mengusap air mata Hendri dirinya tersenyum manis ke arah Hendri dengan bertanya kepada Hendri Apa yang membuat ia menangis. Hendri pun menjawab Lily lah alasan mengapa dia menangis dimana dengan sifat Lily Iya ingat dengan masa kecilnya dimana masa kecilnya tersebut tak Mampu memiliki sifat sebaik Lily malah kebalikannya dirinya terus bandel dan tidak patuh kepada orang tuanya. Cindy pun menceritakan kepada Hendri tentang apa Apa yang dirasakan oleh dirinya sejak pertama ketemu dengan Lily dirinya merasakan hal yang sama yang dirasakan oleh Hendri tersebut di mana Cindy begitu kagum dengan gadis yang ada di depannya tersebut. Dimana ia begitu pemaaf hatinya begitu suci. mengetahui Riri dibunuh oleh ayahnya sendiri membuat Cindy merasa geram Bagaimana mungkin dengan sifat yang baik dan lugu seperti Lily bisa dibunuh secara kejam oleh ayahnya sendiri. mereka berdua menatap Lily dengan nanar di mana Lily masih terus berdoa supaya ayahnya bisa baik-baik saja melihat hal itu itu Cindy dan Hendri saling tersenyum dan bertatapan mereka begitu bahagia bisa mengenal Lily dan mereka nggak salah orang dalam membantu hidupnya tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD